Vivi Kangen

Seminggu penuh Elang tidak melihat Nindya, dia juga menahan diri untuk tidak menghubungi sekedar bertanya kabar. Elang membiarkan Nindya beristirahat total di Semarang, di rumahnya. Tidak ada sedikitpun niat Elang untuk mengganggu wanita yang sedang berduka itu.

Bukan Elang tidak peduli, Elang hanya takut Nindya semakin terbebani karena chat atau teleponnya. Nindya sudah memutuskan untuk tidak memiliki hubungan khusus dengannya. Jadi mereka benar-benar akan normal sebagai mahasiswa dan dosen pembimbing.

Elang setuju saja demi untuk menenangkan Nindya. Elang tau Nindya butuh waktu untuk sendiri, jadi seminggu ini Elang berusaha untuk tidak menjadi gangguan bagi Nindya. Untuk sementara.

Untung bagi Elang, jadwal latihannya padat karena mendekati waktu lomba. Dia juga memburu waktu menyelesaikan pengujian sampel penelitian dan laporan kejar tayang untuk ketua jurusan, sehingga bisa membantu mengaburkan rasa rindunya pada Nindya.

Siksaan bukan hanya dari Nindya, Elang juga dijauhi Vivian. Gadisnya merajuk karena dia terlalu sibuk dan tidak bisa menyisihkan waktu untuk berkencan.

Selama seminggu, Vivian sudah berusaha untuk mengekori Elang yang diduganya berpaling pada cewek lain. Memantau kemana Elang pergi berkegiatan setiap hari.

Namun, gosip panas yang beredar di kampus belum bisa dibuktikan. Vivian tidak pernah mendapati Elang jalan dengan Nindya. Vivian bahkan tidak sekalipun melihat Nindya ada di kampus selama enam hari terakhir.

Vivian putus asa, tapi perasaannya pada Elang membuatnya tak berhenti berusaha. Dia harus menurunkan egonya jika ingin mendapatkan hati Elang. Playboy sialan itu benar-benar tidak mencarinya meski sudah berusaha protes dengan cara menghilang.

Hari ini, dengan setia, Vivian menunggu Elang yang sedang latihan bouldering. Dua jam yang membosankan demi mendapatkan perhatian lagi dari Sang Pujaan.

Uh … bukankah seharusnya Elang yang mengejarnya, bukan sebaliknya seperti ini? Bukankah yang berminat pada Vivian jumlahnya tidak sedikit? Entahlah, Vivian juga tidak mengerti kenapa Elang yang harus jadi sasaran untuk ditaklukkan?

Elang melepas sepatu panjat dan chalk bag yang ada di belakang punggungnya. Menyimpannya dalam tas sebelum mendekati Vivian. "Yuk!"

"Udah?" tanya Vivian cemberut tapi tetap memasang senyum manis.

"Bosen ya?" Elang merangkul bahu Vivian, mengajaknya pergi dari arena latihan setelah pamit sekedarnya pada yang lain.

"Bukan bosen, tapi kelaparan!" jawab Vivian bersungut-sungut.

"Mau makan apa?"

Vivian mencibir, "Ish … udah kesorean, Vivi nggak makan lagi kalau udah jam segini. Bikin gendut!"

"Astaga, baru jam lima ini, Vi!" Elang meregangkan tubuh Vivian, mengamati dari atas ke bawah lalu menaikkan satu alis. "Kamu nggak gendut, tapi seksi!"

Wajah Vivian sumringah mendengar pujian Elang. Bisa terlihat seksi bukan tanpa usaha, Vivian tau bagaimana memelihara aset pentingnya. "Aku temani kalau kakak mau makan!"

"Kalau kamu nggak makan aku anter pulang sekarang aja biar nggak kemaleman!"

"Dih, apaan sih orang masih sore kok dianter pulang!" Vivian merengut lagi, dia menunggu Elang latihan selama dua jam dengan harapan bisa berkencan. Bukannya langsung pulang! "Nggak peka bener jadi cowok!"

Elang seketika terkekeh, "Ya udah aku mandi dulu ya sebentar, kamu mau ditemani jalan kemana?"

"Mall," jawab Vivin singkat. Idenya muncul saat ingat gosip yang sedang panas di kampus soal Elang dan Nindya yang terlihat belanja bersama di toko pakaian dalam wanita.

Vivian mengeratkan pelukan saat ikut motor Elang, merapatkan dadanya hingga bagian tubuh yang jadi kebanggaannya menempel ketat di punggung Elang. Ya ampun!

Dalam hati, Vivian bernyanyi kecil, mana ada pria yang tahan godaan seperti itu? Tak terkecuali Elang. Dia yakin seratus persen kalau Elang sedang memikirkan hal panas yang akan terjadi pada mereka nanti.

Senandung Vivian semakin riang ketika kontrakan Elang tidak ada orang lain. Arga dan Komang belum pulang. "Kok sepi, Kak?"

"Belum pada pulang kayaknya," jawab Elang apa adanya. Mencabut kunci setelah menutup pintu ruang tamu. "Mau ke kamar apa nunggu di sini? Aku nggak lama kok!"

Vivian tak menjawab, tapi membuntuti Elang naik tangga ke lantai dua. Menuju kamar Elang. Mulutnya bergumam pelan sesaat setelah masuk kamar dengan aroma maskulin itu, "Ngeri juga kalau sepi begini!"

"Ngeri sama siapa? Nggak ada hantu di sini," tukas Elang sembari keluar kamar untuk mandi.

Vivian mengamati kamar Elang, masih seperti biasanya. Hanya ada satu foto yang terpajang di atas meja belajar. Foto Elang dengan seragam SMA bersama sang mama.

Sebenarnya apa yang dicari Vivian?

Dengan hati-hati Vivian membuka laci meja belajar Elang, hanya berisi alat tulis dan kertas, tidak ada foto atau memo romantis atau apapun yang disembunyikan. Vivian juga membuka lemari, mencari apa ada pakaian wanita yang mungkin tertinggal dan di simpan Elang di sana.

Nihil. Tidak ada apapun yang bisa membuktikan kalau Elang memiliki hubungan istimewa dengan gadis lain. Termasuk Nindya.

Ponsel Elang yang ada di dalam tasnya juga bergambar pemanjat di layar utamanya. Bukan fotonya atau gadis lain. Untuk melihat isinya, Vivian tidak memiliki keberanian. Vivian agak frustasi mendapati fakta terbalik dari apa yang didengarnya.

Akhirnya dia hanya duduk di tepi ranjang, menyalakan televisi sambil membuka pesan balasan yang dikirim Arga padanya. Informasi yang diberikan Arga juga tidak membantu rasa penasaran Vivian. Entah mengapa sahabat Elang itu juga sulit didekati, seperti menutupi semua kelakuan buruk Elang.

"Kenapa, Vi?" tanya Elang heran melihat ekspresi Vivian. Dia masuk kamar bertelanjang dada. Berbicara sambil membuka lemari dan memakai kaos oblong warna hitam bergambar single rafter yang sedang mendayung di atas perahu kayak.

Vivian mematikan ponsel, "Bang Arga pulang jam berapa?"

"Kamu kangen sama Arga? Antara jam tujuh sampai jam sembilan pulangnya! Kalau mau kepastian ya telepon aja yang bersangkutan!"

"Ish … aku kangennya sama kamu, tapi kamu pasti nggak kangen sama aku, nggak pernah dikit aja nyariin Vivi apa tanya kabar, ngeselin!" jawab Vivian merajuk. Bibirnya yang seksi sengaja dibuat-buat manyun agar Elang memperhatikan.

Elang tertawa ringan, "Kangen kok!"

"Mana buktinya kalau kangen? Nggak ada, cuma mau bikin aku gede rasa aja, iya, kan?" Vivian berdiri di depan Elang yang baru berbalik dari depan lemari, dengan pandangan kangen … maksudnya lapar!

Seandainya saja yang mengatakan itu Nindya! Kangen, lalu lapar akan dirinya karena seminggu tidak berjumpa dan mereka ada di dalam kamar seperti sekarang ini ….

Elang pasti akan langsung membopong Nindya ke atas ranjang dan mengungkapkan rasa kangennya dengan cara yang tidak biasa.

***

Terpopuler

Comments

Kenzi Kenzi

Kenzi Kenzi

vivi kh vivi

2022-10-22

0

Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman

Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman

vivian terobsesi,,,,
nindya gmna nih msh jdi dosen pembimbing?

2022-10-22

0

Rhiedha Nasrowi

Rhiedha Nasrowi

aku paleng sebel sama cewek yang suka nguber laki laki terus nemplok kaya cicak di dinding pake gaya sok manis manja pula🙄🙄🙄

2022-10-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!