Tiga tahunpun berlalu dengan cepat, kini Kenma sudah berusia 15tahun dan masa-masa kuliahpun di mulai.
Namun, bersamaan dengan itu, masalahpun mulai bermunculan, dari mulai rasa iri, kecemburuan hingga kebencian dari mahasiswa lain, kerap membuat Kenma berada dalam kesulitan.
Tatapan tatapan tajam penuh rasa iri mulai mengarah pada Kenma, namun Kenma yang pandai mengendalikan emosinya menanggapinya dengan santai.
Bagaimanapun, Kenma yang masih berusia 15th tapi sudah berkuliah membuat para jenius lainnya merasa harga diri mereka sudah di injak-injak oleh seorang bocah.
Kenma yang mampu merasakan aura orang lain hanya bisa menghela nafas dan segera mempercepat langkahnya menuju ruang dekan.
"Jadi bocah itu yang di rumorkan." ucap salah satu mahasiswa.
"Aku dengar dia melewatkan sekolah dasarnya." sambung mahasiswa lainnya.
"Jika benar begitu, aku jadi ingin menantangnya."
"Oi, oi, kau tidak berencana melakukan hal yang kekanak-kanakkan bukan?"
"Kau pikir aku anak SMA." ucapnya tegas.
"Jadi, tantangan apa yang akan kau lakukan?"
"Kau akan tau nanti."
...***...
Beberapa hari berlalu setelah Kenma menerima tantangan dari mahasiswa tahun pertama itu, tantanganpun di laksanakan dan menjadi pusat perhatian para mahasiswa baik mahasiswa tahun pertama ataupun mahasiswa tahun di atasnya.
Sebuah tantangan yang mengandalkan kecepatan dan ketepatanpun di mulai.
Dari tiga tantangan sulit yang di berikan, ketiganya berhasil di lakukan oleh Kenma tanpa kesalahan sedikitpun dan itu hanya dalam hitungan detik.
"Whoa,,, bocah itu benar-benar jenius, pantas saja, dia di perlakukan khusus." seru mahasiswa tingkat kedua.
Tanpa di duga, para dosen dan juga dekan memperhatikan mereka meski dari kejauhan.
"Dekan Wang, kenapa kau tak menerimanya sejak 3th yang lalu saja?" ucap dekan yang lain.
"Dekan Jin , mana mungkin ada yang mengizinkan seorang anak 12th berkuliah, bahkan aku sedikit kesulitan saat mendapatkan izin itu, beruntung kepala sekolah Hu memiliki bukti yang cukup bahwa anak itu memang seorang jenius."
Flashback On
"Kepala sekolah Hu, bagaimana aku menjelaskannya pada rektor nanti jika tak ada bukti pasti, lagipula dia masih 12th sangat tidak mungkin mendapatkan persetujuan dari para wali murid nantinya." ucap dekan Wang enggan.
"Dekan wang tenang saja, aku sudah mendapatkan cukup bukti bahwa bocah itu benar-benar jenius." ujar kepala sekolah Hu.
Flashback Off
"Aku tidak tau bagaimana orang itu mendapatkannya." gumam dekan Wang.
"Dekan Wang, apa kau mengatakan sesuatu tadi?"
"Ah, aku tidak mengatakan apapun."
Delapan tahun yang lalu, saat Kenma lulus SMP, kepala sekolah Hu menemui kepala sekolah Ma untuk meminta salinan hasil tes Kenma saat melakukan tes di sekolah dasar, karena kepala sekolah Hu pasti akan membutuhkannya saat merekomendasikan Kenma ke SMA dan perguruan tinggi.
Dan akhirnya, semua bukti itu di serahkan pada dekan Wang karena kebetulan mereka adalah teman baik, itulah sebabnya Kenma mendapat izin berkuliah saat usianya mencapai 15th meskipun itu berarti beberapa tahun lebih awal untuk berkuliah.
"Entah orang seperti apa ayahnya sampai bisa memiliki seorang putra jenius yang mengalahkan jenius lainnya." ucap dekan Wang.
"Aku juga ingin tau, aku dengar sejak delapan tahun yang lalu dia dan ibunya terpaksa harus tinggal terpisah karena sesuatu hal yang harus di lakukan ayahnya." ucap dekan Jin.
"Itu benar, kuharap suatu hari aku bisa bertemu ayahnya." sambung dekan Wang.
...***...
Hari demi hari berlalu, setelah kabar mengejutkan tentang Kenma menyebar ke seluruh akademi, tantangan demi tantanganpun menghampiri Kenma, banyak mahasiswa lain baik dari tahun kedua ataupun tahun ketiga ingin beradu kecerdasan dengannya.
Kenmapun menerima semua tantangan mereka kecuali tantangan yang berhubungan dengan kekuatan, karena Kenma tidak ingin hal buruk terjadi seperti aura pure-bloodnya terlacak oleh para iblis, maka dari itu Kenma selalu menolaknya.
Namun penolakan Kenma membuat salah satu mahasiswa tidak puas dan mencari cara untuk menyingkirkan Kenma, dia adalah Guanli, seorang mahasiswa tahun pertama, tapi di luar akademi, dia adalah seorang anggota dari grup beladiri.
Kebencian karena penolakan Kenma untuk bertarung telah membutakannya, sehingga Guanli berencana untuk memberi pelajaran pada Kenma.
Dengan bantuan para anggota grup beladiri lainnya, Guanli melaksanakan rencananya.
Namun tanpa di duga, saat mengetahui yang akan mereka beri pelajaran hanyalah seorang bocah 15th, orang terkuat di antara mereka menjadi kesal.
"Oi, oi Guanli, kau ingin kami memukuli bocah ini? Dimana akal sehatmu kau simpan?" ucap salah satu orang terkuat itu.
"Tapi senior,,,"
"CUKUP! tak peduli sekuat apapun anak itu, dia tetaplah masih anak-anak, apa kau pikir beladiri itu untuk memukuli mereka? Dasar tidak berguna, sebelum kau melakukan sesuatu, lebih baik kau pikirkan semuanya lebih dulu." ucapnya kesal.
Kenma yang masih tak mengerti apa yang terjadi hanya bisa terdiam melihat kepergian mereka.
...***...
Di sisi lain di alam iblis, meski sejenak, raja kegelapan merasakan aura pure-blood yang Kenma miliki, karena tanpa sengaja ia mengeluarkan sedikit auranya untuk berjaga-jaga.
Beruntung sang raja kegelapan masih sedikit ragu karena itu berlangsung hanya satu detik saja.
Namun, tidak dengan Kenzi dan lainnya yang meyakini bahwa itu adalah benar-benar Kenma.
"Sial, apa terjadi sesuatu pada putraku?" ucap Kenzi.
"Yang mulia, sepertinya aku harus kembali kedunia manusia." ucap Rain.
"Baiklah, aku mengandalkanmu, katakan pada ratuku, aku akan menemuinya nanti."
"Baik, yang mulia."
Kedatangan Rain yang tiba-tiba, membuat Mauza dan Kenma sangat terkejut, karena mereka pikir Rain tidak akan pernah kembali.
"Yang mulia ratu, tuan muda, aku kembali." ucap Rain.
"Paman, kupikir kau tidak akan pernah kembali kesini."
"Jika paman tidak kembali, bagaimana tuan muda akan meneruskan latihan sihir?"
"Sukurlah Rain, bagaimana yang mulia?"
"Yang mulia raja bilang akan segera menemui yang mulia ratu dan tuan muda nanti."
"Apa itu artinya, ayah raja akan tinggal disini?" ucap Kenma berbinar.
"Hahhh,,, syukurlah jika yang mulia baik-baik saja." ucap Mauza menghela nafas.
...***...
Beberapa hari berlalu setelah kembalinya Rain kedunia manusia, akhirnya Rainpun tau alasan kenapa aura pure-bloodnya tiba-tiba keluar.
"Maaf ibu ratu, paman Rain, aku mengacaukannya." ucap Kenma merasa bersalah.
"Tidak apa-apa putraku, apapun yang akan terjadi nantinya, kita akan menghadapinya bersama-bersama."
"Bagaimanapun kita memang tak bisa terus menyembunyikannya." sambung Rain.
Setelah mendengar hal itu, Rainpun semakin sering mengajari Kenma sihir dan juga terus mengawasinya tanpa sepengetahuannya.
...***...
Satu bulan berlalu, Kenma kembali menerima tantangan dari para mahasiswa lain yang ingin menguji kecerdasan mereka sendiri, meskipun sudah di pastikan akan kalah tapi itu sudah cukup bagi mereka untuk memotivasi diri mereka sendiri untuk lebih serius melatih kecerdasannya.
"Hahaha,,, tidak kusangka bocah itu akan membuat akademi ini menjadi lebih hidup." ucap rektor Di.
"Itu benar rektor." sambung dekan Wang.
"Jika para murid terus seperti ini, aku yakin para wali murid akan menerima keberadaan bocah itu." ucap rekto Di kembali.
"Jadi, kabar itu benar rektor?"
"Begitulah, mereka berfikir aku sudah terburu-buru mengambil keputusan dan memberi kita waktu satu tahun untuk membuktikannya."
"Lalu, pencapaian seperti apa yang mereka minta rektor?"
"Posisi teratas, jika bocah itu mencapai posisi teratas dalam kurun waktu setahun, maka mereka tidak akan mempermasalahkannya lagi."
"Posisi teratas? Dalam setahun?" ucap dekan Wang tak percaya.
"Yah, kurasa tak perlu menunggu satu tahun, bocah itu sudah di pastikan berada dalam posisi teratas dari tiga jenius itu."
...~***To be continued~...
Note : perguruan tinggi aku ganti jadi akademi***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments