Suasana Ibukota Arcane yang dipenuhi oleh hiruk pikuk sebuah tempat perdagangan yang menjadi pusat sebuah Kerajaan terasa begitu familiar buat Faramis. Itu mengingatkannya tentang masalalunya atau bisa dibilang kehidupannya sebelumnya. Bisnis yang dia jalankan dulu juga tidak jauh dari sebuah perdagangan.
Disisi pasar Faramis berjalan dan melihat-lihat keramaian pasar, yah seperti biasa. Pasar selalu ramai dengan orang yang berbelanja mencari barang kebutuhannya dan juga disini selalu ada seorang yang mengincar benda berkilauan yang ada di kantungmu. Dari ujung pasar ada seorang pencopet yang sedang beraksi, kebetulan Faramis melihatnya. Saat Pencopet itu berlari di depan Faramis.
...[ Tuing, gubrak ... . ]...
Pencopet itu di jegal oleh Faramis dan terjatuh. Barang hasil mencopet diminta Faramis dan.
" Uwoe, sekarang kau akan ke penjaga yang ada disana sendiri atau harus kuantar?" Faramis menggunakan Sihir Intimidasi.
Dengan Sihir Intimidasi dari Faramis, copet itu berlari ke Penjaga atau Prajurit yang ditugaskan berjaga di pasar. Dan kemudian Faramis mengembalikan barang ke pemiliknya.
" Terimakasih Tuan, aku tidak tahu harus membalas dengan apa?" Seorang gadis cantik berambut coklat yang sedang dibantu Faramis.
" Oh tidak perlu memberikanku apa-apa. Aku hanya sedang kebetulan lewat dan melihat kejadian itu. Uangmu untukmu saja, aku hanya sedang mencari buah apel kesini. " Faramis basa-basi.
Gadis itu lalu memberikan sekantung apel untuk Faramis. " Ini Tuan, aku punya beberapa apel yang tadi aku beli. Mohon Tuan menerimanya! "
...[ Aku kan cuma basa-basi, lagian aku tidak tahu kalau dia baru saja membeli apel. ]...
" Oh tidak usah, nanti kamu malah tidak dapat apelnya. " Faramis mencoba menghindar.
" Tuan, kumohon! " Gadis itu sedikit memaksa.
Akhirnya Faramis menerimanya. Dia berhenti di sebuah jembatan kecil dibawah pohon yang rindang sambil memakan apel tadi.
" Hem, apel ini manis juga. Eh itu ada orang dari Kerajaan. Oh sungguh orang penting. Sampai ada Enam Prajurit yang sedang mengawalnya. Apa aku perlu menculiknya ya? Sepertinya tidak perlu. Aku akan mengikutinya sampai rumahnya saja. " Faramis diam-diam mengikuti orang itu sampai rumahnya.
Sebuah rumah mewah dengan pagar yang mengelilinginya, itu adalah rumah orang yang diincar Faramis. Kemudian saat orang itu masuk keruang kerjanya tiba-tiba lampunya hidup sendiri. Dan disitu ada Faramis sedang duduk di meja kerja orang itu. Kemudian pintupun tertutup.
" Siapa kau? Dan apa maumu disini? Jika kau ingin uang, aku akan persiapkan untukmu. " Orang itu berfikir ini sebuah perampokan.
Faramis melihat sekitar ruangan dan melihat Foto orang itu dan dia bernama Charles. " Oh namamu Charles ya? Begini, aku kesini bukan untuk mengambil uangmu. Lebih tepatnya adalah aku ingin mengetahui seberapa jauh kau mengerti tentang Kerajaan ini. Apa kau bisa? Aku yakin jawabanmu akan sulit. Jadi ... . "
Faramis menghunuskan pedangnya keleher Charles dengan gerakan yang hampir tidak ada suara dengan kecepatan kilat.
Saat dalam posisi Charles diancam oleh Faramis tiba-tiba pintu terbuka.
...[ Kriek ... . ]...
Putri Charles datang ke ruangan Charles dan dia kaget karena Ayahnya sedang disandra oleh seseorang yang baru saja membantunya di pasar tadi. " Ayah? Apa yang terjadi? Eh kamu kan. "
" Eh ketemu lagi. " Faramis nyengir karena yang ditodong dengan pedang adalah Ayah dari gadis yang diselamatkannya di pasar tadi pagi.
" Kau kenal dengannya Sintiya? " Charles bertanya kepada sintiya.
Faramis menurunkan pedangnya saat Sintiya masuk ke ruangan Ayahnya. Dan menjelaskan kedajian di pasar tadi kepada Charles.
" Oh jadi, dia orang yang sama yang membantumu dan menghunuskan pedangnya dihadapanku. Meskipun kau dengan sengaja menghunuskan pedangmu di Hadapanku. Tapi putriku sendiri menilaimu sebagai orang baik. Jadi kejadian diruangan kerjaku ini akan kuanggap tidak pernah terjadi. Tapi kau harus jelaskan kenapa kau mengancamku dan ingin tahu dengan apa yang terjadi didalam Kerajaan. " Charles memaafkan tindakan Faramis barusan.
Jadi dengan rasa yang tidak enak Faramis menjelaskan maksud dari tindakannya dan dia tidak bermaksud untuk membunuh atau menyelakai Charles, ia hanya ingin Charles membeberkan apa yang terjadi sebenarnya di dalam Kerajaan dan apa yang terjadi dengan Raja sebernarnya. Kemudian Charles hanya memberitahukan sedikit kejelasan tentang Raja yang berubah drastis sifatnya dan Pihak Istana yang semena-mena terhadap rakyat kecil.
" Aku bisa membantumu untuk masuk ke Istana Kerajaan, tapi kau harus mengikuti caraku, aku melakukan ini sebagai rasa terimakasih kepadamu yang telah menolong putriku. Besok kau datang kesini pagi-pagi dan bawa teman-temanmu juga. Aku akan persiapkan semuanya untukmu. " Charles memegang pundak Faramis.
" Hehehe, terimakasih pak Menteri Kerajaan. Aku dengan senang hati akan mengikuti rencanamu. Dan sepertinya kamu sendiri sedang memendam sesuatu tentang Kerajaan ini. Tapi aku tidak mau membahasnya, jadi aku terima niat baikmu itu sudah cukup. Dan saya mau pamit dulu. Oh iya Sintiya, aku akan kembali kesini besok lagi. Sampai jumpa. " Faramis keluar melalui jendela ruangan kerja Charles.
Suasana tempat Faramis bersembunyi adalah rumah tua di pojokan Ibukota yang di sarankan oleh Mikasa sebagai tempat persembunyian sementara itu bukan seperti tempat persembunyian lagi, karena terlalu ramai dan berisik. Yah mereka menggelar pesta kecil-kecilan setelah sampai di Ibukota ini.
Faramis pulang dan disambut hangat oleh teman-temannya. " Uwoe, Faramis kembali. Ayo kita lanjutkan pestanya." Morgan yang dulu tidak terlalu peduli tentang sebuah arti pesta, sekarang dia berubah menjadi ahli pembuat pesta.
" Okeh, sebelum kita lanjutkan pesta malam ini. Aku punya sebuah kabar. Kalian besok pagi akan memulai sebuah pergerakan jadi siapkan diri kalian nanti pagi-pagi sekali. Kita akan pergi ke rumah Perdana Menteri, aku tadi habis bernegosiasi dan dia mau membantu kita dalam rencana kita masuk ke Istana Kerajaan. Tapi untuk malam ini kita akan bersenang-senang terlebih dahulu. Merayakan perjalanan panjang kita sebelumnya. " Faramis bergabung untuk memeriahkan pesta itu.
Setelah larut malam, mereka tertidur karena kecapekan. Faramis masih bangun dan memastikan semuanya aman. Dalam hal seperti ini sosok pemimpin harus mengerti keadaan yang dia lewati. Kemudian Mikasa bangun dan menghampiri Faramis.
" Kenapa kau tidak tidur? Apa kau menghawatirkan kami? Tidurlah, nanti kita gantian berjaga. " Mikasa duduk disamping Faramis.
" Hem, Okeh kita akan bergantian berjaga, bangunkan aku setelah dua jam. Hoam ... . " Faramis langsung menaruh kepalanya dipangkuan Mikasa.
"Hueh ... kenapa malah begini? Ah sudahlah biarkan saja. Dia mungkin sangat lelah hari ini. Dia orang yang hebat. Dia yang paling bekerja keras diantara kita. Sosok pemimpin yang hebat. " Mikasa berbicara sendiri dan terkaget saat Faramis menyauti omongannya.
" Benarkah begitu? Oh terimakasih. " Faramis kembali melanjutkan tidurnya.
" A - a - a, ternyata dia masih bangun. " Mikasa melongo melihat Faramis yang kembali tidur.
Malam begitu panjang, Mikasa tetap terjaga untuk tetap bangun dan tidak tertidur sampai pada saat Faramis terbangun dan menggantikannya untuk berjaga. Diluar dingin rembulan sedang bersinar terang, angin yang berhembus menerpa ranting-ranting yang bergesekan. Membuat malam yang sunyi ini terasa begitu panjang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments