Setelah mengirimkan pesan untuk Elang, Nindya segera pulang. Jam mengajarnya telah berakhir dan tidak ada lagi kesibukan berarti untuk dikerjakan di kampus.
Elang pasti sedang latihan, dan baru bisa ke rumahnya setelah selesai. Nindya punya waktu untuk mempersiapkan makan malam bersama Elang. Mahasiswanya pasti lapar setelah olahraga berat, dan Nindya ingin punya waktu lebih lama dengan mengajak makan di rumahnya.
Terkesan cari perhatian, tapi Nindya tidak peduli. Besok Elang sibuk dengan lomba, meski ingin menonton tapi belum tentu Nindya bisa. Jadwalnya di kampus bisa jadi akan menyita waktu. Dia butuh melepas rindu dengan Elang, juga ingin membicarakan gosip yang sedang beredar panas di kampus mengenai kedekatan mereka.
Karena tidak pandai memasak, Nindya membeli lauk saat perjalanan pulang. Gurami asam manis dan ayam bakar madu. Nindya berencana membuat tambahan dadar telur ala Padang sebagai pelengkap. Dia ingat betul kalau Elang suka telur, makanan paling mudah yang bisa diolah wanita mana saja.
Jika saja dia menikah dengan Elang, alangkah mudah melayani makan pemuda dengan selisih usia enam tahun darinya itu. Tidak pernah rewel soal makanan yang disediakan olehnya. Satu-satunya yang mungkin akan membuat Nindya kelabakan adalah hasrat Elang yang menggebu-gebu padanya.
Seandainya sudah menikah, apakah dia mampu melayani Elang dengan baik di atas ranjang? Nindya bergidik membayangkan setiap hari akan selalu ada adegan nakal terjadi di rumah mereka.
Ya ampun, Nindya bahkan masih penasaran dengan kemaskulinan Elang yang pernah masuk ke dalam tubuhnya. Nindya belum pernah menyentuhnya, belum melihat dengan jelas karena waktu itu tenda gelap gulita. Tapi sudah pasti tidak kecil karena Nindya merasa penuh sesak saat Elang ada di dalamnya.
Ah, diam-diam Nindya meremang mengingat semua keintiman yang pernah dilaluinya bersama Elang. Nindya sudah melantur terlalu jauh. Faktanya, dia akan menikah dengan Daniel. Pria yang Nindya tidak tau panas atau tidak karena tidak pernah menunjukkan pesona lelakinya. Jangan-jangan Daniel tidak berselera padanya! Tidak, tidak mungkin seperti itu, Daniel pria normal!
Sampai rumah, Nindya hanya memasak dua menu, telur dan cah kangkung. Biarlah untuk urusan yang satu ini Nindya tidak menyenangkan untuk perut lelaki, tapi setidaknya dia bisa menyenangkan untuk bagian penting yang ada di bawah perut Elang. Ya ampun!
Selesai masak, Nindya mandi, berdandan lebih cantik dan lebih wangi dari biasanya. Kaos v neck rendah tanpa lengan menjadi pilihan, dipadukan dengan celana sepanjang betis yang terlihat membentuk tubuh. Rasa-rasanya penampilan Nindya memang sengaja untuk memanjakan mata Elang yang selalu lapar akan dirinya.
Hujan masih turun deras, Nindya menunggu Elang sambil membaca. Tidak bisa terlalu fokus, deg-degan mengganggu konsentrasi membacanya. Kalau dilihat-lihat, Nindya sungguh seperti gadis yang sedang menunggu kedatangan kekasihnya.
Elang datang setengah jam kemudian, dengan penampilan bak model seperti pagi tadi. Tidak basah seperti dugaan Nindya, tidak berantakan karena harus memakai jas hujan atau helm. Senyumnya memikat saat mengucapkan salam.
"Masuk, El!" ujar Nindya ramah. Matanya masih memindai Elang dari atas ke bawah. Sempurna, batin Nindya dalam hati.
"Iya, Bu!" Elang masuk ke ruang tamu, duduk sopan seperti mahasiswa umumnya jika sedang bertamu ke rumah dosen.
"Kamu naik apa ke sini, El?"
"Oh, pinjam mobil Dewa!"
"Mau teh apa kopi?"
Elang tertawa ringan menatap kecantikan di depannya. Nindya tidak seperti wanita berumur 28 tahun, terlihat muda, segar, menggemaskan, dan Elang terpesona. Mereka berdua saling terpesona tepatnya.
Tidak janjian kalau mereka akan tampil beda dan memukau pasangan. Mungkin karena masalah berat yang menimpa mereka, lalu sepakat mengakhiri affair, lalu mereka merasa tidak bisa dipisahkan dan tidak tahan untuk saling menggoda agar bisa bersama lagi.
"Kopi kalau ada!"
Rumah sepi, hujan di luar cukup deras dan mereka berdua sedang kasmaran dalam diam. Dalam sikap formal antara dosen dan mahasiswa bimbingan.
Elang mengeluarkan berkas laporan dari map, meletakkannya di meja, siap untuk bimbingan. Nindya keluar membawa dua cangkir kopi dan satu toples camilan.
Setelah mengambil duduk berseberangan dengan Elang, Nindya mengambil berkas dari meja, memeriksanya dengan serius.
"Kesadahan air sampel yang kamu ambil masih tinggi, El. Ini hampir 300 mg/L, masih belum bisa memenuhi baku mutu air bersih. Dengan tingkat kalsium setinggi ini, perlu perlakuan khusus jika akan dikonsumsi penduduk. Magnesium dan kalsium karbonat juga masih diatas standar baku air bersih."
"Iya, Bu!"
"Ini tabel kebutuhan air per kapita juga cukup tinggi, setiap hari mencapai 100 liter, jadi kamu harus hitung debit air yang tersedia dalam goa yang kamu susuri nanti, El! Juga buat proyeksi pemenuhan kebutuhan air warga setempat hingga beberapa tahun ke depan. Siapkan peta persebaran mata air di daerah sekitar sana, jadi kamu tidak terlalu sulit untuk menentukan langkah selanjutnya saat ke lapangan."
"Baik, Bu! Jadwal ke lapangan Senin depan, saya akan siapkan bahan-bahan yang Bu Nindya minta, segera."
Hanya tiga puluh menit Nindya memberikan bimbingan dan catatan penting yang harus Elang kerjakan di lapangan dan laporan yang perlu disiapkan untuk ketua jurusan.
"Apa ada yang mau kamu tanyakan?"
"Tidak ada, Bu! Mungkin beberapa hari lagi sebelum bertemu Pak Ronald saya perlu bimbingan pengecekan laporan," jawab Elang datar.
"Ya kamu bisa bimbingan ke saya hari Jumat!"
"Saya pamit kalau sudah selesai, Bu! Saya ada keperluan lain," kata Elang undur diri. Dia masih ada janji dengan Vivian.
"Masih hujan, El!" cegah Nindya, pura-pura lupa kalau Elang datang pakai mobil. "Kita makan dulu aja yuk! Aku udah masak banyak … tega kamu nggak bantuin ngabisin?"
Elang tertegun, Nindya menarik tangannya agar mengikuti ke meja makan yang telah siap dengan banyak hidangan. "Bu Nindya masak semua ini sendiri?"
Nindya terkikik geli, "Aku cuma masak telur sama kangkung, El. Sisanya beli. Aku udah pernah bilang nggak pinter masak, kan?"
"Calon istri Elang nggak harus bisa masak!" jawab Elang tanpa basa basi hingga Nindya merona. "Maaf keceplosan! Maksudnya bukan untuk Bu Nindya."
"Ini bukan acara formal, El! Panggil aku Nindya saja seperti biasanya!"
Elang menatap lembut mata Nindya yang meminta padanya. Mata yang bisa membuat Elang selalu tidak tega untuk menolak. "Baiklah Manisku, aku menurut pada perintahmu!"
"Coba ini El, aku belum pernah beli di tempat itu, kalau enak kapan-kapan kita makan di tempat aja. View sore lumayan cantik di sana!" Nindya mengambilkan semua makanan untuk dicicipi Elang dengan senang hati, melayani layaknya seorang istri terhadap suami di meja makan.
Ah, Elang hampir lupa kalau dia pernah menjanjikan senja indah untuk Nindya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Kenzi Kenzi
nyindir ya bu dos.......inget kah el.sama.janji kala senja
2022-10-22
1
Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman
jadi dijilid 2 ini siapa yg bucin dluan ya
2022-10-22
0
Rhiedha Nasrowi
cantik doang gak bikin perut kenyang 😁😁😁
2022-10-21
1