Kembali ke desa Shinpi, pesta semakin meriah seiring malam yang semakin larut.
Namun, di tengah-tengah pesta, angin mulai bertiup semakin kencang, para pendudukpun mulai di liputi ketegangan.
Dalam sekejap mata dua sosok hitam dan putih sudah berada di hadapan para penduduk dan mengamati setiap gadis remaja yang tengah berkumpul, pandangan kedua sosok itupun terhenti pada Mauza.
"Ketemu!" ucap Rain yang menatap tajam kearah Mauza.
Mauza yang merasa tatapan Rain mengandung bahaya, Mauzapun mundur beberapa langkah dan bersembunyi di belakang kepala desa.
"Rain hentikan itu!" seru Cain.
"Baiklah, baiklah." ucap Rain patuh.
Setelah di rasa cukup tenang, Cainpun mengatakan tujuan kedatangannya yang tak lain untuk menjemput Mauza.
Mauza yang merasa kehidupannya akan berakhir jika menuruti mereka, berusaha keras mencari alasan untuk menolaknya.
Setelah berbagai alasan yang Mauza rasa cukup masuk akal namun di tolak oleh Rain dan Cain, akhirnya Mauzapun meminta pada mereka untuk memberikannya waktu agar Mauza bisa memikirkanya dengan baik.
Mendengar permintaan Mauza yang tak terduga membuat Rain dan Cain berada dalam dilema, disisi lain mereka tidak bisa menolak perintah Kenzi namun mereka juga tak mau menggunakan kekerasan untuk memaksa Mauza.
Di tengah-tengah kebimbangan Rain dan Cain, sebuah suara yang tak lain adalah suara Kenzipun bergema hingga terdengar ke seluruh desa, sebuah suara yang begitu tegas namun terdapat penekanan di dalamnya, membuat seluruh desa bergidik ngeri.
"Satu minggu! Kuberi kau waktu satu minggu untuk memikirkannya." seru Kenzi tanpa wujud.
"I-itu terlalu cepat." ucap Mauza keberatan.
"Tiga hari! Rain, Cain kembali." perintah Kenzi.
Mendengar hal itu membuat Mauza kesal dan berfikir untuk tidak menggubrisnya, hingga Cain angkat bicara karena mengetahui pikirannya.
"Hei nona, lebih baik kau menghentikan rencanamu itu jika tidak ingin para penduduk desamu mengalami hal buruk yang bahkan para iblis takut untuk membayangkannya." ucap Cain memperingatkan.
Setelah mengucapkan hal itu, sosok Rain dan Cainpun menghilang dari hadapan mereka dan menjadi udara.
Mauza yang tak pedulipun hanya mendecakkan lidah dan menganggap itu hanya omong kosong yang di buat untuk menakut-nakutinya.
Tiga haripun berlalu, Mauza yang tak mengindahkan peringatan dari Rainpun tetap tinggal di desa, hingga tepat dihari ketujuh hal buruk yang di katakan Cainpun terjadi.
Mulai dari orang-orang terdekatnya yang terkena penyakit menular dan menyebabkan kematian mereka, para binatang buas yang tiba-tiba menyerang desa dan para penduduknya hingga badai besar yang meratakan seluruh desa yang hanya menyisakan Mauza sendiri yang selamat.
Mauza yang melihat itu semuapun menyadari kesalahannya yang menyebabkan para penduduk menjadi korban atas keegoisannya sendiri dan membuat mereka tewas tepat dihadapannya.
Desa yang dulu sangat indah dan hijau kini berubah menjadi puing-puing.
Di tengah-tengah kesedihannya, sebuah suara terdengar di telinganya yang mengatakan "bukankah sudah kuperingatkan sebelumnya" sebuah suara yang tak asing bagi Mauza, membuat ia semakin merasa bersalah.
***
Dua tahun berlalu setelah malapetaka yang menimpa desa Shinpi, selama dua tahun pula Mauza harus menjalani hidup dalam rasa bersalah yang semakin bertambah karena setiap desa yang dia tinggali akan mengalami hal yang sama seperti sebelumnya.
Disisi lain di kediaman Kenzi, Cain berusaha membujuk Kenzi untuk menyudahi hukumannya pada Mauza dengan alasan agar Mauza mau menjadi istrinya.
Setelah cukup lama, akhirnya Kenzipun luluh dan meminta Rain menjemput Mauza, sedangkan Cain di minta untuk menyiapkan segala sesuatu yang di butuhkan Mauza.
Disisi Mauza, Rainpun datang dan segera membawa Mauza ketempat Kenzi tanpa berbasa basi agar Mauza tidak lagi memberi penolakan yang akan membuatnya semakin merasa bersalah.
Mauza yang menyadari semua itupun tak lagi bersikap keras kepala dan mengikuti Rain menuju sebuah tempat yang tak lain adalah sebuah danau yang berada di kedalaman hutan larangan yang sudah berubah menjadi sebuah kastil megah.
Sesampainya disana, Mauzapun terkejut dengan apa yang di lihatnya.
"I-ini,,, ano, a-apa kita salah tempat? Bukankah seharusnya kita ke danau?" ucap Mauza segan.
"Ah, benar juga, aku lupa menjelaskannya padamu nyonya muda." ucap Rain sopan.
Rainpun menjelaskan semuanya pada Mauza. Setelah mendengar penjelasan yang cukup panjang dari Rain, ada perasaan yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata di hati Mauza, karena selama ini, yang dia tau Kenzi adalah arwah penghuni danau.
Namun setelah mendengar penjelasan Rain tentang Kenzi membuat Mauza marah dan menyesal ikut dengan Rain, karena ternyata Kenzi adalah seorang pria yang kejam, yang rela melakukan apapun bahkan menggunakan taktik licik hanya demi ambisinya, namun disisi lain Mauzapun merasa kasihan pada Kenzi.
...~to be continued~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Mega
Ayo, dong, dilanjutkan, Kak.
2022-09-19
0