Malam yang gelap di tengah hutan yang dingin, api unggun satu-satunya penerangan yang ada dan pengahangat yang bisa Faramis buat untuk teman-temannya.
" Apa kalian tidak lapar? Aku punya daging kelinci yang cukup untuk kita semua, sebentar. Aku keluarkan dulu dari perbekalan. " Checil yang penuh persiapan membuka bekalnya yang dibawa.
" Hah ... daging ... . " Firo yang melihat daging kelinci itu seperti melihat sebuah harta karun.
" Eh, ini masih mentah, jangan dimakan dulu! " Checil mengangkat tinggi daging kelinci itu supaya tidak di rebut Firo.
" Ah, tidak apa-apa. Aku bisa memakannya bahkan ketika masih hidup. heee ... . " Firo meloncat-loncat ingin daging kelinci itu.
...[Prak ... . ]...
" Adu-duh ... kenapa kepalaku dipukul oleh Komandan? " Firo mengusap-usap kepalanya.
" Hah, itu untuk kita semua, jadi jangan serakah. " Faramis menggeret Firo dan disuruh duduk untuk menunggu daging itu matang.
Aroma daging kelinci yang kaya akan protein dan rendah lemak, memancarkan aroma yang sedap sekali. Minyak yang keluar dari sela-sela daging yang di bakar dengan api sedang dan dengan bumbu khas Bangsa Elf membuat perut meraung minta di isi.
"Sepertinya kita kedatangan tamu tak di undang. " Faramis merasakan hawa keberadaan yang ingin membunuh.
Dari kegelapan muncul seekor Srigala putih yang cukup besar dan berbeda dari srigala pada umumnya. Dia tiba-tiba meloncat kearah Faramis dan teman-temannya.
...[cuing ... . ]...
Tiba-tiba ada seorang yang menghalangi Srigala putih itu.
...[ Gubrak ... .]...
Seorang gadis cantik yang membawa sabit sebagai senjatanya itu menghalau serangan Srigala putih itu. Lalu.
" Wahai sabit kematian, sayat dia yang mencoba menghalangiku. " Gadis itu berputar dan membelah Srigala putih itu.
... [ **Slash ... . ]...
...[ Breg**. ]...
Srigala putih itu kalah sekali tebas oleh gadis itu. " Apa kalian baik-baik saja? Wah kalian membawa daging kelinci yang lezat kelihatannya, hem ... aromanya harum sekali. Pantas saja Srigala putih itu tertarik dan kesini. Oh iya perkenalkan namaku Ruby, Aku penduduk Desa Black Forest. Apa kalian tersesat? Kalian bisa tinggal di desaku untuk sementara. "
...[ Sungguh berbeda sekali dari gadis yang tadi membunuh Srigala putih itu, apakah benar dia satu orang yang sama? ]...
" Hem, ada apa? Kau terlihat heran melihatku? Namamu siapa? " Ruby memiringkan kepalanya saat melihat Faramis.
Faramis jadi sedikit gugup karena Ruby tahu sedang diperhatikan dari tadi. " Eh-iya namaku Faramis, dan kami kalau boleh bisa tinggal sebentar di desamu, kami sedang kelelahan. "
Faramis menceritakan kenapa dia ingin tinggal di desanya Ruby, dan Ruby dengan senang hati menyambutnya dan teman-temannya.
" Hem ... ini manis sekali, daging kelinci ini manis sekali, terimakasih telah memberiku sedikit bagian daging ini. Oh iya ini hasil berburunya Checil ya, wah hebat sekali dia bisa mendapatkan daging kelinci yang gesit sekali saat berada di tanah, pasti keahlian berburumu sudah berada ditingkat tinggi ya? " Mereka saling mengenal dengan mudahnya karena sifat Ruby yang lebih seperti anak kecil dan hangat sekali sikapnya pada orang-orang yang baru dikenalnya. Tapi sifatnya akan berubah jika sudah berhadapan dengan musuhnya. Seperti saat menebas Srigala putih tadi.
Setelah mereka selesai berbincang, Ruby menuntun mereka ke desanya yang berada tidak jauh dari tempat peristirahatan mereka.
" Oh iya kenapa kita tahu ada desa disekitar sini? Padahal dipeta ada. " Silvana bertanya kepada Ruby.
" Oh iya, aku belum menjelaskan pada kalian ya. Karena desaku itu memiliki pelindung yang tidak dapat dilihat dari luar dengan kasap mata. Itu kejadian dulu sekali. Saat itu aku masih kecil. "
Ada sebuah penyerangan kepada desaku pada waktu aku masih kecil dan kedua orang tuaku terbunuh saat itu, bahkan kakek dan nenekku juga terbunuh saat melindungiku, saat itu ada pahlawan yang berani mengusir para Srigala putih yang dipimpin oleh Pale tusk sebagai Manusia Srigala putih, dan mengusir mereka, tapi aku juga tidak bisa diam saja melihat keluargaku terbunuh, aku mengambil sabit milik keluargaku di gudang pusaka, dan saat kusentuh sabit itu berubah wujud jadi seperti yang kalian lihat ini. Dan anehnya aku juga bisa bertarung melawan Pale tusk dan kawannya. Tapi sayangnya Pale tusk berhasil melarikan diri. Dan sang Pahlawan juga pergi entah kemana, tinggal aku sendiri yang melindungi desa ini bersama warga Desa Black Forest. Meski kami sudah berlatih tapi tanpa seorang pahlawan yang bernama Roger itu, kita juga akan kalah kemungkinan kalau Pale Tusk menyerang lagi, jadi aku ingin memastikan kalau dia menyerang lagi, pasti akan kubunuh dia.
" Yah kita sudah sampai, sebentar ya. Aku akan bukakan gerbangnya. Open the door. " Ruby membuka sebuah pintu yang bisa masuk kedesa.
Hanya Ruby dan warga desa yang bisa membuka pintu masuk dan keluar desa. Penghalang itu hanya untuk menghalau Srigala putih yang mungkin masuk kedalam desa. Tapi jika Pale tusk ingin membobol penghalang itu juga merupakan hal mudah bagi Pale tusk.
" Wah ternyata ada desa di balik pengahalang itu. " Morgan melihat sekitar.
" Ruby, siapa mereka? " Salah satu warga desa yang ada diluar rumah bertanya kepada Ruby.
" Oh mereka tamuku, mereka semua orang baik kok, tenang saja, aku berani menjamin itu. " Ruby tersenyum
Sampailah mereka dirumah Ruby. " Yah, maaf jika rumahku sempit, tapi ini bisa menjadi tempat kalian singgah untuk sementara. Kalian bisa memilih kamar kalian sendiri, kamar disini terawat semua, jadi untuk tamu seperti kalian, ini aku mempersiapkannya. "
Firo melihat keluar dan memandangi langit malam. " Hah, indah sekali malam ini, apalagi bulan itu sangat cerah. "
" Oh, Firo. Kau melihat bulan ya, adakalanya bulan itu terlihat indah, tapi juga merupakan sebuah bencana. " Ruby merunduk dan kehilangan senyumnya yang tadi.
" Oh, maaf Ruby. Aku membuatmu sedih, aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih. " Firo mengelus rambut Ruby.
" Tidak apa-apa. Ini bukan salahmu. " Ruby dipeluk Firo untuk meredakan kesedihannya.
Di jendela, Faramis memperhatikan mereka berdua. Saat Mereka berdua kembali, Faramis sudah menunggu di ruangan tamu.
" Oh, Faramis. Kamu terbangun ya? Maaf jika kamarnya kurang nyaman. " Ruby merunduk meminta maaf kepada Faramis.
"Tidak, bukan karena itu, aku sedang memikirkanmu. " Faramis memandang Ruby dengan serius.
Wajah Ruby memerah. " Hah, kenapa? Apa ada yang salah denganku? "
" Tidak, tapi sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu, coba ceritakan padaku! " Faramis berdiri dan menghampiri Ruby.
Ruby tiba-tiba memeluk Faramis dan menangis. " Maaf, aku tidak ingin membuat kalian tamuku cemas. Sebenarnya saat bulan purnama, aku khawatir jika pasukan Pale tusk menyerang desa ini lagi, saat bulan purnama yang sama seperti 15 Tahun yang lalu, mereka menyerang desa kami. Hem-hem-hem. Aku hanya tidak mau kalian cemaskan tentang hal itu. "
" Kau tenang saja, memangnya bulan purnama itu akan jatuh kapan? " Faramis bertanya dan mengelus rambut Ruby.
" Kalau perhitunganku tidak salah adalah besok bulan purnama merah yang sama akan terulang lagi seperti 15 Tahun lalu." Ruby melihat Faramis dengan air mata yang menetes.
Faramis mengusap air mata Ruby. " Tenang saja, kita akan membantu desa ini nanti saat para anjing putih itu menyerang desa. Terutama pemimpin mereka tidak akan kulepaskan. "
" Tapi Pale tusk kuat, aku bahkan bisa kalah darinya. " Ruby melihat Faramis sambil tersendak-sendak saat berkata.
Firo yang dari belakang kemudian ikut memeluk Ruby. " Tenang ya Ruby, Tuanku Faramis itu orang yang kuat, pemimpin Srigala putih itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Tuan Faramis. "
Firo tersenyum dan Ruby akhirnya berhenti menangis. "Benarkah kalian akan membantu desa kami, tapi aku tidak punya cukup uang untuk membayar jasa kalian. "
Tiba-tiba Morgan muncul. " Tenang saja, kami bukan pemburu bayaran yang meminta bayaran, anggap saja ini sebagai rasa terimakasih kami telah diijinkan tinggal didesamu. "
" Iya Ruby, kami akan membantumu, iya kan Checil. " Silvana juga ternyata ada untuk mendengar keluh-kesah Ruby.
Ruby tersenyum dan berbinar merasakan kehangatan ini. " Terimakasih kalian semua, aku tidak tahu harus membalas budi kalian seperti apa. "
" Kita kan teman, jadi jangan dipikirkan. " Firo tersenyum kepada Ruby.
" Hem. " Dengan senyumnya Ruby percaya pada mereka semua.
Bulan purnama merah adalah bulan dimana menjadikan bangsa manusia setengah hewan mencapai level maksimalnya, konon katanya mereka bisa mengobrak-brik satu desa sendiri dengan cepat, itulah yang ditakutkan oleh Ruby. Dan bulan purnama merah akan muncul lagi setelah 15 tahun silam pernah kejadian di desa Ruby yang menewaskan semua anggota keluarganya. Itu menjadi beban batin bagi Ruby selama ini. Dan bulan purnama itu akan muncul tepat besok malam, para penduduk Desa Black Forest telah bersiap-siap akan datangnya sebuah ancaman dari Pale tusk dan anak buahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments