Bab 6

Satu bulan berlalu setelah ritual pernikahan Kenzi dan Mauza, namun karena masih belum terbiasa dengan kehadiran Kenzi sebagai suaminya, Mauza masih terlihat canggung bahkan untuk menyapa Kenzi dan itu membuat Rain dan Cain hanya bisa memijat keningnya saat melihat keduanya saling terdiam meskipun tengah bersama.

"Haisshhh, yang mulia memang tidak tau cara bersikap saat bersama seorang wanita yang bahkan sudah menjadi istrinya." gerutu Cain yang terlihat depresi.

"Apa kita yang harus bertindak?" sambung Rain polos.

"Apa maksudmu kita yang bertindak?" ucap Cain curiga.

"Oi, oi, kenapa kau melihatku dengan tatapan curiga seperti itu?" ujar Rain canggung.

"Tidak, lupakan saja. Cepat katakan apa maksudmu?"

"Entahlah, tiba-tiba aku lupa karena kau terlihat mencurigaiku."

Pukulan terkuat Cainpun mendarat di kepala Rain dengan mulus, membuat Rain cukup kesakitan dan hampir meneteskan airmata.

"Aku tau kau kurang cerdas, dan lebih kurang cerdas lagi aku malah meminta penjelasanmu." ucap Cain kesal.

Rain adalah tipe orang yang lemah dalam hal konsentrasi karena sedikit saja dia teralihkan, maka hal-hal pentingpun akan mudah di lupakan.

Alasan Cain memukul Rain sekuat tenaga adalah karena dia sudah sangat kesal dengan kelemahannya itu dan berharap pukulannya bisa sedikit membuatnya lebih fokus, namun bukan Rain namanya jika dia akan lebih fokus hanya karena sebuah pukulan.

Kembali Cain memijit keningnya yang menandakan dia sudah dalam fase depresi akut, entah apa yang bisa dia lakukan agar kedua tuannya bisa lebih santai dalam menjalani masa-masa indah setelah menikah.

"Hahhh,,, aku pergi kau awasi yang mulia dan nyonya besar." ucap Cain beranjak pergi.

Sebulan kembali terlewati, namun masih belum ada tanda-tanda hubungan Kenzi dan Mauza mengarah pada apa yang disebut ikatan, keduanya masih merasa sangat asing yang membuat benang hitam kembali menebal sedikit demi sedikit.

Melihat hal itu, seketika raut wajah Mauza menjadi pucat, menyadari ada yang salah pada Mauza, Kenzipun mengalihkan pandangannya pada benang hitamnya yang terlihat sedikit menebal.

"Ba-bagaimana ini?" ujar Mauza panik.

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa, ada aku disini." ucap Kenzi segera meraih tubuh Mauza kedalam pelukannya.

Mauza yang tak menyadari dirinya sudah berada di pelukan Kenzi membuat Mauza sedikit terkejut karena hawa dingin sudah menyelimutinya, namun Mauza tidak menolaknya karena ia tau Kenzi adalah arwah, sehingga sebuah pelukan yang katanya hangat, sangat tidak mungkin dimiliki arwah seperti Kenzi.

"Maaf, aku tidak bisa memberimu kehangatan dari sebuah pelukan." ucap Kenzi pelan.

"Aku tau dan aku tidak mempermasalahkannya selama kau tak menaikan suhunya lebih tinggi." ucap Mauza yang merasa hawa dingin semakin menusuk tulangnya.

Menyadari hal itu, Kenzi segera melepaskan pelukannya dan kembali meminta maaf pada Mauza, senyuman manispun menyambut permintaan maaf Kenzi.

Keesokan harinya, Kenzi memanggil Cain untuk segera datang kedanau yang bisa di bilang danau itu adalah ruangan khusus milik Kenzi, Cainpun segera memenuhi panggilan Kenzi.

Di dalam danau, sebuah tempat yang cukup luas dengan sebuah jembatan era kerajaan yang tersambung pada sebuah bangunan mungil berbentuk menara tempat dimana Kenzi selalu menghabiskan waktunya sebelum kedatangan Mauza di kastil.

Di bawah jembatan itu sebuah sungai dengan airnya yang sangat jernih serta bunga teratai yang bermekaran indah di dukung oleh batu-batu besar di dasarnya dan di sempurnakan oleh riakan-riakan kecil pada airnya saat beberapa ekor ikan menggoyangkan sirip-siripnya yang indah.

Jika saja Mauza melihatnya, mungkin dia tidak akan pernah mau kembali ke kastil yang begitu sepi, itulah yang terlintas di pikiran Cain saat ini, sebelum akhirnya dia sampai di tempat Kenzi.

"Apa ada yang anda butuhkan yang mulia?" ucap Cain berlutut.

"Cain, apa,,, apa manusia dan arwah bisa memiliki keturunan?" ucap Kenzi sedikit ragu.

Ini adalah pertamakalinya Cain melihat tuannya memiliki keraguan, untuk sejenak dia mengolok-olok Rain yang tak bisa melihat ekspresi tuannya yang seperti itu.

"Apa,,, apa tuan ingin memiliki keturunan?" ucap Cain penasaran.

"Itu,,, saat aku tak sengaja membuat Mauza kedinginan, ada sesuatu dalam tubuhku yang seakan berputar-putar dan membuatku hampir kehilangan kendali atas diriku dan emosiku."

"Bagian tubuh mana yang mulia rasakan berputar-putar?"

"Disini." ucap Kenzi memegang dada sebelah kirinya.

Mendengar hal itu, sontak membuat Cain sangat terkejut, karena arwah tidak mungkin memiliki jantung, segera Cain menepis pikiran itu dan meyakinkan dirinya bahwa mungkin tuannya adalah pengecualian.

Sebagai seorang pengawal sekaligus penasihat, Cain memiliki kecerdasan yang hampir mendekati jenius.

Jadi, tidak heran jika Cain mengetahui tentang makhluk hidup yang ada di dunia terutama manusia.

"Yang mulia, kalau boleh tau, selain yang tuan katakan tadi, apa ada hal lain lagi yang tuan rasakan?" ucap Cain berusaha meyakinkan dirinya jika tuannya bisa merasakan detak jantung Mauza.

"Mmm,,, aku merasa ada sesuatu yang memukul-mukul dada sebelah kananku."

Mendengar penuturan tuannya, mata Cain menjadi berbinar karena dugaannya tepat dan menyimpulkan bahwa Mauza lah yang memancing hal itu terjadi sekaligus meyakinkannya bahwa Mauza dan Kenzi akan melewati semua kesulitan yang mungkin akan terjadi ke depannya.

"Yang mulia, meskipun kemungkinannya sangat kecil, aku akan berusaha melakukan apapun agar yang mulia bisa memiliki keturunan." ujar Cain semangat.

***

Sudah enam bulan usia pernikahan Kenzi dan Mauza, Cainpun sudah menyelesaikan penelitiannya tentang bagaimana caranya membuat Kenzi memiliki keturunan setelah selama beberapa bulan ke belakang dia berkutat dengan berbagai macam tes, akhirnya dia berhasil membuat ramuan yang bisa di gunakan dalam proses memiliki keturunan.

Namun masalahnya, bagaimana cara Cain membuat kedua tuannya melakukan hubungan suami istri, karena sebagai arwah, Kenzi tidak memiliki tubuh nyata selain hanya sebuah energi, detik berikutnya, Cainpun menyadari sesuatu.

"Tunggu dulu, bukankah alasan yang mulia bisa merasakan detak jantung nyonya besar adalah karena mereka berpelukan? Itu artinya,,," ujar Cain tak melanjutkan ucapannya.

Menyadari hal itu segera Cain beranjak pergi dari ruangannya untuk menemui Kenzi, ditengah-tengah perjalanannya menuju danau yang memang cukup jauh dari ruangan pribadinya, Cain segera menghentikan langkahnya saat Mauza memanggilnya.

"Cain, apa kau akan menemui, su-su-suamiku?" ucap Mauza pelan, yang berusaha merubah panggilannya pada Kenzi.

"Tidak perlu memaksakan diri nyonya, pelan-pelan saja." ucap Cain tersenyum seakan mengerti kesulitan Mauza dalam memanggil Kenzi dengan panggilan suami.

"Apa nyonya mau ikut?" lanjut Cain menawarkan.

"Ta-tapi, apa aku boleh menemuinya? Karena meskipun aku istrinya tapi dia tak pernah menemaniku tidur di kastil megah ini." ucap Mauza terlihat terkejut dengan ucapannya sendiri.

"Hooohhh,,, apa nyonya,,,?" goda Cain.

"Aaahhh! K-kau pergilah." teriak Mauza yang memerah.

Melihat wajah Mauza yang seputih salju berubah merah padam, membuat Cain hanya bisa menahan tawa dan menatap punggung Mauza yang semakin menjauh.

"Haahhh,,, yang mulia, anda benar-benar tidak peka." keluh Cain.

Sesampainya di tempat Kenzi, Cainpun mengatakan keberhasilannya dalam membuat ramuan untuknya, tak lupa juga Cain mengatakan apa yang di ucapkan Mauza tanpa sadar tadi yang membuat Mauza sangat malu.

Mendengar perkataan Cain, Kenzi terkejut sekaligus senang meskipun itu di ucapkan tanpa sadar oleh Mauza.

"Ajaklah dia kemari lain kali." ucap Kenzi tersenyum.

...~to be continued~...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!