Elang makan sendirian karena Vivian masih beralasan diet ketat. Gadis itu benar-benar menjaga tubuhnya yang seksi bak Afrodit agar tetap bagus dan tidak membengkak dengan menghindari makan malam.
Selesai menemani Elang makan, Vivian merapikan dandanan dan memulas kembali lipstik merah mudanya.
"Kak, kita ke mall yuk! Ada yang mau aku beli." Vivian mulai merengek manja.
"Capek, Sayang! Dua jam manjat papan, masih nambah manjat kamu, yang ada ngantuk sekarang." Elang menguap menahan kantuk. "Aku anterin pulang sekarang aja ya? Aku mau istirahat!"
Vivian mengerucutkan bibirnya kesal, "Kamu itu sedikit bener waktunya buat Vivi. Nggak peka kalau dikangenin."
"Vi, kamu tau sendiri kegiatan aku seharian ngapain aja. Aku beneran capek! Lagian kayak nggak ada hari lain lagi maksa ke mall sekarang!"
"Besok bisa?" kejar Vivian tidak mau mengalah.
Elang menjawab malas, "Iya, besok abis latihan. Setelah itu aku nggak mau diganggu. Lusa udah masuk hari tenang buat persiapan lomba!"
Vivian mengecup pipi Elang dengan mata berbinar-binar, "Iya ngerti. Terima kasih, My Love! Ya udah kamu istirahat aja setelah nganter aku pulang. Besok pagi aku nggak mampir, ada kuliah jam setengah delapan."
Elang keluar kontrakan diikuti Vivian yang tersenyum penuh kemenangan. Satu rencananya sudah berhasil yaitu mengikat Elang dengan sentuhan terdalamnya. Dia bahkan sudah tidak sabar untuk bercerita dengan Riska soal petualangannya di kamar bersama Elang.
Motor melaju tidak terlalu kencang membelah kota Yogya, menuju Jalan Gejayan tempat Vivian tinggal dengan orang tuanya. Pelukan Vivian sanga rapat di punggung Elang. Seolah tidak pernah ingin kehilangan pemuda yang dicintanya.
Di pertigaan lampu merah, tak sengaja Elang berhenti di belakang mobil dengan nomor polisi yang tak pernah asing karena pernah mengemudikannya beberapa kali.
Oh … rupanya dosen pembimbing Elang, wanita yang sedari minggu lalu hingga saat bercinta dengan Vivian tadi, mengganggu ketenangan otak Elang sudah kembali ke Yogya. Tepat tujuh hari setelah kuretase. Sudah selesai cuti atau mungkin karena besok mulai mengajar di kampus lagi?
Elang iseng memajukan motornya dan berhenti di samping depan mobil Nindya, pura-pura tidak melihat apapun. Berbeda dengan Vivian yang memang tidak menyadari keberadaan Nindya.
Setelah melirik spion yang tidak bisa menampilkan wajah Nindya, Elang melaju santai karena lampu hijau sudah menyala. Elang memilih jalur pinggir karena ingin melihat Nindya pergi ke arah mana.
Hanya saja Elang tidak melihat mobil Nindya melewatinya. Kemungkinannya hanya dua, Nindya sudah melihatnya dan berkendara lebih lambat untuk mengawasi dari belakang, atau Nindya memang pergi ke arah berbeda dengan Elang.
Tak lama, mobil Nindya terlihat tidak jauh di belakang Elang. Dengan seringai jenaka, Elang langsung menaikkan kecepatan motornya dan menghilang dalam kepadatan jalan raya. Meloloskan diri dari pandangan mata dosennya.
Nindya mengumpat kasar di dalam mobil. Di pertigaan lampu merah tadi, dia tidak salah mengenali sejoli yang berhenti di depannya. Mahasiswa bimbingannya dan sang pacar, Vivian. Pemandangan yang membuat wajahnya spontan merah padam.
Bagaimana tidak? Elang meninggalkannya di rumah sakit sendirian, maksudnya pemuda itu pulang setelah ibunya datang. Tapi tanpa pamit terlebih dulu padanya. Lebih parah lagi, tega tidak menghubunginya selama dia istirahat seminggu di Semarang. Jangankan telepon, sekedar pesan tanya kabar pun tidak.
Lalu apa bedanya Elang dengan Daniel yang tidak datang menjenguknya karena banyak kesibukan? Sama saja, sama-sama brengsek dan tidak memiliki perasaan.
Apa pemuda itu tidak ingat, seminggu lalu di rumah sakit menawarkan sebuah pernikahan untuknya? Nindya terlanjur berpikir kalau Elang memang mencintainya, ternyata … Elang juga cinta Vivian dan entah siapa lagi yang tidak diketahuinya. Benar-benar serupa dengan ayahnya yang super baji*gan.
Bisa dikatakan, pernikahan yang ditawarkan Elang adalah prank tersakit abad ini bagi perempuan berumur seperti Nindya. Nyaris saja Nindya percaya mulut berbisa mahasiswanya. Benar-benar apes!
Dengan perasaan terluka, Nindya mengemudi cepat menuju rumahnya setelah Elang menghilang dalam ramainya jalan raya. Air matanya merebak, membuktikan ada rasa ngilu bergelayut di lubuk hati. Sial! Nindya bahkan tidak pernah menangis spesial untuk Daniel.
"Dasar playboy mesum!" rutuk Nindya memukul kemudi. Tangannya juga beberapa kali mengusap air mata yang akhirnya jatuh deras ke pipi.
Nindya kehilangan respek pada pemuda yang seminggu lalu membayar tagihan rumah sakitnya. Juga memberikan uang pada ibunya untuk biaya kontrol kembali ke dokter kandungan.
See! Ternyata Elang melakukan semua itu hanya untuk anaknya yang gagal lahir, bukan untuknya! Dan tangis Nindya semakin menjadi-jadi, tersedu sendiri di dalam mobil sambil mengumpati kebodohannya.
Sampai di rumah, Nindya langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri. Pembantunya diliburkan karena dia sebelumnya berniat cuti lama, sekitar dua minggu. Dan sekarang Nindya terusik oleh kesendirian dan kesepian.
Pertemuannya dengan Daniel dua jam lalu tidak membuat hatinya bahagia. Obrolan terasa dingin meski Daniel sudah bersikap biasa padanya. Isi obrolan masih sama, membahas rencana kerja lapangan Nindya minggu depan dan juga jadwal mengajar Daniel yang semakin padat. Rutinitas kencan yang mulai membosankan bagi Nindya.
"Aku minta maaf, Nin! Aku memang tidak bisa menemanimu di rumah sakit, aku benar-benar sibuk menyelesaikan pekerjaan. Tapi pilihanmu untuk menggugurkan kandungan di sana sangat tepat, jauh dari orang-orang yang mungkin tidak sengaja melihat aktivitasmu keluar masuk rumah sakit dan bertemu dokter kandungan."
"Kita akan menikah sesuai rencana, kamu boleh mempersiapkan semuanya dari sekarang. Aku akan transfer uangnya ke rekening kamu besok, mungkin kamu butuh bayar DP buat wedding organizer!"
"Aku janji akan lebih banyak meluangkan waktu untuk kita setelah ini, lupakan semua masa lalu! Kita mulai semua dari awal," ujar Daniel sebelum menjawab telepon dari rekannya dan pamit karena sudah terlambat untuk meeting. Entah apa juga yang dimeetingkan di hari itu Nindya tidak ingin tau.
Nindya masih terngiang permintaan maaf Daniel yang terkesan sekedarnya, juga kalimat lain yang menunjukkan betapa hambar hubungan mereka. Nindya menelan ludah yang terasa pahit. Nindya memang tidak jujur dengan apa yang menyebabkan dia sampai kehilangan bayinya pada Daniel.
Bukan tanpa alasan Nindya melakukan hal itu. Daniel tidak terlalu ingin tau cerita sebenarnya, jadi untuk apa Nindya menjelaskannya? Daniel hanya mengharapkan dirinya kembali sudah tanpa 'sesuatu yang hidup' dalam rahimnya.
Namun, keputusannya untuk menikah dengan Daniel tidak bisa diubah-ubah lagi. Dia sudah bertekad untuk segera mulai mengurusi persiapan pernikahan. Oleh karena itu Nindya harus segera terbebas dari membimbing penelitian Elang, agar hatinya lebih mendapatkan kemantapan.
Bagaimanapun, sikap Daniel yang masih mau menerimanya patut dihargai. Dan meski calon suaminya itu terkesan tidak hangat, tapi masih lebih baik perilakunya jika dibandingkan dengan Elang yang playboy.
Setelah puas menangis, Nindya mengambil ponsel dari dalam tas. Satu pesan ditulis Nindya untuk Elang. Nindya tidak akan membiarkan Elang enak-enakan pacaran sama Vivian tanpa menyelesaikan laporan.
[Besok bimbingan ke saya jam depalan pagi]
Nindya memberikan jadwal dadakan pada Elang dengan seringai kemenangan. Perasaannya sedikit lega karena bisa membuat Elang sibuk dengan tugasnya sebagai mahasiswa malam ini.
Tidak ada balasan pesan dari Elang, lima menit sudah berlalu dan Nindya kembali gusar.
[Saya minta hasil uji fisika dan uji kimia dilampirkan dalam tabel laporan besok, lengkap dengan data statistik asli dari BPS lima tahun ke belakang]
Sepuluh menit berlalu, Nindya masih tidak mendapatkan balasan. Dosen muda itu seketika berubah lebih berang seperti singa betina yang hendak menerkam lawan.
Nindya melihat nomor kontak di layar gadgetnya dengan perasaan marah, cemburu, kecewa dan segudang perasaan lain yang tidak bisa diungkapkan dengan kata.
Dengan nekat, Nindya menghubungi kontak mahasiswanya, ingin mencaci dan melampiaskan sesak yang menggumpal di dada. Satu kali nada sambung, dua kali … dan panggilannya tidak ada yang menjawab setelah diulang tiga kali.
Nindya menangis pilu setelah menjatuhkan ponselnya ke lantai. Berani-beraninya mahasiswa nakal itu mengabaikan dosennya!
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Sri Bayoe
tarik nafas dulu
2023-04-20
1
Namika
mungkin si daniel cm kasihan sm kamu
2022-12-29
1
Namika
😒😒
2022-12-29
1