Setelah mengatakan itu, panggilan pun terputus.
"Ada apa?" Tanya Sean.
"Sepertinya aku mendengar suara kepala pelayan Mary.." Ujarnya.
"Apa itu berkenaan dengan istrimu?"
Pertanyaannya tadi tidak sempat di jawab Egbert karena pria dingin itu harus mengangkat telepon.
"Apa para gadis manusia tidak tau cara bersikap tenang?" Suara Egbert terdengar kesal.
Sean pun tertawa ringan, "Yah, begitulah mereka"
Sean mengambil sebotol wine dan kembali mengisi gelasnya yang sudah kosong, "Memangnya kenapa hum?"
"Apa yang gadis itu lakukan sampai kau se-kesal ini?" Tanyanya lagi sambil menyesap minuman merah kehitaman itu.
"Entahlah" Egbert berkedik bahu,
"Sepertinya kastil ku dalam kekacauan sekarang" Setelah mengucapkan itu, Egbert terus bangun dari duduknya.
"Kau mau kemana?"
"Aku harus segera pulang untuk mengurusnya"
"Oh" Sean hanya mengangguk sebagai tanggapan.
"Urus bayarannya.."
Egbert meletakkan kartu hitamnya di atas meja dan menyodorkannya pada Sean.
"Woah" Mata Sean berbinar takjub melihat wujud kartu hitam itu, "Apa kau memberikannya pad—"
"Jangan lupa kembali kan lagi padaku" Setelah mengucapkan itu, Egbert terus berambus pergi meninggalkan ruang.
"Haah" Sean mendesah berat sambil mengambil kartu hitam itu.
"Kenapa tidak dia memberikannya saja padaku?"
"Aku tau dia punya banyak.."
Sejenak, Sean menatap kartu hitam itu dan tenggelam dalam lamunan.
"Tidak di dunia kami dan tidak di dunia manusia..." Gumamnya.
"Kekayaan selalu mengikutinya" Sean mengetuk-ngetuk kan kartu itu ke meja.
"Aku tidak tau apa harus menganggapnya beruntung!"
Mengingat di samping segala keberuntungan...
Egbert juga terjerembab dengan segala ketidakberuntungannya
Sesampai di kastil, Egbert membuka pintu dan melihat kastil besarnya telah berubah menjadi lautan kapal pecah. Sofa-sofa terjungkir ke belakang, vas-vas bunga pecah berserakan dan beberapa kerajinan dari keramik yang tak ternilai harganya telah hancur berkeping-keping di lantai.
"Tidak"
Terdengar jelas pekikan seorang gadis yang sudah diduganya siapa itu.
"Pokoknya aku tidak akan berhenti sebelum kalian mengeluarkan ku dari sini" Annette memegang satu vas bunga yang tersisa siap melemparnya ke lantai. Ia sama sekali tidak menyadari sudah ada Egbert di sana yang berdiri menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Nyonyaaa" Jerit para pelayan yang kesekian kalinya mencoba menahan perbuatan Annette.
Prang!
Vas bunga terakhir pun pecah karena ulah Annette.
"Sudah puas bermain?" Suara dingin jatuh di pertengahan kekacauan itu. Annette terkesiap menoleh pada asal suara.
"K-kau" Bibir kecil Annette bergetar takut.
"Sejak kapan kau berdiri di sana?"
"..."
Egbert tak menjawab. Suasana seketika menjadi hening. Egbert mengambil beberapa langkah ke depan mendatangi Annette, para pelayan pun bergerak cepat untuk menepi.
"J-jangan"
"Jangan datang kemari"
Annette berdiri dengan tubuh menggigil ketakutan melihat Egbert yang tak mengindahkan perkataannya. Pria itu terus melangkah dengan tatapan mata yang membidiknya tajam.
Krakk!
Egbert menginjak beberapa pecahan keramik di lantai dengan sepatu hitamnya dan terus berjalan.
Annette berpikir keras...
'Apa sebaiknya aku diam saja? atau kabur?'
Menyaksikan tatapan dingin yang siap mencekiknya itu. Annette akhirnya membuat keputusan, 'Sebaiknya aku kabur'
"Nyonyaa" Jerit para pelayan lagi, yang melihat Annette telah berlari pergi meninggalkan ruang tamu.
Egbert menghentikan langkahnya, mengepalkan tangannya dengan senyum dingin mencekam, 'Sangat merepotkan!'
Annette terus berlari kencang dengan kaki telanjangnya. Karena ia begitu tergesa-gesa dan ceroboh, tanpa sengaja ia menginjak pecahan keramik dan seketika kakinya berdarah.
"Aakh" Dengan luka seperti itu Annette tak lagi sanggup berlari.
"Sebaiknya aku bersembunyi saja" Annette pun terus bersembunyi di kolom bawah meja.
Pada saat itu Egbert telah melangkah tepat di mana Annette baru saja melukai kakinya. Egbert tersenyum menyeringai melihat sisa darah yang ada di keramik.
"Keluarlah!"
"Aku tau kau sedang bersembunyi di sekitar sini" Suaranya jatuh begitu tenang, tapi cukup membuat suhu ruangan menurun.
"Jika dalam hitungan ketiga kau masih tidak keluar..." Itu acuh, tapi penuh kecaman.
"Aku akan melempar kan mu ke hutan di mana binatang buas akan mencabik tubuhmu hingga tak bersisa"
Sangat sadis. Mendengar itu tentu saja Annette panik. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana ia akan mati secara perlahan di gerogoti oleh binatang buas.
"Satu"
"Dua"
"Aku keluar!"
Buk!
Tanpa sengaja Annette membentur kan kepalanya ke sudut meja ketika buru-buru keluar.
"Aduh!" Annette mengusap kepalanya.
"Kenapa nasibku sial sekali" Keluh Annette sambil mengusap kepalanya.
Egbert melihat kaki Annette yang berdarah. Dia sudah terlatih menahan diri dari aroma darah manusia yang sangat menggiurkan. Jadi saat seperti ini, ia tidak terlalu susah jika mengabaikannya begitu saja.
"Mary"
"Iya tuan"
"Obati kakinya dan bawa ia ke kamar ku"
"Tapi tuan..." Mary terdengar agak ragu untuk mengatakannya, "Kamar anda—"
"Ada apa dengan kamar ku?" Egbert tampak menautkan sepasang alisnya.
"Apa dia juga membuat kekacauan di kamar ku?" Sekilas Egbert menatap Annette dengan tatapan yang siap mencabik tubuh kecilnya.
Annette seketika merinding takut.
"Iya tuan" Angguk Mary.
"Haah" Egbert mendesah berat.
"Sepertinya aku harus menghukum mu"
Bola mata hitam itu seketika menjadi merah dan menatap Annette dengan dingin yang menusuk.
Deg!
'Bagaimana ini?'
'Sepertinya aku baru saja membuat seekor beruang terbangun dari tidurnya'
'Pria itu benar-benar marah'
'Ah, sial!'
'Habis lah kamu Annette'
Saat itu...
Annette terlihat benar-benar pasrah.
......................
Setelah mengobati kaki Annette dan membalutnya dengan kain kasa. Kedua pelayan itu pun membawa Annette ke taman belakang di mana Egbert menunggunya.
"Ada yang ingin ku tanyakan pada kalian" Ujar Annette sambil menggigit bibirnya gugup.
"Ya nyonya?"
"Biasanya jika kalian berbuat kesalahan, tuan kalian akan menghukum kalian dengan apa?"
Pelayan tersebut tersenyum kecil mendengar pertanyaan Annette.
"Jika kami melakukan kesalahan kecil, tuan paling hanya menegur. Tapi jika itu kesalahan besar, maka gaji kami akan di potong"
"Aah.." Annette manggut-manggut.
"Begitu kah?" Seketika bola mata Annette membesar dengan kecerahan.
'Bukankah aku ada kesepakatan dengannya?'
'Kalau begitu paling tidak ia pasti hanya akan memotong dari komisi yang nanti ku terima..'
Annette akhirnya dapat bernafas lega.
"Tuan" Sapa pelayan itu sopan.
"Tinggalkan dia!" Perintah Egbert dingin.
"Kalian pergilah!"
"Baik tuan"
Setelah pelayan itu pergi, Annette dengan gugup menarik kursi dan duduk. Di depannya ada meja bulat putih kecil yang di atasnya sudah ada se-teko teh dan cangkir.
"Apa aku sudah menyuruhmu duduk?"
"Huh?" Annette terlihat linglung.
"Berdiri"
"Ah.." Annette cukup menurut dan terus berdiri.
"Kemari lah!"
"..."
Firasat Annette buruk. Jadi ia memilih untuk diam di tempat.
"Jangan menguji kesabaran ku"
"Cepatlah kemari!" Egbert menatap tajam Annette.
"B-baik"
Annette pun mengambil beberapa langkah dan berdiri tepat di samping Egbert.
"Tangan"
"Tangan?" Ulang Annette panik.
"K-kenapa dengan tangan?"
"Ulurkan tanganmu!" Egbert terdengar tak sabar.
"Ah, b-baik"
Annette dengan polosnya mengulurkan tangannya. Saat itu ia tidak terlalu memikirkan apapun.
"Jadi tangan ini..." Egbert mengusap lembut telapak tangan kecil Annette dengan jempolnya, "Yang telah membuat kekacauan di kastil ku"
Sentuhan itu kian halus, tapi tidak tau kenapa Annette merasa tersengat. Takut Egbert akan melakukan sesuatu pada tangannya, Annette pun segera menarik kembali tangannya hanya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
putriyusman
wuakakaka
2023-10-05
1