"Sudah selesai? Kok cepet?" Nindya menguap, masih mengantuk meski sempat terlelap sebentar ketika menunggu Elang mengikuti teknikal meeting.
"Ya ngapain lama-lama, aturan yang dijelasin tiap kali lomba masih sama." Elang memundurkan mobil, keluar parkiran untuk melaju ke arah homestay.
"Trus kita pulang? Bengkel udah tutup belum ya?"
"Tutuplah, udah sore begini. Makan dulu ya, aku lapar!"
"Aku belum mandi, El! Ini baju dari pagi loh, bau asem udah! Masa makan malam begini," ujar Nindya keberatan. "Aku pingin mandi!"
Elang mengendus udara di dalam mobil, lalu menoleh ke arah Nindya. "Wangi."
"Yang wangi itu kamu karena baru mandi sore tadi. Kita pulang dulu ya kalau mau makan di luar! Aku mau mandi sama ganti baju," pinta Nindya memelas. Wajahnya serasa kumal, kulitnya lengket dan pakaiannya bau keringat. Rasa percaya dirinya luntur di depan Elang yang masih segar dan kelihatan lebih macho dengan rambut barunya.
"Nanti kamu nggak mau keluar lagi kalau udah masuk rumah, udah mandi, seger, pasti ngantuk!" Elang ingin ditemani berenang dan makan, memaksimalkan waktu bersama Nindya sebelum sibuk dengan lomba.
"Ya tapi masa gini amat tampilannya? Kamu nggak malu nanti?"
"Nggak!" jawab Elang cepat. Mobilnya berbelok ke arah homestay dan dengan santai parkir di tempat dengan tulisan khusus pemilik.
"El, kamu salah parkir! Parkir tamu ada di sebelah selatan, itu ada tanda panah ke sana!" Nindya mengingatkan dengan nada terkejut.
"Biar aja, siapa juga yang mau marah?" Elang mematikan mesin mobil, menatap Nindya yang sedang mengamatinya dengan ekspresi tidak suka karena sikap Elang yang seenaknya.
"Kamu udah kayak exclusive member aja di sini, perbaiki tingkah kamu yang seperti itu, El!"
Elang mendekatkan wajahnya secara tiba-tiba ke arah Nindya dan memberikan kecupan singkat. "Kamu ke resepsionis dulu ya! Bilang mau ambil barang pesanan Elang! Aku member super eksklusif di sini kalau kamu ingin tau! Aku langsung ke belakang, kebelet!"
Nindya belum sempat menjawab, Elang sudah keluar mobil dan berlari ke dalam homestay melewati resepsionis yang mengangguk sopan padanya.
"Mbak Nindya? Ini pesanannya Mas Elang, semoga pilihan saya nggak mengecewakan!" Resepsionis dengan tag name Dewi mengulurkan paper bag berwarna merah muda sebelum Nindya berbicara.
"Ini pesanan Elang?"
Dewi tersenyum ramah, "Iya, tapi untuk Mbak. Tadi sore Mas Elang telepon minta dibelikan itu untuk pacarnya, Mbak Nindya!"
"Pacar ya?!" Nindya mengangguk dengan senyum tipis, lalu pamit ke arah kolam untuk mencari Elang. Bisa-bisanya pemuda sinting itu masih juga mengakui dirinya sebagai pacar tanpa izin.
Nindya jadi sangat penasaran dengan isi paper bag di tangannya. Dia akhirnya membuka tas kertas yang hanya diikat pita di bagian atas. Dewi bilang itu dipesan Elang untuk dirinya. Wow, istimewa sekali.
"Baju renang? Dress batik?" Nindya bergumam mengamati baju seksi berwarna biru langit yang baru dikeluarkannya. Nafas kecewanya langsung berhembus berat mengingat dirinya tidak bisa berenang sama sekali. Matanya berbinar sebentar melihat dress cantik berwarna dasar hitam dengan batikan berwarna emas.
Elang datang dengan wajah sumringah. Dia sudah memakai celana berenang dan bertelanjang dada. "Ayo aku antar ganti!"
"El, jangan ngelawak! Aku nggak bisa berenang, jangan bikin malu aku!"
Tanpa memperdulikan keluhan Nindya, Elang menarik wanita itu untuk menukar bajunya. "Kamu tadi bilang mau nemenin aku berenang!"
"Tapi aku bisanya nemenin di cafe, atau di pinggir kolam, El!"
"Aku maunya ditemani di dalam kolam, di air!" Elang mendorong punggung Nindya lembut agar masuk ke ruang ganti.
"El …." Nindya menoleh, keberatan dengan ide Elang. "Aku masih berdarah."
"Tekanan air di dalam kolam renang lebih tinggi dibanding organ kamu yang sedang berdarah, jadi nggak ada alas …."
"Ya, ya, ya aku tau itu!" Nindya memutus kalimat Elang. Dia tidak bersedia dikuliahi mahasiswanya. Dia paham kalau darahnya tidak akan keluar mengikuti gravitasi saat berada di dalam kolam renang.
"Mau aku bantu melepas baju?" tanya Elang dengan ekspresi penuh minat. Kedua alisnya naik bergantian untuk menggoda Nindya.
"Aku yakin kamu lihai soal itu, tapi aku bisa sendiri. Mana handuknya?" Nindya merona di bawah intimidasi nakal Elang. Pemuda itu memang hanya melihat tapi serasa sudah menelanjangi dan membuat Nindya salah tingkah.
Tidak wajar, dan jelas sangat salah apa yang dirasakan Nindya sekarang. Gelenyar tak biasa berjalan dari mata tajam itu ke hati Nindya yang rapuh. Hangat tapi juga membakar.
Nindya menutup pintu, berganti baju dengan cepat dan keluar dengan wajah tak percaya diri. Tangannya sibuk menutup lekuk tubuhnya dengan handuk, sementara Elang menatap dengan pandangan gelap penuh hasrat.
"El, aku malu!"
Elang merangkul bahu Nindya, mengecup pelipisnya sambil tertawa ringan. "Aku akan mengajarimu berenang, Manis!"
Tidak ada waktu untuk malu atau mengeluh di dalam kolam bersama Elang. Nindya menikmati semua pelajaran renang dengan antusias. Pilihan berenang malam hari menyelamatkan wajahnya yang sering bersemburat merah. Elang mungkin tidak sengaja menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif, tapi Nindya benar-benar merasakan itu sebagai siksaan yang memabukkan.
Elang tidak menggodanya, juga tidak memanfaatkan keadaan Nindya yang sedang sangat seksi dengan pakaian renang basah yang melekat ketat di seluruh tubuh. Elang serius mengajar Nindya agar bisa mengapung, menggerakkan tangan dan kaki di dalam air dan berenang jarak pendek.
"Udah, El! Capek …." Nindya bergelayut di bahu Elang untuk mendapatkan keseimbangan yang masih sesekali hilang.
Elang mengantar Nindya ke pinggir hingga wanita itu naik tangga kolam dan duduk di tepian. "Tunggu di sini, sepuluh menit! Aku belum selesai."
"Oke!" jawab Nindya dengan senyum simpul. Perhatiannya tidak lepas dari pemuda yang timbul tenggelam membelah air kolam dari ujung ke ujung. Gerakan Elang indah, dan tubuhnya yang bergerak cepat di dalam air sangat menarik perhatian Nindya.
Takjub, itulah yang dirasakan Nindya. Padahal hanya belajar berenang, tapi serasa dunia milik berdua. Elang selalu bisa menyihirnya untuk lupa dengan Daniel dan rencana pernikahan mereka. Lupa bagaimana marah dan kesalnya dia karena Elang masih berhubungan dengan Vivian.
Tidak sampai sepuluh menit, Elang muncul di dekat kaki Nindya yang menggantung ke dalam air. "Ganti baju, Sayang! Kamu mulai kedinginan!"
"Hm …." Nindya bergidik merasakan Elang mengusap kakinya, hanya sampai betis tapi membawa kehangatan yang naik cepat hingga kepala.
Dua minuman hangat diantarkan pelayan cafe ke meja Elang dan Nindya yang sudah memakai baju kering, disusul dengan makan malam pilihan Nindya.
"Aku lupa kalau kamu nggak boleh terlalu capek," ujar Elang dengan ekspresi salah.
"Nggak kok, aku merasa bugar. Thanks dressnya, aku suka!"
"Makan yang banyak!" Elang terus saja menjejalkan apapun yang ada di piringnya ke mulut Nindya.
"El, stop! Aku bisa makan sendiri dan aku mulai kenyang karena kebanyakan yang dimakan!" Nindya menggeleng, menolak sendok yang sudah ada di depan mulutnya. "Udah, aku mau makan puding es krim!"
"Mau nambah apalagi?"
"Astaga, ini aja nggak habis mau nambah?!"
"Buat di rumah, daripada tengah malam nanti kamu lapar."
Nindya tertawa ringan, "Buat sarapan besok?"
"Pesanlah!" ujar Elang serius. Dengan sigap dia memanggil pelayan kafe setelah menyelesaikan makan. Nindya ragu, tapi Elang tetap memaksanya memesan makanan untuk di rumah.
"Udah makan es krimnya? Masih banyak itu!" Elang mengusap bekas es krim di sudut bibir Nindya dengan ujung jari lalu menjilatnya tanpa segan.
"Apa-apaan sih, El? Jorok bener kamu!"
Mendengar Nindya setengah memekik mengeluhkan tingkahnya, Elang mendekatkan wajah, menjilat cepat sisa terakhir es krim yang ada di bibir atas Nindya sebelum dosennya menghindar. "Harusnya tadi begini, ya?"
"El!" Nindya melotot kesal. Matanya seketika mengedar untuk melihat isi cafe. Tidak banyak orang, dan mereka sibuk dengan pasangan masing-masing. "Ini tempat umum!"
"Mau lagi nggak?" Elang menaikkan satu alis dengan ekspresi mabuk, jatuh cinta dan tergila-gila.
Nindya menggeleng cemas, "Kamu sepertinya kurang obat, El."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Sri Bayoe
kurang Obat
2023-04-21
1
Arjuna'Bayu
dir ☝️☝️🤤🤤
2023-01-19
0
Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman
bad boy bucin yaa gini akut bener dahh bucinnya 😁
2022-10-22
1