Bab 12

Setahun berlalu, kini tiba saatnya Kenma melakukan pengujian darah setelah setahun yang lalu Cain melakukan banyak tes pada Kenma untuk mengetahui darah siapa yang lebih pekat.

Meskipun sempat di tolak Mauza pada awalnya karena prosesnya yang sulit dan menyakitkan, namun ternyata tidak dengan Kenma, dengan tegas ia menyetujui pengujian itu yang pada akhirnya di setujui pula oleh Mauza.

Tak berapa lama pengujianpun di mulai, entah karena Kenma yang memang kuat atau apa, Kenmapun berhasil melakukan semua tes tanpa ada kesulitan sedikitpun, para hantu dan siluman kuatpun berhasil Kenma kalahkan.

Melihat hal itu membuat Cain, Kenzi, Rain dan Mauza terbelalak, karena pengujian yang katanya sulit dan menyakitkan, namun Kenma melakukannya dengan sangat mudah bahkan terbilang sangat cepat.

Meskipun, Cain sudah melakukan banyak tes pada Kenma namun Cain tidak pernah menyangkanya akan seperti itu.

"Hei, paman, bukankah paman bilang pengujiannya sulit dan menyakitkan? kenapa putraku terlihat biasa-biasa saja bahkan tanpa luka sedikitpun?" ujar Mauza tak percaya dengan apa yang di lihatnya.

"Hamba juga tidak tau yang mulia ratu." sahut Cain terperangah.

Di tengah kebingungan Cain dan Mauza juga Rain, tawa keras Kenzi menyadarkan ketiganya.

"Hahaha,,, putraku sangat kuat, bagaimana menurut kalian?" ucap Kenzi pada kedua lawan Kenma.

"Yang mulia, putra anda benar-benar kuat." ucap siluman harimau putih.

"Itu benar, aku yakin putra yang mulia layak menjadi pemimpin tertinggi kelak." seru si hantu gelap.

"Jadi, termasuk golongan mana putraku?" lanjut Kenzi.

"PURE-BLOOD!" seru siluman dan hantu bersamaan.

"Sesuai dugaanku." ucap Cain yakin.

Mendengar ucapan Cain sontak membuat Mauza terkejut, karena bagaimanapun Cain sudah mengetahui hal ini namun tetap membuat Kenma bertarung.

Melihat sikap Mauza yang tiba-tiba berubah serius membuat Cain segera menjelasakannya tanpa di minta.

"Pada awalnya, aku juga ragu yang mulia ratu." ucap Cain buru-buru.

Mendengar jawaban Cain, Mauza mendengus dan segera mendekati Kenzi, karena ia merasa kalau Kenzi juga sudah menduganya selama ini.

Kenma yang melihat Mauza mendekati Kenzi dengan penuh amarah segera berlari kearah Mauza dan memeluknya erat.

"Ibu ratu, apa ibu tidak mau memberi putramu ini hadiah? pelukan hangatpun tak apa." bujuk Kenma seraya menyunggingkan senyum termanisnya.

Kenma tau senyuman terbaiknya adalah sesuatu yang mampu meluluhkan amarah sang ibu.

Dan sesuai dugaan, dengan cepat suasana hati Mauza berubah menjadi tenang, seakan-akan amarahnya di hempaskan oleh senyuman yang Kenma sunggingkan.

Alasan Kenma bersikap seperti itu karena Kenma tidak mau amarah sang ibu membuat status Kenzi yang adalah pemimpin tertinggi menjadi jatuh karena hal sepele.

Mauzapun mengerti tujuan Kenma, iapun segera memeluk Kenma dengan penuh kasih.

Di sisi lain, Kenzi yang melihatnya pun mengerti bahwa ia sudah membuat Mauza marah.

Pada malam harinya, Kenma pun memberi ruang pada orangtuanya untuk bicara, sedangkan Kenma sendiri pergi menemui Cain di ruangannya.

"Tuan muda! bukankah pelatihan kita sudah selesai, apa ada masalah?" ucap Cain yang terkejut dengan kedatangan Kenma.

"Tidak ada masalah kakek, aku hanya ingin,,, " ucap Kenma tak melanjutkan.

"Kakek mengerti, jadi apa yang akan kita lakukan sembari menunggu yang mulia raja dan ratu selesai bicara?"

"Mmm, selama ini aku selalu berlatih dengan kakek Cain, sedangkan aku tak pernah berlatih dengan paman Rain." ucap Kenma berfikir.

"Jadi tuan muda ingin berlatih dengannya?"

"Benar paman, tapi aku tidak tau pelatihan seperti apa karena aku bahkan tidak tau kemampuan paman Rain.

"Benar juga, selama ini paman Rain selalu bekerja di luar kastil, tapi soal kemampuan, paman Rain ahli dalam sihir."

"Sihir? apa benar? bukankah ahli sihir harus memiliki kecerdasan yang cukup, sedangkan paman Rain?!" ragu Kenma.

"Mungkin itu yang di namakan bakat." ucap Cain singkat.

"Begitu."

Di tengah Kenma berfikir, suara Mauza menyadarkannya.

"Mm, sepertinya sudah selesai, kakek aku pergi dulu, sampai besok." seru Kenma seraya melambaikan tangannya.

"Tuan muda benar-benar jenius, di usianya yang masih 5th tapi cara berfikirnya sudah seperti seorang anak yang berusia 10th." gumam Cain.

...***...

Di sisi lain, tepatnya di alam iblis, setelah mengalami kekalahannya melawan alam siluman, kini para iblis kembali mengumpulkan kekuatan berharap dengan memiliki banyak kekuatan, mereka akan mampu membayar kekalahannya beberapa tahun yang lalu.

Rencana-rencana kekacauan yang akan mereka lakukanpun sudah di siapkan, dan kali ini mereka menjadikan alam hantu sebagai target berikutnya.

Namun sangat di sayangkan, alam hantupun sudah bersiap semenjak perintah Kenzi di turunkan sehingga membuat para iblis sangat terkejut dan mengira para hantu sudah meninggalkan alam hantu, sehingga para iblispun mengurungkan niatnya untuk membuat kekacauan di alam hantu.

Setelah para iblis pergi, para hantupun mulai menampakkan diri, jika saja raja kegelapan sedikit lebih pintar, mungkin dia akan segera menyadari bahwa para hantu bisa berkeliaran tanpa terlihat dan juga mampu menekan aura mereka sehingga keberadaan mereka tidak di sadari oleh para iblis.

Kabar tentang batalnya penyerangan para iblis pada alam hantu telah sampai ke telinga Kenzi.

"Begitu, baiklah, bagaimana dengan persiapan kita sendiri?" ucap Kenzi.

"Semua sudah siap yang mulia." seru Rain.

"Kerja bagus Rain!" seru Kenzi.

...***...

Sebulan berlalu, tak ada tanda-tanda para iblis akan menyerang.

Entah karena mereka masih mengumpulkan kekuatan, atau memang mereka tengah menyusun rencana penyerangan yang lebih besar.

Namun Kenzi tetap waspada dan tak menurunkan penjagaannya karena Kenzi memiliki firasat buruk tentang hal ini.

Kenzi merasa ketenangan ini adalah awal dari malapetaka yang mungkin sudah berada di depan mata.

"Yang mulia! apa ini artinya kita bisa sedikit lebih tenang?" ujar Mauza pelan.

"Tidak ratuku, justru kita harus bersiap untuk apapun yang akan terjadi nanti." ucap Kenzi serius.

Melihat Mauza yang khawatir, Kenzi berusaha untuk menenangkannya, sebuah kecupan lembutpun mendarat di kening Mauza di sertai genggaman erat Kenzi di tangannya yang berkeringat dingin.

Dalam sekejap, kekhawatirannya berubah menjadi keterkejutan saat hawa dingin menyapu tubuh Mauza yang kini berada di pelukan Kenzi.

"Jangan khawatir, aku pasti akan melindungi kalian berdua." ucap Kenzi menenangkan Mauza.

Detik berikutnya, suasana canggung tercipta saat Kenma tiba-tiba muncul dengan tatapannya yang tajam mengarah pada mereka, lalu berubah lembut saat melihat kecanggungan kedua orangtuanya.

"Apa ayah raja dan ibu ratu sudah selesai? bisakah ibu menemaniku tidur sekarang?" ucap Kenma datar.

"Ah, ba-baiklah, yang mulia aku pamit." ucap Mauza agak malu.

Meskipun Kenma terlihat sangat dewasa, namun dia tetaplah seorang anak berusia 5th yang masih butuh kehadiran ibunya untuk menemaninya tidur.

"Anak itu, aku ragu putraku masih berusia 5th." gumam Kenzi sembari menggelengkan kepalanya.

"Bukankah ayah sendiri yang membuatku terlahir kedunia ini, sungguh tidak masuk akal jika ayah raja meragukan usiaku." sindir Kenma.

Mendengar sindirin Kenma yang sangat tepat membuat Kenzi terbelalak hingga tak sadar mulutnua terbuka lebar.

Detik berikutnya tawa dari Mauza dan Kenma menyadarkannya dan tawa ketiganyapun pecah di ruangan yang hanya di terangi oleh cahaya bulan.

...~to be continued~...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!