*Bab 20

"Kamu yang jangan main-main dengan aku, Icha. Karena aku bukan lawan main yang seimbang buat kamu. Kamu bak anak bawang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi jangan bermimpi buat menang.

"Kamu ingin ini, bukan? Ayo ambil sekarang!"

Selesai berucap, Serry langsung membanting ponsel tersebut sekuat tenaga. Lalu kemudian, dia berteriak keras sambil menekan tombol panggilan dengan nomor Aditya.

"Mbak Merry! Apa yang kamu lakukan, hah! Kenapa kamu banting ponselku? Kau ... kau sudah gila!" Icha berteriak keras sambil merebut ponsel yang sudah hancur berantakan itu.

"Kau ingin bermain-main, bukan? Ayo kita mulai!" Serry berucap dengan suara pelan yang lebih miripnya bisikan.

"Kamu sudah gila, mbak! Gila! Aku akan bawa semua ini ke jalur hukum. Lihat saja kamu!"

Icha yang emosi semakin terpancing jadinya. Dia terus saja berusaha memperbaiki ponselnya yang sudah rusak. Tanpa dia sadari, satu persatu rekan yang mendengar teriakan itu pada berdatangan ke lokasi mereka saat ini.

Sementara Aditya yang Serry hubungi, kini juga sedang bergerak menuju ke tempat mereka berdua. Mendengar suara Icha sekilas dari panggilan barusan, membuat hati Aditya menjadi serba salah.

Serry benar-benar ratu drama kelas atas. Dia yang telah menciptakan suasana rumit ini sehingga Icha jadi hilang kendali. Namun, dia juga yang bersikap seolah-olah, dia yang Icha tindas.

Ketika satu persatu orang datang ke lorong kamar mandi tersebut, Serry langsung memainkan perannya dengan sangat baik. Dia terjatuh di lantai dengan air mata yang membanjiri pipi tentunya.

"Aku tidak sengaja, Icha. Jangan tuduh aku dengan tuduhan yang kejam itu. Aku benar-benar tidak sengaja. Tidak berniat merusak ponsel yang kamu miliki."

"Apa! Kau bilang tidak sengaja, hah! Kau yang membanting ponsel ini sekuat tenaga. Bisa-bisanya kamu bilang tidak sengaja. Benar-benar wanita ular kamu, mbak Merry."

"Icha!"

Teriakan keras itu membuat Icha sadar kalau Serry sudah mengatur semuanya. Namun, kesadaran itu sudah terlambat. Karena sekarang, Aditya yang tidak pernah percaya dengan apa yang dia katakan itu, benar-benar terlihat sangat marah.

Bagaimana bisa dia menjelaskan semua yang terjadi pada Aditya dan semua orang. Bukti yang dia punya sudah musnah. Tanpa bukti, maka tidak akan ada yang percaya dengan apa yang dia katakan sekarang.

"Kamu sangat keterlaluan, Icha! Sudah aku katakan kalau jangan membawa masalah pribadi datang ke tempat kerja. Kamu malah semakin menjadi-jadi sekarang ternyata."

"Dokter Aditya tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Jadi, jangan bicara sembarangan jika tidak tahu titik permasalahannya."

"Dia merusak ponselku. Di dalam ponsel ini ada sesuatu yang sangat penting. Sebuah bukti yang akan mengungkapkan kejahatan yang telah lama tersembunyi dengan cukup baik. Tapi sayangnya, malah dirusak oleh dia!" Icha berteriak keras karena dia sangat-sangat kesal, marah, sekaligus juga merasa sedih.

"Adit, aku benar-benar tidak sengaja. Aku keluar dari kamar mandi, lalu menabrak Icha. Karena tidak sengaja bertabrakan, aku merusak ponselnya. Dia marah besar padaku, Adit."

"Hah? Kau bilang tidak sengaja? Jika tidak sengaja bertabrakan, maka ponsel ini rusaknya tidak akan separah ini. Kalian pasti bisa melihat perbedaannya, bukan? Jika bertabrakan secara tidak sengaja, maka layarnya gak akan serusak ini, kan?"

Terdengar bisikan-bisikan kecil dari beberapa rekan yang sedang berada di sana. Icha sedikit merasa lega saat mendengar ada yang membenarkan apa yang dia katakan.

Namun sayangnya, yang dia hadapi bukan orang pada umumnya. Melainkan, perempuan jago dalam bermain peran.

"Layarnya yang rusak parah itu gara-gara kamu yang melemparkannya tadi, kan Icha? Kamu ingin aku yang disalahkan. Aku sudah bilang, aku tidak sengaja. Kamu malah mendorongku ke pintu kamar mandi sehingga siku ini sedikit tergores dan lecet."

Serry berucap sambil memperlihatkan lecet yang ada di sikunya. Icha sontak saja langsung kaget. Bagaimana tidak? Entah sejak kapan Serry punya luka goresan di bagian sikunya. Karena diantara perdebatan mereka, dia tidak ada sedikitpun main kasar yang menyebabkan kekerasan pada fisik.

Melihat hal itu, Aditya jadi semakin murka. Tatapannya yang marah tajam tertuju pada Icha yang ada di hadapannya sekarang.

"Kau sudah sangat keterlaluan, Icha. Aku sudah bilang kalau masalah kita, jangan lampiaskan pada orang lain. Kau masih anggap dia Merry? Atau jangan-jangan, kau hanya tidak suka padanya karena dendam pribadi kamu saja."

"Kamu tidak tahu apa-apa. Jadi jangan ikut campur dalam urusan aku, dokter Aditya. Karena jikapun aku jelaskan semuanya, maka kamu juga tidak akan percaya. Karena yang kamu percaya dan kamu anggap benar itu hanya kata-kata perempuan yang ada di samping kamu sekarang. Serry yang menurut kamu perempuan paling baik. Tapi kau masih tidak mengerti apa maksud dan tujuannya padamu."

"Kamu masih sama. Masih menganggap dia Merry, bukan? Itu sebabnya kamu bersikeras bikin rusuh dengan Serry. Aku tahu, Icha. Kamu masih mengganggap dia Merry. Entah itu kenyataan, atau hanya anggapan kamu saja. Karena rasa cemburu yang ada dalam hatimu itu. Kau jadi gila."

Icha membulatkan matanya. Dia sangat marah dengan ucapan Aditya barusan. Benar yang dia pikirkan sebelumnya. Capek-capek menjelaskan, Aditya juga tidak akan percaya. Dia malah semakin mengulang hal yang sama untuk menyalahkan Icha.

"Aku gila? Hah? Aku gila atau kau yang gila, dokter Aditya? Kau suka dengan dia hanya karena dia mirip dengan sahabat baikmu saja, bukan? Sahabat baikmu yang jelas-jelas adalah istri orang lain. Kau tidak akan bisa memiliki istri orang. Sadar diri kamu."

Icha berucap kata-kata itu karena sudah tidak tahan lagi. Kesal dan marah yang menggumpal jadi satu membuat dia semakin ingin menyakiti Aditya sekarang. Dengan begitu, rasa sakit yang sedang dia rasakan akan terasa sedikit terobati.

Merah mata Aditya ketika mendengar ucapan Icha barusan. Rasanya, seperti ingin menampar wajah Icha agar rasa marah itu bisa dia salurkan. Namun, dia sadar akan dirinya yang tidak boleh melakukan kekerasan fisik. Selain orang yang ada di hadapannya adalah perempuan, dia masih berstatus istri sahnya lagi.

"Jaga bicara kamu, Icha. Jangan bicara sembarangan kamu sekarang!"

"Aku yang bicara sembarangan agar semua orang tahu siapa kamu. Aku adalah istri kamu. Istri dokter Aditya yang terhormat. Tapi sayangnya, dokter Aditya ini adalah laki-laki yang tidak normal. Selama pernikahan, dia tidak pernah menyentuh aku. Tidak tahu apa salahku."

"Cukup, Icha!" Aditya berteriak keras.

Sementara yang ada di sana, mereka tidak tahu harus berucap apa. Hanya bisa diam terpaku tanpa kata karena terkejut akan ucapan Icha barusan. Sedangkan Icha pula, dia malah terus mengatakan apa yang ingin dia katakan. Sampai ... Aditya tidak tahan lagi.

Lalu ....

Terpopuler

Comments

Helena Rusliana

Helena Rusliana

penulisnya terlalu sadis buat karakter icha sangat jelek, coba kalau kalau kusah icha sungguh terjadi dihidup nyata apa mampu?????

2023-02-11

0

Helena Rusliana

Helena Rusliana

karakter icha mmg bodoh sudah bertahan dengan kondisi begitu, lalu gegabah

2023-02-11

0

Siti Jarlina

Siti Jarlina

bodoh karakterny ..buat males mw neruskan mbaca ...datar dan bosenin

2022-10-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!