Suasana pedesaan yang asri dan kicau burung di pagi hari membuat kehangatan sang mentari pagi menjadi sebuah rasa yang tidak terlupakan.
Faramis yang sudah berada di Desa Arcyd tempatnya nanti menjadi Tuan Tanah sedang menikmati kopi dipagi hari dirumah yang akan ditinggalinya nanti.
Saat Faramis sedang menyerutup kopinya. Datanglah sebuah kereta kuda dari Kerajaan yang membawa penumpang yang dia kenali. Penumpang itu turun dan.
...[Suet, bruk. ]...
Ternyata putri Kerajaan Arcane yang ingin melihat Faramis di kediaman barunya terpeleset dan jatuh dari kereta kuda yang dia naiki.
" Ad-duduh ... sakit, " Marsa Putri Kerajaan Arcane memegang kakinya yang tergores dan sedikit berdarah.
Faramis keluar dan menghampirinya, lalu jongkok dan bertanya. " Kamu tidak apa-apa? Mau kubantu atau kugendong? "
Wajah Marsa memerah, dan sedikit gugup. " Ah, tidak usah repot-repot. Aku bisa berjalan kok, eh aduh. "
Saat Marsa mencoba berdiri dan Faramis melihatnya akan jatuh langsung ditangkap dan digendong ke dalam rumah.
Di dalam Rumah, Silvana melihat itu dan memasang wajah yang tidak begitu indah. " Ngapain wanita itu kesini? "
" Oh kau cemburu ya Silvana? " Morgan yang sedang duduk dan mengelap pedangnya mencoba membuat Silvana sedikit malu.
" Oh, tentu tidak. Ngapain aku cemburu. Faramis dan aku kan cuma teman. " Silvana merunduk.
"Oh, jadi kamu ingin lebih dari teman dengannya. Akan kuberitahu Faramis nanti. Hehehe, eh. "
...[ Suet, jleb. ]...
Sebuah panah menancap di kursi Morgan yang dilontarkan Checil. " Jangan ganggu Silvana! Atau panah yang selanjutnya menancap di jantungmu. "
... [Hee, aku lupa ada Checil disini. Cewek ini lebih menakutkan dari ibuku.]...
" Hem ... . " Checil memandang Morgan dengan tatapan pembunuh.
" hoe, iya-iya, aku tidak akan mengganggunya. " Morgan berdiri dan keluar dari pintu samping.
Faramis membuka pintu dan melihat Morgan yang keluar dari pintun samping. " Eh, ada apa dengan Morgan? "
Silvana juga pergi, dia ke belakang untuk tidak mau tahu apa yang terjadi dengan Marsa. Kemudian Checil mengikutinya.
" Heh, ada apa ini? " Faramis bingung.
" Maaf, karena aku kalian jadi bertengkar. " Marsa memandang Faramis dari gendongan Faramis.
" Eh tentu bukan salahmu. Mereka sering seperti itu. Jadi biasakan dirimu saja! Hehehe. " Faramis tersenyum dan mencoba agar Marsa tidak seperti seorang yang membuat ini semua terjadi.
Tiba-tiba dari arah dapur terdengar suara berisik lainnya.
...[ Glontang, pyar. ]...
" Hoe, kucing kampungan. Itu ikanku, jangan lari kau ya! " Ruby marah-marah karena ikannya untuk makan pagi ini diambil oleh Mhilty.
Mhilty berlari dan bertemu Faramis diruangan tamu. " Hoe, ada apa lagi? "
Faramis menghentikan Mhylti yang ketangkap basah sedang makan ikannya Ruby.
" Hem-hem. " Suara Mhylti tidak terdengar karena mulutnya dipenuhi oleh ikan hasil jarahannya.
Sang pemilik ikan datang membawa sabit dan mengejar sipencuri. " Hoe, jangan lari kau ya! "
Mhylti segera keluar rumah untuk menyelamatkan diri dari ancaman pemilik ikan yang sedang kelaparan.
" iya kan? Mereka sering begitu. " Faramis memandang Marsa.
"hehehe, kalian memang Pahlawan yang unik ya. " Marsa tersenyum karena melihat tingkah laku Mhylti dan Ruby.
... [ Oh, dia tidak murung lagi, baguslah. ]...
" Sekarang akan kuobati lukamu. Heal. " Faramis menggunakan kemampuan sihirnya untuk menyembuhkan luka Marsa.
Keadaan desa yang sedikit kacau karena Tuan Tanah yang sebelumnya meninggal dunia dan tidak begitu terurus desa itu. Kemudian Faramis mencoba mengumpulkan mereka semua di suatu tempat yang lapang untuk mengumumkan Tuan Tanah baru.
Para penduduk desa datang dan mereka terlihat senang sampai ada seorang yang tidak terkalalu suka dengan keadaan ini.
" Jadi, kau Tuan Tanah yang baru ya? Menurutku tidak akan ada gunanya kita memiliki Tuan Tanah, kau pasti juga sama saja akan membebani para penduduk dengan tingakat pajak yang tidak realistis, dan mengandalkan kekuasaanmu untuk memeras kami seperti Tuan Tanah sebelumnya. " Seorang yang berjalan kedepan Faramis dan dia seorang paman yang membawa cangkul di pundaknya.
Dari segi penampilan, dia merupakan petani di desa ini. Dan dia tidak puas dengan Kerajaan yang terlalu tinggi menarik pajak terhadapnya dan para petani lain. Morgan yang dari belakang Faramis mencoba mengamankan paman ini tapi dihentikan Faramis.
Faramis menghampiri paman itu dan mencoba berbaur dengan warga desa. " Hem, jadi kau tidak puas dengan Kerajaan ini? Kenapa kita tidak menentangnya saja! Aku tidak peduli dengan pajak yang membebani kalian, tapi aku jika kalian tidak terima, maka aku sebagai Tuan Tanah akan berdiri didepan kalian dan menentang kebijakan itu. Karena sekarang kita semua adalah keluarga. Aku tidak mau keluargaku menderita dan aku menjadi orang yang bersalah karena sebagai membiarkan itu semua. "
Semua warga desa terdiam dan sampai akhirnya ada salah seorang yang datang memeluk Faramis. Dia seorang ibu-ibu dan kemudian semua warga desa mengerumuni Faramis dan memeluknya. " Terimakasih Tuan, karena kau telah peduli dengan desa ini."
Semua jadi terharu, dan paman yang tadi berdiri di samping kerumunan warga desa. Sampai Morgan menghampirinya. " Kau tidak akan kecewa padanya. Dia orang yang akan membawa desa ini kepada hal yang lebih indah. Ya memang dia kelihatan seperti pemuda biasa. Tapi dia jugalah yang orang yang telah membantu desaku. Dia dapat diandalkan. "
" Apa kau yakin dengan perkataanmu itu anak muda? " Paman itu menatap Morgan.
" Hem, aku yakin sekali dengan perkataanku barusan. Jika itu Faramis yang melakukannya, aku akan percaya sepenuhnya padanya, dia adalah Komandanku, Komandan sebenarnya yang bisa memimpin bawahannya dengan baik. " Morgan menatap balik paman tadi.
Paman tadi berbalik dan mengucapkan beberapa kata. " Kita buktikan saja nanti, bagaimana dia melakukan tugasnya pada desa ini. Kami memiliki banyak hal yang harus diselesaikan. dan semoga dia tidak mengecewakan. "
... [ Baiklah pak tua, kita akan mulai pembuktiannya. ]...
Setelah semua bubar, Faramis mendatangi Morgan. " Sepertinya pekerjaan kita didesa ini akan banyak, dari soal pangan yang kesulitan sumber mata air, dan juga hewan ternak yang kesulitan menemukan rerumputan karena daerah ini daerah bebatuan. Kita akan bekerja dengan giat agar desa ini tidak lagi menjadi desa yang terpuruk. "
Morgan memegang pundak Faramis. " Tentu saja, aku akan selalu mendukungmu, sebagai temanmu, aku akan membuat sesuatu yang kita perlukan untuk menggapai tujuan itu. Karena sekarang kau sedang berbicara dengan pandai besi yang hebat. Jadi jangan ragu tentang rencana yang kau buat. "
Setelah semua rencananya dengan Morgan selesai didikusikan, maka selanjutnya tinggal eksekusi sebuah kerja nyata untuk membuat desa menjadi lebih makmur dan tidak lagi dibebani pajak yang tinggi. Soal masalah pajak sudah dibicaran dengan Raja, bahwa pajak pada setiap desa telah diturunkan menjadi lebih bisa dinilai dari segi pandang kemanusiaan. Dan masalah pajak telah selesai sebelum Faramis datang ke desa Arcyd ini. Banyak warga desa yang belum mengetahui masalah itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments