"Aakh"
Rasa panas dan ngilu yang menyakitkan langsung menghantam tubuh bawahnya.
"S-sakit" Rintih Annette menyedihkan.
"Aakh"
"Sakit sekali"
"Lepaskan sakit"
Annette mendorong keras dada Egbert, memohon nya untuk berhenti. Tapi pria itu masih terus saja bergerak dengan membabi-buta nya.
"Haah"
"Haah"
Terdengar des*h*n nafas Egbert yang jatuh menerpa wajah Annette yang kesakitan. Egbert dapat melihat sepasang mata hitam Annette yang berkaca-kaca dan bibir kecilnya yang terus melenguh sakit. Pemandangan itu kian membangkitkan bara api dalam tubuhnya hingga ia tak tahan untuk tidak melakukan....
Kret
"Aakhh"
Egbert menggigit lehernya dan air matanya terus mengucur deras. Rasa sakit yang ditanggungnya sungguh tak tergambarkan.
Kret
Tidak hanya leher. gigitan itu terus berlanjut ke pundak, lengan bahkan paha.
"C-cukup" Lagi-lagi Annette berjuang keras mendorong tubuh besar itu pergi dari atasnya.
"K-kumohon jangan menggigit lagi..."
"Aakh"
Namun ia sama sekali tidak berdaya melakukannya. Kekuatannya kalah mutlak. Ia pun hanya bisa pasrah bak ikan di atas telenan.
Sesekali ia meremas selimut dan menggigit bibir bawahnya meredam nyeri setiap kali Egbert datang menggigitnya. Kedua kakinya seakan patah dan tulang belulangnya seakan remuk sudah.
Malam itu...
Rasanya Annette seperti akan mati sebagai santapan hewan buas.
......................
Tak terasa seminggu sudah Annette berdiam di kastil besar itu. Ia menjalani kesehariannya dengan duduk bosan tak berbuat apa-apa. Semua orang di kastil begitu menghormati dan melayaninya dengan baik. Sekali saja ia menyentuh piring untuk mencuci atau mengambil sapu untuk menyapu, segera mereka datang dan menahannya.
"Nyonya ini adalah tugas kami"
"Anda cukup bersantai saja"
Begitulah yang mereka katakan. Kehidupan seperti ini bukanlah kehidupannya. Annette tak dapat terbiasa dengan segala kemewahan dan pelayanan itu.
"Huft"
"Sampai kapan aku harus berdiam disini"
Sore itu Annette duduk di bangku taman belakang dengan se-teko teh dan biskuit.
"Padahal aku sudah berperilaku baik dan tidak membuat kekacauan lagi" Katanya dengan wajah tertekuk lesu.
"Tapi kenapa dia masih belum memberikanku akses pulang-pergi dari sini"
"Haah" Annette mendesah berat dan menyesap cangkir teh di tangannya.
Itu hangat dan menenangkan dengan ekstrak bunga chamomile didalamnya. Meletakkan cangkir di meja, Annette termenung menatap bunga-bunga di taman. Ia sama sekali tidak sadar dengan derap langkah kaki yang datang dari belakang.
Seseorang itu terus melangkah dan kemudian berhenti tepat di depan punggung kurus Annette yang tengah bersandar di kursi. Kemudian seseorang itu menunduk dan menjatuhkan mulutnya tepat di leher jenjang Annette.
Deg!
Annette terkesiap dan spontan menoleh ke belakang,
"Kau—"
Annette merinding mendapati hembusan nafas hangat Egbert yang membelai lehernya. Tepat ketika merasakan pergerakan mulut pria itu yang perlahan terbuka, Annette meremas tangannya gugup berusaha mempersiapkan diri.
Kret
"Stt" Annette mengetap kan bibir, mendesis sakit.
'Dasar vampir sial*n!'
Umpat Annette dalam hati.
'Kenapa hobi sekali menggigit leherku?'
Egbert tak melepaskan gigitannya dan malah berlanjut menghisap. Daging lembut di tubuh Annette begitu manis sampai membuatnya begitu candu. Sedikit saja jika ia tidak mengendalikan diri, mungkin ia akan menghisap darah gadis itu. Egbert pun berhenti menggigit dan matanya yang penuh gairah pergi menatap wajah Annette.
"Akhir-akhir ini kau cukup patuh" Jemari telunjuknya pergi membelai belahan pipi tirus Annette.
"Kau bahkan tidak mengelak ketika aku menggigit mu"
Mendengar itu, Annette hanya tersenyum meringis.
"Jadi..." Annette mengulum bibirnya gugup, "Bagaimana?"
"Apa aku sudah bisa mendapatkan akses pulang-pergi dari sini?" Annette mengedipkan matanya, menatap Egbert penuh harap. Ia sungguh berharap pria itu akan mengatakan 'Ya' untuk permintaannya itu.
Egbert perlahan berdiri tegap dan pergi duduk tepat di samping Annette.
"Kenapa kau ingin sekali pergi dari sini?"
"Apa pelayanan yang ku berikan padamu sejauh ini kurang memuaskan?"
"Makanan kelas A, pakaian dengan bahan kualitas premium dan kastil besar ku yang sangat mewah.."
"Tidakkah kau menikmatinya?"
"Aku menikmatinya" Angguk Annette mantap. Hidup di kastil besar ini serasa menjadi seorang putri di istana.
"Hanya satu yang tidak ku nikmati" Tukas Annette.
"Apa itu?"
'Kamu'
'Sikapmu, gigitan mu dan bercinta denganmu'
'Alih-alih menikmati, aku serasa seperti akan mati'
Annette ingin mengatakan itu, tapi ia tidak punya nyali yang cukup.
"Kenapa diam?"
"Cepat jawablah!" Egbert terdengar tak sabar.
"Kehidupan ku disini...aku tidak menikmatinya"
"Kenapa?"
"Haah" Annette menghela nafas berat.
"Kau tau? aku sama sekali tidak terbiasa dengan segala kemewahan ini" Tuturnya.
"Aku terbiasa hidup bekerja keras dan belajar giat di perguruan tinggi. Tapi karena aku terkurung di kastil besar mu ini, aku sungguh merasa kehilangan kehidupanku yang sesungguhnya"
Sorot mata Annette terlihat sedih, "Kau.."
"Tidak bisakah kau memberikan aku sedikit kelonggaran?"
"Aku masih ingin bekerja, belajar dan menjalani keseharian ku yang seperti biasanya" Bola mata hitam Annette membesar, berkaca-kaca dan menatap mengiba pada Egbert.
Sesaat suasana menjadi hening. Annette menunggu jawaban Egbert dengan tatapan menunduk menatap rerumputan.
"Baik"
"Aku akan memberikan akses pulang-pergi padamu dan mengizinkan mu menjalani keseharian mu yang seperti biasanya, tapi dengan syarat..."
"Apa syaratnya?" Kini mata hitam Annette tampak berbinar cantik.
"Semua harus dalam pengaturan ku"
"Oh"
"Baiklah" Annette terdengar sedikit kecewa. Tapi setidaknya itu saja sudah cukup.
Setelah mengatakan itu Egbert bangun dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan taman. Annette menatap punggung itu yang berangsur-angsur lenyap dari pandangannya.
"Haah"
"Kenapa aku harus terjebak dalam kehidupan seperti ini?"
"Seandainya saja malam itu aku mendengarkan nasehat kak Laura..."
"Mungkin semua ini tidak akan terjadi padaku"
"Bukankah begitu?" Annette tersenyum kecut dan menghapus setitik air mata yang keluar dari sudut matanya. Kemudian Annette kembali menikmati teh nya dalam diam.
Malam harinya tepat setelah makan malam. Egbert mengajaknya duduk di sofa ruang tengah untuk membicarakan topik tadi sore.
"Besok pagi aku akan mendatangkan seorang sopir pribadi khusus untuk melayani mu pulang-pergi dari sini"
"Em" Annette hanya mengangguk pelan mendengar itu.
"Dari senin sampai jum'at, kau di perbolehkan beraktivitas semaunya di luar sana, tapi dengan syarat..." Egbert mengangkat jari telunjuknya penuh peringatan.
"Sebelum jam dua belas malam, kau harus sudah berada di kastil ini"
"Haah!" Annette menghembus nafas kasar, "Sebelum jam dua belas malam?"
"Sudah seperti Cinderella saja" Keluhnya.
"Sepertinya kau tidak berkenan?"
"Apa sebaiknya aku tarik kem—"
"Jangan" Cegat Annete cepat.
"Ku rasa menjadi seorang Cinderella tidak buruk" Annette memasang senyum tertekan di wajahnya, "Itu cukup menyenangkan"
"Oh, ku pikir kau keberatan dengan itu"
"..."
"Lalu khusus akhir pekan, kau harus berada seharian penuh di kastil. Kau mengerti?"
"Eum, aku mengerti" Angguk Annette.
"Jika kau melanggar salah satu dari persyaratan yang aku katakan tadi, maka akses pulang-pergi mu akan segera ku cabut"
"Apaa?" Sepasang bola mata hitam Annette membesar dengan tatapan tak percaya.
"S-segera di cabut?"
"Apa sama sekali tidak ada peringatan?"
"Sepertinya kau berniat untuk melanggar hum?"
"Ah, tidak-tidak.." Cepat-cepat Annette menggeleng.
"Kalau begitu sudah itu saja persyaratan dariku" Tukas Egbert.
"Kembalilah ke kamar mu"
"Aku tidak akan bercinta dengan mu malam ini"
Blush!
Lagi-lagi pipi Annette memerah rekah setiap kali mendengar kata 'itu' keluar dari mulut Egbert itu.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Senja Ayu
hanya malam ini, tidak untuk besok malam wkwkw
2023-02-08
2