Medan pertempuran yang diselimuti pertumpahan darah, sebuah ego yang menumbuhkan pertikaian yang menyulut sebuah api dikompor gas. Lantunan irama gelas yang bertatapan dengan sendok yang di hanyutkan oleh aliran panas sebuah seduhan kopi.
" Faramis, ini aku buatkan kopi. " Marsa yang selesai membuat kopi dan memberikannya kepada panglima perang Faramis.
" Woe, kenapa kalian sesantai ini? Dan kenapa kau juga ada disini, bukannya kau harusnya bersama Raja ditempat yang aman? " Silvana jengkel dengan sikap santai Faramis dan Marsa disaat sedang terjadi perang ini.
"Oh, terimakasih kopinya. Dan Silvana, coba sedikit lebih santai. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. " Faramis menyeruput kopi sambil duduk santai.
Silvana yang sedari tadi tegang karena perang sedikit teralihkan dengan sikap Faramis. Sementara itu dibaris depan Elfergo yang masih maju untuk kegaris depan pertempuran dihentikan oleh Morgan.
" Oh, kau penyihir yang waktu itu ya? Oh halo! " Dengan santai Morgan menyapa Elfergo yang sedari tadi emosinya meluap-luap.
" Kau bocah ingusan yang yang waktu itu. Aku tidak akan melepaskanmu kali ini. Karena tidak seperti waktu itu. Sekarang tidak akan ada yang memintaku untuk mundur, dan mengikuti rencananya. Sekarang aku bebas mengamuk disini. " Elfergo merapalkan Sihir untuk menyerang Morgan.
Sebuah Sihir Halilintar melesat ke Morgan, tapi dengan kedua pedangnya di lontarkan ke atas dan tidak mengenainya.
"Bisakah kau sedikit serius kawan! aku tidak mengerti tapi ada sedikit keluar kilatan kecil, aku berfikir kau tadi sedang tidak kelihatan dan memberikan sedikit efek cahaya biar kau sedikit jelas melihat, oh aku lupa ini masih siang. Kenapa kau tidak bisa melihat, apa kau seekor kelelawar? " Morgan membuat Elfergo semakin marah.
" Jadi, kau ingin mati segera disini bocah ingusan? Baiklah, akan kuturuti maumu. " Elfergo semakin membuat semuanya menjadi medan sihir yang kuat. Merapalkan banyak Sihir secara bersamaan.
" Ini yang kutunggu dari tadi. " Morgan tersenyum.
Dari barisan belakang, Faramis yang sedang ngopi. Marsa bertanya kepada Faramis. " Apa Morgan akan baik-baik saja? "
" Tentu, lihatlah dia sudah lebih dari siap untuk ini." Faramis kembali duduk dan meminum kopinya.
Sebuah rapalan sihir yang di rapalkan oleh elfergo tiba-tiba menghilang, dan dia kebingungan. " Apa yang terjadi? Kenapa sihirku tidak bisa digunakan. "
" Haha, kau tau, aku hanya membuat medan anti sihir disekitarmu dan kau kebingungan. Dasar amatir. " Morgan tersenyum melihat Elfergo yang kebingungan.
" Bagaimana bisa, ini tidak mungkin, bocah sepertimu bisa menetralkan sihirku. " Elfergo terlihat kesal karena sihirnya tidak bisa digunakan.
Sebuah pedang yang di tancapkan Morgan ketanah membuahkan area sekitarnya menjadi penetral sihir, dan pedang yang digunakan Morgan sudah dibuat untuk bisa mentralkan Sihir karena saran dari Faramis sebelumnya.
Morgan mencabut salah satu pedangnya dan mulai memenyerang dengan tebasan yang tidak bisa dihentikan Elfergo.
...[ Slash ... ]...
" Dasar bocah tengik, kau melakukan sebuah hal yang licik. " Tangan Elfergo terluka parah akibat tebasan Morgan.
" Oh, apa kita sedang bermain? Bukankah kita sedang berperang, lagian yang memulai kelicikan itu dulu kan dari dirimu sendiri yang menyerang warga Dasa Arcyd. Anggap saja aku akan membalaskan perbuatanmu yang kemarin. Dan mengakhirinya disini. "
Morgan membuat kuda-kuda penyerangan dan menebas leher Elfergo dengan sekali tebas dan Elfergo terjatuh dengan berlumuran darah.
Disamping itu Ruby dan Mylthi sedang bersaing untuk mendapatkan siapa yang paling banyak mengalahkan musuh.
" Hah, aku menang, aku lebih banyak seratus orang dibandingkan denganmu. " Ruby yang sedang berlumuran keringat karena bermain dengan para prajurit Vender.
" Kau mungkin salah berhitung, karena aku lebih banyak mengalahakan 200 musuh darimu. " Mhylti menyela kesenangan Ruby.
Dan mereka bertengkar lagi sambil mengalahkan banyak prajurit Vender.
Sementara itu Firo yang melawan Guardiola di udara saling melempar sebuah serangan.
...[ Blazzzhh ... ]...
Sebuah tembakan Api hitam ditembakkan dari lengan Firo yang sudah menjadi manusia setengah iblis.
...[ Duar ... ]...
Di tangkis dengan sebuah serangan balasan dari Guardiola, sebuah tembakan angin.
Mereka beradu kekuatan dan serangan di udara dan membuat area sekitar mereka rusak parah.
Pangeran Kerajaan Vender turun dari kursi penonton dan melesat kearah Ruby dan Mylti menghantam dengan pedang besarnya dan membuat pora-poranda prajurit Arcane.
" Siapa dia yang datang-datang mengacaukan ini semua. " Ruby maju menyerang dan serangannya dengan mudah di patahkan. Sabitnya terlempar dan kemudian disusul Mhylti yang mencoba menghantamnya dengan pukulan namun kalah cepat.
...^^^[ Duazzz ... ] ^^^...
Mhylti terlontar dan tidak sadarkan diri. Saat Arden ingin mengakhiri nasib Mhylti, Faramis yang tadi duduk di bangku perkopian tiba-tiba sudah ada dipan Arden dan menangkis pedang besar yang akan di tusukkan keleher Mhylti.
" Oh, kau akhirnya turun juga ke medan pertempuran. " Arden masih menekan pedangnya meski sudah di halangi oleh pedang Faramis.
Faramis membuat sebuah hentakan dan pedang Arden sedikit terpental keatas. Faramis membawa Mhylti ke tempat aman untuk diobati oleh Silvana.
" Kau, sepertinya cukup tangguh, dan sekarang kau akan merasakan tebasan sabitku ini. " Ruby mengambil Sabitnya dan membuat serangan melingkar berputar. Ruby melesat keatas dan mengayunkan sabitnya.
... [ Blazzzhhh ... ] ...
Tapi Arden menangkisnya dengan prisai yang dibawanya, dia menjadi seperti mesin bertempur dengan pertahanan yang kokoh dan serangan yang mematikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments