Malam bulan Purnama merah telah tiba, semua warga Desa Black Forest telah bersiap-siap dengan ancaman yang akan terjadi, angin berhembus dingin dan tidak ada apa-apa yang terjadi.
" Hah, sepertinya tidak ada apa-apa yang akan terjadi. Jadi kita tidur saja malam ini. " Salah satu warga desa yang terlihat bosan maju dan berkata bahwa semua ini sia-sia. Tapi setelah dia mengatakan itu.
Dari kejauhan ada Srigala putih yang berlari dan menikamnya. "Arghh, tolong aku! "
Dengan cepat Ruby berlari dan menebas Srigala putih itu.
...[Slash ... . ]...
" Segera bawa dia untuk di obati. " Ruby menyuruh penduduk desa yang lain untuk membawanya.
Dari kegelapan datang seorang yang sangat Ruby kenal. " Oh, gadis bersabit. Apa kau mengingatku? Lalu dimana si Roger yang merupakan Pahlawan desa ini. Jadi, kau ditinggal sendirian ya, aku akan memberitahumu bahwa dia telah mati kubunuh, hahaha. " Pale tusk berbalik dan pergi.
" Tidak akan kubiarkan kau kabur lagi. Hai akan kubunuh kau kali ini. " Ruby mengejar Pale tusk.
" Hoe! Ruby, tenangkan dirimu. Itu jebakan untuk memancingmu. Cih, anak itu tidak mendengarkanku. "
Silvana menggenggam tangan Faramis dan memandangnya. " Kejar dia komandan. Selamatkan dia! "
Faramis mengangguk dan berlari mengejar Ruby. Pale tusk sampai di hutan yang sunyi dan Ruby berhasil mengejarnya dengan terengah-engah.
" Kali ini kau tidak akan kulepaskan. Dasar B*j*ng*n." Ruby langsung menghunuskan sabitnya ke Pale tusk.
... [ **Slash ... . ]...
...[Breelll** ... . ]...
" Hahaha, ini menarik sekali, kekuatanmu bertambah lagi setelah tidak bertemu selama Limabelas Tahun. Hahaha, ayo hibur aku lagi. " Pale tusk terlihat menikmati setiap ayunan sabit yang diarahkan padanya. Dan akhirnya ayunan sabit itu mengenainya.
" Kau akan mati disini. " Ruby terengah-engah penuh amarah.
" Hahaha, kau bercanda? Kukira ini baru permulaan. Akan kutunjukan kau sedang berhadapan dengan siapa. Auuuu ... ." Pale tusk berubah menjadi Manusia Srigala putih.
Ruby tidak sempat menghindar dan dicekik oleh Pale tusk, Kemudian cakar Pale tusk siap untuk menusuk perut Ruby. Tanpa bisa berbuat apa-apa Ruby hanya berusaha melepaskan cekikan di lehernya. Perbedaan kekuatan mereka berdua yang memberi efek pertarungan ini berat sebelah.
... [ Slash ... . ]...
Faramis datang disaat yang tepat dengan memotong tangan yang digunakan Pale tusk untuk mencekik Ruby. Dan membawa Ruby sedikit menjauh dari Pale tusk. " Jangan terlalu memaksakan dirimu, istirahatlah! Akan kukalahkan dia untukmu dan untuk Desa Black Forest. "
Faramis berdiri dan membuat penghalang disekitar area pertarungan mereka. " Hah, siapa kau. Berani sekali kau memotong lenganku, akan kutunjukan padamu Neraka sekarang juga. Dan kau sombong sekali memakai penghalang disekitar area pertarungan ini. "
Pale tusk terengah-engah menahan rasa sakit karena tangannya terpotong. Tapi Faramis dengan tenang berjalan kearah Pale tusk. " Apa kau tahu wahai Anjing yang kehilangan satu kakinya. Aku memasang penghalang ini agar kau tidak lari dan bisa kumakamkan ditempat ini. "
Faramis terlihat serius saat ada temannya yang berada dalam sebuah ancaman. Faramis bergerak secepat kilat menusuk perut Pale tusk.
... [Jreebb]...
" Kau yang memulainya dengan ingin menusuk perut temanku. Jadi sekarang perutmu yang kutusuk. " Faramis kemudian meloncat menjauh.
Pale tusk menahan rasa sakit itu. " Apa kau pikir bisa mengalahkanku hanya dengan menusuk perutku ini? "
" Apa kau tidak sadar bahwa sekarang kau juga kehilangan lengan kirimu? Hem. " Faramis tersenyum.
" Arrghh, aku akan membunuhmu, Auman Srigala bulan. Auuuu ... " Pale tusk membuat serangan pencabik dengan aumannya.
Asar diam dan membuat penghalang di sekitar tubuhnya dan tubuh Ruby.
" Dia kuat sekali, dia benar-benar menepati janjinya. hem-hem-hem. " Ruby menangis terharu.
" Sekarang giliranku, aku sudah bosan bermain dengan Anjing jadi-jadian sepertimu. Blazzing Dark. "
Faramis membelah Pale tusk menjadi dua bagian dengan Blazzing Dark. Ruby berlari dan memeluk Faramis. " Ter-rimakasih telah menepati janjimu. Aku tidak tahu apa lagi yang bisa kukatakan. "
Faramis tersenyum. " Jika kau tidak tahu apa lagi yang akan kau katakan, maka ayo kembali ke desa. Mungkin teman-teman kita juga sudah selesai dengan pekerjaannya. "
Ruby dan Faramis kembali ke desa dan meninggalkan jasad Pale tusk yang tergeletak tak berdaya. Desa telah aman dan para Serigala putih telah dimusnahkan oleh Silvana dan teman-teman Faramis.
" Woe, Faramis dan Ruby telah kembali. iyeee ... . " Sorakan dari warga desa menyambut mereka kembali.
Setelah insiden malam itu, paginya mereka berencana untuk segera melanjutkan perjalanan. Tapi dihentikan warga desa. "Maaf tapi bisakah kalian menunggu dan tinggal di desa ini untuk malam ini, kita akan merayakan kemenangan kita bersama. Tolong jangan pergi dulu. "
Para warga desa merunduk untuk meminta agar mereka jangan pergi dulu dan melewatkan pesta kemenangan malam ini.
" Yah, mungkin kami akan menunda perjalanan kami. untuk pagi ini. Mungkin besok kami akan berangkat, jadi jangan hentikan kami lagi untuk besok ya. Hahaha. "
Para penduduk desa juga ikut tertawa mendengar kata-kata Faramis. Lalu Ruby datang ke Faramis. " Faramis, maaf sebelumnya. Bolehkah aku ikut bersama kalian? "
Dengan menunduk Ruby meminta kepada Faramis. Kemudian salah satu warga desa menambahkan. " Iya, bawalah Ruby, dia sudah terlalu lama menjadi penjaga desa ini dari ancaman. Dia tidak pernah keluar desa. Jadi ajaklah dia kemana Tuan Faramis akan menuju. Lagian ancaman untuk desa ini juga sudah tidak ada. Jadi jika Ruby pergi, kami bisa menjaga desa ini sendiri. "
Faramis menyentuh kepala Ruby dan mengelus rambutnya. " Hahaha, apa kau yakin Ruby? Kalau begitu panggil aku Komandan setelah ini. "
Ruby memandang Faramis dengan berbinar-binar. " Siap Pak Komandan. "
Dimalam yang meriah ada banyak makanan yang lezat dan mereka semua bersenang-senang di malam itu dengan perut yang kenyang. Faramis yang usil sedang mengambil makanan Silvana dan dipanah oleh Checil makanannya. Faramis berlari ke dalam rumah. Tapi menemui Morgan yang sedang membersihkan pedangnya.
" Woe, kau tidak suka senang-senang ya? " Faramis melihat Morgan dengan pandangan yang seolah-olah mengajaknya keluar.
" Aku disini saja. Aku tidak terlalu pandai dikeramain. " Morgan menatap pedangnya.
" Ah, sudahlah. Aku akan mengajarimu caranya bersenang-senang. Ayo. " Morgan ditarik paksa Faramis keluar untuk bersenang-senang.
Awalnya Morgan merasa canggung, tapi dia perlahan bisa mengalir mengikuti kesenangan malam ini. Yah pagipun tiba. Saatnya mereka pergi dari Desa Black Forest. Para warga desa mengantar mereka dengan sukacita.
"Woe ... sampai bertemu lagi ya ... " Faramis melambaikan tangan tanda keberangkatannya.
Perjalanan selanjutnya akan menempuh gunung yang bersalju dan beriklim dingin. Kalau tidak hati-hati akan menimbulkan salju bisa longsor dan mengubur mereka hidup-hidup dalam kedinginan.
Benar saja, saat mereka sampai di lereng pegunungan sudah ada longsor yang terjadi. Faramis melihat sekitar. Apakah ada jalan yang bisa dilalui. Dia menemukan sebuah ekor yang tertancap didalam salju.
" Hem, apa ini ya? Ekor kah, akan kucabut saja hehehe. "
Tidak disangka kalau ekor itu ada yang punya. Faramis membawanya kedalam gua dan membuat api unggun sebagai penghangat. Karena dia masih hidup. Sepertinya Faramis menemukan Ras manusia hewan. Seperti Pale tusk tapi, agak berbeda dari jenisnya. Lebih seperti seekor macan salju.
Ruby hanya diam dan seperti sedang merencanakan sesuatu. Dan saat manusia hewan itu bangun. Langsung ditanya Faramis, siapa namanya.
"Oh, kamu sudah bangun. Kamu ini manusia hewan ya? kalau boleh tahu siapa namamu? "
" Namaku Mhilty, dan terimakasih telah menyelamatkanku. "
Tiba-tiba Ruby bangkit dan menghunuskan sabitnya kearah Mhilty. " Kau sudah bangun, sekarang aku akan membunuhmu. "
Mendengar ucapan Ruby yang seperti itu membuat Mhilty takut dan lari keluar. Kemudian diikuti Ruby.
"Hah, ada apa dengan mereka? Mereka baru bertemu dan langsung berkelahi. " Faramis memegang kepalanya.
" Ayo kita ikuti mereka, ini tidak akan berakhir baik. " Morgan segera keluar mengikuti mereka berdua.
Dendam pada Manusia hewan belum bisa dihilangkan dari hati Ruby, saat bertemu Mhilty dia hanya memikirkan bagaimana bisa membunuhnya. Yah ini secara logis bisa dimengerti. Ruby memandang semua Manusia hewan itu jahat. Dan sesuatu yang tertanam di dirinya sejak kecil melihat keluarganya dibantai oleh Manusia hewan akan sulit untuk memudar. Itu alasan Ruby ingin membunuh semua Ras Manusia hewan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments