["Halo, mana Elang?"]
"Ini di sebelahku lagi tidur, ada perlu apa kamu telepon? Vivi ya? Kamu apanya Elang?" tanya Nindya menyebutkan nama yang muncul di layar tadi, dengan gaya pura-pura tidak tau.
["Siapa ini?"]
"Tunangan Elang, nggak tau kan kamu kalau Elang udah punya tunangan? Kasihan banget …! Makanya jangan mau dikadalin!"
["Hah, apa?"]
"Elang nginap sini, di luar hujan deras, jadi nggak usah ngarep dia datang ke tempat kamu!"
["Aku mau bicara sama Elang, penting! Tolong kasih hp-nya ke dia!"]
"Nggak tega mau bangunin, kamu tau kan orang abis nganu-nganu itu capek, dah ah aku juga mau tidur, bye - bye Vivi …." tutup Nindya secara sepihak, dengan seringai jengkel tapi puas.
Ponsel Elang terkunci, tapi Nindya tidak bisa menahan rasa penasaran. Setelah menerima telepon dari Vivian, Nindya sudah dua kali memasukkan nomor PIN yang salah pada ponsel Elang.
Setelah berpikir cukup lama, kali ketiga Nindya dengan iseng memasukkan tanggal lahirnya, lalu terkikik sendiri melihat hasilnya. Ponsel Elang menyala dan Nindya dengan senyum kemenangan bisa membuka semua rahasia Elang yang tersimpan dalam perangkat tersebut. Ternyata Elang menanyakan tanggal lahirnya tempo hari untuk ini.
Tak lama, Nindya berdecak jijik, cemburu dan juga marah. Bagaimana foto Vivian dari segala sudut memenuhi galeri ponsel itu? Bisa-bisanya tidak ada satu biji pun fotonya ada di sana, katanya cinta, katanya sayang ….
Cih, Nindya benci mendapati fakta bahwa ungkapan Elang tidak sesuai dengan apa yang dibayangkannya.
Seketika, Nindya menghapus foto Vivian, terutama yang menonjolkan bagian depannya yang menantang pria lebih dulu. Tak puas, Nindya akhirnya benar-benar membersihkan ponsel itu dari gambar Vivian tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi besok jika Elang mengetahuinya.
Setelah puas melihat keseluruhan isi smartphone Elang, Nindya tertidur karena kelelahan. Nindya berencana mengembalikan ponsel itu besok pagi kalau dia tidak kesiangan, atau selepas jam mengajarnya usai. Ada beberapa pesan yang tidak Nindya buka, salah satunya dari ayah Elang.
Sementara Elang baru sadar ponselnya ketinggalan di rumah Nindya setelah masuk kamar. Elang terlalu malas untuk kembali kesana hanya untuk mengambil ponsel. Elang memilih tidak memperdulikan ponselnya, ada hal penting lain yang harus dikerjakan segera. Membuat janji ketemu dengan Sandra.
Elang membuka laptop untuk mengirim Email pada rekan satu tim proyek kampus itu. Setelah mendapatkan kesepakatan waktu dan tempat untuk ngopi bersama, Elang baru merasa lega.
Sebelum tidur, Elang mengirim satu email pada Nindya untuk menyimpan ponselnya.
**
Coffee shop yang dipilih Sandra untuk bertemu Elang tidak begitu jauh dari kontrakan. Elang sudah duduk menunggu selama sepuluh menit sambil mengerjakan sisa laporan untuk ketua jurusan.
"Hei … udah lama? Sorry telat, macet!" Sandra menarik kursi di depan Elang, duduk dan menyandarkan punggung dengan ekspresi lelah.
"Aku udah pesen dua kopi barusan, tambahin makanan sendiri nanti. Ada es krim juga kalau mau!"
Sandra mengibaskan tangan tak peduli pesanan Elang, "Iya gampang nanti. Aku nggak bisa lama, jadi langsung aja ke pokok permasalahan, aku lagi nggak ada uang … jadi jangan nagih di sini."
"Astaga, aku cuma mau ngopi sama kamu, San!" Elang tergelak melihat ekspresi Sandra sudah seperti orang kalah judi, "Tapi kamu sadar ya kalau kalah taruhan sama aku?"
"Gosip di kampus sudah membuktikan kalau aku pasti kalah. Kalau kamu bisa jalan berdua dengan Bu Nindya dan membeli pakaian dalam wanita … itu sudah mengindikasikan kedekatan yang istimewa, bukan antara dosen dan mahasiswa lagi. Yah … walaupun sebenarnya aku sulit percaya!"
"Oke stop bahas itu dulu, aku mau tanya sesuatu yang penting sama kamu."
"Apa?" tanya Sandra antusias.
"Secara pribadi dan sebagai asisten Daniel, kamu tau kan kalau dosenmu itu sudah bertunangan dengan Bu Nindya? Mungkin nggak kamu bisa jatuh cinta sama Pak Daniel?"
"Ya mungkin aja, sama seperti kamu terbiasa bimbingan dengan Bu Nindya. Sering ketemu trus kamu jatuh cinta. Itu maksudnya? Tapi aku nggak segila kamu sih!"
"Kalau Daniel yang suka sama kamu gimana?"
"Ya nggak mungkinlah, El! Siapa gue siapa Bu Nindya? Ibarat bumi dan langit, kan? Pak Daniel bisa suka sama aku kalau aku main dukun kali hahaha …."
"Menurutku Daniel dan Nindya memiliki hubungan istimewa karena mereka punya pekerjaan yang sama, punya kecocokan saat membahas sesuatu yang bersifat akademik atau segala hal yang berbau fundamental! Kamu paham nggak?"
"Maksudmu Pak Daniel tidak menilai seseorang dari kecantikan? Tapi dari kecerdasan? Begitu juga dengan Bu Nindya? Tapi melihat situasi sekarang, aku jelas bukan tipe Pak Daniel, aku nggak secantik Bu Nindya!"
"Belum tentu, hal-hal bisa berubah seiring waktu dan kebiasaan, artinya kamu punya peluang buat deketin Daniel dari sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan cantik! Anggap saja cantiknya Bu Nindya itu hanya bonus dari hubungan mereka!"
Sandra termenung bingung, curiga dengan arah pembicaraan Elang. "Kenapa aku harus deketin Daniel?"
"Untungnya banyak. Kuliahmu mulus, masa depanmu cerah dan tentu saja … perbaikan keturunan!" jawab Elang terkekeh geli.
"Sial! Kamu ngomong gini karena ada maksudnya, kan? Jahat banget kamu mau pisahin Pak Daniel dari Bu Nindya, El!"
"San … mereka itu belum nikah, belum ada surat yang mengikat, aku nggak ngambil istri orang loh dalam kasus ini. Aku hanya mencoba peruntungan karena aku suka dengan si wanita, kalau kamu mau ambil bagian untuk menggoda si pria, salahnya dimana? Toh nggak ada ruginya di kamu!" jelas Elang santai.
"Sebenarnya mau kamu apa sih?"
"Gini … misal kamu naksir sama cowok yang udah punya pacar, ada yang ngelarang nggak? Misal lagi, kita ketemu orang baru di pesta nikahan teman trus kita jatuh cinta pada pandangan pertama, salah nggak?"
"Oke aku setuju, cinta bukan hal yang salah. Tapi kamu beneran gila, El! Aku bisa aja deketin Daniel dengan alasan apapun, tapi nggak mungkin banget Daniel mau melirik balik ke aku yang kumel begini, masa iya modal cerdas doang cukup?!" Sandra mulai tertarik dengan obrolan ala mahasiswa stress yang nggak lulus-lulus.
"Ke salon kali, San! Perawatan!"
Sandra tergelak mendengar usul Elang. Kepalanya menggeleng keras saat menjawab, "Jangan konyol deh kamu!"
"Aku kan udah bilang, kamu butuh ini sama Daniel," ujar Elang seraya menunjuk kepalanya. "Beberapa pria sangat suka perempuan cerdas! Ditambah kamu punya selera humor yang bagus dan kamu juga tipe cewek hangat, Daniel pasti akan melihatmu jika kamu berusaha. Kamu cuma perlu dipoles dikit, make up dan juga mengubah gaya rambut … plus penampilan!"
"Nggak, nggak, gila itu! Aku nggak sepercaya diri itu, El!"
Elang menyodorkan sepuluh lembar voucher klinik kecantikan dan spa pada Sandra. Voucher yang Elang ambil dari homestay. Voucher yang membuat Sandra membelalakkan mata karena nominalnya. "Buat perawatan kamu! Ini juga ada voucher menginap dua malam di homestay, siapa tau kamu bisa ajak Pak Daniel bikin bayi di sana hahaha …."
Sandra mengerjap beberapa kali, "Gila … kamu seserius ini, El?"
"Ya, aku juga akan bayar tiga kali lipat dari nilai taruhan kita kalau kamu berhasil deketin Daniel. Nggak harus jadi pacar, jadi selingkuhan juga cukup. Bagus lagi kalau kamu bisa gantikan posisi Nindya, nggak rugi kan? Dosen, muda, tampan, mapan woi … jaminan mutu, San!"
Sandra geleng-geleng kepala nggak habis pikir dengan ide Elang. "Kamu gila!"
Tapi mendapatkan kesempatan bersama Daniel sambil menikmati fasilitas dari Elang apa salahnya? Bisa dibilang untung banyak, dan sialnya Elang benar.
"Iya, aku gila karena cinta!" sahut Elang tertawa lepas.
"Beneran brengsek kamu, El! Tapi aku coba aja deh," ujar Sandra pada akhirnya. Senyumnya terkulum setuju. Sekali-kali berburu pacar yang tampan plus mapan memang kenapa? Syukur-syukur bisa sampai pelaminan. Toh dia tidak menggoda apalagi mengambil suami orang, ups!
"Nah gitu dong semangat!" Elang nyengir senang. Nindya boleh saja percaya kalau tunangannya setia, tapi Elang juga boleh menguji kesetiaan Daniel, kan?
"Jadi kamu ngajak ketemu cuma buat ngobrolin ini?" tanya Sandra masih kurang percaya.
"Iya, salah ya?"
"Tadi aku udah ge-er kirain kamu mau ngajak kencan, setengah nggak percaya aja kalau selera kamu mendadak turun drastis. Sampai-sampai aku mikir bisa hancur reputasi kamu kalau sampai jalan sama aku!"
"Nggak usah hiperbola!" sahut Elang cepat.
"Fakta!"
Elang mendelik tak suka. "Kapan kamu mau gerak, San?"
"Sekarang," jawab Sandra mengambil voucher-voucher dari atas meja seraya terkikik senang.
"Langsung? Nggak nemenin aku sebentar di sini, makan dulu kek! Aku yang bayar, jangan khawatir, San!" Elang seketika protes.
"Lebih cepat lebih baik, kan? Thanks ya, El … kamu sedikit membuka mataku untuk melihat masa depan lebih cerah hahaha …." Sandra menyeruput kopinya sampai habis lalu melenggang keluar coffee shop dengan riang. "I am coming, Mr. D!"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Sri Bayoe
😁😁😁😁
2023-04-21
1
Arjuna'Bayu
Yo mas, aku bantuin dapat buk Nindya tapi bantuin aku dapat buk RT
2023-01-06
1
Kenzi Kenzi
setuju gw pak dos sama.asist
.....cocol
2022-10-22
1