Bab 14

Upacara penerimaan murid barupun tiba, Kenma sebagai satu-satunya murid baru yang masih berusia 7th diminta kepala sekolah untuk berpidato mewakili murid baru.

Meski sempat Kenma tolak, karena meskipun murid baru tapi Kenma sudah melewatkan satu tahun ajaran sehingga kemungkinan besar akan menjadi masalah, namun kepala sekolah mengatakan sudah mengatur semuanya, mau tak mau Kenmapun menyetujuinya.

Di aula sekolah, para guru dan murid sudah berkumpul, acarapun segera di mulai.

Tak berapa lama sesi pidatopun tiba, segera Kenma melangkahkan kakinya menuju panggung, meskipun di iringi tatapan meremehkan dari para murid.

Namun, Kenma tak peduli dengan tatapan semua orang yang ada di aula, seketika aura yang tak bisa di jelaskan pun tiba-tiba di rasakan para murid.

Entah kenapa sikap para murid yang tadinya terlihat meremehkan seketika berubah menjadi kekaguman saat Kenma memulai pidatonya.

Di tengah-tengah pidato Kenma, seorang guru tiba-tiba berkata tanpa sadar yang di setujui oleh para guru lainnya.

"Padahal usianya masih 7th, tapi kenapa anak itu terlihat seperti seorang raja?!"

"Diamlah, simpan lebih dulu kekaguman kalian itu." ucap kepala sekolah.

Tak berapa lama, pidato Kenma pun selesai, tepukan tangan terdengar riuh mengiringi langkah Kenma kembali ke kursinya.

Setelah satu jam, upacara penerimaan murid barupun selesai.

"Hei, apa kalian tau di kelas mana murid baru yang tadi berpidato itu?" ucap salah seorang murid wanita baru tahun pertama.

"Maksudmu Kenma? kau tidak akan pernah bertemu dengannya di murid tahun pertama seperti kita ini." balas murid yang lain.

"Tidak mungkin, apa itu benar?" ucap murid wanita itu kembali.

"Aku dengar karena kejeniusannya kepala sekolah membiarkan dia melewatkan tahun pertamanya dan langsung naik ke murid tahun kedua."

Mendengar perkataan murid laki-laki itu sontak membuat heboh seisi kelas.

"Cih, aku tidak percaya hal itu, aku yakin ada kecurangan di belakangnya." ucap salah satu murid terpintar di kelas itu meremehkan.

"Huh, bilang saja kau iri padanya." ujar murid wanit terpintar kedua di kelas yang sama.

"Aku? Iri padanya? omong kosong apa yang kau katakan itu."

Perdebatan kedua murid terpintarpun terjadi dan hampir mengacaukan seluruh kelas jika seorang guru tak segera datang ke kelas itu untuk mengajar.

Di sisi lain, di tempat murid tahun kedua di kelas 2A.

"Hei adik Ken, berapa banyak tes yang kepala sekolah berikan padamu saat mendaftar?" ujar salah satu murid bernama Rai.

"Tidak banyak, hanya 7tes." ucap Kenma singkat.

"NA-NANII? Tu-tujuh tes?" ujar murid lain bernama Ao gemetar.

"Lalu, berapa waktu yang kau butuhkan untuk menyelesaikan semua tes itu?" ucap Rai.

"Mm, sepertinya 30menit." ucap Kenma datar.

Jawaban Kenma kembali membuat Rai dan Ao terkejut bahkan hampir muntah darah mendengarnya.

"Apa itu tes yang mudah?" tanya Rai kembali.

"Kepala sekolah bilang itu tes sulit."

Lagi-lagi jawaban Kenma membuat Rai dan Ao tak bisa berkata apa-apa.

"Tujuh tes sulit di selesaikan dalam waktu 30menit dan itu di lakukan oleh seorang anak yang baru berusia 7th, kejeniusan seperti apa yang ia miliki itu?" batin Rai.

"Kak, kakak Rai." ucap Kenma menarik lengan baju Rai.

"Eh, iya, ada apa adik Ken?" ucap Rai yang baru tersadar dari lamunannya.

"Pelajaran akan segera di mulai." jawab Kenma.

...***...

Seminggu berlalu, hari ini adalah hari libur sekolah. Di rumah kaca terlihat Mauza tengah bersantai sembari merangkai bunga.

"Ibu ratu, apa yang sedang ibu ratu lakukan?"

"Oh putraku, apa kau sudah selesai sarapan? Ibu sedang merangkai bunga, sudah lama ibu tidak melakukannya, bagaimana dengan sekolahmu, apa sudah mendapatkan teman?"

"Semua berjalan baik ibu ratu, dan aku sudah mendapatkan dua teman, kak Rai dan kak Ao."

"Itu bagus, tapi kau harus ingat satu hal, jangan sampai identitasmu diketahui."

"Aku tau ibu ratu, ngomong-ngomong dimana paman Rain? Aku belum melihatnya dari tadi."

"Ah benar, ibu melupakan sesuatu, paman Rain bilang, akan kembali dulu ke alam arwah, jadi latihan sihirnya di tunda."

"Begitu, baiklah aku akan berlatih sendiri saja sambil menunggunya."

"Baiklah, tapi jangan sampai memaksakan diri." teriak Mauza mengiringi kepergian Kenma.

...***...

Tahun demi tahun berlalu, tanpa terasa lima tahun sudah Mauza dan Kenma tinggal di dunia manusia, masa-masa sekolah Kenmapun akan segera berakhir dalam beberapa hari lagi, namun selama itu juga Kenzi tak pernah menemui mereka.

Begitu juga dengan Rain yang sejak setahun yang lalu tidak kembali kedunia manusia.

Malam harinya, terlihat Mauza tengah termenung memikirkan Kenzi dan apa yang sedang terjadi di tiga alam hingga Kenzi tak pernah mengunjungi mereka di dunia manusia, rasa khawatirpun mulai menyelimuti hati Mauza.

"Yang mulia, apa anda baik-baik saja disana? Tidakkah anda merindukan kami? Atau, apa anda tak ingin menemui kami lagi?" keluh Mauza.

Kenma yang melihat Mauza yang tenggelam dalam pikirannya sendiri, segera menghibur Mauza dan meyakinkan jika Kenzi pasti akan baik-baik saja.

"Ibu ratu, apapun yang terjadi di alam arwah, ayah raja pasti akan baik-baik saja." ucap Kenma meyakinkan.

"Kau benar putraku, jika memang sudah waktunya dia pasti akan datang."

...***...

Beberapa hari kemudian, hari kelulusanpun tiba, Kenma yang lulus lebih awalpun harus menunggu tiga tahun untuk bisa melanjutkan pelajarannya ke bangku kuliah karena saat ini Kenma masihlah berusia 12th.

Jadi akan sangat mustahil bagi Kenma untuk memasuki perguruan tinggi sekarang-sekarang ini, karena pada umumnya berkuliah itu di tempuh pada saat usia sang anak memasuki usia 16-18th.

Sedangkan Kenma berbeda, karena bagaimanapun, dia bukanlah murni seorang manusia melainkan hanya setengah manusia, sehingga pertumbuhannya pun lebih cepat dari manusia pada umumnya.

Namun, berkat bantuan kepala sekolah Hu yang sudah berdiskusi dengan sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama, akhirnya Kenma di izinkan berkuliah setahun lebih awal yakni saat usianya sudah mencapai 15th.

Maka dari itu Kenma harus menunggu selama tiga tahun agar bisa berkuliah.

"Apa yang harus kulakukan selama tiga tahun kedepan? Haahhh,,,tidak kusangka memiliki kejeniusan tinggipun bisa menjadi masalah tersendiri." ucap Kenma menghela nafas.

"Kenma putraku, apa yang membuatmu kebingungan seperti itu?" ucap Mauza penuh kasih.

"Tidak ada apa-apa ibu ratu, aku hanya tidak tau apa yang harus ku lakukan selama tiga tahun kedepan."

"Bagaimana jika kau menikmati masa anak-anak yang belum pernah kau rasakan karena hal-hal buruk yang terjadi di masa lalu?"

"Kenapa ibu ratu berkata seperti itu?"

"Ibu hanya ingin kau bahagia dan merasakan masa-masa bermainmu yang sempat hilang dulu."

"Ibu ratu, aku sudah sangat bahagia dengan semua yang telah terjadi hingga saat ini, selama ibu ada di sisiku itu sudah cukup bagiku, aku tidak membutuhkan yang lainnya, aku hanya membutuhkan ibu untuk selalu berada di sisiku."

Mendengar ucapan Kenma yang begitu tulus, membuat Mauza tak kuasa menahan airmatanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!