Hari menjelang malam, keadaan diluar gua semakin mencekam, apalagi ini malam jum'at. Si Pengemudi kereta kuda sedang bersiap-siap akan datangnya hujan, langit malam berbintang berganti indahnya kemerlip kilat yang menyambar. Tiba-tiba ... .
...[Duarrr ... . ]...
Suara petir menyambar mencipratkan cahaya terang. "Hua ... hantu ... . "
"Uwoe, ini aku Faramis. Aku sudah kembali dari gua. " Faramis menepuk pundak Pengemudi kereta saat dia sedang menyiapkan penutup kereta.
Si Pengemudi kereta bingung karena dia melihat ada tiga orang sekarang. " Siapa dia Tuan? "
Sambil menerangkan, Faramis berbisik kepada si Pengemudi kereta. "Tolong kamu sekarang kembali! Dan kabarkan bahwa kami telah mati terbunuh di gua dan jasadnya menghilang dimakan oleh seekor Naga. "
"Tapi Tuan Faramis kan masih hidup? Lalu aku harus bagaimana nanti? " Si Pengemudi kereta bingung karena disuruh Faramis berbohong dan harus kembali sendiri ke Ibukota Kerajaan.
"Tenang saja, mereka pasti percaya. Dan sekarang aku percaya padamu untuk menyampaikan ini semua. Jadi, aku mohon dengan sangat untuk merahasiakan ini. " Faramis menyodorkan tangannya untuk membuat kesepakatan.
Awalnya si Pengemudi kereta ini bingung. Tapi akhirnya dia menyetujui itu. " Iya sudah, nanti aku akan menyampaikan apa yang di ucapkan oleh Tuan Faramis. Karena pada waktu itu aku telah di selamatkan. Jadi, aku akan membalas budi pada Tuan Faramis. "
"Okeh, aku suka gayamu. Dan terimakasih ya, sampai bertemu lagi ... . " Faramis bersama dengan Silvana dan Firo meninggalkan si Pengemudi kereta.
Cuaca sedang tidak bersahabat kali ini, kalau dilihat lagi dari mata telanjang, langit sedang gelap ditutupi awan hitam, tidak akan terbendung lagi sebuah mata air langit menetes menghantam permukaan tanah.
"woe Silvana, apakah ada desa di sekitar sini yang bisa kita tinggali untuk meneduh? " Faramis berteriak di tengah angin yang kencang menerpa mereka.
"Sebentar, aku akan melihat peta yang diberikan oleh Pengemudi kereta sebelumnya. " Silvana merogoh kantungnya dan membuka peta Kerajaan Arcane untuk mencari desa di dekat mereka saat ini.
"Bagaimana, ada atau tidak? " Faramis ikut melihat peta.
Firo yang penasaran naik kepundak Faramis dan ikut melihat. "Hem ... sepertinya petanya terbalik. "
"Oh iya, seperti ini ya? Hehehe. " Silvana tertawa.
Firo dan Faramis melihat dengan kesal ke Silvana. " Orang yang aneh. "
...[Suet ... duak!! ]...
Kepala Faramis mengalami hantaman sebuah Meteor. Atau lebih tepatnya tinju Elf Silvana. "Apa maksudmu dengan orang aneh? Hem, rasakan itu. Firo mau juga? "
"Eh, tidak-tidak-tidak. " Firo bersembunyi di belakang Faramis.
" Sepertinya kita akan ke Desa Dwarf. Konon katanya mereka adalah pembuat senjata yang hebat, tapi ada mitos bahwa mereka bisa membuat senjata dari tulangmu, hih ... mitos apa ini? Aku jadi takut kalau mau kesana. " Silvana tiba-tiba memeluk Faramis.
Faramis hanya diam menikmati. Silvana melihat ke arah Faramis yang membuat Faramis kaget. "Huehehe."
Akhirnya mereka dengan cepat pergi ke Desa Dwarf dan berteduh disana, tidak sengaja ada orang yang melihat dan menghampiri mereka. "Woe, sepertinya akan turun hujan lebat. Ayo ikut kerumahku. "
Pemuda itu menawari mereka untuk berteduh dirumahnya, kemudian mereka bertiga berteduh dirumahnya, pemuda itu bernama Morgan, dia tinggal bersama ayahnya yang sebagai Pengrajin senjata yang hebat di desanya.
"Kalian darimana dan mau kemana? " Morgan bertanya kepada Faramis dan teman-temannya.
"Kami sebenarnya ingin ke Ibukota Kerajaan, tapi untuk sementara kita mau tinggal sebentar di desa ini untuk beristirahat. " Silvana mewakili sebagai penjawab pertanyaan.
"Oh, kalian bisa tinggal dirumahku untuk sementara waktu. " Morgan menawari mereka untuk tinggal di rumahnya.
Badaipun melanda, angin berombang-ambing dari sisi luar jendela. Mereka istirahat malam ini. Pagipun tiba, sang Mentari pagi dari Ufuk timur mulai menyinari sisi gelap sebuah genangan air dan menciptakan pelangi yang indah dipagi yang cerah.
"Hoah ... sudah pagi kah? " Faramis terbangun dan mendengar suara hantaman pedang yang beradu.
...[Cring-cring-cring]...
Sepertinya Silvana dan Firo sedang menguji beberapa pedang buatan Morgan dan ayahnya. Pedang kualitas buatan mereka memang kuat dan tajam. Banyak orang yang datang kedesa untuk meminta dibuatkan, termasuk dari pihak Kerajaan juga sering datang.
"Oh kau sudah bangun, mau coba sarapan pedang? " Silvana melempar salah satu pedang ke Faramis.
...[ Suet, sring ... . ]...
Mereka-pun berlatih bersama. Sambil melihat Faramis mengayunkan pedang dengan kemampuan yang hebat, sampai pedang yang dibuat untuk berlatih tidak mampu menandingi kemampuan Faramis. Pedang itu mengalami banyak pengikisan.
"Sepertinya kau harus memiliki pedangmu sendiri. Lihatlah pedang yang kamu pegang! Dia tidak mampu menandingi kemampuan berpedangmu. Aku akan membuatkan pedang untukmu. Tapi untuk membuatnya kita harus mencari bahan yang cukup kuat untuk menahan kemampuan yang kamu miliki. Tapi, ada kendalanya karena kita harus melewati hal yang berbahaya untuk mendapatkannya. Aku menyebutnya Batu Rhune, bahan yang bisa menahan tekan Sihir seorang penggunanya dan menjadikannya sebuah ketajaman pedang. Semakin tinggi kemampuan Sihir penggunanya, maka semakin tajam pedangnya. " Morgan menghampiri mereka dan bercerita.
"Oke, apakah kita bisa berangkat pagi ini? Aku siap menantang bahaya itu demi mendapatkan bahan yang diinginkan. " Faramis menepuk pundak Morgan.
Morgan langsung berlari kedalam rumahnya dan membuat Faramis bingung.
"Woe, kamu apakan dia Faramis?" Silvana menghunuskan pedangnya ke leher Faramis.
Selang beberapa waktu, Morgan keluar membawa perlengkapan untuk berpetualang. "Ayo kita mulai misi pencarian Batu Rhune. "
Faramis tersenyum dan berteriak. " Hoah ... okeh, kita berangkat pagi ini. "
"Dasar para maniak petualangan. " Silvana memandang mereka berdua dengan wajah malas.
"Ayo kita ikut juga bersama mereka! " Firo memegang tangan Silvana dan tersenyum kepadanya.
"Naga ini juga sepertinya senang akan hal itu, hah ... . " Silvana menghela nafas panjang.
Mereka akhirnya pergi dari desa dan perjalanan memakan banyak waktu sampai akhirnya mereka tiba di sebuah lembah dengan tebing yang curam di sekelilingnya.
"Ini adalah lembah kematian. Banyak cerita mengabarkan bahwa banyak orang yang mati disini karena ingin mendapatkan Batu Rhune itu. Konon katanya penjaga disini merupakan seekor Naga beracun, mungkin mereka mati karena terkena racun itu. " Morgan menerangkan kepada Faramis dan teman-temannya.
Faramis melihat ke arah Firo seperti dia ingin bertanya kepadanya tapi tidak jadi karena Silvana menyela dengan memeluk Faramis. " Faramis, aku takut. "
[Apa yang di takutkannya, padahal aku lebih takut kepadanya saat dia marah ketimbang dengan Naga beracun dilembah ini. ]
Faramis bergumam dalam hati. Tapi kepekaan Silvana bukan main. " Hem, kamu tadi ngomong sesuatu? "
"Oh, tidak apa-apa. Aku tidak ngomong apa-apa. " Faramis mencoba mengelak.
... [ kenapa dia bisa tahu kalau aku tadi sedang membicarakannya? Aku kan berbicara didalam hati. Apakah Silvana sebenarnya memiliki kemampuan membaca pikiran seseorang. Haduh, ini akan merepotkan jika dia memiliki kemampuan itu. ]...
Karena hari sebentar lagi akan gelap, maka mereka mendirikan tenda dan mencari Batu Rhune untuk dilanjutkan besoknya lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments