Debat Kusir

"Aku kekenyangan," keluh Elang dengan ekspresi memelas. Satu tangan mengusap perut sambil menggeleng ringan.

Nindya menatap geli, "Tapi sisanya masih banyak, El! Bisa kamu makan nanti dua jam lagi. Kamu biar makan banyak nggak bakal gemuk karena rajin olahraga!"

Elang makan terlalu banyak, terlalu semangat karena tidak ingin mengecewakan Nindya. Rasanya dia tidak akan mampu makan apapun nanti saat kencan dengan Vivian.

"Tapi aku bentar lagi pulang."

"Kok pulang?" tanya Nindya dengan bibir mengerucut. Nindya masih belum puas menatap Elang. Rindunya belum terbayar.

"Aku ada janji," jawab Elang tanpa ekspresi.

"Sama Vivian?" selidik Nindya.

Elang tersenyum dan mengangguk samar. "Iya."

"Tapi masih ada yang mau aku obrolin sama kamu, El! Soal gosip kita di kampus!" Nindya memasang wajah sedih dan menatap Elang dengan wajah minta belas kasihan. Nindya tak habis pikir, mengapa dia harus mengiba agar Elang mau lebih lama di rumahnya?

"Ya udah ayo kita bicara!"

"Bentar!" Nindya merapikan meja makan dan membawa semua piring kotor ke belakang sebelum bergabung dengan Elang di ruang tamu.

"Kamu terganggu sama gosip itu ya? Atau kamu takut Daniel tau?" tanya Elang setelah Nindya duduk manis di sudut sofa yang tidak bisa dijangkau tangannya.

Ah rasanya Elang gatal melihat cara Nindya duduk. Elang ingin sekali menghimpitnya, mungkin memangkunya sambil memeluk, lalu mencium leher belakangnya sambil mengusap lengan ramping berwarna kuning pucat itu. Elang rindu merasakan kulit Nindya yang halus dan tanpa noda di seluruh tubuh dosennya itu. Mulus.

Dan betis indah Nindya … sungguh bisa membuat Elang berfantasi gila karena sangat menyukainya. Bagaimana bisa? Entahlah! Selain wajah, Elang juga selalu mengamati kaki wanitanya selain dada dan bagian lainnya.

"El, buat aku ini rumit. Aku seorang pendidik di kampus, banyak yang aku pertaruhkan kalau gosip ini menyebar luas tanpa diredam. Aku …."

Nindya tidak melanjutkan kalimatnya karena terganggu dengan bunyi ponsel Elang. Dia hanya mengangguk sekilas untuk memberikan waktu pada Elang mengurusi telepon yang mungkin penting.

"Halo … iya inget, tapi nggak bisa jemput sekarang, hujan deras banget di sini, Vi. Ya basahlah namanya naik motor, iya mundur, abis lomba aja ya! Iya, iya … see you!" Elang meletakkan ponselnya di atas meja, kembali fokus pada Nindya yang moodnya sudah berantakan.

"Udah? Nggak nyesel batalin kencan demi bahas gosip nggak penting di kampus?" tanya Nindya penuh nada sarkasme. Suaranya ketus dan ekspresi wajahnya seperti macan betina yang sedang marah karena ada yang mengganggu anaknya.

"Nin …."

"Aku tuh nggak ngerti sama kamu, berapa kali sih aku harus ngomong jangan kebanyakan cewek, El! Kamu apa nggak bisa belajar jadi setia … dikit aja?!"

"Nindya …!" panggil Elang lembut.

"Kenapa harus Vivian, El? Kamu nggak pernah mikirin perasaan Mayra? Kamu bilang kamu tau kalau dia suka sama kamu dari sejak lama! Dilihat yang bener kalau cari cewek, jangan asal liat body oke aja kamu itu, ngeselin banget sih!" Nindya setengah meledak-ledak mendapati Elang terus saja berhubungan baik dengan Vivian. "Satu masalah belum selesai, kamu udah cari masalah lain!"

Elang pindah duduk tepat di sebelah Nindya. "Masalah gosip di kampus, aku akan mengurus semuanya. Aku akan berusaha meredakannya."

"Caranya?"

"Biar aku yang pikirkan, kamu nggak usah pedulikan apa-apa lagi. Pikirkan saja jawaban buat tunanganmu kalau dia menanyakan hal itu."

"Aku mengerti soal itu," ujar Nindya galak. "Semoga Daniel masih percaya dengan bualanku!"

"Aku minta maaf sudah banyak menimbulkan kesulitan dalam hidupmu," ucap Elang tulus. "Tapi aku tidak bisa janji kalau aku bisa menjauh … jujur, aku merindukanmu setiap hari, setiap saat, mungkin setiap detik."

Nindya tersenyum kecut, "Maaf jika aku egois, aku hanya melakukan yang seharusnya, demi kebaikan bersama. Selain itu aku nggak percaya gombalanmu, nggak bermutu!"

Elang enggan mendengarkan penjelasan Nindya yang menurutnya terlalu melankolis dan banyak drama. Elang menyukai hal-hal sederhana, dan Nindya tidak perlu berbohong soal perasaannya.

Bukan Elang tidak mau mengerti posisi Nindya dengan Daniel, tapi Elang terlanjur jatuh cinta. Buat Elang, hal indah yang tidak pernah dirasakan sebelumnya itu wajib diperjuangkan.

Nindya boleh menolaknya, tapi Elang tidak akan berhenti berusaha. Elang meraih jemari Nindya mengecup punggungnya lalu menatap mata Nindya lembut, "Aku mencintaimu, Nindya!"

"Bagaimana perasaanmu pada Vivian? Apa kamu juga mencintainya? Jawab jujur pertanyaanku!"

Elang menghembuskan nafas panjang sebelum menjawab, "Aku sudah bilang kamu bisa jadi satu-satunya untukku. Artinya tidak akan ada Vivian atau siapapun di hatiku. Tapi aku yakin kamu nggak bisa! Alasannya karena ada Daniel, Daniel dan Daniel, iyakan?"

"Aku nggak suka kamu jalan sama Vivian!" kata Nindya keras kepala. Mengelak dari tuduhan Elang yang tidak bisa ditampik kebenarannya.

"Aku juga nggak suka kamu mau nikah sama Daniel! Kamu pikir enak rasanya ditolak? Kamu pikir aku biasa-biasa saja dengar kamu dengan entengnya memilih Daniel daripada aku? Kamu kira aku nggak punya rasa sakit hati?"

"El …." Nindya berusaha menghentikan Elang sebelum situasi yang awalnya manis berubah runyam.

"Kamu memang sudah nggak hamil anakku, tapi bukan berarti kamu bisa menyingkirkanku dengan mudah. Kamu pernah jatuh cinta nggak sih? Pernah sakit hati?"

"El, dengerin aku dulu!"

"Kamu yang dengerin aku! Asal kamu tau, aku sama sekali nggak baik-baik saja kamu mengakhiri hubungan kita secara sepihak! Terserah kalau kamu bilang itu cuma affair, tapi aku tidak main-main sama kamu, aku khawatir dengan masa depanmu, aku khawatir kamu nggak bahagia dengan Daniel, aku takut kamu direndahkan Daniel karena pernah hamil, itu semua dasarnya aku cinta sama kamu! Dan kenapa aku ngomong begitu? Karena aku laki-laki, menerima wanita yang pernah hamil dengan pria lain di depan matanya itu bukan hal mudah, ada kepercayaan yang dipertaruhkan untuk masa depan yang kamu pilih, ngerti kamu?"

"El …."

"Kamu mana paham gimana khawatirnya aku liat kamu sakit, berdarah, pingsan, kuret … kamu nggak akan bisa rasakan itu karena kamu nggak punya phobia rumah sakit, karena kamu nggak pernah kehilangan orang yang kamu cintai di tempat seperti itu!"

Nindya pias, bibirnya bergetar tak mampu menjawab pertanyaan sederhana dari Elang. Air mata merebak memenuhi bulu matanya yang lentik, siap jatuh di pipi.

"Aku …."

Ah, wanita dan air mata adalah kelemahan Elang. Tidak ada yang mampu membuat hatinya lebih sakit daripada luka dari wanita yang dicintainya. Tanpa kata, Elang menarik Nindya ke dalam pelukannya, mengusap pipi Nindya yang akhirnya basah.

"Jangan menangis, aku minta maaf terlalu emosional!" Elang mencium kedua mata Nindya, lalu membersihkan semua air mata dengan ibu jarinya. "Sebaiknya aku pulang sekarang, aku janji akan jadi mahasiswa yang baik untukmu!"

"El, kenapa pulang?"

"Kamu butuh istirahat, aku tidak ingin mengganggu."

Nindya mendongak, "Kamu pulang karena mau ke tempat Vivian, kan?"

Elang berdecak kesal, tak paham dengan Nindya yang terkadang terlalu impulsif. Elang melepaskan pelukan, mengecup kening Nindya sekilas sebagai sikap undur diri. "Aku janji akan langsung pulang, aku juga butuh istirahat sebelum lomba!"

Nindya mengalah dan mau mengerti untuk alasan terakhir, kalimat Elang cukup masuk akal untuknya. "Tapi kamu beneran pulang ke kontrakan? Besok teknikal meeting jam berapa?"

"Sore jam empat." Elang berdiri, menatap Nindya dengan yakin kalau dia tidak akan pergi ke rumah Vivian. "Aku di kost, kamu bisa video call kalau nggak percaya!"

"Nanti aku telepon ya?" Nindya bertanya tanpa merasa bersalah apalagi harus mengalah pada Vivian. Matanya masih basah saat mencari alasan untuk memastikan Elang benar-benar pulang dan tidak pergi berkencan.

"Ya." Elang keluar rumah dengan ekspresi yang sulit dimengerti Nindya. Seperti orang pusing tujuh keliling.

"Hati-hati." Nindya mengantar sampai teras karena hujan masih turun. Setelah Elang pergi Nindya menutup pagar dan juga mengunci pintu. Nindya baru sadar ponsel Elang tertinggal di atas meja saat mendengar bunyi panggilan dan beberapa pesan masuk sekaligus.

Vivian lagi?

***

Terpopuler

Comments

Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman

Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman

vivian itu prinsipnya maju terus pantang mundur

2022-10-22

1

❤little girl♥

❤little girl♥

El kl marah bikin.... 😇😇😇😇

2022-09-29

0

❤little girl♥

❤little girl♥

cow. cewdlm berpikir dan bertindak emg beda😁😁😁😍😍😍😘

2022-09-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!