Matahari belum terbit tapi langit sudah tidak gelap. Udara dingin mengikuti langkah tergesa Elang ke tempat peristirahatan mamanya. Buket mawar putih di tangan Elang masih sangat segar, menebar aroma wangi di setiap langkah Elang yang sedikit tergesa.
Hamparan nisan berjajar rapi. Embun masih menetes dari daun-daun kamboja yang memayungi tanah menggunduk di bawahnya. Masih terlalu pagi, masih sepi saat Elang menapaki blok demi blok pemakaman umum tempat mamanya beristirahat.
Nisan bertulis Eliza Maharani menjadi tujuan Elang, blok F barisan paling depan. Elang berjongkok, meletakkan bunga di depan nisan dan mulai mengangkat tangan sebatas dada untuk berdoa. Raut sedih dan serius tampak beku bersama udara dingin.
Butuh beberapa waktu untuk Elang kembali menormalkan wajah dinginnya setelah larut dalam doa, harapan dan luapan kesedihan seorang anak yang ditinggal ibunya.
"Ma … ini Elang! Maaf dua minggu nggak jenguk mama, Elang banyak kesibukan di kampus. Penelitian dan juga latihan. Hari ini Elang mau pamit ikut lomba, doain menang ya, Ma! Maaf, Elang belum bisa jadi anak yang mama harapkan, tapi Elang tetap berusaha agar bisa jadi kebanggaan mama. I love you, Ma!"
Elang tersenyum sedih sambil mengusap nisan, menunduk untuk merapikan makam dari daun kamboja dan bunga-bunga yang sudah kering. Tak lama, dia berdiri dengan enggan. Suaranya parau sesak saat berpamitan, "Sampai ketemu lagi, Ma! Semoga mama bahagia di sana!"
Elang beringsut meninggalkan pemakaman dengan hati tegar. Sakitnya masih ada, masih banyak, tapi tidak ada yang bisa dilakukan Elang selain menyimpan semuanya dalam kenangan. Dia rindu pada wanita yang melahirkannya.
Mobil Elang melaju pelan ke arah rumah. Dia memilih untuk pulang sebentar sebelum berangkat lomba. Minggu lalu Elang tidak sempat pulang karena padat kegiatan. Elang tidak bisa mengabaikan pesan ayahnya kemarin malam yang memintanya pulang. Ada hal penting yang katanya ingin disampaikan pada Elang.
Satu kali klakson dibunyikan dan pintu pagar rumahnya terbuka lebar. Elang masuk halaman dan memarkir mobil serampangan. Motornya tidak kelihatan, artinya Dewa semalam tidak pulang ke rumah.
Setelah mengucap salam sekedarnya, Elang duduk di meja makan, menunggu jam makan tiba. Dia ingin sarapan bersama kedua orang tuanya.
"Mas Elang mau minum hangat atau dingin?" tanya asisten rumah tangga keluarganya dengan sopan.
"Teh hangat. Dewa nggak di rumah?"
"Nggak pulang, Mas! Dengar-dengar kemarin ikut teman-temannya club touring ke Magelang sama Purworejo."
"Ohya? Sejak kapan dia ikut-ikutan kegiatan anak club motor?" Elang mengambil ponsel dan mengirim pesan pada adiknya agar segera bertukar kendaraan.
"Kurang paham, Mas! Kemarin banyak temannya datang ke sini, ngumpul dulu sebelum berangkat."
"Ibu ngasih izin?" tanya Elang penasaran.
"Iya," jawab Imah sambil menata meja makan dan menyiapkan sarapan. "Kan bukan main-main nggak jelas, dalam rangka baksos touringnya, ke desa apa gitu saya lupa."
Suara langkah kaki mendekat ke arah meja makan. Ayah Elang muncul bersama istrinya, ibu Dewa.
"Kamu datang pagi sekali, El. Papa menunggumu dari kemarin malam."
"Aku sibuk latihan, aku cuma bisa mampir sebentar. Aku habis jenguk mama dan hari ini aku ada lomba, setelah sarapan aku berangkat." Elang meminum tehnya setelah memberikan keterangan lengkap yang perlu diketahui orang tuanya.
"Kapan kamu benar-benar akan pulang ke rumah?" tanya papa Elang serius. "Rumah ini besar, El. Ini rumahmu, dan suasananya sepi karena kamu tidak mau tinggal di sini."
"Nanti setelah lulus aku pulang!"
Papa Elang menarik nafas berat dan menghembusnya panjang-panjang. "Sudah hampir lima tahun dan kamu masih belum bisa menerima keadaan. El, Papa semakin tua dan kamu sudah seharusnya bersikap dewasa, waktu kita bersama semakin sedikit. Nanti kalau kamu sudah menikah, kamu akan sibuk dengan keluargamu, tidak akan ada lagi kebersamaan di meja makan seperti ini. Pulanglah, Nak! Pikirkan permintaan papamu ini!"
Elang hanya diam, memakan sarapan dengan hati bimbang dan wajah yang hanya berfokus pada isi piring di depannya. "Elang belum bisa kalau sekarang!"
"Gimana hubunganmu dengan Mayra?" tanya ayah Elang mengubah topik pembicaraan.
Elang menjawab malas, "Baik."
"Tidak ada kemajuan? Kapan kita akan ke orang tuanya dan meminta secara resmi gadis itu untuk menjadi istrimu. Setidaknya kalian bertunangan lebih dulu."
"Tidak dalam waktu dekat."
"Kamu ingin membahagiakan mama, kan? Mayra adalah calon terbaik pilihan mama kamu, El!" pancing ayah Elang serius. Biasanya Elang mudah ditaklukkan kalau sudah membawa nama wanita yang melahirkannya.
"Ya, tapi tidak untuk sekarang. Aku mau melanjutkan kuliah lagi setelah lulus," jawab Elang tidak tertarik. "Aku belum ingin menikah!"
Ayah Elang mengangguk dengan wajah kurang setuju. Ternyata Elang masih saja sulit diatur untuk urusan pribadinya, tidak seperti dulu sewaktu mamanya masih ada. Hubungan mereka memburuk karena Elang masih saja menyimpan kemarahan pada ayahnya.
"Ada hal-hal yang harus kamu pahami tentang papa mulai sekarang, El. Selain semakin tua, kesehatan papa juga menurun. Kamu tidak ingin kehilangan papa dalam waktu dekat ini, kan?"
Elang menaikkan pandangannya hingga bertatapan dengan pria paruh baya yang berada di seberang mejanya. "Papa sakit?"
"Pulanglah, temani papa di rumah ini. Papa ingin punya kenangan indah sebelum kamu menikah dan meninggalkan papa dengan kesibukan barumu. Beri papa waktu untuk bersama kamu sebelum papa menyusul mamamu."
“Tapi Pa ….” Elang melirik ibunya Dewa, lalu mengurungkan niatnya berbicara.
“Pikirkan ini dengan kepala dingin dan dewasa, El. Kamu sudah 22 tahun, harusnya kamu bisa mengerti posisi papa dan ibu di sini. Kami orang tuamu, kami menyayangimu. Tidak ada yang berubah dari papa, El!”
Ayah Elang mengeluh dalam hati. Elang masih saja tidak terima posisi mamanya tergantikan oleh orang lain. Tidak mau mengerti situasi papanya yang butuh dukungan dan pendamping untuk menghabiskan masa tua.
"Aku mengerti." Elang mengangguk samar. Kurang percaya dengan apa yang disampaikan ayahnya. Jika ayahnya memang sayang, bukankah seharusnya mempertimbangkan pendapat Elang saat akan menikah lagi?
"Siapa yang akan mengurus bisnis papa jika kamu tidak punya rasa peduli seperti ini?"
Elang tidak bisa menjawab. Bisnis penginapan papanya tidak bisa dibilang kecil, dan selama ini diurus bersama ibu Dewa. Elang adalah pewaris tunggal, tapi hatinya masih belum terketuk untuk ikut terjun ke dunia yang digeluti papanya.
"Elang masih belum lulus, Pa!" tolak Elang secara tidak langsung. "Nanti-nanti saja, lagian sudah ada ibu yang bantu papa."
"Pulanglah, tinggallah di sini, El! Temani papa! Kita ini keluarga!" Kalimat yang sama, permintaan yang sama diulang lagi oleh pria tua yang menatap Elang dengan wajah sendu.
"Iya, Pa!" jawab Elang ragu. Setidaknya satu kata itu bisa membuat papanya diam dan mau menunggu kepulangannya yang entah kapan terjadi.
Elang menghabiskan sarapannya lalu naik ke lantai dua untuk mengambil sesuatu dari dalam kamar. Tak lama, Elang sudah turun lagi dan pamit pada ayahnya untuk berangkat mengikuti lomba. “Doakan Elang menang, Pa!”
“Pasti! Papa selalu mendoakan keberhasilanmu,” jawab ayah Elang memberi semangat dengan menepuk-nepuk bahu anaknya. "Kamu nggak minta uang lagi bulan ini?"
"Ibu sudah memberikan tambahan sebelum aku minta." Elang menyalami ibunya dan pamit hanya dengan menganggukkan kepala.
Tanpa menoleh lagi, Elang keluar rumah dan pergi menuju universitas tempat lomba panjat dinding digelar.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Arjuna'Bayu
dir ☝️☝️☝️☝️
2023-02-08
0
Kenzi Kenzi
setidsknya bilang dri sekarang klo kamu ganiat nikah in may...
2022-10-23
0
fitri rahayu
sepertinya papa elang enggak lama lagi... 🤔
2022-10-06
0