Bahan Perbandingan

Di mobil, Nindya sesekali bercermin, memperhatikan wajahnya yang sudah rapi dan dipulas make up tipis. Lip gloss strawberry merah muda terlihat mengkilap menutupi bengkak bibir yang didapatnya. Elang bahkan bisa menghirup aroma segarnya.

Elang tertawa kecil melihat tingkah Nindya, menyadari kalau semua itu terjadi karena kesalahannya, "Sakit ya bibirnya?"

"Pedih dikit, kamu kalau gigit nggak kira-kira, liar banget!"

"Namanya aja kangen, nggak sengaja juga, bawaannya gemes terus sih! Nanti aku cium lebih lembut pas ngobatin, janji!"

"Nggak! Nggak mau, udah cukup, hari ini udah banyak! Kamu nggak liat bibirku monyong begini jadinya?" tolak Nindya frontal.

"Ya tambah seksi, jadi pingin isep-isep lagi," jawab Elang cuek.

"Aduh El, kamu beneran nggak mikir kejadian di kamar tadi? Itu temen kamu si Arga liat kita lagi mesra banget nggak apa-apa? Bisa kiamat kalau gosip kedua ini beredar di kampus!" keluh Nindya dengan ekspresi tak berdaya. Karirnya sebagai dosen bakal hancur dan beasiswa ke Jepang yang sedang ditunggunya bisa-bisa dibatalkan.

"Arga nggak pernah ngurusin pribadi orang. Dalam dunia petualangan, kami percaya satu sama lain tanpa alasan logis. Seperti saat manjat tebing alam secara berkelompok, aku sebagai leader (pembuka jalur) bergantung nyawa sama dia yang berjaga di bawah sebagai belayer (bertugas mengamankan pemanjatan). Hal seperti itu juga terjadi saat kami latihan bersama di wall climbing. Saling menjaga agar tidak ada yang celaka. Rasa percaya pada teman yang seperti itu terbawa ke dunia selain petualangan, hingga ke arah yang lebih pribadi. Aibmu adalah aibku. Seperti itulah …," jelas Elang santai.

"Ohya, sampai sedalam itu?" Nindya menoleh, menatap skeptis pada Elang yang sedang fokus mengemudi.

"Ya. Orang lain banyak bilang kami norak, urakan, kumpulan anak nakal, sampah kampus, tapi kami punya sesuatu yang utuh dalam persahabatan, kekeluargaan dan hal-hal yang tidak dimiliki sekumpulan anak-anak di unit kegiatan lain. Alam membentuk kami sampai ke akar."

"Bagaimana jika sikap seperti itu adalah kemunafikan?"

Elang tergelak sebelum menanggapi, "Ketika mendapatkan pendidikan bersama dan beberapa kali tergabung dalam kegiatan alam bebas, satu sama lain akan tau sifat asli temannya. Alam yang menunjukkan bagaimana si A, si B ternyata egonya besar, malas, tidak peduli dengan teman, munafik, pelit. Tidak ada yang bisa bermuka dua saat semua orang kelelahan atau hampir kehilangan nyawa. Seleksi alam yang seperti itu yang akhirnya menyingkirkan orang-orang munafik dari lingkungan pecinta alam."

"Ya, ya terserah kamu. Hanya saja aku masih sedikit kurang percaya!"

"Nggak ada yang nyuruh kamu percaya sama mapala, kan? Tapi kamu bisa pegang kata-kataku, kalau apa yang dilihat Arga di kamar tadi nggak akan sampai kemana-mana."

"Iya aku percaya sama kamu!"

"Cuma percaya? Nggak cinta?"

"Iya cuma percaya!" Nindya mencubit lengan Elang, juga menggigitnya karena pertanyaan yang tidak bisa dia jawab jujur. "Berarti aman, kan? Kalau gitu aku lega."

"Kapan kontrol dokter?" tanya Elang mengalihkan pembicaraan. Nggak perlu bertanya kalau soal cinta pada Nindya. Dosen pembimbingnya pasti akan mengingkari dengan keras kepala. Klise saja alasannya, punya tunangan, mau nikah, Daniel, Daniel dan Daniel.

"Kemarin udah pas sehari sebelum ke sini"

"Trus apa kata dokter?"

"Sehat, cuma dikasih vitamin, juga beberapa pesan!"

"Tidak boleh berhubungan dulu sebelum enam sampai delapan minggu?"

Waktu istirahat yang sangat lama. Dan mereka berdua hampir saja terlena tadi. Memangnya siapa yang bisa mengendalikan hasrat jika sudah bersama di ruang sempit dengan orang yang dicinta?

Mengingat itu, Elang bernafas berat. Dalam hati berjanji tidak akan menyentuh Nindya sampai masa terlarangnya terlewati, atau sampai Nindya siap dan meminta sendiri padanya.

Ah ya, Nindya jelas tidak mungkin meminta jika Elang tidak menggodanya lebih dulu. Dan Elang memang akan selalu menjadi godaan terberat bagi dosennya itu untuk menentukan pilihan.

Enam bulan masih lama, Elang cukup punya waktu untuk mengubah niat Nindya menikah dengan Daniel dan berpaling padanya. Harus bisa, karena Elang tidak suka menerima rasa kecewa.

"Kok kamu tau?"

"Ya dokter juga bilang gitu pas aku konsultasi, kamu lupa siapa aku di rumah sakit?"

"Siapa?" tanya Nindya melengkungkan bibirnya, sengaja menggoda Elang.

"Suami kamu! Mana bisa ngaku ponakan kalau mau diminta tanda tangan persetujuan kuretase di rumah sakit?"

Elang sedikit terbawa emosi. Rumah sakit membuatnya selalu terkenang wanita yang melahirkannya. Kasus Nindya bakal jadi alasan kedua dia tidak akan mengunjungi tempat penyembuhan itu sampai beberapa waktu ke depan.

"Ya kalau nggak bisa ngaku ponakan, kamu bisa ngaku paman!" Nindya terkikik mencairkan suasana hati Elang yang mendadak jelek. Tak lama, jari kecilnya mengusap lengan Elang dengan sentuhan sayang. "Aku cuma bercanda, aku minta maaf!"

"Kalau yang tadi di kamar keterusan gimana itu?"

Nindya mengedikkan bahu, "Entah. Bodoh banget, padahal aku masih berdarah dikit-dikit. Pasti sakit rasanya kalau sampai terjadi!"

Elang menyeringai, untung saja Arga datang tepat waktu. Kalau tidak, dia mungkin sudah kalap meski tau kalau Nindya tidak boleh disentuh bagian dalamnya terlalu cepat. "Ingatkan aku kalau kelewatan! Aku nggak mungkin tega bikin kamu sakit!"

"Itu kamu be-sar, El! Nggak mungkin nggak bikin sakit …." Nindya langsung menutup wajahnya yang panas dengan kedua tangan, kalimat yang keluar dari pikirannya terlalu blak-blakan. Tangannya tadi sempat menyentuh dari luar, juga memastikan ukurannya.

Elang terbahak-bahak melihat Nindya yang memerah hingga ke telinga. "Kamu kenapa?"

Nindya melengos menatap jendela, menjauh dari tatapan Elang. "Udah tau salah ngomong pake ditanya!"

"Ya ngapain malu, kamu kan udah pernah ngerasain sekali. Nggak sakit, kan?"

"Siapa bilang nggak sakit?"

"Kamu nggak protes waktu itu!"

"Gimana mau protes kalau mulut dibungkam sama bibir kamu?"

"Iya sih, tapi nggak trauma kan? Tadi kan udah pegang dikit, jadi sekarang udah tau persis ukurannya." Elang mengeluarkan lidahnya jahil, lalu terkekeh-kekeh sendiri. "Besar mana sama punya Daniel?"

"Gila kamu ya?" Nindya mengerucutkan bibirnya kesal. Pertanyaan Elang sangat keterlaluan dan tidak sopan.

Bukan apa, setelah membandingkan Elang dan Daniel secara fisik, masa iya Nindya juga harus membandingkan 'ukuran' mereka? Bisa-bisa yang dibandingkan bukan cuma besar dan panjangnya, tapi durasi, kekerasan, dan performa bagian penting itu saat bermain-main dalam tubuhnya.

Nindya bergidik merasakan pikirannya melantur kemana-mana. Hasratnya yang tak tersalurkan nyatanya membawa pengaruh buruk pada jaringan otak yang seharusnya lurus.

Tapi sejak kapan Nindya bisa berpikir lurus lagi? Tidak pernah, Elang sudah merusaknya sejak kejadian malam salah sasaran di dalam tenda.

"Aku cuma tanya, nggak ada maksud apa-apa!"

"Tanya yang lain aja kan bisa! Udah ah ngomongin yang lain aja. Abis teknikal meeting mau kemana kamu? Kencan sama Vivian?"

"Makan sama kamu. Off sudah kencannya sampai selesai lomba, biar nggak merusak konsentrasi!"

"Makan di rumah?"

"Di homestay aja ya, aku mau berenang dulu bentar! Aku butuh rileks, yang bawah tegang terus ini, pusing! Kecuali kalau kamu mau bantu lepasin!"

Nindya terperangah, permintaan Elang sangat membuatnya malu. Tapi juga penasaran. Bayangan dia memegang langsung, mengusap dan memanjakan benda tegang itu membuat Nindya salah tingkah dan bergidik. "Kamu berenang aja deh, aku temenin! Lagian … itu kamu gampang banget berdiri sih!"

Elang tertawa ringan, sudah menduga kalau Nindya tidak akan berani menjawab tantangannya. "Iya suka baper kalau lagi sama kamu!"

Bukan hanya Elang, Nindya sendiri tidak memungkiri kalau tubuhnya mudah bereaksi saat bersama Elang. Meski hormon kehamilan sudah menghilang tapi perasaan ingin selalu dekat mahasiswanya itu tetap tertinggal. Nindya terlanjur menyukai bau Elang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kenakalannya.

Astaga, apakah Nindya harus melakukan uji coba pada Daniel untuk menentukan seberapa besar rasa penasaran dan efek yang ditimbulkan jika bersentuhan fisik tanpa kain dengan tunangannya?

Sebagai bahan perbandingan!

***

Terpopuler

Comments

Arjuna'Bayu

Arjuna'Bayu

dir ☝️☝️☝️☝️

2023-01-12

1

Kenzi Kenzi

Kenzi Kenzi

untung ga jdi bad girl bu dos

2022-10-23

1

Kenzi Kenzi

Kenzi Kenzi

berkat el.....bu dus terkontaminasi

2022-10-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!