"Nyonya" Panggil pelayan tersebut yang sepertinya mulai menyadari sesuatu dari situasi yang terkesan canggung itu, "Bagaimana biar saya bantu anda ke kamar mandi?"
"Tidak perlu!" Tolak Annette cepat. Tampak jelas yang daun telinganya memerah panas meredam malu.
"Tapi nyonya—"
"Tidak ada tapi-tapi, sana keluar!" Potong Annette setengah tak sabar.
"Baik nyonya" Pelayan itupun tidak lagi membantah dan terus pergi.
Tepat ketika Annette mencoba bangun dari lantai, kepalanya terangkat dan melihat seorang pelayan yang berjalan keluar dari kamar mandi.
"Nyonya, airnya sudah saya siapkan"
Jujur saja, Annette sama sekali tidak terbiasa dengan cara mereka memanggilnya— nyonya.
"Air hangat dan sedikit minyak esensial, saya yakin ini dapat membantu memulihkan fisik anda"
Annette yang mendengar itu membeku kan rahangnya, 'Memulihkan fisik?' Annette rasanya akan menangis.
"Hum" Annette hanya mengangguk pelan. Wajah lesunya tampak sangat tidak berdaya.
"Apa perlu saya ban—"
"Tidak perlu!" Annette sebenarnya sudah sangat lelah, entah berapa kali ia sudah menolak tapi mereka terus saja mengoceh kan hal yang berulang-ulang.
"Saya bisa melakukannya sendiri"
"Tapi nyonya anda terlihat sedikit—"
"Saya bilang tidak ya tidak" Kali ini Annette benar-benar sudah panas, "Apakah perlu saya mengulanginya seratus kali hingga kalian benar-benar paham maksudku?"
Nafas Annette memburu seiring dadanya yang kembang kempis dengan amarah.
"Maaf nyonya, kalau begitu saya permisi"
Melihat pelayan itu pergi meninggalkan kamar, Annette terus menghela nafas berat, "Haah, benar-benar..."
"Apa mereka sungguh tidak mengerti keadaanku huh?"
"Apa privasi bukanlah hal penting di tempat ini?"
Setelah meluapkan segala kekesalannya itu, Annette berjalan tertatih -tatih ke kamar mandi seraya memegang pinggang kecilnya yang terasa seakan patah.
"Sial" Annette benar-benar tidak tahan untuk tidak mengumpat.
"Tampaknya dia benar-benar bukan manusia"
"Teganya melakukan ini pada gadis dua puluhan seperti ku yang masih polos"
"Dan dia bahkan melakukannya dengan sangat—"
Setelah mengomel di sepanjang langkahnya, tepat ketika berdiri di depan cermin yang ada di kamar mandi. Annette tercengang melihat sepanjang leher dan tulang selangka nya yang penuh dengan ruam merah dan bahkan beberapa dari mereka sudah membiru.
"Haah" Lagi-lagi Annette mendesah berat.
"Apa-apaan ini?"
"Apa dia binatang buas huh?"
Annette meraba permukaan leher mulusnya yang beruam biru. Padahal jarinya hanya menyentuh pelan, tapi...
"Aakh" Ternyata itu cukup sakit.
Menatap sedih pantulan dirinya di cermin, Annette tiba-tiba teringat sesuatu, "Sebentar"
"Katanya malam itu dia adalah makhluk penghisap darah"
"Kalau begitu dia berarti..."
Annette memproses keras ingatan di otaknya akan malam itu. Bagaimana taring yang panjang dan mata yang se-merah darah..
"V-vampir?"
Tubuh Annette seketika limbung ke belakang hingga menabrak dinding.
"T-tidak mungkin.." Annette memegang kepalanya dengan wujud frustasi tak ber-maya.
"Masa aku m-menikah dengan..." Bibir merah gelapnya bergetar dalam ketidakpercayaan, "V-vampir?"
"Tapi.."
"Apa makhluk mitologi seperti itu benar-benar ada?"
......................
Di sebuah gedung fakultas, tempat di mana Sean mengajar. Egbert di dalam sana berdiri di salah satu lorong dengan kedua tangan menyilang di dada. Posenya yang berdiri tegap tanpa memedulikan sekitar itu berhasil mencuri pusat perhatian para mahasiswi yang berlalu-lalang.
Dari tatapan mereka yang mencuri pandang dan menatap kagum, jelas mereka cukup terpesona dengan ketampanan Egbert yang lengkap dengan aura acuh tak acuh nya yang membuat pria itu tampak semakin memikat.
"Lihatlah seorang pria di sana!" Salah seorang mahasiswi tanpa ragu menunjuk tempat di mana Egbert berdiri, "Dia tampan sekali" Ucapnya lagi dengan ukiran senyum meleleh tercetak jelas dibibir.
"Siapa dia?" Tanya lawan bicaranya yang sama tergoda nya dengan ketampanan Egbert, "Jangan-jangan dosen baru di kampus kita kah?" Celutuk nya.
"Ah, seandainya saja itu benar, maka akan bertambah satu dosen tampan lagi di kampus kita"
Dosen tampan yang dimaksud tak lain adalah Sean. Satu-satunya dosen termuda dan tertampan di fakultas mereka.
"Kalau begitu pak Sean adalah milikku dan kau bisa memiliki dosen baru itu saja" Tukas lawan bicaranya yang mulai berimajinasi liar.
Sontak keduanya sama-sama tergelak.
"Hahaha"
"Dasar kau ini!"
"Yeah, aku bercanda!"
Karena kondisi lorong yang cukup lengang, sekilas Egbert menangkap sedikit dari percakapan dua orang gadis di sana. Hanya ia tidak begitu peduli dan abai saja. Menganggap itu sekadar angin yang simpang siur dan pergi.
Di samping itu di dalam ruang, Sean berdiri di hadapan puluhan anak didiknya dengan penampilan serius dan mulut yang terus terbuka-tutup menyampaikan materi.
Sesaat Sean menoleh pada arloji di tangannya dan melihat sudah saatnya ia mengakhiri pembelajaran.
"Baik kalau begitu sekian untuk hari ini" Tutupnya dengan segaris senyum simpul.
Itu berhasil membuat para mahasiswi menjerit histeris dalam hati mereka. Sebagian dari mereka bahkan tak rela kelas akan selesai secepat itu.
Sean membereskan alat mengajarnya dan segera berjalan pergi meninggalkan ruang.
Dosen tampan itu sukses membuat para mahasiswa perempuan yang masih berdiam diruang, mereka tersenyum-senyum menyoroti punggung tegapnya yang perlahan lenyap dari pandangan.
Baru saja dua langkah Sean keluar dari pintu, jeritan para gadis pun terdengar. Itu lumayan histeris dan memekakkan. Sean yang mendengarnya, hanya menggelengkan kepalanya malas, "Aku tidak tau kenapa mereka sangat senang menjerit"
Sean terus melangkah ke depan menyusuri lorong, "Tampaknya tenggorokan para gadis manusia cukup mumpuni"
Langkah Sean terhenti ketika melihat sosok yang berdiri di penghujung lorong. Ia pun terus bergerak cepat menghampiri orang itu.
"Kenapa kau disini?"
Egbert menyungging kan senyum malas, "Aku hanya sedikit bosan"
"Orang sibuk sepertimu ada waktu untuk bosan?" Sean menaikkan salah satu alisnya dengan sorot mata tak percaya.
Selama bertahun-tahun ia mengikuti pria arogan itu, tak pernah sedikitpun ia mendengar kata 'bosan' keluar dari mulutnya yang se-beku es.
"Tapi kulihat wajahmu agak lain di mata ku" Selidik Sean, "Apa malam pertama mu dengan..."
Sean terus mengubah intonasi suaranya hingga terdengar seperti berbisik, "Gadis manusia terasa menyenangkan?"
"Lumayan" Angguk Egbert sekenanya. Karena mengingat malam yang dilewatinya semalam, ia tak bisa berbohong dengan mengatakan itu biasa-biasa saja.
Melihat reaksi Egbert yang sedikit di luar dugaannya itu, Sean terus menyikut bahu teman angkuhnya itu dan berujar dengan suara rendah, "Woahh, apa gadis manusia se-enak itu hum?"
"Eum, bibir mereka lebih manis daripada bibir gadis bangsa kita" Angguk Egbert sambil menyentuh bibir bawahnya. Rasanya bibir kecil Annette yang lembut masih membekas di sana.
Mendengar jawaban lugas itu, langsung saja daun telinga Sean memerah, "Kenapa kau berterus terang sekali? Tidak bisakah kau sedikit memperhalus bahasa mu"
Egbert yang sudah terbiasa dengan pola pikir konservatif Sean, hanya tersenyum ber-decih, "Kau sudah bisa sedikit menghapus gaya kolot mu itu" Tanpa ragu Egbert menjetik dahi Sean.
Hanya Sean sudah lebih dulu menangkap pergelangan tangannya dan menggagalkan aksinya itu.
"Rasanya aku menjadi sedikit penasaran" Tukas Sean, ketika melihat penampilan Egbert yang tampaknya lebih sedikit ekspresif dari biasanya.
"Mari kita berbincang di tempat lain. Ini bukan tempat yang pantas untuk membicarakan topik seperti itu" Kata Sean lagi dan menarik pria itu pergi dari sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
putriyusman
lu ngelakuinnya sendiri. mgadi ngadi sihh
2023-10-05
2
putriyusman
geloo
2023-10-05
1
Senja Ayu
lanjut pokokny
2023-02-08
1