Dua bulan berlalu, energi kehidupan di dalam tubuh Mauzapun semakin hari semakin tumbuh, bisa di bilang energi kehidupan yang awalnya hanya sebesar kelereng, kini sudah sebesar bola pingpong, bersamaan dengan itu, emosi Mauzapun semakin hari semakin tak terkendali terkadang kasar terkadang juga sangat lembut.
Meski begitu, tak jarang Kenzi mendapatkan omelan dari Mauza, beruntung Kenzi sudah di beritau sebelumnya oleh Cain tentang efek kehamilan Mauza, sehingga Kenzipun sudah bersiap untuk apa yang akan terjadi dalam 4-5 bulan kedepan.
Kesulitan awalpun teratasi, namun kesulitan berikutnya baru saja di mulai dimana Mauza mulai tidak memakan makanannya, hanya buah-buahan saja yang Mauza makan, dan itu membuat Kenzi sangat khawatir.
Disisi lain di luar danau, terlihat Kenzi, Rain dan Cain tengah berdiskusi tentang apa yang akan mereka lakukan untuk membuat Mauza tetap mendapatkan asupan gizi agar tidak terjadi hal buruk pada Mauza dan calon anaknya.
"Cain, Rain, apa kalian sudah menemukan solusi untuk hal ini?" ujar Kenzi lesu.
"Ampun yang mulia, kami masih belum menemukan solusinya." ucap Cain dan Rain bersamaan.
"Begitu yah, haaahhh." keluh Kenzi.
Melihat tuan mereka yang frustasi membuat mereka hanya bisa terdiam. Ditengah keheningan, suara Mauza terdengar panik mencari-cari keberadaan Kenzi, namun setelah menemukan keberadaannya, Mauza kembali memarahi Kenzi apalagi saat Kenzi tak sengaja teralihkan membuat Mauza sangat murka.
Melihat hal itu, Kenzi hanya bisa menghela nafas dan memijit-mijit keningnya yang membuat Mauza kembali murka karena merasa di abaikan.
Bukan hanya itu, bahkan Mauza tak mengizinkan Kenzi masuk kedalam rumah dan menguncinya di luar, namun Mauza lupa bahwa Kenzi adalah arwah, yang bisa muncul dan menghilang tiba-tiba dan itu menjadi keuntungan Kenzi yang bisa membuatnya keluar masuk dengan bebas kedalam rumah tanpa diketahui, baru pada hari ketiga Mauza ingat jika Kenzi adalah arwah.
"Haisshhh,,, bodohnya aku menguncinya di luar." keluh Mauza menepuk dahinya.
Kenzi yang sedari tadi memperhatikan Mauza dalam wujud arwah hanya bisa menahan tawa karenanya.
"Kenapa istriku terlihat sangat imut saat terlambat menyadari sesuatu?" batin Kenzi seraya tersenyum.
***
Sebulan kembali berlalu saat Mauza tiba-tiba ingat dengan desanya desa Shinpi yang sudah menjadi semak belukar.
Ingatan-ingatan masa lalupun kembali berputar-putar di kepalanya yang mana membuat Mauza menjadi sangat marah pada dirinya sendiri yang terlalu egois, jika saja dia menerima takdirnya dari awal, mungkin desa Shinpi masih berdiri kokoh bahkan mungkin menjadi sebuah tempat yang tak kalah indah dengan desa lain bahkan ibukota sekalipun.
Tanpa diduga, perasaan Mauza saat ini berpengaruh pada energi di dalam tubuhnya yang membuat Mauza merasa kesakitan, pandangannyapun mulai buram karena menahan rasa sakit yang seolah-olah sesuatu akan meledak dari tubuhnya.
Disisi lain, Kenzi yang tiba-tiba merasa gelisah segera mencari keberadaan Mauza secepat yang dia bisa mencari ke segala arah. Tak lama kemudian, Kenzipun menemukan Mauza yang memucat tengah memegangi perutnya.
Mauza yang melihat kedatangan Kenzi dari jauh, tak kuasa lagi menahannya dan jatuh pingsan di pelukan Kenzi. Segera Kenzi membawa Mauza kekamar dan membantu menenangkan energi itu, setelah cukup lama, energi di dalam tubuh Mauzapun kembali tenang.
"Fyuhh,,akhirnya tenang. Nak, jangan menyusahkan ibumu lagi lain kali." ucap Kenzi pelan menyentuh perut Mauza dan membelainya.
"Yang mulia! Bagaimana keadaan ratu?" ucap Rain.
"Mm,,, sepertinya, yang mulia ratu terlalu emosi sehingga energi itu terpengaruh." ucap Cain memprediksi.
"Apa yang membuatnya begitu emosi?" ucap Kenzi khawatir.
Setelah cukup lama, tanpa di sadari Kenzi, Mauzapun mulai tersadar dari pingsannya dan menyapu pandangan ke sekitar kamar, pandangannya tajam menatap satu arah kearah Kenzi yang tengah gelisah.
"Y-yang mulia!" panggil Mauza lemah.
"Ratuku! Syukurlah kau sudah sadar, apa kau sudah lebih baik sekarang?" ucap Kenzi senang sekaligus khawatir.
"Maaf, sudah membuatmu khawatir yang mulia." ujar Mauza pelan.
Setelah memastikan keadaan Mauza dan dirasa sudah tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi, Rain dan Cainpun undur diri dari sana.
Kenzi yang sudah merasa lebih tenang perlahan mendekati Mauza dan duduk di sampingnya.
"Yang mulia, bolehkah aku pergi ke desaku untuk melihat-lihat?" ucap Mauza lirih.
"Desa Shinpi?" ucap Kenzi memastikan.
"Aku tau, desa itu mungkin sudah tidak ada lagi, tapi aku tetap ingin melihatnya."
"Baiklah, tunggu sampai kau benar-benar pulih terlebih dahulu, setelah itu aku akan mengantarmu kesana."
"Terimakasih."
***
Beberapa hari kemudian,,, sesuai yang di janjikan Kenzi dan Mauzapun pergi kedunia manusia menuju desa Shinpi.
Setelah beberapa tahun tinggal di dunia arwah, banyak hal telah berubah, desa-desa yang pernah hancur karena keberadaan Mauza sudah di bangun kembali kecuali desa Shinpi yang memang penduduknya sudah di musnahkan seluruhnya.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, keduanya pun sampai di desa Shinpi. Sebuah desa yang dulunya begitu indah, namun kini sejauh mata memandang hanya hamparan semak belukar saja yang terlihat.
Dalam hati Mauza merasa sangat bersalah dan menyesalinya seraya meminta maaf atas kesalahannya karena sudah bersikap egois, seolah-olah ucapannya tersampaikan, hembusan angin tiba-tiba menerpa tubuh Mauza yang mungkin saja menandakan permintaan maafnya di terima.
Malam harinya, Kenzi memanggil Rain dan Cain untuk membicarakan sesuatu. Tak berapa lama keduanya pun datang.
"Apa ada yang anda butuhkan yang mulia?" ucap Rain dan Cain bersamaan.
"Aku ingin kalian mencari tempat yang bagus untuk membangun sebuah rumah di dunia manusia." tegas Kenzi.
"Kenapa yang mulia tiba-tiba ingin membangun rumah di dunia manusia?" ujar Rain.
"Apa kau lupa yang mulia ratu sedang hamil dan butuh tempat yang cocok untuk membesarkan calon pewaris yang mulia nanti?" jelas Cain.
"Ah, benar juga."
"Sebenarnya bukan hanya itu tujuanku, entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang besar akan terjadi, dan aku ingin melindungi mereka."
"Apa ini ada hubungannya dengan raja kegelapan?"
"Mungkin saja, aku tidak ingin keturunanku sampai di temukan mereka jika memungkinkan."
" Hamba mengerti yang mulia, kami akan segera melakukannya, ayo Rain."
......***......
Dua bulan berlalu, kini kehamilan Mauza memasuki bulan keempat, dimana sedikit demi sedikit emosinya sudah mulai kembali stabil, rumah barupun sudah hampir selesai, tentu saja tanpa sepengetahuan Mauza sebelumnya, karena Kenzi ingin memberitaukannya di waktu yang tepat.
Sebuah rumah luas dengan beberapa penyesuaian. Salah satunya adalah sebuah segel yang sangat kuat, cukup kuat untuk menyamarkan aura seseorang.
Di sekitar rumah, pepohonan rindang menjadi pagarnya, dibagian belakangnya ada sebuah kolam renang yang cukup luas.
Di samping kanannya, terdapat sebuah rumah yang di khususkan untuk Cain dan Rain, jika memang keadaan memaksa mereka untuk tinggal di dunia manusia.
Di samping kirinya, terdapat sebuah lapangan yang bisa di pakai untuk bermain basket atau semacamnya.
Dan di bagian depannya sebuah taman lengkap dengan rumah kaca yang bisa di gunakan untuk bersantai.
"Bagaimana pembangunannya?" ucap Kenzi.
"Sesuai dengan yang mulia inginkan, tapi,,," ucap Cain terhenti?
"Ada apa?" sambung Kenzi.
"Apa yang mulia yakin membiarkan kami tinggal bersama yang mulia dan yang mulia ratu?" ujar Cain canggung.
"Bukankah kalian juga bagian dari keluargaku? jadi kenapa tidak?" ucap Kenzi tersenyum.
Perkataan Kenzipun berhasil membuat keduanya tercengang, karena selama ini mereka menganggap diri mereka hanya seorang budak, tapi tanpa di duga justru Kenzi menganggap mereka keluarganya dan itu benar-benar membuat mereka terharu.
"Y-yang mulia!"
...~to be continued~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments