Cuma Tanya

Bimbingan selesai tak lebih dari tiga puluh menit. Nindya membubuhkan tanda tangan di beberapa lembar laporan yang sudah disusun Elang semalam. Siap untuk diajukan pada kepala jurusan tanpa perlu revisi ulang.

"Data statistik lima tahun ke belakang bisa kamu email bersama laporan ini sore nanti," tutup Nindya dengan wajah bangga. Mahasiswa nakalnya ternyata sama sekali tidak mengabaikan pesannya.

"Baik, Bu!" Elang mengangguk sekilas lalu menatap Nindya sambil tersenyum memikat. "Bu Nindya sudah sarapan?"

"Sudah, El." Nindya tidur terlalu malam dan bangun kesiangan karena memikirkan Elang. Jangankan membuat sarapan, mandi saja secepat yang dia bisa!

"Kalau ngopi?"

"Apa itu ajakan?" tanya Nindya dengan raut serius.

"Cuma tanya … alias iseng-iseng berhadiah!" jawab Elang sok tak berdaya. "Saya takut ditolak, jadi nggak berani ngajak-ngajak sekarang. Takut nggak sopan trus dapet hadiah gampar kayak dulu waktu di pinggir sungai!"

Nindya menghembuskan nafas kecewa. Meski terlihat tak pantas, tapi ngopi dengan Elang tidak akan mencurigakan buat orang lain. Elang mahasiswa bimbingannya, dan membahas penelitian Elang di coffee shop adalah hal biasa. Daniel juga kadang membahas urusan akademik dengan asistennya di tempat seperti itu.

"Aku ada kelasnya nanti siang," ujar Nindya sinting. Secara tidak langsung berharap agar Elang akan lebih keras berusaha mengajaknya.

"Saya mau ke BPS sama Mayra bentar lagi, mumpung masih pagi." Elang tersenyum lagi, tak mengindahkan wajah keberatan Nindya.

"Oh ya sudah!" Nindya membalas dengan senyum hambar, kembali ke pemikiran awal kalau dia sudah melepaskan Elang untuk Mayra.

Bukankah seharusnya Nindya senang karena Elang menuruti perintahnya untuk mempertimbangkan Mayra?

Nindya mengangguk dan menjawab lagi dengan pasif, "Semoga bahagia."

"Saya hanya ke BPS, Bu Nindya! Bukan mau ke KUA! Masa gitu aja cemburu?!" Elang terkekeh menikmati ekspresi Nindya yang berbicara dengan tekanan rasa sakit. Walaupun sebenarnya Elang ingin merengkuh kerapuhan berbalut keangkuhan itu. "Tapi kalau Bu Nindya mau ditemani sarapan atau ngopi … saya siap!"

Ya ampun! Elang benar-benar mempermainkan perasaan dosen pembimbing yang sedang melipat wajah di depannya. "Tidak, aku nanti ngopi sama Daniel saja."

"Setau saya Senin sampai Rabu Pak Daniel tidak ada jadwal di sini," ujar Elang menaikkan satu alisnya.

Berteman dengan asisten tunangan Nindya membuat Elang memiliki banyak informasi mengenai pria tersebut. Apalagi Elang dan Sandra sedang terlibat taruhan, update kemajuan kedekatan Elang dan Nindya hukumnya wajib bagi Sandra. Yang pasti asdos pintar itu tidak mau kehilangan uang jajan karena ditipu Elang.

Nindya hampir tersedak mendengar kebenaran dari Elang. "Dia memang tidak ada jadwal ngajar di sini, tapi bukan berarti nggak bisa kesini! Ya sudah kalau begitu, jadwal bimbingan selanjutnya besok siang jam sebelas, di laboratorium analis."

"Besok saya minta izin untuk tidak nge-lab, Bu! Besok hari tenang saya, ada teknikal meeting untuk lomba, saya juga harus istirahat karena lusa sudah lomba. Saya izin tiga hari untuk tidak penelitian dan juga bimbingan," kata Elang jujur.

Nindya berpikir sebentar sebelum menjawab, "Baiklah, kabari aku kalau urusanmu sudah selesai. Dimana lombanya?"

Elang memberitahu nama universitas yang mengadakan kompetisi panjat dinding se-Jawa Bali yang diikutinya. "Kalau tidak lolos babak selanjutnya, mungkin saya hanya izin dua hari."

"Kamu pasti lolos, kamu sudah banyak berlatih untuk lomba itu. Aku yakin kamu menang!"

"Kalau nasib sedang beruntung," sahut Elang tertawa ringan. "Panjat dinding bukan hanya soal otak dan otot, tapi juga ada nasib yang ikut andil. Makanya sering disebut OON, otak otot nasib."

Nindya cekikikan mendengar istilah oon, menurutnya kata itu memiliki arti 'bodoh'. "Aku berdoa untuk keberuntunganmu, El!"

"Akan lebih baik kalau Bu Nindya mau datang sebagai penyemangat!" tegas Elang mengedipkan sebelah mata.

Ya Tuhan! Nindya seketika berdesir, lagaknya benar-benar serupa perawan kencur yang merona hanya karena ada pria yang menggodanya dengan nakal.

"Siapa yang pernah melihatmu dalam lomba?" Nindya menjeda waktu sebelum bertanya lebih lanjut. "Mak-sudku dari kampus!"

Elang menatap Nindya yang salah tingkah, memahami sebenarnya kalau dibalik pertanyaan itu dosen pembimbingnya ingin tau apakah Vivian akan datang saat lomba? Atau ada perempuan lain yang menemaninya selama lomba berlangsung?

"Bagian kemahasiswaan pernah nonton pas saya masuk final, waktu itu datang bersama orang yayasan."

"Oh … aku tidak bisa janji bisa menonton kamu lomba," ujar Nindya ragu, jadwal mengajarnya lumayan padat.

"Nggak apa-apa, saya cukup tau diri sekarang," sahut Elang kalem.

Bagian mana yang bisa disebut Elang tau diri? Pemuda itu bersikap sok manis bukan tanpa maksud. Kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya itu hanya untuk membuat Nindya merasa tidak enak hati.

Elang memang sengaja bicara begitu. Nindya saja yang tidak tau kalau banyak rencana terselubung di balik penampilan dan sikap kalem mahasiswanya.

"Bukan begitu, El. Aku mungkin ada beberapa jadwal kelas yang tidak bisa ditinggal kemana-mana. Kamu tau aku baru saja cuti seminggu!"

"Oke. Ngomong-ngomong Bu Nindya ngapain aja selama seminggu di rumah?" tanya Elang antusias.

"Nggak ada kerjaan! Cuma makan, tidur, nonton televisi."

"Kencan sama Pak Daniel pasti ya?" tanya Elang setengah menuduh.

Nindya menatap Elang skeptis, tertohok dengan pertanyaan yang terdengar sarkas. "Apa jawabanku penting?"

Nindya berasumsi, Elang pasti menilainya sebagai wanita kejam. Mau didekati tapi tidak mau membawa hubungan lebih serius ke masa depan.

"Sama sekali tidak! Terima kasih untuk bimbingan hari ini," ucap Elang santai tapi serius, undur diri dengan gaya sopan mahasiswa alim.

Sambil berjalan, Elang mengambil ponsel di sakunya. Memesan sarapan dan kopi untuk Nindya dari resto terdekat sebelum masuk lift. Dia yakin kalau dosen pembimbingnya butuh makan dan kafein pagi agar tidak sakit kepala setelah bertemu dengannya.

***

...Hai kak, cuma mau ngingetin kalau MC kita itu Pakboy, Playboy, Badboy ya! Jadi jangan baper apalagi kesel. El adalah satu percontohan pergaulan anak kampus jaman sekarang. Maaf kalau kurang berkenan dengan cerita ini, karena saya pribadi suka menulis dengan tingkat orisinil tinggi, karena saya uhuk uhuk uhuk…. ...

...Warning untuk emak-emak pemilik anak bujang jangan boleh anaknya nginap di rumah teman hahaha!...

...Cium dekat buat yang masih marah - Al ...

Terpopuler

Comments

maya ummu ihsan

maya ummu ihsan

kalo batuk minum obat thor....

2023-11-17

2

Sri Bayoe

Sri Bayoe

😄😄😄

2023-04-20

1

najwa arsha

najwa arsha

suka pke bngt ka otor.. jd ngerasa kya ababil persi emak,,

2022-12-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!