Bab 5

Seminggu berlalu, tak ada tanda-tanda Mauza ingin menjual karangan bunga yang di buatnya, entah karena dia merasa ragu atau mungkin dia memang tidak mau melakukannya, karena meskipun dia bisa mendapatkan uang dari penjualan karangan bunga itu, dia tidak tau akan di gunakan untuk apa uangnya, karena dia sudah mendapatkan semuanya tanpa harus mengeluarkan uang.

Hari berganti hari, bulanpun berganti bulan, tanpa terasa sudah setahun Mauza tinggal di kastil tanpa pernah melihat sosok sebenarnya dari Kenzi.

Hingga suatu hari, dia melihat benang merahnya semakin jelas terlihat dan mengarah kesuatu tempat seakan ada yang menariknya, sama seperti dalam mimpinya beberapa tahun yang lalu.

Tanpa ragu, Mauzapun mengikutinya.

Setelah cukup lama Mauza berjalan, akhirnya ia sampai ke sebuah tempat yang tak jauh dari kastil, yakni sebuah tempat yang sangat indah yang hanya bisa di lihat oleh orang yang di takdirkan seperti Mauza.

Namun, tanpa di duga saat Mauza semakin dekat dengan ujung benang merahnya, tiba-tiba sebuah benang hitam yang cukup tipis, menahan pergerakan benang merahnya yang membuat Mauza sedikit terkejut.

"A-apa ini?" ucap Mauza terkejut.

Di sisi lain Kenzi, Rain dan Cain merasakan firasat buruk, dengan segera ketiganya berpencar ke segala arah untuk memeriksa.

"Sial! Kenapa bisa datang lebih awal?" ucap Kenzi yang menyadari situasinya.

Kembali ke sisi Mauza, terlihat Mauza masih berusaha mempertahankan benang merahnya agar tidak redup, karena yang Mauza tau, saat benang merah itu memudar, maka hidupnya tidak akan lama lagi.

Mauza yang memiliki keinginan kuat untuk tetap hiduppun sedikit demi sedikit berhasil membuat benang hitam itu menipis kembali.

Sedikit lagi Mauza hampir bisa menghilangkan benang hitam itu sepenuhnya, namun kali ini berbeda.

Sekuat apapun keinginan untuk hidup Mauza tidak bisa melakukannya.

Karena alasan kemunculan benang hitam yang tiba-tiba muncul dan membuat benang merahnya memudar adalah karena, kehidupan sulit yang dikatakan Kenzi sebelumnya kini mulai terjadi lebih cepat.

"Tidak berhasil! Apa keinginanku untuk hidup tidak cukup kuat?" ucap Mauza yang hampir kehilangan kesadarannya.

Tanpa di duga, tepat di saat-saat terakhir, Kenzipun datang dan berhasil menekan pertumbuhan benang hitam itu sehingga tetap dalam keadaan menipis, namun Kenzi tidak tau kapan itu akan kembali tumbuh.

***

Keesokan harinya, Mauzapun membuka mata setelah semalaman tak sadarkan diri.

Di luar kamar samar-samar terdengar percakapan antara Rain, Cain dan Kenzi.

"Benarkah itu yang mulia?" ucap Rain dan Cain bersamaan.

"Bukankah itu artinya yang mulia dan nona besar harus segera melangsungkan pernikahan?" seru Rain sedikit berteriak.

"Ssttt pelankan suaramu Rain." ucap Cain.

"Meskipun itu benar, tapi aku tidak bisa memaksanya untuk menikah dalam waktu dekat." sambung Kenzi.

"Haaahhh,,, yang mulia benar, padahal jika yang mulia menikahinya, setidaknya bisa menghilangkan benang hitam itu sedikit demi sedikit." ucap Rain menyayangkan.

Mendengar percakapan ketiganya, membuat Mauza ingat di saat-saat terakhir ia kehilangan kesadarannya, meski sebentar, tapi Mauza sempat melihat sosok Kenzi meskipun sedikit kabur dan ujung benang merahnyapun menari-nari indah di jari Kenzi.

"Sepertinya aku memang di takdirkan untuknya." gumam Mauza.

"Jadi, apa yang harus kita lakukan yang mulia?" ucap Cain.

"Ayo menikah! Jika itu adalah jalan satu-satunya untuk menghilangkan benang hitam ini" ucap Mauza tiba-tiba.

Kemunculan Mauza yang tiba-tiba membuat Kenzi dan lainnya terkejut, bahkan yang lebih mengejutkan mereka adalah kesediaan Mauza untuk menikah dengan Kenzi tanpa syarat.

Mendengar hal itu, sontak membuat ketiganya tak percaya dengan apa yang mereka dengar, sampai Mauza mengulangi ucapannya lagi, barulah mereka percaya dan segera pergi untuk menyiapkan semuanya.

"Apa kau yakin dengan ucapanmu? Aku adalah dalang di balik semua penderitaanmu?"

"Yang lalu biarlah berlalu, anggap saja ini adalah ucapan terimakasihku karena sudah datang dan menunjukkan sosokmu yang sebenarnya padaku saat itu." ucap Mauza.

***

Seminggu kemudian,,,ritual pernikahan antara arwah dan manusiapun di lakukan.

Langit yang awalnya cerah, perlahan mulai gelap saat kemunculan Kenzi dengan penampilan yang tak pernah para hantu dan siluman lihat sebelumnya.

Begitu juga dengan penampilan Mauza yang di balut kain merah menambah kecantikan Mauza, membuat semua yang hadir tak bisa mengalihkan pandangan mereka dari Kenzi dan Mauza, seakan-akan apa yang ada di hadapan mereka adalah sesuatu yang sangat indah dan menenangkan.

Berbeda dengan para manusia yang di penuhi rasa takut saat melihat langit yang begitu gelap di sertai petir yang menyambar, seakan malapetaka besar akan segera terjadi dan menganggapnya akhir dari kehidupan mereka.

Namun seketika rasa takut itu hilang saat langit kembali cerah, yang menandakan ritual pernikahan Kenzi dan Mauza selesai di laksanakan dengan sukses tanpa gangguan.

Kastil megah yang awalnya begitu hening, kini menjadi ramai dengan ucapan selamat dari para tamu yang datang.

Di tengah ramainya ucapan selamat, ada sesuatu yang berhasil membuat jantung Mauza tiba-tiba berdegup kencang tatkala senyum termanis tersungging di wajah tampan Kenzi yang di tujukan pada Mauza sehingga menambah tingkat ketampanannya.

"Tampan sekali!" ucap Mauza tanpa sadar.

Pujian Mauza pada Kenzi, membuat situasi kastil berubah hening sejenak karena meskipun Mauza mengatakannya dengan pelan tapi tetap bisa di dengar oleh para tamu karena sebagai makhluk astral mereka memiliki pendengaran yang sangat tajam di bandingkan manusia.

Detik berikutnya Mauza tersadar jika ucapannya terdengar oleh para tamu, dan itu membuatnya sangat malu.

"Ah! maafkan aku." ucap Mauza canggung.

Seketika kastil kembali ramai oleh tawa para tamu yang melihat kepolosan Mauza, yang tak segan-segan mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.

Sedangkan Kenzi yang mendapatkan pujian dari Mauza hanya bisa mengeratkan pelukannya di pinggang Mauza yang sangat ideal.

"Terimakasih, kau juga sangat cantik." bisik Kenzi.

Bisikan lembut Kenzi di telinga Mauza, berhasil membuat jantung Mauza kembali berdegup kencang bahkan lebih kencang dari sebelumnya.

Melihat tingkah laku tuan dan nyonyanya, membuat Cain hanya bisa menahan tawa yang di sadari oleh Rain, sehingga tak ayal Rain langsung bertanya pada Cain yang hanya di jawab tidak ada apa-apa oleh Cain.

...~to be continued~...

Terpopuler

Comments

Mega

Mega

Jangankan mereka, aku yang baca aja senyum-senyum, kok, kikikikik. ngebucin banget Yang Mulia Kenzi, stop peluk-peluk aku, eeh, Mau.

2022-09-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!