Setelah makan siang dengan Mayra dan jalan-jalan ke Gramedia, Elang mengantar Mayra pulang.
"Aku numpang buat data sama cetak laporan di rumah kamu ya, May! Sekalian selesai."
"Iya nanti aku bantuin," jawab Mayra tak keberatan. Sudah biasa dia direpotkan Elang, dan sudah sejak lama hal seperti itu menjadi biasa untuknya. Mayra sadar satu hal kalau dia mencintai Elang lebih dari dirinya sendiri.
Elang sebenarnya bukan sengaja mau merepotkan Mayra, tapi Nindya mengirim pesan kalau sore ini data yang Elang siapkan tidak perlu di email, melainkan dikirim dalam bentuk fisik yaitu berupa lembaran laporan seperti tadi pagi.
Alasan Nindya memang terdengar konyol bagi Elang. Printer di rumah dosennya itu sedang kehabisan tinta hitam, jadi dia tidak bisa membuat cetakan laporan yang Elang kirimkan nanti di atas kertas. Sementara mengecek lewat laptop, Nindya tidak suka karena matanya sedang lelah.
Elang menurut karena posisinya mahasiswa, dan untuk mengerjakan di kontrakan sudah enggan karena dia juga harus latihan setelah pulang dari rumah Mayra.
Hari menjelang sore saat Elang menyelesaikan semua tugasnya. Cukup lama dia bersama Mayra hari ini. Elang harus segera pulang, jadwalnya padat. Mulai dari latihan, menyerahkan laporan ke dosen pembimbing, lalu menemani Vivian ke mall seperti yang dijanjikannya kemarin.
Elang tau kalau dia sering tidak adil pada wanita, terutama pada Mayra. Bagaimana bisa dia tetap berada di sisi Mayra tanpa menempatkan gadis itu menjadi lebih spesial layaknya pacar?
Selalu ada orang lain di sekitar Elang. Seperti sekarang, ada Vivian di kepala, dan ada Nindya di hatinya. Entah dimana Elang menempatkan Mayra dalam hidupnya yang rumit.
Elang sendiri pusing, bersama Mayra begitu lama tidak mendapatkan hubungan yang bisa menggetarkan hati, atau mungkin menaikkan hasratnya. Mayra tidak jelek, tapi Elang hanya sayang sebagai teman yang selalu ada dan siap membantunya kapan saja.
Elang tidak mungkin membayar kebaikan Mayra dengan cinta palsu atau birahinya yang kadang menggebu-gebu. Elang memang buruk, tapi masih punya sisi waras walaupun cuma satu ons. Elang tidak mungkin merusak Mayra yang lembut dan baik hati tanpa menikahinya lebih dahulu.
Hubungan keluarga mereka masih sangat baik meski mama Elang sudah tiada, dan surat mamanya itu tetap menjadi pedoman jika suatu saat Elang tidak menemukan cinta sejatinya.
Tapi Nindya? Ah, Elang semakin sakit kepala dengan pilihannya. Hasratnya pada dosen muda itu semakin menggila setiap harinya. Elang bahkan menyebutnya sebagai cinta pertama … dan mungkin terakhir.
"Aku pulang ya, May! Thanks semua bantuannya!"
Mayra melepas Elang dengan senyum manis dan anggukan samar, "Hati-hati."
Elang mengemudi ke arah kampus. Latihannya bisa sedikit santai karena hari ini adalah sesi terakhir. Setelah berusaha keras, Elang hanya berharap bahwa kompetisi panjat dinding kali ini dia juga bisa membawa trophy. Prestasi yang dicapai untuk menyenangkan mamanya yang sudah berpulang. Membanggakan wanita yang sudah tidak ada di dunia seperti tekadnya.
Lamunan Elang bubar setelah sampai kampus. Dia segera mengganti baju dengan setelan olahraga dan mulai melakukan pemanasan selama sepuluh menit.
"Aku siapin talinya ya!" kata Arga yang baru saja tiba. "Kamu bawa hardness sendiri?"
"Nggak usah, Ga! Aku mau boulder aja sebentar, nggak bawa hardness. Kamu mau speed?"
"Boulder juga kalau gitu, mendung gelap gini, ntar udah pasang lintasan yang ada hujan." Arga menurunkan celana jeans yang dalamnya berlapis celana olahraga, dilanjutkan dengan lari-lari kecil memutari lapangan basket.
Benar saja, gerimis mulai turun diikuti petir. Elang dan Arga hanya latihan ringan di papan bouldering yang letaknya memang indoor. Mengobrol mengenai lomba yang akan diselenggarakan lusa.
"Besok teknikal meeting sama siapa, El?"
"Kamu pikir aku mau ngajak siapa?"
"Ya kali aja ada buah-buah segar yang mau ikut. Vivian kek, atau Mayra atau malah dosen muda yang kamu belikan pakaian nakal itu?"
"Kita berangkat berdua aja, libur makan buah selama lomba berlangsung! Takut pusing kepala," jawab Elang terkekeh geli.
"Tapi dosenmu itu memang belum denger ya kalau di kampus udah banyak gosip soal kalian?"
"Belum mungkin, Ga! Bu Nindya baru cuti seminggu, baru masuk hari ini tadi."
"Katanya dia punya tunangan ya, El? Dosen geologi?"
"Iya, Daniel namanya."
"Wah gimana tuh kalau tunangannya sampai denger gosip itu? Bisa habis kamu, El!" Arga menyeringai kasihan pada Elang. "Babak belur nggak apa-apa asal jangan kena DO."
"Bu Nindya pasti bisa ngasih penjelasan yang masuk akal. Pas ketahuan sama anak kampus, dia bilang beli daleman itu buat hadiah, kebetulan sepupunya baru nikah. Bisa aja dia buat alasan pakaian dalam itu untuk sepupunya!" Elang menjelaskan santai.
"Lagian niat bener kamu deketin dosen pembimbing, mau lulus dengan mudah ya?" Arga tertawa mesum saat melontarkan pertanyaan. "Sayang dosen pembimbingku laki sejati, nggak bisa diajak anu-anu."
"Bu Nindya itu dosen ruwet, Ga! Jadi ngadepinnya juga harus ruwet hahaha …! Ngomong-ngomong jam berapa ini, Ga? Aku sampai jam setengah lima aja, mau nganter laporan ke dosen ruwet."
"Baru jam empat."
Elang melakukan hooking (teknik panjat dengan kaki untuk mengurangi beban yang ada di tangan) terlebih dahulu sebelum bertanya serius pada Arga. "Menurutmu kalau aku sama Bu Nindya aja gimana, Ga? Ketuaan nggak dia?"
"Katanya ruwet?" Arga mencemooh jahil. "Tapi cantik ya orangnya? Tua apanya, kayak masih mahasiswi semester akhir gitu wajahnya!"
"Jadi gimana? Udah terlanjur mupeng aku, Ga!"
"Sinting! Terserah kamu, dengerin aja suara hati kalau mau serius. Jangan otak kotor doang digedein!
"Gitu ya? Tapi mana tahan, Ga!" ujar Elang terbahak-bahak.
Memikirkan Nindya tidak pernah membuat Elang jauh dari namanya keinginan bercinta. Apapun alasannya wanita itu sudah menyihirnya menjadi jauh lebih liar dan nakal saat berdua. Keinginan untuk terus bersentuhan dengan Nindya dan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat selalu hadir saat mereka bersama. Nindya sudah seperti narkoba yang sulit ditinggalkan Elang.
Selanjutnya, Elang menyelesaikan latihan tanpa banyak bicara hingga waktu menunjukkan pukul empat tiga puluh. Dia harus segera pulang, mandi dan pergi ke rumah Nindya.
Elang melepas sepatu panjat dan menyimpan chalk bag, melakukan pendinginan sekedarnya sebelum membereskan semua barangnya.
"Aku balik duluan, Ga!"
Hujan turun deras, Elang berlari-lari menuju tempat mobilnya terparkir. Dewa menghubunginya kalau motor mungkin baru diantar besok. Elang juga membaca satu pesan dari dosennya yang mengingatkan untuk segera mengirim laporan ke rumah.
Beberapa pesan dari Vivian dilewati, isinya hampir sama, menanyakan jam berapa Elang akan datang menjemput untuk jalan-jalan ke mall. Elang mengabaikan sementara pesan pacarnya, ada yang lebih urgen untuk dikerjakan. Bertemu Nindya.
Terpisah beberapa jam membuat Elang kumat malarindunya. Elang sudah tidak tahan untuk menggoda dosen pembimbing itu, Elang juga tidak tahan untuk sedikit saja bisa mencium bibir yang selalu mengundang jadi menu pembuka saat bercinta.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Arjuna'Bayu
lanjut mas Al dir ☝️☝️☝️☝️☝️🤤
2023-01-06
0
Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman
owalhhh lang lang
2022-10-22
0
Rhiedha Nasrowi
malarindu tropikangen itu memang penyakit yang awet 🤣🤣🤣
2022-10-21
0