...Keberadaan Faramis menjadi sorotan tersendiri bagi para murid Akademi, pengajarnya bahkan sampai ke telinga Raja. dikarenakan baru tiga bulan di Akademi, Faramis sudah menguasai semua ilmu sihir dan tingkatan berpedang yang cukup lihai. Tapi ini mengundang bahaya tersendiri bagi Faramis....
...Di sebuah pohon yang rindang di Aula akademi, Faramis berbaring dan menikmati hari seperti biasanya. Tapi sekejap berubah saat ... ....
"Faramia, apa kau tidur?" Ucap Silvana
"Hah ... aku hanya memejamkan mata sebentar. " Faramis masih dalam keadaan menutup mata.
"Oh iya kamu di panggil Kepala sekolah untuk pergi ke ruangannya. " Silvana menggoyang-goyang tubuh Faramis.
"Ah nanti saja, paling juga tidak penting. Atau seperti kemarin, aku di suruh untuk mengajar teman-temanku sendiri karena aku dikira paling jago dalam sihir, dan lagian ngapain punya pengajar kok malah aku yang di suruh mengajar? Hah ... "Faramis dengan enggan pergi ke kantor Kepala sekolah.
"Tapi ini penting katanya ... ." Silvana masih memaksa.
" Ya sudah, ini bukan karena permintaan Kepala sekolah aku ke sana ini karena kamu. " Faramis menunjuk Silvana.
" Kok aku, eh kenapa? " Wajah Silvana memerah.
"Tidak apa-apa, aku benci mereka, tapi jika kamu yang meminta ya sudahlah, aku kesana. " Faramis akhirnya bangkit dan menuju ke ruangan Kepala sekolah.
"Eh tunngu ... aku ikut. " Silvana mengikuti Faramis di belakang.
"Terserah lah, ayo cepeten, aku tinggal kamu nanti. " Faramis berlari.
"Eh ... tunggu pelan-pelan ... hiih ... " Silvana ikutan lari di belakang Faramis.
...Ruangan Kepala sekolah sepertinya ramai....
"Kepala sekolah, aku Faramis, apa aku boleh masuk, ya sudah kalau tidak boleh. " Faramis berbalik dan melangkah, tapi.
" Hemm ... ." Silvana dengan wajah cemberut.
"Iya-iya, aku masuk. " Faramis akhirnya masuk keruangan itu.
...Tidak seperti biasanya, di ruangan kepala sekolah banyak sekali pengajar yang berkumpul....
"Oh Faramis sudah datang ya, langsung saja ke intinya, sepertinya Raja mendengar kabar tentang salah satu murid akademi yang hebat. Dan beliau mencoba untuk lebih mengenalnya. " Sebelum Kepala sekolah selesai berbicara, di sela Faramis.
"Oh, aku tidak tertarik dengan Raja, ya sudah, aku kembali dulu. " Faramis mencoba melangkah pergi.
"Oe tunggu, ini ada kaitannya dengan nama baik Akademi, jadi ku mohon dengarkan sebentar. " Kepala sekolah mencoba menghentikan langkah Faramis.
"Ya sudah, janji ya sebentar saja. " Faramis mulai tidak tertarik arah pembicaraan ini.
"Iya, Raja memintamu untuk menemukan kucingnya yang hilang saat perjalanan dia kembali ke Kerajaan, dia meminta kamu menemukan dan membawanya kembali. Itu perintah Raja, jadi aku mohon dengan sangat atas nama baik Akademi untuk kamu menyetujuinya. " Kepala sekolah sedikit merunduk.
" Jadi bagaimana Silvana? Aku tidak peduli dengan Raja maupun nama baik itu, Menurutmu apakah aku harus menyetujuinya? " Faramis bertanya kepada Silvana.
"Ah kenapa aku? Ya menurutku itu langkah yang bagus bagi kita lebih dikenal Raja. " Silvana memberi penjelasan.
"Ya sudah jika itu berarti maumu, jadi kamu harus ikut bersamaku. " Faramis menepuk pundak Silvana.
"Oh jadi kalian setuju, untuk kali ini mungkin membawa teman tidak apa-apa, meskipun Raja meminta Faramis untuk sendiri saja, nanti aku akan mengirim surat ke Kerajaan, karena ini merupakan syarat dari Faramis. Dan besok akan disiapkan kereta kuda yang akan mengarah pada terakhir kali kucing Raja menghilang.
...Setelah Faramis keluar dari ruangan Kepala sekolah....
"Hah ... kasihan sekali anak itu. Seperti biasa, kalau ada anak berbakat dan bukan dari keluarga Bangsawan, Raja selalu membuat mereka menghilang. " Kepala sekolah memandang pintu keluar yang baru saja di lewati Faramis.
...Sementara itu ......
"Apa-apan mereka memintaku untuk hal yang tidak penting seperti ini, tapi bukankah ini sedikit aneh. Atau? Hahaha, ayo kita buktikan pada Raja konyol itu kalau dia sedang menantang mantan Bos mafia. Huahahaha. " Faramis tertawa.
"Eh ... Faramis kenapa? aku jadi takut kalau dia sedikit gila. " Silvana merasa ada yang tidak beres dengan Faramis.
"Tidak apa-apa Silvana, besok kita turuti kemauan Raja, dan hadiah apa yang disiapkan nya nanti, hehehe. " Faramis menunggu sebuah kejutan tak terduga.
...Keesokan harinya ... ....
"Hoah ... sepertinya aku harus bangun lebih pagi hari ini. " Faramis terbangun lebih pagi dari biasanya.
...Biasanya Faramis bangun telat dan masuk kelas telat, meskipun sudah di peringati oleh guru yang mengajar, tapi entah kenapa Faramis selalu menang saat berdebat, dan membuat guru itu terdiam....
"Uwoe ... tukang tidur ... , bangun! Kita akan pergi pagi ini. " Teriak Silvana dari luar kamar Faramis yang ada di Akademi.
"Hah ... sedikit menyusahkan kalau mengajak Silvana, tapi aku juga tidak mau datang kesana sendirian, itu membosankan. " Faramis selesai dan keluar dari kamarnya.
...Sementara itu kereta kuda telah menunggu mereka berdua. Perjalanan memakan waktu sehari semalam. Saat diperjalanan mereka di hadang bandit yang berpenampilan tidak seperti bandit semestinya, dengan peralatan lengkap dan beberapa dari mereka memakai pakaian yang cukup bagus....
"Hahaha, berhentikan keretanya, dan penumpang di dalamnya untuk turun dan kubunuh. " Teriak Salah satu bandit.
" Hem ... sepertinya mereka mengincarku, oe Silvana, kau saja yang keluar! " Faramis menyuruh Silvana yang mengurus.
"Uowe, apa-apaan? Kenapa aku yang harus keluar dan menjadi tawanan bandit. hah ... harusnya kan kamu yang keluar dan melawan bandit-bandit itu, hem ... ." Silvana ngambek.
"Hah ... sudah kuduga kamu tidak mau keluar dan berkorban demi aku. Hah ... menyusahkan saja bandit ini. " Faramis keluar dengan tidak semangat.
"Hahaha, bunuh dia dengan cepat!" Salah satu bandit memerintah kawanannya.
"Explosion ... ." Faramis menggunakan sihir ledakan.
...[Duar ... ]...
...[Klepek-klepek-klepek.]...
...Semua bandit tumbang seketika....
"Hah ... selesai. " Sambil memberikan tangannya yang terkena debu, Faramis kembali masuk ke kereta kuda.
...Pengemudi kereta kuda hanya mlongo melihat aksi Faramis barusan....
...Malam begitu larut dan hari berlalu, sang mentari fajar mulai menampakkan diri....
"Hoah ... eh ... Kenapa dia tidur di pangkuan ku ya? " Faramis kaget melihat Silvana tidur di pangkuannya.
"Uwoe ... sudah pagi, bangun putri tidur ... " Silvana kaget dan langsung bangun.
"Eh ... kenapa kau ...? " Silvana kaget.
"Hah aku? Kau kan yang tidur, kenapa aku yang salah? " Faramis tidak mau ngalah.
"Hah, apa yang terjadi semalam ...? Hih, kau tidak berbuat yang tidak-tidak kan? " Silvana memandang Faramis dengan penuh curiga.
"Hah ... ."
...Setelah beberapa saat, kereta kuda berhenti di sebuah gua yang cukup rindang dan sepertinya tidak ada manusia yang pernah menjamahnya....
"Pus ... pus ... keluarlah! Aku punya ikan asin ini ... apa kau tidak lapar? Hah, tidak ada jawaban. " Faramis berteriak-teriak.
"Kenapa dengan dia, benar-benar kacau, aku akan pura-pura tidak mendengar saja. " Silvana melirik ke atas.
"Uwoe ... aku mendengarnya, lagian ngapain berisik, kau kan bisa bicara dalam hati. " Faramis memandangi Silvana.
...Saat mereka lebih dalam masuk ke gua betapa kagetnya Faramis melihat Naga hitam di dalamnya....
"Hah, hati-hati Faramis! ... nanti dia bangun ... , eh Faramis malah menghampiri naganya ... hah ... kenapa dengan orang ini?" Silvana bersembunyi di belakang bebatuan.
"Hem ... seekor naga ... gua jitak nih naga biar bangun. " Dan di jitaklah sang naga oleh Faramis.
...[plak.]...
...[gruammm.]...
...Naga hitam itu bangun....
"Siapa kau ini? Berani mengganggu tidurku? Apa kau ingin ku makan? " Naga hitam terbangun.
"Eh ... kenapa kadal ini bisa bicara?" Faramis kaget.
"Hah ... kadal? Kau tidak bisa lihat kalau aku ini Naga hah ... ?" Naga hitam itu sedikit emosi.
"Hah ... mungkin aku harus membunuhmu untuk membuatmu diam. " Pandangan Faramis berubah menjadi sedikit kejam.
"Hah ... Naganya bangun dan Faramis akan di makan ... aduh gimana ini? haduh ... ." Silvana panik.
...[buurrrr.]...
...Api hitam mencuak dari moncong sang Naga....
"Uwoe ... Silvana? Apa kau bawa jagung? Aku mau bikin jagung bakar ini, api yang pas ... " Faramis meloncat dan melihat Silvana.
" O-woe ... kau bisa mati terkena api itu ... " Silvana marah-marah.
"Kau orang bodoh yang akan mati karena kecerobohanmu membangunkanku ... "
...[Buurrr.]...
...[pLak! ]...
...Sinaga di jitak oleh Faramis lagi....
"Hoah ... penghinaan macam ini?" Naga itu benar-benar marah kali ini.
" Hem ... sepertinya aku harus sedikit berusaha. " Tiba-tiba Faramis sudah berada di belakang Naga itu.
...Faramis menarik ekor Naga dan di lemparnya Naga itu ke dinding-dinding gua....
...[Gubrak.]...
...[ Brell ... .]...
Si Naga dibuat babak belur oleh Faramis.
"Dan sekarang kita akan melakukan kontrak. Aku sebagai majikanmu, dan kau harus bersedia akan itu. " Faramis mengulurkan tangannya di atas kepala naga dan membuat kontrak dengan sang Naga.
"Hah ... aku akan melayanimu tuan, kau terlalu kuat, jika di teruskan nanti aku yang akan mati. " Naga bersedia menjadikan Faramis majikannya.
"Hah selesai ... aku dapat peliharaan baru ... ye ... ." Faramis meloncat gembira.
"Apa-apan ini ... ? Kenapa kau malah menjadikannya hewan peliharaanmu? " Silvana marah-marah lagi.
"Lagian dia kan imut ... jadi ya gitu ... ." Alasan yang tidak bisa di terima Silvana.
" Hah ... dia kan seekor naga ... bagaimana kau akan ke kota membawa kadal raksasa ini ...? " Silvana meraco.
" Hem ... sepertinya akan sulit. " Faramis mencoba berfikir.
" Hah ... kenapa dengan kau ini? Hah ... sudahlah. " Silvana menyerah meraco.
"Maaf tuan, aku bisa berubah wujud jika tuan mau, aku bisa berubah menjadi sosok manusia. " Naga itu bersinar dan berubah menjadi sosok gadis imut dan cantik.
"Uwo ... keren sekali ... imut sekali ... . Dan yang paling penting dia tidak memakai baju ... " Faramis gembira.
...[duak ... ! ]...
...Kelapa Faramis di jitak Silvana....
"Aduh ... sakit ... ." Faramis terbaring terjitak Silvana.
"Kalau kau bisa berubah menjadi sosok manusia, seharusnya kau juga harus berpakaian juga atau akan menjadi masalah nantinya, sekarang aku akan bawakan baju ganti untukmu.
" Silvana memberikan baju ganti pada naga yang telah berubah jadi manusia itu.
"Siapa namamu? " Silvana bertanya pada Naga itu.
"Namaku Firo. " Naga itu bernama Firo, dan untuk di ketahui ternyata dia seorang wanita.
"Kalau begitu, perkenalkan, namaku Silvana, dan tuanmu itu bernama Faramis. " Silvana menerangkan.
"Lagian aku sudah tahu namanya dari sistem kontrak tadi. Dan sekarang kita akan membuat rencana bahwa kita telah terbunuh oleh Naga di dalam gua. Dan kita selidiki maksud dari Raja diam-diam. Aku tidak tahu maksud dari orang itu menyelakaiku, aku yakin belum pernah bertemu dengannya. Dan itu membuatku penasaran. " Rencana rancangan Faramis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments