Dimalam yang dingin dan setiap gumpalan putih yang turun dari atap dunia diterpa sedikit hembusan angin, dibalik pohon pinus Mhilty bersembunyi dari kejaran Ruby.
" Aku tahu kau disana, keluarlah dan hadapi aku! " Ruby berdiri di tengah-tengah hawa dingin.
" Lalu, apa masalahmu denganku? Bukankah kita baru saja bertemu beberapa menit lalu. Dan kau menyerangku tanpa alasan, aku hanya ingin menghindari sebuah perkelahian yang tidak perlu. Ini tidak penting. " Mhilty keluar dari balik pohon pinus.
Mereka berdua sekarang berhadapan satu sama lain dan tidak terelakkan lagi perkelahian yang bukan berarti tidak memiliki dasar ini. Ruby yang sangat benci akan Ras Manusia hewan dan Mhilty dengan insting bertahannya dari sebuah ancaman, jika dia tidak membalas menyerang maka dia yang akan terbunuh.
Ruby mengayunkan sabitnya yang dipenuhi mana hitam kemerahan itu, lalu dia berlari menyerang Mhilty.
...[ Slash ... krek-krek, brell.]...
Mhilty dengan reflek menghindari serangan Ruby. Dan sabit yang memotong pohon pinus itu sampai tumbang. Mhilty hanya membayangkan jika tebasan tadi mengenainya. Untung sebagai Manusia hewan, dia memiliki insting yang kuat untuk menghindari serangan fatal seperti serangan Ruby tadi.
" Hoe, kenapa kau menghindar? Aku jadi sedikit sulit membunuhmu. " Ruby mencoba menyerang Mhilty lagi.
Mhilty hanya menghindarinya sampai kata-kata Ruby membuatnya marah.
" Apa itu yang diajarkan oleh orangtuamu? Enak sekali ya, bangsa kalian menyerang bangsa kami dan ras lain, lalu saat kalian melemah. Kalian hanya menggunakan kakuatan kalian untuk menghindar. " Ruby berbicara dengan tujuan memancing amarah Mhilty.
Mhilty berubah menjadi sosok manusia hewan dengan pandangan tajam, tangannya berubah menjadi cakar macan, dan kakinya berubah menjadi kaki kucing besar yang dengan mudah melangkah lebih cepat.
" Jangan pernah menghina orangtuaku. hrrrmmm. " Mhilty menggeram marah.
" Oh ternyata ada perbedaan ya antara kau dan dia, (yang dimaksud Paket tusk) apakah ini versi baru dari ras Manusia hewan? " Ruby semakin memancing amarah Mhilty.
"Hrrmm, diam kau! Aku tidak peduli lagi harus bagaimana baiknya. " Mhilty tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Baguslah kalau memang begitu. Jadi aku tidak akan segan untuk membunuhmu disini. " Ruby maju dengan sabitnya.
Saat mereka berdua tidak lagi bisa membendung amarah masing-masing, tiba-tiba Faramis ada ditengah mereka dan menghentikan mereka. Sabit Ruby di tangkis dengan pedang Faramis, sedangkan cakar Mhilty di pegang oleh Faramis.
" Aku tidak tahu masalah kalian disini apa. Tapi jika kalian ingin berniat saling membunuh lebih baik aku bunuh kalian berdua. Aku tidak suka dengan teman yang saling berseteru didepanku. Lebih baik aku jadi penjahatnya dengan membunuh kalian berdua. " Faramis marah akibat tindakan mereka berdua.
Ruby menarik sabitnya dan Mhilty berubah kewujudnya semula. kemudian mereka kembali ke gua mereka berkumpul tadi.
" Jadi, apa masalah kalian? " Faramis bertanya kepada mereka berdua.
Ruby diam dan tidak berbicara apapun. Mhilty juga hanya merunduk tanda dia merasa bersalah.
" Jadi kalian tidak mau bicara? Aku tidak peduli dengan masalah kalian, aku hanya ingin kalian baikan bagaimanapun caranya. Karena kita akan melanjutkan perjalanan setelah salju mereda." Faramis kemudian membiarkan mereka berdua merenungi kesalahan mereka.
Saat mereka sudah sedikit tenang. Ruby mendatangi Faramis yang duduk dipojokan gua. "Maaf, aku terlalu terpancing amarahku, aku hanya memandang semua Ras Manusia hewan itu sama. Aku tahu dia cuma mempertahankan haknya untuk hidup, aku yang memancing amarahnya dan aku yang salah. "
Dari belakang Mhilty juga mendatangi Faramis. "Semua bukan salahnya. Aku juga salah karena terpancing. Aku seharusnya bisa lebih menahan emosiku. Jadi maafkan dia. "
Ruby jadi malu dengan tindakannya tadi. Mhilty mengulurkan tangannya tanda perdamaian. " Aku memang tidak tahu bagaimana kamu begitu membenci Rasku, tapi aku disini bukan sebagai perwakilan dari Rasku, tapi sebagai temanmu meminta maaf karena membuatmu marah. "
Ruby tak tahu harus bagaimana, dia memeluk Mhilty. " Maaf, aku dibutakan oleh ambisiku yang tidak memiliki dasar ini. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. huhuhu. "
Ruby menangis karena tindakannya bisa membahayakan Mhilty. Faramis berdiri dan memeluk mereka berdua. " Kalian sekarang sudah berbaikan kan? jangan pernah lupakan kalau kita ini teman. "
Langit mulai sedikit lebih hangat, pancaran mentari yang tadi terselubungi gumpalan awan yang bersalju kini telah menampakkan dirinya.
"Wah, sepertinya salju sudah tidak turun, hei Komandan bagaimana kalau kita lanjutkan perjalanan kita. " Silvana melihat keluar gua dan berlari-lari diatas salju.
Mereka melanjutkan perjalanan ke Ibukota kerajaan yang sudah dekat. Tiba-tiba ditengah jalan.
... [ Suet-suet-suet, jleb-jleb-jleb. ]...
Sebuah kantup dengan obat tidur terkena teman-teman Faramis. "Apa yang terjadi? kenapa kalian, sebuah katup dengan obat tidur. "
Semua teman Faramis langsung pingsan dan orang yang melakukan hal tersebut keluar dari persembunyiannya.
" Aku sudah mengikutimu dari sejak awal kau keluar dari gua, aku ditugaskan untuk membunuhmu. Dan sekarang teman-temanmu tidak akan bisa membantumu. " Seorang Assasin menyerang Faramis.
... [Sring ... . ]...
Sebuah mata pisau kecil yang digunakan untuk menyerang Faramis berhasil di tangkis Faramis, mereka berdua sangat lihai dalam pertarungan memakai senjata tajam dan pertarungan jarak dekat ini.
" Sudah kuduga akan sulit untuk membunuhmu dengan cepat. " Assasin itu berdiri dan melangkah kesamping.
" Aku punya satu pertanyaan untukmu. Bukankah seharusnya bagimu lebih mudah membunuhku lebih awal lagi? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu sehingga kau tidak membunuhku saat tau aku selamat dari gua? " Faramis bertanya pada Assasin itu tapi tidak melepaskan pandangannya. Berjaga-jaga kalau ada serangan mendadak.
Assasin itu terdiam dan mencoba menyerang lagi. Kali ini dia menyerang dengan sungguh-sungguh, Faramis terpojokkan dengan serangannya, sampai pada saat serangan terakhir sebelum pisau yang dipakai oleh Assasin itu hampir mengenai leher Faramis.
... [ criing. ]...
Pisau yang dipakai oleh Assasin itu terlempat dan Assasin itu berhasil dijatuhkan oleh Faramis dengan posisi pedang Faramis dihunuskan ke leher Assasin.
"Aku telah kalah, sekarang bunuh aku segera! " Assasin itu memalingkan wajahnya dari tatapan Faramis.
" Siapa namamu? Aku tidak akan tenang jika membunuh seseorang tanpa tahu siapa namannya. " Faramis bertanya dengan menatap kembali mata Assasin itu.
Assasin itu ingin memalingkan tatapan matanya, tapi kali ini dia tidak melakukannya. " Namaku, Mikasa dan aku adalah seorang prajurit dari Kerajaan Arcane yang diminta oleh Raja memastikan kematianmu. Tapi aku tidak bisa langsung membunuhmu setelah melihat kau baik kepada desa-desa yang kau kunjungi. Itu mengingatkanku dengan kampung halamanku, andai saja ada orang sepertimu yang mau singgah ke desaku dan menyelamatkan mereka. Mikasa tidak sadar meneteskan air mata.
Faramis mengusap air mata Mikasa dan membuat mikasa kaget. " Sekarang aku tahu alasanmu tidak langsung membunuhku, aku tidak akan membunuhmu. Tapi aku punya permintaan untukmu. Tolong bantu aku membongkar Tirani ketidakadilan Raja Arcane."
Mikasa pada awalnya ragu, tapi setelah dia membulatkan tekadnya, dia menjabat tangan Faramis dan menyembuhkan teman-teman Faramis yang kemudian diberi obat penawar racun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments