Omong Kosong

Di depan gedung laboratorium, Mayra menatap Elang tanpa berkedip. Potongan rambut Elang baru, tidak lagi semi gondrong berantakan tapi dengan gaya mohawk rapi. Dipadukan dengan setelan kuliah yang lebih dari biasanya, Elang tampil memukau seperti model majalah pria.

"Udah slese bimbingannya?" tanya Mayra setelah Elang sampai di dekatnya. "Cepet bener?"

"Yang penting acc. Gimana nggak cepet orang datanya belum siap," jawab Elang cengengesan.

"Bu Nindya nggak marah?" selidik Mayra tanpa melepas tatapan pada calon suaminya.

Elang menggeleng percaya diri, "Nggak, salah siapa ngasih jadwal bimbingan dadakan!"

Calon suami? Ups … itu dulu saat mama Elang masih ada. Beberapa tahun lalu saat Mayra dan Elang masih sekolah menengah atas, saat mama Elang masih berhubungan baik dengan ibunya. Semua memang hanya lisan, mama Elang pernah meminta Mayra untuk menjadi menantu.

Entah itu hanya bercanda atau serius, tapi kalimat seperti itu beberapa kali Mayra dengar. Ibunya juga setuju-setuju saja jika Mayra bersedia menikah dengan Elang di masa depan. Menurut ibunya, Elang anak yang baik dan penyayang.

Tapi Mayra merasa semakin jauh dari Elang sekarang, ada Nindya yang menjadi saingan terberatnya, belum lagi Vivian. Elang menyukai kecantikan, dan Mayra merasa dia tidak begitu cantik. Nindya cerdas, dan Mayra semakin tidak percaya diri karena menganggap dirinya memiliki kecerdasan yang biasa-biasa saja. Tubuh Vivian sangat menggoda, jauh dari apa yang dimiliki Mayra.

Wajah Mayra memang manis, tapi bagi Mayra serasa kurang. Tidak ada kelebihan lain yang bisa membuat Elang meliriknya, lalu mempertimbangkan dirinya untuk sejajar dengan Nindya atau Vivian. Terlebih mama Elang sudah tiada, jadi siapa yang akan membantunya untuk mendapatkan Elang?

Mendapati fakta itu, hati Mayra teriris. Cintanya pada Elang tidak akan pernah berbalas. Dia semakin merasa tidak cocok bersanding dengan Elang yang tampan. Mantan Elang semua cantik, kalaupun tidak begitu cantik pasti sangat seksi dan menggiurkan bagi kaum lelaki.

Arrgghh, Mayra terlalu naif untuk mengakui bahwa dia menyukai Elang bukan hanya saat kuliah. Tapi dari sejak mereka duduk di bangku SMA. Kebanggaannya diikuti Elang masuk Teknik Kimia sekarang luntur. Awalnya, Mayra sempat berpikir kalau Elang memilih jurusan yang sama dengannya karena ada hal manis yang akan terjadi di antara mereka.

Ternyata semua hanya mimpi di siang bolong. Hubungan mereka tetap sebatas teman biasa. Tidak ada sedikitpun yang istimewa. Bahkan Mayra sering menelan rasa sakit hati, cemburu dan kecewa ketika Elang dengan mudah berganti wanita yang sukses menjadi pacar, yah meskipun itu tidak pernah berlangsung lama.

"Kamu kenapa, May? Kok malah melamun?"

Mayra mengerjap beberapa kali, menguasai dirinya terlebih dulu sebelum menjawab, "Jadi ke BPS sekarang?"

"Ya bentar!" Elang menghubungi adiknya meminta tukar kendaraan.

"Kamu tumben rapi banget?"

"Apanya? Biasanya juga rapi! Mungkin karena baru potong. Cocok nggak aku pake style rambut mohawk pendek gini?" Elang tertawa. Menertawakan diri sendiri yang mau repot-repot seperti itu hanya untuk membuat Nindya menatapnya lebih banyak, lebih intens, lebih bergairah dan lebih terpesona.

Elang berharap dosen muda cantik itu tidak hanya menggunakan telinganya untuk jatuh cinta, tapi juga memakai mata untuk melihat keseluruhan dirinya.

Menjadi pria dominan untuk pacar-pacarnya, bahkan jika itu untuk Mayra menurut Elang sesuatu yang biasa. Mereka penurut dan mudah ditaklukkan. Tapi jika wanita itu Nindya, yang sangat keras kepala, yang munafik mengakui perasaannya, dan tentu saja impulsif … menjadi tantangan tersendiri bagi Elang. Dan tidak ada mapala yang tidak menyukai adrenalin mereka bekerja untuk menyelesaikan sebuah tantangan.

"Kamu melakukan itu semua untuk Bu Nindya?" Mayra berkeras menggeleng, menyangkal jawaban seenaknya ala Elang. Pasti seperti itu keadaan yang sebenarnya, nggak mungkin penampilan Elang yang demikian untuk dirinya yang hanya seorang teman.

"May, apa salahnya dengan penampilan rapi? Kayaknya image mapala yang serampangan lekat bener sama Elang ya?"

"El, setelah sekian tahun tampil apa adanya trus berbeda itu artinya apa?"

"Artinya …?" Elang sok mikir serius sebelum terkekeh-kekeh. "Artinya 'ada apa-apanya', itu kan yang mau kamu denger?"

"Jadi bener tebakanku?"

"Aku juga mahasiswa biasa, May. Kalau yang lain aja rapi kenapa aku nggak bisa rapi coba?"

"Udah nggak usah kebanyakan ngeles sana sini."

Elang menautkan kedua alis, dengan dahi berkerut dia menjawab santai. "Ya, aku ingin Nindya melihatku dari sudut pandang lain … trus terpesona, begitulah kira-kira."

Mayra tidak terkejut, "Wow, aku juga terpesona lihat kamu hari ini, serius! Kamu beda banget sama kemarin-kemarin."

"Trus?" kejar Elang dengan tatapan tajamnya. Dia bukan tidak tau Mayra menyimpan perasaan padanya. "Kamu jatuh cinta nggak?"

Seketika Mayra memerah, Elang tidak pernah membahas apapun soal pribadi Mayra. Entah sengaja menghindar, tidak ingin tau atau memang tidak peka.

"Mungkin, bisa ya … bisa juga nggak!" jawab Mayra ragu. Malu untuk mengakui secara langsung. Elang tidak tertarik padanya, jadi untuk apa dia membuat pengakuan blak-blakan?

Elang juga tidak ingin mendengar ungkapan Mayra secara jujur, dan Elang cukup puas Mayra menjawab ambigu. Hal itu karena Elang takut tidak bisa menjawab apalagi mengabulkan kalau Mayra ingin lebih dari seorang teman. Hatinya sedang tertambat pada Nindya, dan Elang tidak mau menyakiti Mayra dengan jawabannya.

"Ya udah, berangkat sekarang aja ya ke BPS nya, itu Dewa udah datang!"

Elang memberikan kunci motornya pada Dewa lebih dulu. "Aku pinjam sampai malam ya!"

"Iya, Mas! Sampai besok juga nggak apa-apa. Oh ya, kemarin ibu bilang Mas Elang mau dikas …."

Elang melotot tak suka dengan kalimat adiknya. Elang tau ibu Dewa memperhatikan dirinya, mungkin merasa tak enak hati Dewa berkendara mobil sementara Elang memakai motor. Dewa tinggal di rumah besar sementara Elang memilih tinggal di kontrakan bersama teman-temannya.

"Ayo, May!" Elang merangkul bahu Mayra ke parkiran. Meninggalkan Dewa yang langsung ngeloyor pergi ke arah berlawanan.

"Kenapa nggak pakai motor aja sih, El?" protes Mayra kesal. "Pake acara tuker kendaraan segala, udah kayak apa aja!"

Elang menyeringai. Salah satu alasan nakal Elang suka naik motor adalah wanita. Elang sangat suka saat mereka memeluk erat, menempelkan seluruh aset kembar bagian depan di punggungnya, benar-benar mendatangkan sensasi nyaman dan menyenangkan.

Namun, Elang juga brengsek, dia tidak mengizinkan Mayra memeluknya dari belakang. Padahal, Mayra juga ingin seperti Vivian atau cewek lain, bisa naik motor bersama Elang. Sayangnya, Elang selalu memakai mobil saat bersamanya. Jangankan memeluk, Mayra hanya akan duduk manis di sebelahnya tanpa bisa menjangkau tubuh Elang. Sial!

"Itu karena kamu spesial, May! Ntar kamu kepanasan loh kalau naik motor!" jawab Elang serius, tak menggubris raut kesal Mayra yang ingin berdebat panjang dengannya.

Bullshit El!

***

Terpopuler

Comments

Arjuna'Bayu

Arjuna'Bayu

dir ☝️☝️☝️☝️

2022-12-30

0

Mitt²🍒⃞⃟🦅

Mitt²🍒⃞⃟🦅

Bang el aq senyum2 sendiri baca ceritamu , sampe gk fokus sama ceritaku . jd ngleg ini🙈😅😂

2022-11-03

1

Kenzi Kenzi

Kenzi Kenzi

el ga mo ngasih pengharapan sama may

2022-10-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!