Nafkah Pertama

Elang naik panggung kecil yang disediakan tidak jauh dari wall climbing. Keberuntungan sedang berpihak padanya. Hasil olah otak dan otot membawa nasib baik untuk Elang. Juara satu diraihnya dalam lomba panjat untuk kategori lead climbing umum se-Jawa Bali.

Trophy yang diterima Elang langsung dibawa Ryan sebagai ketua mapala untuk disimpan di ruang UKM pecinta alam. Elang hanya berhak atas piagam penghargaan dan uang tunai.

Acara selesai hampir jam tujuh malam. Pihak yayasan dan puket tiga langsung pulang setelah mengucapkan selamat, juga memberikan agenda pertemuan di kampus yang harus dihadiri Elang.

Pemuda itu pulang bersama Nindya setelah kucing-kucingan dengan timnya yang minta ditraktir makan.

"Kamu nggak bawa kendaraan?"

Elang mengulurkan tangan untuk menerima kunci. "Nggak, tadi berangkat sama Arga."

"Berarti ini nganter pulang kamu dulu?" tanya Nindya setelah Elang membawa mereka keluar parkiran.

"Iya, tapi makan dulu ya, aku lapar sekali! Oh ya kamu mau aku belikan apa, Manis? Mumpung uangnya masih utuh!" tanya Elang dengan gaya bossy.

"Dapat berapa duit emangnya?"

"Tujuh juta, jatah kamu setengahnya. Buat jajan!" Elang mengambil amplop yang belum dibuka dengan tangan kiri lalu mengulurkan pada Nindya. "Ambil sendiri!"

Nindya tergelak, bagaimana bisa Elang yang mahasiswa memberikan uang jajan padanya yang punya gaji bulanan? Uang jajan? Nindya cenderung berpikir Elang memberi uang belanja padanya, seperti yang dilakukan seorang suami pada istrinya.

"Simpan saja untuk kebutuhanmu, El! Aku punya uang dari gaji tiap bulan!"

"Nggak, aku memang mau ngasih kamu. Sebagian nanti buat traktir makan temen-temen, sepuluh persen masuk kas mapala baru sisanya buat pribadi. Cukup nggak segitu? Cukuplah ya … aku kan belum kerja!" Elang terkekeh meski tidak ada yang lucu dalam pembicaraannya.

Pengalaman pertama menafkahi wanita dalam bentuk materi ternyata menyenangkan. Rasanya seperti bisa menyelesaikan tanggung jawab besar karena ada orang yang menggantungkan hidup di pundaknya!

"Kamu nafkahin aku?"

"Ya kamu kan ibunya anakku," jawab Elang tengil.

Nindya tidak menampik atau mendebat kalimat yang terdengar janggal itu. Elang memiliki sudut pandang sendiri mengenai hidup. Seberapa pun Nindya menyangkal, Elang akan menganggapnya ibu dari anaknya, meski dia bukan seorang istri.

"Biasanya kalau ada nafkah materi, nafkah batin menyusul, El. Bener nggak?" Nindya tergelak dengan pertanyaannya sendiri. "Jangan-jangan …!

Nindya tidak tersinggung, tidak menganggap Elang sedang merendahkan posisinya sebagai dosen yang kelihatannya mau dibayar untuk berbuat hina dengan mahasiswanya. Di telinga Nindya, Elang terdengar tulus saat mengucapkan niatnya. Semua tindakannya juga diikuti dengan tanggung jawab.

"Ya terbalik nggak apa-apa kan? Nafkah batin udah duluan di tenda. Sekarang baru materinya, itupun dikit. Jangan-jangan apa? Nggak usah takut, aku nggak minta dilayani di meja makan, apalagi di atas ranjang!"

"Beneran nggak mau bawa aku ke atas ranjang? Nggak yakin!"

Elang terkekeh-kekeh, "Aku harus bisa meyakinkan saat bicara biar kamu percaya!"

"Ya, ya bisa dipahami. Tapi kamu lebih butuh uangnya, El!"

"Kebutuhanku tiap bulan sudah dibiayai orang tua."

"Kamu bisa mulai untuk tidak terlalu membebani mereka kalau udah bisa menghasilkan uang. Bukan malah hasil kerja kamu bagi-bagikan ke orang lain!"

"Kamu bukan orang lain! Berbagi dengan teman dan organisasi kan tidak banyak jumlahnya. Aku bisa begini juga sedikit banyak karena keberadaan mereka. Aku memakai tenaga teman-teman saat latihan, memakai alat panjat organisasi hampir setiap hari. Yang namanya teman patut dihargai tenaganya, dan alat panjat ada masa aus karena seringnya dipakai."

"Kenapa kamu nggak beli alat sendiri?"

"Aku nggak mau posisiku dalam organisasi lemah apalagi lepas, aku nggak mau egois, aku dibesarkan sebagai atlet organisasi di bawah kampus, bukan atlet freelance."

Nindya menyimak antusias, "Kamu dapat uang dari kampus?"

"Aku dapat uang tunjangan atlet dari yayasan dan dapat bayaran sebagai duta kampus. Nanti aku kasih kamu tiap dananya keluar!"

"Apa-apaan sih, kok dikasihkan aku!"

"Ya itu murni penghasilanku, bukan uang dari orang tua, bebas aja aku mau kasihkan siapa. Lagian aku juga nggak punya manager keuangan hahaha …."

"Kamu butuh manager?"

"Atlet yang sering ikut lomba biasanya punya, atlet kan nggak bisa protes sendiri misal ada salah perhitungan dalam perlombaan. Sekarang managerial atlet di mapala ada di bawah kadiv (ketua divisi) panjat tebing. Kasihan sih, mana sibuk ngurus kegiatan climbing lapangan, dikjut (pendidikan lanjut) anggota baru, masih ditambah ngurusin atlet. Hari ini aja dia nggak bisa datang karena jadwal bentrok dengan nganter anggota muda ke lapangan. Makanya ketua mapala standby buat back up."

Nindya yang tidak pernah mengikuti organisasi pecinta alam hanya menanggapi dengan oh dan anggukan kepala beberapa kali. Tidak menyangka kalau sistem keorganisasian dalam unit kegiatan mahasiswa yang diikuti Elang tidak kalah dengan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).

"Syarat jadi manager kamu apa? Yang kamu butuhin manager atlet apa manager keuangan?"

"Cantik, seksi, menggemaskan kayak kamu hahaha," jawab Elang asal. "Itu untuk manager keuangan, buat pribadi alias istri."

"Aku serius, El!"

"Syarat khusus jadi manager atlet ya harus ngerti segala sesuatu yang berhubungan dengan panjat dinding, lomba dan segala aturannya, jadwal latihan dan sebagainya. Kamu tertarik?"

Nindya tergelak, "Aku mending mikir reaksi kimia aja, soal panjat memanjat aku nggak bakat."

"Kamu tau, 99% atlet panjat itu ahli karena latihan, bukan karena bakat. Kalau pun dia berbakat ya itu hanya sebagai penggenap, nilainya hanya 1%. Jadi kita mau makan apa sekarang? Kamu seleranya apa, Manisku?"

"Ikan bakar?" usul Nindya.

"Boleh, trus mau dibelikan apa buat hadiah?" Elang menyetujui.

"Ish, kayak anak kecil aja. Nggak usah hadiah-hadiahan, tabung aja uangnya buat masa depan!"

"Masa depanku itu kamu! Kita serius pacaran aja dulu yuk biar kamu yakin!"

"Kenapa harus aku? Kamu bisa pacaran sama Mayra, dia mencintaimu!" sergah Nindya keras kepala.

"Ya kan keren bisa pacaran sama dosen, aku belum pernah sih! Kalau sama mahasiswi kayak Mayra udah keseringan!" Elang menjawab sembari menahan tawa. Senang bisa menjahili Nindya yang seketika keki mendengar alasannya.

"El, itu nggak lucu …!"

Elang masuk tempat makan bergambar ikan gurami sebagai background logo nama. Menoleh ke arah Nindya dan berbicara lembut. "Kayaknya enak, aku mau gurami asam manis aja."

"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Nindya hampir berteriak saat menoleh ke arah Elang dengan raut kesal.

"Oke, oke! Aku jawab biar kamu puas, gini … kalau kamu nggak mau uang dan juga hadiah barang, aku simpan uangnya buat rencana jalan-jalan aja. Aku masih punya janji sama kamu, dan janji adalah hutang. Senja indah, aku akan membawamu ke sana sebelum pernikahanmu dengan Daniel dilaksanakan! Anggap aja itu hadiah lain dariku untuk kamu yang tersayang!"

Senyum Elang manis saat mengakhiri kalimatnya, tapi rasanya menyakitkan di hati Nindya yang sedang bimbang. Dia sudah menghubungi wedding organizer kemarin untuk konsultasi awal rencana pernikahan, dan besok dia ada janji ketemu dengan sang tunangan.

Elang memang selalu pandai membuat kekacauan!

***

Terpopuler

Comments

Arjuna'Bayu

Arjuna'Bayu

dir ☝️☝️

2023-03-21

1

Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman

Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman

bu dosen msh blm yakin ajja nih ya

2022-10-22

1

fitri rahayu

fitri rahayu

elang sweett banget sumpah😍😍😍

2022-10-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!