Mental Juara

Dua hari lomba dilewati Elang dengan penuh keringat. Babak penyisihan sudah berat, semifinal jauh lebih sulit dan sangat berat. Elang ada di urutan delapan, posisi terakhir peserta yang masuk final. Itupun hanya unggul tipis dari pemanjat freelance urutan sembilan yang dinaungi oleh sebuah club panjat di Yogyakarta.

Final kategori boulder dan speed memakan waktu tunggu cukup lama. Dari pagi kategori pelajar sudah dipertandingkan, begitu juga untuk umum. Sore ini final kategori lead climbing yang diikuti Elang baru akan bertanding. Untungnya, istirahat Elang cukup, kondisi juga prima untuk menyelesaikan lomba.

Semua peserta sudah melakukan pemanasan dan kesempatan untuk ormed (mengamati jalur pemanjatan atau biasa disebut orientasi medan). Elang masih menggunakan jaket untuk menjaga suhu tubuh agar tetap hangat.

Beberapa teman dari mapala tadi dilihatnya ada di barisan penonton. Ketua mapala datang mendampingi bagian kemahasiswaan dan dua orang dari yayasan.

Ini kali kedua Elang mendapatkan perhatian lebih dari kampus saat lomba berlangsung. Elang senang tapi juga terbebani dengan kehadiran mereka. Takut mengecewakan jika pemanjatannya kurang bagus, mengingat dia lolos ke final di posisi paling bawah dari delapan peserta.

Bukan hanya itu, hasil lomba kali ini cukup menentukan disetujuinya proposal LPDN (Lomba Panjat Dinding Nasional) yang akan digelar dalam rangka perayaan HUT organisasi mapala yang ke-25 di kampus. Apalagi jika bukan masalah dana. Di samping itu, yayasan sedang menjual nama dan prestasinya sebagai magnet untuk menarik minat calon mahasiswa baru tahun depan. Sebagai duta kampus, tepatnya sih … artisnya kampus!

Elang harus menang, setidaknya meraih juara tiga jika ingin bagian usaha dana yang sudah mengajukan proposal LPDN ke beberapa sponsor mendapatkan sumbangsih bernilai besar. Ah, Elang benar-benar dalam tekanan besar dalam lomba kali ini.

Pemanjat ke enam sedang merayap di papan panjat diiringi musik dan tepukan penyemangat dari seluruh penonton. Elang duduk menunggu giliran di belakang wall climbing yang sedang digunakan. Merapikan sepatunya dan melakukan gerakan ringan sebagai persiapan.

Deg-degan masih sedikit terasa. Meski ini lomba kesekian yang diikutinya, tapi beban tanggung jawab yang ada di bahunya paling besar dibandingkan sebelumnya.

Dari jauh, Elang bisa melihat tim penyemangatnya berkumpul di dekat tenda panitia. Sudah tidak sabar untuk menunggu aksinya. Elang meringis geli, kenapa tidak ada satupun wanita penggemarnya datang untuk menyemangati? Apa olahraga panjat dinding kurang diminati hingga tidak banyak penonton wanita? Kurang keren dibandingkan dengan basket yang selalu ada tim hore pemandu sorak?

Vivian tidak mungkin hadir karena sedang marah besar gara-gara teleponnya diangkat perempuan lain yang mengaku tunangan Elang. Mayra tidak mungkin datang kalau Elang tidak memintanya, dan Elang memang tidak ingin dilihat Mayra saat lomba. Satu-satunya harapan Elang hanya Nindya. Wanita sibuk yang entah bisa datang untuknya atau tidak karena tidak mengabarkan apa-apa.

Peluit dibunyikan, menandakan waktu pemanjatan telah habis. Elang mendengar tepukan penyemangat, juga beberapa teriakan kecewa karena pemanjat tidak mampu menyelesaikan jalur sampai top.

Elang menundukkan kepala, berdoa. Namanya dipanggil dengan pengeras, juga disebutkan asal organisasi dan institusi yang menaunginya sebagai atlet. Elang berjalan penuh percaya diri ke depan wall, tersenyum pada tim penyemangatnya yang sudah berteriak heboh membakar adrenalin.

Tali pengaman diikat oleh belayer ke hardness Elang dengan simpul delapan ganda, dan Elang sudah siaga dengan tangan berwarna putih berlumur bubuk magnesium karbonat. Elang berharap tangannya tidak licin saat berpegang pada point selama pemanjatan berlangsung.

Sebelum peluit ditiup sebagai penanda waktu dimulai, Elang menemukan wajah dosen pembimbingnya ada di sudut lain memperhatikannya. Tersenyum manis dengan satu tangan terkepal di depan dada dan bahasa bibir yang terlihat sedang mengatakan 'semangat sayang' padanya.

Elang juga tersenyum. Rasa percaya dirinya naik setingkat dan semangat juara berkobar dalam dadanya. Dia harus menang untuk Nindya, dan untuk itulah dia akan memanjat dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan.

Prit!!!

"Ayo El, semangat!" Suara Arga yang lantang mengalahkan suara musik yang sedang mengalun. Elang meminta lagu khusus untuk menemani selama pemanjatannya berlangsung. Lagu dari Dream Theater yang berjudul The Spirit Carries On.

Elang memutar otak, membebani otot tangan dan kakinya untuk tetap bertahan, menempel di wall tanpa jatuh. Menambah ketinggian dengan penuh perhitungan agar tidak salah langkah. Sangat fokus untuk menggapai titik top secepat mungkin, sebelum waktu habis, sebelum peluit kedua ditiup oleh juri.

"Kamu bisa, El!" Suara Arga masih terus terdengar, juga teriakan Ryan sang ketua mapala, diikuti oleh beberapa orang dan tepuk tangan heboh jika Elang mampu menyelesaikan kesulitan lintasan.

Dinding panjat tegak lurus sudah terlewati, Elang menarik nafas panjang sebelum dengan lebih cepat menyelesaikan lintasan overhang (lintasan miring). Dilanjutkan dengan hooking pertama yang gagal saat di roof (lintasan berbentuk atap).

"Elang! Elang! Elang!"

Elang hampir menyerah, tangannya yang menggantung terbeban tubuh sudah dibatas kekuatan. Ah, Nindya pasti tidak suka melihatnya jatuh setelah naik setinggi itu. Top point hanya tinggal selangkah lagi.

"Kamu bisa, El! Ayo tambah powernya! Bisa El … gampang itu! Hajar sudah!" Elang menangkap suara perempuan di antara bisingnya pekikan gemas dan penyemangat dari penonton. Nindya meneriakkan kalimat yang membuatnya tersenyum.

Dalam satu gerakan cepat, Elang memompa sisa tenaga dan melewati roof dengan cepat, menyelesaikan pemanjatan dan menyentuh points top sebelum waktunya habis. Senyumnya terkembang dari atas papan sebelum melompat dan membebankan seluruh berat tubuhnya pada tali karmantel. Belayer menurunkannya dengan hati-hati.

Elang langsung melesat ke arah Nindya begitu selesai. Tangannya masih berwarna putih karena belum dicuci. Keringatnya masih menetes dan lelah kentara di wajah tampannya.

"Bu Nindya datang nggak bilang-bilang!" ujar Elang takjub dari belakang Nindya.

"Aku takut nggak bisa nonton, makanya nggak bikin janji."

"Saya tinggal kesana sebentar ya, Bu! Ada puket tiga (pembantu ketua) sama orang yayasan." Elang menunjuk ke arah lain, tempat timnya berada.

Nindya mengiyakan dengan anggukan samar, "Aku tinggal beli minum. Nanti aku balik, mau lihat pengumuman pemenangnya!"

"Oke, see you babe!" bisik Elang dari sebelah Nindya. Lirih, agar tidak terdengar yang lain. Elang tidak agresif seperti saat berdua. Pemuda itu memilih menghormati Nindya yang masih berpakaian kerja dengan sikap sewajarnya mahasiswa biasa.

***

Terpopuler

Comments

Arjuna'Bayu

Arjuna'Bayu

dir

2023-03-21

0

Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman

Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman

lang kmu kya bunglon dong

2022-10-22

1

fitri rahayu

fitri rahayu

yeyyy disemangatin ayank😄😄

2022-10-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!