Seminggu berlalu, seperti biasa Mauza tengah sibuk dengan bunga-bunga yang akan dia rangkai menjadi buket yang indah, karena buket itu akan ia berikan pada Kenzi. Setelah cukup lama, buket itupun selesai di buat.
"Nyonya! Apa anda sudah siap?" seru Cain.
"Aku siap! Cain, apa ini sudah terlihat cantik?" ucap Mauza menunjukkan buket yang di buatnya tadi.
"Sangat cantik nyonya, pasti yang mulia, akan sangat menyukainya." ucap Cain.
Tanpa menunggu lama, Cain dan Mauzapun masuk kedalam danau, Mauza yang baru pertamakali menyelam sempat merasa takut karena Mauza tidak bisa berenang, tapi sesaat kemudian ketakutan Mauza berubah menjadi kekaguman.
Dengan perlahan danau itu terbelah dan menunjukkan deretan anak tangga yang sangat kokoh lagi indah dengan ikan-ikan yang terlihat berenang kesana kemari menyambut kedatangan Mauza.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Apa aku sedang bermimpi, bukankah jika tidak ada air ikan-ikan itu tidak akan bisa berenang? Tapi ikan-ikan ini,,," ucap Mauza yang tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Apa nyonya lupa siapa yang mulia?"
"Ah, benar juga, apa ikan-ikan itu juga arwah?"
"Bisa di bilang seperti itu, namun sebenarnya mereka hanya sisa-sisa energi yang di tinggalkan yang mulia untuk menuntun nyonya ketempat yang mulia."
Setelah cukup lama menuruni tangga, kembali Mauza merasa kagum dengan apa yang ada di hadapannya.
Sebuah sungai yang sangat jernih menarik perhatian Mauza, jernihnya air sungai itu membuat Mauza mampu melihat dasar dari danau itu yang adalah batu-batuan yang tertata rapi, di bagian atas sungai teratai-teratai bermekaran dengan indah, ikan-ikan yang berenang menciptakan riakan-riakan kecil pada airnya.
Namun kali ini ada yang berbeda dari apa yang Cain lihat sebelumnya.
Kali ini sebuah pohon sakura berdiri kokoh di tepi sungai dengan bunga-bunganya yang tengah mekar dan kelopak bunganya yang berguguran karena tertiup angin memenuhi hampir seluruh danau.
Menara yang Cain lihat sebelumnya, kini sudah berubah menjadi sebuah rumah kecil yang sangat indah, terlihat sosok Kenzi dengan penampilan aslinya tengah menyunggingkan senyum manisnya pada mereka, membuat Mauza hampir tak mengenalinya, karena penampilannya yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Bisa dikatakan, penampilan Kenzi saat ini sangat cantik bagi seorang pria, sehingga hampir mendekati penampilan para elf.
"Cain, apa itu, benar-benar suamiku? Kenapa dia terlihat lebih cantik dari para gadis?" ucap Mauza pelan, namun masih terdengar di telinga Kenzi.
"Apa kau meragukan kelamin suamimu sendiri?" ucap Kenzi.
"Ah, ti-tidak seperti itu, aku hanya,,,"
"Kau boleh kembali Cain."
"Baik yang mulia."
Setelah kepergian Cain, Kenzi meraih pinggang Mauza yang sintal dan memeluknya dengan erat dan entah mengapa pelukan Kenzi kali ini benar-benar nyata tanpa rasa dingin yang menusuk tulang Mauza. Keduanyapun segera masuk kedalam rumah mungil itu.
Tak lupa Mauza memberikan buket bunga buatannya pada Kenzi yang disambut oleh senyuman manisnya.
Untuk sejenak Mauza merasa sangat gugup saat Kenzi mendudukan Mauza di pangkuannya, tangan kiri Kenzi memeluk erat pinggang Mauza, sedangkan tangan kanannya tengah membelai lembut rambut Mauza.
Detik berikutnya, tiba-tiba Mauza merasa darahnya berdesir, dan jantungnya berdegup lebih kencang saat bibir Kenzi mencium lembut lehernya.
Entah karena sudah berpengalaman atau baru mempelajarinya, namun perlakuan Kenzi yang seperti itu berhasil membuat pikiran Mauza tiba-tiba kosong dan membiarkan Kenzi melakukan apa yang dia mau.
Tanpa sadar, ******* kecil keluar dari mulut Mauza yang membuat Kenzi hampir kehilangan kendali atas dirinya. Beruntung dia masih bisa menahannya.
"Mauza istriku, bolehkah aku melakukannya sekarang?" bisik Kenzi.
"Ke-kenapa, kau bertanya, bu-bukankah kita memang sudah menjadi suami istri?" ucap Mauza pelan karena malu.
"Kalau begitu, apa kita harus melakukannya disini? Atau di kamar yang sudah aku siapkkan?" ucap Kenzi pelan.
"Ka-kamar." jawab Mauza yang masih merasa malu.
***
Keesokan harinya,,, terlihat Mauza masih tertidur di pelukan Kenzi yang perlahan-lahan fisik nyatanya kian memudar dan kembali ke sosoknya sebagai arwah.
Meskipun Kenzi hanya bisa mempertahankan fisik nyatanya selama sehari semalam, namun Kenzi sangat senang karena dia berhasil melakukannya lebih baik daripada saat latihan yang hanya bertahan setengah hari.
Kenzipun teringat kata-kata yang Cain ucapkan saat memberikan ramuan yang ia buat.
Flashback on
"Yang mulia! Aku berhasil membuat ramuan ini, namun yang mulia harus memiliki fisik nyata untuk menggunakannya." ucap Cain menyerahkan ramuan pada Kenzi.
"Aku mengerti, dengan kekuatanku saat ini, berapa lama waktu yang bisa aku gunakan untuk mempertahankan fisik nyataku?"
"Dari yang hamba lihat, yang mulia hanya memiliki waktu sehari semalam untuk kali ini, tapi hamba tidak tau untuk waktu berikutnya."
"Tidak apa-apa, sehari semalam sudah cukup bagiku."
Flashback off
"Baguslah, meski sedikit, namun benang hitam ini sudah tidak setebal sebelumnya." ucap Kenzi melihat benang hitam yang sedikit memudar.
***
Disisi lain, sesosok bayangan hitam merasa gelisah karena benang hitam yang sengaja dia hubungkan pada benang merah Mauza agar tak terhubung dengan Kenzi tidak sesuai ekspektasinya, karena Mauza berhasil mempertahankannya sehingga menjadikan benang merahnya bercabang dan terhubung pada Kenzi meski tipis namun cukup kuat.
Kini benang hitam itu di tekan lebih kuat karena Mauza dan Kenzi sudah melakukan kontak fisik yang secara tidak langsung energi Kenzi sedikit demi sedikit menyatu dengan energi Mauza yang jika penyatuan energi itu berhasil dan membentuk energi lain, maka secara otomatis akan membuat benang hitam itu menghilang dengan sendirinya.
"Ck, sial, apa itu memungkinkan seorang arwah dan seorang manusia bisa melakukannya?" ucap sosok hitam itu marah.
"Tuan, apa anda lupa, manusia itu sudah di takdirkan untuk menjadi istri sang Yurei No O?" ujar pelayannya.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan agar mereka gagal melakukan penyatuan energi itu?" sambung sosok hitam.
"Ada satu kemungkinan tuan."
"Katakan!"
"Jangan biarkan mereka melakukannya lagi."
"Bagaimana caranya?"
"Kekacauan!"
Mendengar hal itu sosok hitam yang bernama Satan atau lebih dikenal sebagai raja kegelapan menjadi sangat senang dan segera menyiapkan semuanya agar Mauza dan Kenzi tak lagi punya waktu untuk kembali melakukan penyatuan energi.
Namun, bukan Kenzi namanya jika dia tak mengetahui rencana busuk sang raja kegelapan dan satu hal yang di lupakan oleh raja kegelapan, yakni status Kenzi sebagai arwah yang mana arwah bisa menutupi hawa keberadaannya dan bebas melakukan pengintaian dengan wujudnya yang hanya berupa udara.
"Dasar bodoh, kau pikir aku akan membiarkannya begitu saja." gumam Kenzi.
Kembali kesisi Mauza yang sudah terbangun dari tidur lelapnya. Sejenak ia lupa bahwa dirinya berada dalam danau sampai hawa dingin menyapu kulitnya yang berhasil membuat Mauza sedikit kedinginan.
Detik berikutnya Mauza teringat dengan kejadian semalam bersama Kenzi dan itu membuat wajah Mauza memerah karena malu.
Segera ia memeriksa seluruh tubuhnya jika ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, namun setelah lama memeriksa, Mauza tidak menemukan apapun bahkan rasa sakit sekalipun selain dirinya yang terbangun di sebuah kamar yang indah.
...~to be continued~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments