Dalam perjalanan pulang, Nindya masih tak habis pikir soal Elang. Terutama soal keuangannya, haruskah Nindya bertanya sekarang? Meski Elang terlihat bukan pemakai, tapi siapa yang tau kalau dia bandar narkoba di kampus? Apa salahnya tau latar belakang keuangan mahasiswanya itu sebelum terlambat.
Elang membayar biaya rumah sakit dan memberikan uang pada ibunya untuk kontrol lanjutan. Membelikan pakaian dalam merk ternama yang harganya sepuluh kali lipat dari harga dalaman yang biasa dikenakannya, dan juga membayar belanjaan rumahnya.
Di homestay berlagak seperti bos murah hati, mentraktir makan, plus menyuruh membungkus banyak makanan untuk di rumah. Belum lagi pakaian renang sporty cantik yang hanya terbuka sedikit di punggung tapi tidak memalukan karena menutupi paha atasnya. Menurut Nindya harganya pasti tidak murah mengingat dia sangat nyaman saat mengenakannya. Masih ada dress batik merk ternama di Yogya yang sangat disukainya.
"El, aku boleh tanya sesuatu?"
"Hm, apa?"
"Kamu bayar semua makanan tadi pakai apa?"
"Uang jajan bulanan," jawab Elang malas.
"Trus kalau uangmu habis gimana?"
"Pulang ke rumah, minta tambahan."
"Selalu seperti itu tiap bulan?"
"Kadang-kadang. Oh ya kamu langsung aku antar pulang ya? Kamu masih butuh banyak istirahat," jawab Elang segera mengelak.
Nindya menatap wajah Elang cukup lama sebelum kembali bertanya, "Itu uang yang tidak sedikit. Biaya rumah sakit dan uang yang kamu kasih ke ibu nanti aku ganti, juga uang yang kamu pakai untuk beli pakaian renang dan dress yang aku pakai ini!"
"Rumah sakit dan uang yang aku kasih ke ibu itu biaya anakku, dan aku rasa belum lunas karena dia masih menyusahkan ibunya. Kamu masih belum sehat, masih berdarah dan masih butuh beberapa kali kontrol ke dokter. Soal pakaian renang sama batik, anggap saja itu pengganti hadiah yang kamu kembalikan kemarin," jawab Elang datar. Tidak bermaksud mengungkit luka Nindya apalagi sengaja membahasnya.
Nindya menghembuskan nafas berat, runyam dengan pikirannya. Kadang Nindya merasa Elang begitu dewasa dalam urusan tanggung jawab, kadang jauh lebih menjengkelkan kalau sudah berurusan dengan sikap playboynya.
"El, kamu masih mahasiswa, uang masih minta orang tua, tidak seharusnya kamu menghamburkan uang dengan cara seperti itu. Aku lebih punya uang, El! Aku punya gaji dan juga tabungan," ucap Nindya hati-hati.
"Kamu tidak mengenalku di luar konteks sebagai mahasiswa, Bu Dosen!" Elang tersenyum tipis tanpa melihat Nindya. "Perlu kamu tau, aku sama sekali tidak keberatan membiayai semua kebutuhan ibu dari anakku, aku juga punya uang pribadi dari hasil manjat dinding, tunjangan atlet dan lain-lain."
Uang yang dikeluarkan Elang untuk Nindya hanya nominal kecil, mungkin hanya setengah persen dari apa yang dimiliki mamanya dulu, yang sekarang sudah berpindah seluruhnya pada anak satu-satunya, Elang.
Kalaupun Elang minta uang jajan tiap bulan pada ayahnya, itu karena dia seorang anak, dan masih kuliah. Sudah kewajiban orang tua membiayai pendidikan, memberi makan dan fasilitas padanya. Dewa yang hanya anak ketemu gede saja bisa menikmati uang ayahnya, apalagi Elang?
Nindya menahan sesak dan air matanya agar tidak jatuh. "Tapi anakmu sudah nggak ada, El! Kamu tau persis kejadiannya."
Elang mengangguk samar dengan wajah terluka, suaranya rendah saat berbicara. "Ya aku tau, tapi aku terlanjur memberinya nama. Elnin, terlepas jenis kelaminnya apa, aku mendoakan dia bahagia di sana, bersama mama. Aku tidak pernah meniadakan hal penting seperti itu. Aku juga tidak akan melupakan kalau aku pernah punya anak denganmu walaupun dia tidak pernah lahir ke dunia. Bagiku, kamu ibunya karena dia pernah tumbuh di rahimmu walaupun hanya beberapa minggu! Selamanya tetap akan begitu meski kamu menikah dengan Daniel nantinya."
Nindya terhenyak, air matanya tumpah tanpa bisa dicegah. Kalimat Elang melukai egonya. Bagaimanapun, Nindya juga tidak secara sengaja kehilangan janinnya. Dia sudah bertekad melahirkannya, bahkan jika itu tanpa bapak sekalipun.
Elang membiarkan dosennya larut dalam tangis dan duka. Namun, begitu mobil sampai di depan rumah Nindya, Elang menarik wanita itu ke dalam pelukan. "Aku nggak mampir ya, istirahatlah segera setelah ini!"
Ya ampun? Apa Elang tidak tau kalau Nindya butuh teman berbagi luka? Apa pemuda itu tega meninggalkan Nindya sendiri seperti saat di rumah sakit?
Merasa tidak tau harus bicara apa, Nindya hanya menggeleng lemah. Kepalanya mendadak sakit, ungkapan hati Elang menusuk nuraninya. Seandainya tidak keguguran, dia sudah pasti jadi ibu dari anaknya Elang.
Artinya semua yang disampaikan Elang padanya adalah kebenaran? Selamanya dia adalah ibu dari anak Elang yang tidak pernah dilahirkan. Ya Tuhan!
Nindya turun dari mobil dengan perasaan kacau. Waktunya bersama Elang serasa begitu cepat berlalu. Elang ikut turun hanya untuk membantu membawakan beberapa bungkusan makanan yang dipesan Nindya di cafe tadi.
"El …," panggil Nindya lirih sebelum benar-benar masuk rumah.
Elang memeluk Nindya, meletakkan dagunya di atas kepala dan mulai berbicara pelan. "Jangan nangis! Semua sudah terjadi, kamu juga sudah memutuskan langkah selanjutnya untuk kita. Affair kita sudah berakhir, apa yang terjadi seharian tadi hanya pelampiasan dari rasa rinduku. Aku tidak pernah memaksa kamu untuk mencintaiku karena ada Daniel yang lebih segalanya dariku!"
Lebih segalanya? Tidak juga. Elang memahami kalau tampan dan mapan lekat dengan Daniel. Tapi Elang percaya diri kalau secara fisik dia juga tampan, bahkan lebih menarik dari tunangan Nindya. Soal mapan Elang memang tidak terlihat punya uang karena dia hanya mahasiswa, bukan CEO perusahaan besar atau pekerja berdasi yang tiap bulan punya gaji seperti Daniel.
Dibandingkan Daniel, Elang mungkin hanya kalah satu angka. Apalagi kalau bukan urusan setia dengan wanita? Tapi Elang akan memperbaikinya segera, dia akan membangun kepercayaan Nindya agar jatuh padanya.
Sisi lain, Elang juga sedang berusaha membuat Daniel agar sama tercelanya soal wanita, Daniel akan jatuh ke pelukan Sandra, dengan tujuan untuk menghancurkan kepercayaan Nindya pada tunangannya itu.
Ya, Elang mungkin jahat, tapi dia melakukan itu bukan semata-mata untuk dirinya, tapi juga untuk masa depan Nindya. Elang terlalu khawatir Daniel tidak akan menerima Nindya apa adanya.
Elang hanya berharap Sandra akan menjadi ujian berat untuk kesetiaan Daniel pada Nindya. Dan Elang yakin Sandra akan berhasil dengan misinya, begitu juga dia.
Nindya mendongak, tidak percaya dengan pendengarannya. Tidak mungkin Elang yang biasa bicara blak-blakan berubah jadi manis seperti ini. Elang yang Nindya kenal tidak mungkin mengalah dengan cara lembek seperti yang baru diucapkannya.
"Jadi kamu bersedia mundur?"
"Aku nggak pernah bilang begitu, kita lihat saja besok, lusa dan hari-hari di depan! Aku hanya tidak ingin jadi beban pikiran untukmu, kamu pasti mau fokus mempersiapkan pernikahan dengan Daniel!" jawab Elang datar, sedatar ekspresinya yang membuat Nindya diliputi banyak tanda tanya.
Kebimbangan bergelayut di hati Nindya, antara senang dan juga sedih. "Baiklah, selamat berjuang dalam lomba, semoga menang!"
"Apa aku masih bisa mendapatkan ciuman penyemangat darimu?"
Nindya mendengus, entah kenapa dia merasa dipermainkan Elang seperti layang-layang. Baru saja diulur sudah ditarik lagi. "Bibirku masih perih!"
Siapa peduli? Tiga hari tanpa Nindya bukan hal mudah, Elang pasti tersiksa oleh rindu pada dosennya meski nantinya sangat sibuk.
"Yang ini nggak akan bikin perih. Aku janji!" Elang menunduk, dan entah mengapa dia sangat suka menunduk untuk mencium Nindya yang tingginya sangat kontras dengannya. Elang baru sadar kalau ternyata dia juga menyukai wanita pendek. Sesuatu yang membuat perasaan dominan semakin lekat pada dirinya.
Biasanya Elang selalu memilih cewek tinggi untuk jalan dengannya. Ah ya lupa, Elang tidak pernah memilih Nindya sebelumnya. Wanita itu jatuh dalam dekapannya tanpa sengaja, seperti bidadari yang jatuh dari angkasa untuk ditemukan oleh pangeran berkuda.
Ciuman Elang sangat lembut, dan lebih lama dari seharusnya karena Nindya membalasnya tak kalah lembut. Sayangnya Elang harus melepas Nindya sebelum ciuman berubah menjadi lebih panas dan penuh hasrat.
Dengan berat hati Elang mengatur jarak wajah mereka. Ekspresinya kelam dan matanya segelap malam saat pamitan. "Terima kasih, sampai ketemu tiga hari lagi!"
"Hati-hati, El! Kamu harus menang!" kata Nindya penuh semangat. Kedua tangannya mengusap pipi Elang yang masih menatap wajah merahnya.
Elang tersenyum menawan, "Ya, memang harus menang. Selamat malam, selamat tidur, Bu Dosen!"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
indah aca
dulu aq g bosen2 baca bsl rendra-anggi
sekarang g bosen2 baca elang-nindya...kalian bner2 writer andalan...dibaca berulang2 aq e sek baper ajah.
2024-01-30
1
Sri Bayoe
ambil nafas dulu
2023-04-21
1
Arjuna'Bayu
dir ☝️☝️☝️☝️☝️
2023-01-20
0