Bab 2

Empat belas tahun berlalu, terlihat seorang gadis mengenakan gaun putih yang berenda dengan rambut hitam panjang yang tergerai tengah duduk di bawah pohon yang masih rindang seperti dulu, dia adalah Mauza.

Sesekali ia tersenyum saat melihat ke arah remaja-remaja seusianya yang berada di sebuah sungai kecil tak jauh dari bukit tempat pohon rindang itu tumbuh.

Bukit itu adalah tempat favorite Mauza sejak kecil karena selain sejuk, dari atas bukit itu juga Mauza bisa melihat rumah-rumah penduduk yang tersusun beraturan dan sungai jernih yang saat ini banyak remaja yang bersuka cita disana.

Alasan Mauza tersenyum adalah karena di antara remaja-remaja yang tengah berkumpul ada benang merah yang terhubung satu dengan yang lainnya, mereka adalah Anya dan Enzi.

Untuk sejenak Mauza merasa senang karena kemampuan yang di milikinya, namun di sisi lain dia juga merasa benci dengan kemampuannya, karena dia akan melihat sesuatu yang tak menyenangkan seperti benang merah yang memudar karena kematian akan segera menghampiri.

Bukan hanya itu, bahkan saat Mauza masih berusia 15tahun, dan tiba-tiba berita tentang kecantikannya terekspos keluar desa, sejak saat itu banyak para orangtua baik dari kalangan biasa maupun kalangan bangsawan yang mengirimkan surat lamaran untuknya.

Pada awalnya Mauza ingin menerima lamaran itu, namun setelah bertemu dengan para putra mereka, benang merah mereka tidak ada yang terhubung dengannya, maka dengan terpaksa Mauzapun menolak lamaran-lamaran itu.

Menghadapi itu semua terkadang membuat Mauza membenci bukan hanya kemampuannya, tapi juga membenci dirinya sendiri yang merasa itu bukanlah kemampuan melainkan kutukan baginya.

Saat ia merasa seperti itu, Mauzapun hanya bisa pergi ke bukit dan menangis sembunyi-sembunyi untuk menenangkan hatinya dan melupakan kesedihannya.

Di tengah-tengah lamunannya, Mauza di kagetkan oleh suara kepala desa yang terus memanggilnya untuk cepat kembali, karena upacara kedewasaan akan segera di mulai, dengan segera Mauzapun menyambut panggilan kepala desa dan mengikuti langkahnya menuju aula.

Meski hanya desa kecil, namun desa itu memiliki tempat yang cukup luas untuk di jadikan aula, di aula itulah upacara kedewasaan akan di adakan.

"Kakek!" seru Mauza pada kepala desa membuka suara.

"Ada apa?" balas sang kepala desa yang sudah agak bungkuk itu.

"Upacara kedewasaan itu seperti apa?" ucap Mauza ingin tau.

Dengan perlahan, kepala desapun menjelaskannya sembari melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah selama di perjalanannya menuju aula yang cukup jauh dari kediamannya agar tidak bosan. Muzapun mendengarkan semua penjelasan kepala desa dengan seksama.

"Jadi begitu, lalu kenapa kakek mengatakan kalau berjalan lancar? Apa maksudnya?" ucap Mauza menelisik.

"Jika kau hanya gadis biasa tanpa kemampuan melihat benang merah, itu akan berjalan lancar-lancar saja, namun kau bukan gadis biasa."

"STOP! Aku mengerti kakek, jangan bahas itu lagi."

"Bagus kalau kau mengerti."

"Mmm, kakek apa aku bisa menolak arwah itu jika dia tiba-tiba datang untuk menjemputku?"

Perkataan Mauza sontak membuat kepala desa itu terkejut, karena sekali saja penolakan itu terucap, maka entah malapetaka apa yang akan menimpa desa Shinpi, namun tak bisa di pungkiri sang kepala desapun tak rela sebenarnya jika harus menyerahkan Mauza begitu saja pada arwah yang entah jahat atau baik itu.

"Kek! Kakek! Seru Mauza sambil menggoyang-goyangkan lengan baju kepala desa yang terlihat melamun.

"Ah, maaf, tadi kakek sedikit melamun." ucapnya yang tersadar dari lamunan.

"Jadi bagaimana, bisa atau tidak aku menolaknya?" ucap Mauza kembali bertanya.

Beruntung mereka sudah sampai di aula, sehingga sang kepala desa tak perlu menjawab pertanyaan Mauza tadi.

Meski takut dengan malapetaka yang akan terjadi saat penolakan itu terucapkan, tapi sang kepala desa tak bisa mengatakan sebenarnya pada Mauza.

Begitu juga dengan para warga yang tak ingin menyerahkan Mauza pada arwah itu, dan mereka sudah siap dengan resikonya.

Malam harinya upacarapun di gelar, disisi lain, sesosok makhluk misterius tengah menatap tajam ke arah bulan dengan bola matanya yang berubah menjadi hitam.

"Sepertinya, sudah waktunya aku menjemput pengantinku!"

Dengan segera sosok itu memanggil kedua pengawalnya si hitam dan si putih. Tak butuh waktu lama untuk mereka datang.

"Apa titah anda yang mulia?" ucap keduanya bersamaan.

"Cain, Rain, lakukan tugas kalian, bawa pengantinku kemari!"

Dalam sekejap keduanyapun menghilang dari hadapan sosok itu yang tak lain adalah Kenzi sang arwah penghuni kastil, atau yang lebih dikenal dengan "YUREI NO O".

Meskipun Kenzi seorang arwah, namun dia memiliki paras tampan yang bisa membuat para gadis bertekuk lutut di hadapannya hanya dengan senyumannya saja.

......~to be continued~......

Terpopuler

Comments

Mega

Mega

Semakin seru, nih.




Aku masukin Rak Favorit, Kak, ditunggu Feedback-nya. Terima kasih.

2022-09-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!