Alasan Mauza merasa kasihan pada Kenzi adalah karena, tanpa di duga selama beratus-ratus tahun harus hidup dalam kesepian, karena dia harus menyaksikan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari diri dan hidupnya satu persatu pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Setidaknya itulah yang dia pikirkan saat itu, namun lagi-lagi Mauza di kejutkan dengan kenyataan tentang siapa Kenzi sebenarnya saat ia mengatakan pada Cain tentang penjelasan yang Rain berikan padanya, namun Cain malah menjelaskan yang sebaliknya.
Dan itu membuat Mauza kebingungan manakah yang harus dia percayai.
Hingga suatu hari, karena tak tau mana yang harus dia percayai, akhirnya Mauza pun memutuskan untuk bertanya langsung pada Kenzi tentang kebenarannya.
Karena Mauza tidak mau menyesal atas pilihannya sendiri untuk menjadi istri dari sang Yurei no o, sekaligus dia ingin memastikan bahwa sosok hitam yang ada dalam mimpinya beberapa waktu lalu benar Kenzi atau bukan, karena selama ini Mauza tidak pernah melihat sosok sebenarnya dari Kenzi.
Namun, keputusan yang dia buat terpaksa harus menunggu, karena Mauza tidak tau kemana dia harus mencari Kenzi, bahkan Rain dan Cain hanya mengatakan untuk menunggu tanpa mau memberitaukan keberadaannya.
Dan itu membuat Mauza semakin bosan dan hampir meninggalkan kastil, namun saat yang dia lihat di luar kastil hanya ada pepohonan yang rindang di sertai kabut tebal membuat Mauza bergidik ngeri dan mengurungkan niatnya.
Yang tidak Mauza ketahui adalah bahwa, sebenarnya Kenzi terus mengawasinya tiap saat, bahkan Rain dan Cainpun di perintahkan untuk membuat keterangan palsu tentang dirinya jika Mauza meminta penjelasan tentangnya.
Alasannya sangat sepele, karena Kenzi ingin membuat Mauza perlahan-lahan terbiasa dengan kehidupannya yang sekarang sebelum memasuki kehidupan yang lebih sulit nantinya, dimana dia harus memiliki mental dan tekad yang kuat agar mampu menjalani kehidupannya sebagai istri dari seorang arwah yang pastinya lebih sulit dari seorang manusia.
Dan Kenzi ingin mempersiapkan Mauza untuk hal sulit itu, itulah sebabnya Kenzi hanya bisa mengawasinya dari kehampaan udara.
***
"Nona Mauza!"
Sebuah suara yang tak asing menyadarkan Mauza dari lamunannya, dia adalah Cain, yang merasa khawatir pada Mauza karena dia sudah terlalu lama berada di danau kecil tempat Kenzi tinggal.
"Ah, Cain! Ada apa?" ujar Mauza canggung.
"Ini sudah hampir larut, apa nona tidak kedinginan berada disini begitu lama?" ucap Cain khawatir.
Udara dingin tiba-tiba menyapu lengan kanan Mauza yang membuatnya tersadar jika udaranya semakin dingin, dengan segera iapun mengusap lengannya agar lebih hangat, namun bukannya hangat malah terasa lebih dingin dan berhasil membuat Mauza beranjak dari sana.
"Kau benar, lebih baik aku masuk, terimaksih Cain." ucap Mauza sembari melambaikan tangan pada Cain.
"Hei tuan, kenapa tidak dari tadi melakukannya?" ucap Cain yang melihat Kenzi menyentuh Mauza tadi.
"Diamlah!" ucap Kenzi kesal.
"Jadi, bagaimana rasanya saat menyentuh kulit mulus nona yang seputih salju itu?" goda Cain.
"Sangat lembut." ucap Kenzi tanpa sadar.
"Ooo,,, apa tuan ingin mencobanya lagi lain kali?" bisik Cain.
"Hmh,,, " jawab Kenzi mengangguk tanpa sadar.
Tanpa di duga Kenzi menanggapinya dengan sangat polos, membuat Kenzi sangat malu saat menyadarinya, sedangkan Cain tengah menahan tawa dengan sikap Kenzi dan itu membuat Kenzi lebih malu lagi dan segera menghilang dari hadapan Cain.
Rain yang kebetulan lewat dan melihat Cain yang masih tersenyum melihat ke arah danau, membuat Rain tak bisa untuk tidak bertanya.
Pada akhirnya merekapun tertawa bersama setelah mendengar penjelasan Cain.
***
Enam bulan berlalu dengan cepat, tanpa di sadari sudah setengah tahun Mauza tinggal di dalam kastil namun, tak pernah bertemu dengan sosok Kenzi.
Terlihat Mauza tengah memetik bunga dan merangkainya menjadi buket yang sangat indah, untuk sejenak Mauza berfikir untuk menjual buket-buket bunga itu, namun sangat ia ingat bahwa hanya ada pepohonan dan kabut di luar kastil membuatnya hanya bisa menghela nafas panjang.
Tak jauh dari tempat Mauza berada sesosok bayangan hitam tengah menatap tajam kearahnya, merasa ada yang mengawasinya, secara otomatis Mauzapun melihat kesana kemari untuk mencari sosok yang kemungkinan adalah seseorang yang tengah mengawasinya sedari tadi.
Namun, tak ada siapapun disana selain Rain yang kebetulan lewat. Melihat Mauza yang tengah kebingungan, Rainpun mendekatinya dan bertanya apa yang terjadi.
"Jadi begitu, apa nona yakin?" ucap Rain menelisik.
"Aku sangat yakin, tapi aku tidak tau siapa yang mengawasiku." ucap Mauza meyakinkan Rain.
"Baiklah, lebih baik nona kembali,,, lah du,, lu,," ucap Rain terkagum saat melihat beberapa buket indah di samping Mauza.
Melihat sikap Rain yang tertarik pada buket bunga yang di buatnya, sontak membuat Mauza segera menyembunyikan kebelakang tubuhnya seakan ia merasa malu kalau keterampilannya yang masih jauh dari kata ahli dilihat oleh oranglain.
"Kenapa di sembunyikan?" ujar Rain yang menyadari gerakan kecil Mauza saat mengambil buket dan menyembunyikannya.
"Ti-tidak apa-apa, a-aku,, aku hanya malu dengan keterampilanku yang buruk dalam merangkai bunga." ujar Mauza canggung.
"Kenapa harus malu? Menurutku itu sangat bagus, apa aku boleh menyimpannya nona?" ujar Rain yang berusaha menaikan rasa percaya diri Mauza.
"Ta-tapi,,," ucap Mauza enggan.
Setelah beberapa menit Rain membujuk, akhirnya Mauzapun memberikan buket itu pada Rain.
Dengan segera Rain menerimanya dan berpamitan pada Mauza agar Rain bisa segera menemui Cain untuk menunjukkan buket itu padanya.
"Tidak kusangka nona besar memiliki keterampilan seperti ini, dan juga ini sangat indah, aku yakin yang mulia Kenzi akan menyukainya." ucap Cain dengan tatapan mata yang berbinar.
Bersamaan dengan itu, tanpa di duga Kenzi sudah ada di hadapan mereka berdua sehingga Cain hampir menjatuhkan buket itu karena terkejut. Dengan segera Rain dan Cainpun berlutut di depan Kenzi.
"Sangat cantik!" seru Kenzi melihat buket di tangan Cain.
"Nona sangat berbakat yang mulia, jika kita bantu nona untuk memasarkannya, hamba yakin nona besar akan sangat senang." ucap Cain bersemangat.
Namun, semangat itu tiba-tiba padam saat Kenzi menatap tajam Cain yang membuat keringat dingin perlahan menetes di pipi Cain.
"Biarkan dia mengembangkan keterampilannya, saat dia ingin menjualnya, dampingi dia agar tidak tersesat." perintah Kenzi.
"Baik yang mulia!" seru Cain dan Rain bersamaan.
Dalam sekejap, Kenzi sudah menghilang dari hadapan keduanya, entah mereka harus senang atau bagaimana pada Kenzi, karena semenjak Mauza datang ke kastil sikap Kenzi perlahan berubah menjadi lebih tenang dari sebelum Mauza datang.
...~to be continued~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Mega
Megatron mampir, kak.
Aku mau juga dong dibuati rangkaian bunga. kikikikik
2022-09-24
0