Pagi hari disaat ayam tidak lagi berkokok karena sudah disembelih oleh pemotongan ayam, saat Sang Mentari belum bangun dari tidurnya. Faramis dan teman-temannya sudah berada di kediaman Menteri Kerajaan. Mereka berkumpul untuk memakai zirah dan perlengkapan Prajurit Kerajaan. Sebagai penyamaran yang harus mereka pakai untuk masuk Istana Kerajaan, mereka harus menyamar menjadi pengawal Mentri Kerajaan.
" Uwo, ini cocok sekali, meski agak berat. Yah aku harus terbiasa dengan pakaian aneh ini untuk sekarang. " Faramis melihat pakaiannya yang sedang dia pakai.
" Hem, ini terlalu rumit untuk dipakai. " Firo yang kesulitan memakai zirah nya malah memakainya terbalik.
" Sini Firo! Aku bantu memakaikannya. " Silvana yang dengan baik hati membantu Firo memakainya.
"Hem, Silvana terlihat lebih feminim dan naluri keibuannya ternyata ada ya. Hem. " Faramis dengan santainya berbicara saat helm prajurit melayang kearahnya.
...[ Tuing-klotak ... . ]...
Kepala Faramis terkena sebuah hantaman kefeminiman. " Aduh-duh-duh. Uwoe, sakit tahu. "
" Ayo Firo jangan pedulikan dia ya! Hermm. " Silvana memandang Faramis dengan sebuah geraman.
...[ Eh, keluar lagi sifatnya yang kejam. ]...
" Apa kalian sudah selesai dengan baju zirah kalian? " Morgan bertanya kepada Ruby dan Mhilty.
" Heem, kami tidak kesusahan memakai ini. " Ruby tersenyum dan memgang pundak Mhilty.
" Ngomong saja kalau kamu ingin memakaikannya dan sedikit mengambil sebuah kesempatan dalam pemakaian. " Faramis memandang Morgan dengan tidak senang.
Dahi Morgan dipenuhi oleh urat saraf yang berakar. " Maaf, tapi aku tidak sepertimu, orang mesum yang pikirannya terlalu kotor. " Morgan membalas perkataan Faramis.
" Sudahlah, kita kan memang tahu kalau Komandan kita ini sedikit mesum, yah sedikit. Lebih banyak mungkin. " Silvana tidak jadi membela Faramis.
Faramis yang kalah dari segi banyaknya pendukungpun diam tak berdaya.
Mereka sudah siap untuk berangkat ke Istana Kerajaan bersama Charles, Mentri Intana Kerajaan. Saat sang Mentari sudah bangun dan menyisihkan sinarnya di sela-sela atap rumah, mereka melangkahkan kaki menuju Istana.
Di Istana mereka membagi tugas, Faramis dan Silvana mengikuti Charles karena dengan mengikutinya, mereka bisa tahu keadaan Kerajaan lebih dekat. Sementara yang lain menggali informasi dari berbagai sumber lainnya.
Saat mereka melewati sebuah halaman yang dibuat Arena bertarung, mereka melihat pemandangan saat para Prajurit di latih dengan pertarungan langsung oleh salah satu bawahan Raja.
" Mereka sedang apa? " Faramis bertanya kepada Charles.
" Mereka sedang latihan. Mereka di bimbing oleh bawahan Raja, empat pilar Raja, kami menyebutnya begitu. "
...[ Aku merasakan tekanan mana jahat dari mereka. ]...
Faramis melihat para Pilar Raja yang sedang melatih Prajurit. Tiba-tiba salah satu pilar melihat kearah Faramis. Dia langsung memalingkan wajahnya.
"Hei, kau yang disana.Berhenti!" Salah satu pilar menghampiri Faramis.
Faramis diam karena dia tidak ingin ketahuan kalau dia sedang menyamar. "Oh, prajurit pengawal Perdana Mentri ya? Sepertinya aku baru melihatmu. "
... [ Gawat, aku bisa ketahuan. ]...
"Aku akan mengujimu, aku tidak mau Perdana Mentri Kerajaan dikawal orang abal-abal. " Pilar itu menghunuskan pedangnya ke Faramis.
Faramis harus bagaimana, dia tidak tahu. Dia tidak mau ketahuan. Tapi Charles harus bertindak juga, jangan sampai Faramis salah langkah. " Aku ijinkan kau mengayunkan beberapa tebasan pedangmu, tapi jangan berlebihan, karena kita sedang ditunggu Raja sekarang. "
" Baik tuan. " Faramis menghadap ke Pilar itu.
" Oh, jadi kau tetap menunggu ijin dari Tuanmu ya? Baiklah, arenanya disana. " Pilar itu berjalan ke arena latihan.
Siapa yang terjatuh dari zona arena maka akan kalah, atau salah satu dari mereka harus mengaku kalah maka baru akan ada pemenangnya.
" Hoe, pengawal. Namaku Kuro, aku salah satu Pilar Kerajaan ini. Dan aku akan mengujimu, sebutkan namamu?" Pilar itu memperkenalkan diri sebagai rasa hormat.
" Namaku, Alberd. Aku adalah pengawal Perdana Mentri. " Faramis memakai nama samaran, atau mungkin dia tidak sedang menyamar, karena itu namanya di kehidupannya sebelumnya.
... [ Suet, cring ... . ]...
Kuro langsung menyerang Faramis dan berhasil ditangkis Faramis. " Oh, kau bisa menangkis seranganku ya? "
Faramis harus mengakhiri ini dengan cepat. Dia membuat pedang Kuro sedikit melenceng dan menancap di arena lalu.
... [ Duak, klinting-klinting. ]...
Pedang Kuro terlempar dan jatuh dari arena, kemudian dia menghunuskan pedangnya ke leher Kuro. " Apakah aku bisa melanjutkan urusanku? "
Kuro melihat Faramis lalu tersenyum. " Baiklah, kau menang kali ini. "
Faramis kembali kepada Charles dan melanjutkan urusannya yang tertunda.
" Dia bukan sekedar pengawal biasa. Entah siapa dia, tapi dia kuat. " Kuro melihat Faramis dari kejauhan. Dan membuat Pilar lainnya juga melirik ke Faramis.
Ruangan Raja berada didepan mata Faramis dan kini dia akan bertemu dengan orang yang membuatnya ingin terbunuh pada hari itu.
...[ Kriek ... . ]...
"Silahkan masuk Perdana Mentriku. Sepertinya kau datang bukan untuk memberikan laporan kerjamu. Ada apa? " Raja bertanya kepada Charles.
" Maaf, Paduka Raja. Saya kesini ingin membahas lagi tentang pajak yang terlalu tinggi yang dikenakan untuk desa-desa. Apakah tidak ada sedikit pengurangan atas pajak yang terlalu tinggi itu? " Tiba-tiba Raja bergerak dengan cepat dan berada didepan Charles, Faramis kaget karena itu terjadi begitu cepat.
" Jika kau membahas tentang itu lagi, akan kubunuh kau." Raja mencekik Charles.
Faramis ingin membantu, tapi Charles mencegahnya dengan menghentikannya dengan kode tangan.
...[ Dia cepat sekali, siapa sebenarnya Raja ini? ]...
Cekikan Raja kepada Charles dilepas dan membuat Charles terjatuh. Kemudian Faramis membantu Charles untuk pergi dari hadapan Raja.
" Jangan menunjukkan wajahmu lagi jika kau hanya ingin membahas hal tersebut. " Raja kembali kesinggasananya.
Faramis yang kemudian membawa Charles keluar dari ruangan Raja dan beristirahat di sebuah taman Istana.
" Jadi, selama ini kau memikirkan nasib rakyat kecil yang keberatan akan pajak dari Kerajaan. " Silvana memandang Charles.
" Mungkin akan lebih mudah jika aku hanya menuruti kata-kata Raja, tapi aku sendiri melihat penderitaan yang sangat pada penduduk desa karena menanggung pajak yang terlalu tinggi, uhuk-uhuk. " Charles masih sesak akibat dicekik Raja tadi.
" Kita akan membuatnya membayar untuk penderitaan para rakyat kecil yang menjadi korban keserakahannya. " Faramis melihat ruangan Raja tadi.
Charles akhirnya memutuskan untuk beristirahat di kereta kuda. Dan Faramis menggunakan Sihir tak terlihat untuk melihat-lihat Kerajaan dari atas.
Dia menemukan banyak ruangan disini. Dia juga masuk dengan hati-hati kedalam Istana, banyak sekali ruangan disini. Tapi yang menjadi membuatnya penasaran adalah dua ruangan dipojokan yang dijaga oleh dua prajurit dimasing-masing ruangan. Kemudian ada pelayan yang membawakan makanan ke ruangan itu. Sepertinya itu ruangan seseorang yang penting, tapi Faramis tidak bisa masuk kesana karena ada penjaga yang berjaga di depan pintu ruangannya. Kemudian dia kembali karena sudah mengerti setiap denah dari Istana ini. Kecuali dua ruangan tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments