Pagi hari di hari Minggu yang cerah, Faramis dan teman-temannya berdiri di perbatasan Desa Dwarf untuk berpamitan dengan penduduk desa, karena sudah diijinkan tinggal di desa.
"Woe Silvana, jangan nangis gitu, nanti kita kapan-kapan kesini lagi. " Faramis mengejek Silvana.
"Aku bukan anak kecil lagi bang Komandan. huh. " Silvana memalingkan wajahnya dari Faramis.
Perpisahan ini hanya sementara, Faramis berencana kembali ke desa ini suatu hari nanti. Morgan yang telah berpamitan dengan Ayahnya dan penduduk desa melambaikan tangan tanda pamitan kepada mereka semua.
"Sekarang kita mau kemana nona Navigator? Sepertinya setelah ini, coba aku melihat petanya. Oh ini desa Elf? Woe Silvana, ini desamu. Mungkin kita akan disambut dengan hangat disana kalau kita membawa salah satu penduduknya bersama kita. Wah ayo kesana. " Faramis semangat sekali saat melihat peta itu.
Dibalik senyuman Faramis, Silvana malah merengut dan merebut petanya kembali. " Kita tidak usah kesana, kita langsung saja. "
Faramis bingung dengan keadaan ini. Bukankah kalau lebih baik Silvana berkunjung ke desa kelahirannya. "Pokoknya kita harus kesana. Karena ada satu tujuan yang harus di capai. Yaitu melihat kecantikan para Elf yang katanya awet muda. Huh, itulah tujuan muliaku."
Sambil memegang genggaman tangannya dengan semangat membara, Faramis melangkahkan kakinya.
... [Duak ... . ]...
Kepala Faramis di jitak oleh Silvana. " Tujuan mesum macam apa yang kau bicarakan. Dasar otak mesum. "
"Hadeh ... kenapa dia selalu menjitak kepalaku, apa sebenarnya yang salah. " Faramis tersungkur tak berdaya.
Setelah Beberapa jam, akhirnya mereka melihat Desa Elf yang indah sekali kelihatan dari luar. Tapi saat mereka mencoba untuk masuk.
" Eh, apa-apaan ini? Aku tamu disini, dan kami membawa penduduk sini untuk bisa lebih akrab dengan kalian, tapi kenapa aku malah di tangkap seperti penjahat? " Faramis tertangkap oleh penjaga pintu masuk.
Kemudian ada seseorang Elf yang muncul dan menjelaskannya. " Kalian ditangkap karena tuduhan penculikan tuan putri Bangsa Elf, dan kalian harus ditahan akibat perbuatan kalian, hei kamu. Lucuti persenjataan mereka dan bawa mereka kedalam sel tahanan! "
" Eh tunggu dulu. Apa yang kau katakan? Kita ditangkap. Tuan Putri bangsa Elf, maksudmu Silvana? Hah, Silvana Putri Bangsa Elf. Woah ... Silvana, tolong jelaskan pada mereka kalau kita berteman, dan-dan kita selalu mengalami hal yang membahagiakan, iya kan? Eh tunggu dulu. "
Faramis mengingat sesuatu yang membahagiakan, tapi tidak ada.
... [Kurasa tidak ada hal yang membahagiakan, dia malah sering marah-marah selama ini. Hah ... ini akan sulit. ]...
"Maaf Faramis, kau harus menyelesaikan ini sendiri. Aku tidak bisa membantumu. " Silvana pergi dengan orang yang datang tadi. Dan menelantarkan Faramis dan teman-temannya.
"Apa-apaan ini. " Faramis digiring bersama Morgan dan Firo untuk ditahan di penjara Elf.
Faramis berbaring di dalam penjara dan tidak melakukan apapun. Saat itu dinding di ruangan Faramis terkikis dan ada seseorang yang bicara. " Woe, kau tidak ingin keluar dari sini? Aku bisa dengan mudah membobol penjara ini kalau kau mau. Tapi aku tidak mau pergi sendiri tanpa Komandan kami."
" Silvana tidak menginginkan perjalanan kita kembali ke Ibukota, lagian kalau tidak ada dia, tidak akan ada orang yang memarahiku lagi. " Faramis berbalik dan menatap dinding di sebelahnya.
Lalu ada penjaga yang memberikan makanan kepada Faramis, Penjaga itu menendang makanan Faramis saat memberikannya. Seorang gadis Elf yang cantik tapi tidak memiliki sopan santun. " Dasar penjahat, beraninya kamu menculik Tuan Putri. " Faramis dengan cepat berada dihadapan gadis itu.
" Apa kau tidak bisa lebih menghargai makanan? Jika kau tidak bisa menghargainya, aku akan membuatmu tidak bisa makan untuk besok. " Faramis melihat kearah mata gadis itu dengan tajam dan membuatnya takut.
"Dasar monster." Gadis itu pergi dan meninggalkan ruangan penjara.
" Woe, Komandan. Apa kau tidak kasihan dengan gadis itu, sepertinya dia ketakutan sekali denganmu. " Morgan mendengarkan percakapan antara gadis itu dan Faramis.
" Sudahlah, orang yang tidak bisa menghargai makanan. Mereka tidak lebih dari sampah bagiku. " Faramis memungut makanan yang telah berserakan.
Faramis teringat masalalunya saat masih menjadi Bos Mafia atau lebih tepatnya adalah saat dikehidupannya sebelumnya. Saat itu anak buahnya sedang berpesta dan saat pelayan sedang menghidangkan makanan, tidak sengaja terpeleset dan menumpahi anak buah Faramis.
"Hoe, apa ini? Apa kau tidak bisa melihat? Makanan ini sekarang menjadikan bajuku kotor semua. Sekarang ini yang kau sebut makanan? Akan kuinjak-injak ini. " Anak buah Faramis marah-marah dan semua terdiam.
Faramis berdiri dan berjalan kearah anak buahnya. Lalu.
"Komandan, lihatlah pelayan ini. Apa sebaiknya kita bunuh saja dia. " Anak buah Faramis mengompori Faramis.
Pada waktu itu nama Faramis adalah Alberd, dan si Pelayan meminta maaf kepada Alberd. "Maaf Tuan Alberd, aku tidak sengaja. "
Alberd mengeluarkan pistolnya. Dan,
... [ doorr ... . ]...
Kaki anak buahnya di tembak, dan Faramis menjelaskan. " Apa kau tidak malu dengan sikapmu ini? Kau seperti anak kecil, dia sudah meminta maaf, seharusnya ini tidak menjadi masalah yang rumit. Dan satu hal lagi, tindakanmu menghina makanan dengan menginjak-injaknya itu tidak bisa dimaafkan. Sekarang copot seragam Gengku dan keluar dengan hormat! "
Kejadian itu masih teringat jelas dikepala Faramis, dan sekarang dia menjumpai hal yang serupa. Maka dari itu dia tidak suka dengan keadaan dimana seseorang menghina sebuah makanan.
Malam hari ada petugas yang datang lagi untuk memberikan makanan kepada para tahanan, kemudian dengan kemampuan sihirnya, Faramis memperdayanya dan menanyakan semua apa yang terjadi, dan ternyata adalah alasan Silvana kabur dari desanya yaitu karena dia sedang dijodohkan oleh orang tuanya dengan Bangsa Elf dari Kerajaan Vander. Jadi dia menanyakan tempat dimana senjatanya disimpan dan berencana kabur dari sini malam ini.
" Kalau begitu kira-kira kapan pernikahan mereka? " Faramis bertanya kepada penjaga yang terhipnotis.
" Mungkin besok mereka akan melangsungkan pernikahan, karena aku mendengar kabar bahwa Putra dari Bangsa Elf Vander telah tahu kalau Putri Silvana telah pulang, dan mereka langsung bergegas melakukan perjalanan. Jadi kemungkinan besok mereka sudah sampai disini. " Penjaga itu menjelaskan apa yang dia tahu karena telah terhipnotis oleh Sihir Faramis.
" Oh, jadi tidak ada waktu untuk lebih lama bersantai disini ya. Sepertinya aku akan pergi sekarang. Terimakasih dan sedikit menjauhlah dari ruangan tahananku." Faramis meminta penjaga itu menjauh dari hadapannya.
... [Suett, Kruuekk ... brelll. ]...
Faramis menendang pintu penjara dan menghancurkannya. "Aku tahu kau bisa keluar sendiri."
...[ krek-krek-krek, kriek ... ]...
Pintu penjara Morgan terbuka dengan keahliannya. "Hehehe, kukira aku bisa melihatmu menyelamatkanku. "
Faramis berlari ke ruangan Firo, sebelum sampai di depan ruangan Firo, tiba-tiba.
... ...
...[Buuurrr ... . ]...
Semburan api membuat pintu penjara meleleh dan Firo keluar. " Eh, tadi hampir saja aku kepanggang hidup-hidup. "
Mereka bertiga berlari keluar dan mencari Silvana. Alarm penjarapun berbunyi dan semua orang mencari mereka. Tiba-tiba ada anak panah melesat.
...[ Suet, jleebb ... . ]...
Firo terkena anak panah itu dan seketika dia langsung pinsan oleh racun yang ada di anak panah itu.
Seseorang muncul dari kegelapan dan membawa busur panah. "Temanmu akan segera mati, dan sekarang giliranmu. "
"Siapa kau? kenapa aku harus mati ditanganmu. Aku menolak mati karena hal konyol lagi. " Faramis berdiri dan menyerahkan Firo kepada Morgan.
"Oh apa kau bisa menghindari panahku ini. Kurasa tidak mungkin, karena setiap bidikanku selalu tepat sasaran. Untuk menghormati keberanianmu, aku akan memberitahukan namaku, namaku Checil dan aku adalah teman masa kecil Silvana. Aku tidak akan menyerahkan Silvana pada kalian, dia harus bahagia sekarang. " Checil mengambil ancang-ancang untuk memanah, tiga anak panah secara langsung akan di lontarkan.
Faramis dengan tenang berjalan maju menghadapi Checil tanpa senjata. Kecepatan Faramis menjadi lebih cepat dan kemudian menghilang.
"Apa? dia cepat sekali, dia bahkan bisa mengelabuhi penglihatan orang normal. Hah diatas. "
... [ Suet-suet-suet ... . ] ...
^^^Tiga anak panah di lontarkan bersamaan kearah Faramis. Lalu, ^^^
" Mati kau, Apa? dia menangkap semua anak panahku? " Checil kaget dengan kemampuan Faramis yang bisa menangkap tiga anak panah sekaligus.
Dalam mulut Faramis yang menggigit salah satu anak panah kemudian di patahkan.
...[krek ... . ]...
Faramis berada di hadapan Checil dan menodongkan anak panah Checil ke leher Checil. " Apakah kau teman masa kecil Silvana? Apa kau tidak tahu kenapa Silvana kabur dari desa, dan kau masih berfikir ini adalah hal yang bisa membuatnya bahagia? Cepat berikan aku obat penawarnya untuk temanku! "
Akhirnya Checil memberikan obat penawar kepada Faramis. " Firo, ayo minum obat penawarnya, nanti kita akan menjemput Silvana, jadi kau tidak boleh sakit ya! "
"Iya Tuan, uhuk-uhuk-uhuk. " Firo meminum obat penawar itu dan merasa baikan.
"Jika kau ingin Silvana bahagia, aku yang akan membuatnya bahagia, jadi kau juga boleh ikut untuk memastikan. " Faramis melihat kearah Checil.
" Baiklah, aku akan tunjukan jalannya, Silvana sekarang ada di rumahnya, tapi kemungkinan sedang ada penjagaan ketat karena kalian baru saja membobol penjara dan keluar dari penjara setelah menghancurkannya. " Checil akan menolong Faramis karena dia telah dikalahkan oleh Faramis. Checil mengakui kekalahannya dengan Faramis.
Setelah mengendap-endap, akhirnya mereka sampai di rumah Silvana. Sementara itu dirumah Silvana.
" Para tahanan kabur ya, yah tidak masalah karena akan ada penjagaan ketat disini, mungkin mereka akan kesulitan untuk masuk kesini. "
Tiba-tiba dari kegelapan Faramis muncul. " Apa kau Ayah dari Silvana? Apa kau tidak bisa melihat kebahagiaan anakmu? Bukankah Silvana telah membuat keputusannya. Kenapa kau masih bersikeras dengan pilihanmu yang kau paksakan kepada Silvana? "
" Berandalan sepertimu mana tahu arti dari sebuah kebahagiaan? Silvana akan bahagia jika dia menjadi perantara antara Bangsa Elf yang bersatu, kau tidak tahu apa-apa, jadi pergi saja kau dari hadapanku dan Silvana! " Ayah Silvana beradu Argumen dengan Faramis.
"Okeh, kalau itu memang keinginan Silvana, aku tidak akan mengganggu dan akan segera pergi dari sini. Tapi jika itu hanya kehendak orangtua yang dipaksakan kepada Silvana, aku tidak bisa diam saja. Woe Silvana? Apa yang sebenarnya kau inginkan, jawab aku. Jika kau ingin disini dan menuruti kemauan sepihak ini, aku akan pergi. Tapi jika kau ingin aku menolongmu katakanlah! " Faramis dengan lantang mengatakan itu.
Silvana meneteskan air mata dan akhirnya dia memutuskan. " Faramis! Aku tidak mau dijodohkan, aku lebih bahagia bersamamu. Dan aku ingin kamu menculik aku sekarang. Hehehe. "
Silvana sambil menangis, dia memberikan tawanya kepada Faramis.
" Okeh, aku akan menculikmu. Firo berubah wujud. " Faramis memanggil Firo yang ada di atas atap.
... [ Breeeellll ... . ]...
Atap Rumah Silvana berlubang dan Firo masuk. "Uwoe, Silvana. Ayo kita pergi dari sini bersama-sama. "
" Apa yang kalian lakukan? Rumahku jadi hancur begini. " Ayah Silvana marah-marah.
" Maafkan aku Ayah! Aku memilih jalanku sendiri. " Silvana menaiki Firo.
" Hoe pak tua, kami pergi dulu ya? Sampai jumpa lagi. " Faramis melambaikan tangan.
Akhirnya mereka pergi dari Desa Elf dengan membawa Silvana dan Checil. Karena Checil ingin memastikan sendiri kalau Silvana bisa bahagia dengan pilihannha.
" Eh, kenapa Checil juga ikut? " Silvana memandangi Checil.
" Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan kata-kata seseorang, jika orang itu berbohong kepadaku, pasti akan kulubangi tubuhnya dengan panahku. " Checil melihat Faramis.
" Oh, kau kejam sekali. Hehehe. " Faramis dan teman-temannya melanjutkan perjalanannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments