Icha lalu memilih diam. Semakin dia menjawab apa yang Aditya katakan, maka semakin akan tersudut juga semakin akan tersakiti hatinya. Karena Aditya selalu punya cara untuk menyakiti juga menjawab kata-kata yang dia ucapkan dengan jawaban yang semakin panas lagi dan lagi.
Gelar suami istri yang mereka sandang membuat Icha merasa semakin tersiksa jika untuk berhadapan dengan Aditya. Tidak seperti waktu dia dan Aditya masih berstatus bukan siapa-siapa. Hanya sebatas dokter dan perawat saja. Itu jauh lebih baik buat Icha sebenarnya.
'Bukan aku yang minta pernikahan ini. Tapi mengapa, semkin hari kamu semakin membuat aku tersakiti, kak Adit. Aku bertahan karena ingin bahagia. Tapi sepertinya, semakin lama aku merasa semakin tersakiti di sini, kak.'
'Haruskah aku tetap bertahan sedangkan sikapmu padaku semakin lama semakin dingin saja? Bahkan terkadang, kau dan aku bak seorang musuh ketika bertemu.'
Icha terus merenung dan terus bicara dalam hati sambil mengikuti langkah Aditya dari belakang. Sangking asiknya dia dengan pikirannya sendiri, sampai-sampai, dia tidak sadar kalau Aditya yang berada di depannya berhenti melangkah.
Bruk. Wajah Icha langsung menabrak tubuh bagian belakang Aditya yang berhenti karena ingin membuka pintu. Sontak saja, apa yang terjadi barusan membuat Aditya langsung menghentikan tangannya yang sedang bergerak.
Dengan raut kesal, Aditya menoleh ke belakang untuk melihat Icha yang baru saja menabrak dirinya. Sementara Icha, dia masih belum bisa berucap karena sedang menggosok-gosokkan dahinya yang terasa sedikit sakit.
"Apa kamu masih berpikir untuk mencari kesempatan dalam kesempitan seperti ini, ha? Ini tempat umum. Rumah sakit. Jangan coba-coba buat mencari kesempatan. Karena yang kita hadapi itu adalah hidup dan mati seseorang. Apa kau mengerti?"
"Aku tidak sedang mencari kesempatan dokter Ditya. Kamu yang tiba-tiba berhenti di depanku. Makanya kita bertabrakan. Coba aja kamu tetap berjalan. Pasti aku tidak akan menabrak punggungmu."
"Alasan saja. Pintar sekali kamu berucap menjawab apa yang aku katakan. Aku berhenti karena membuka pintu. Jika aku langsung jalan, yang ada aku nabrak pintu ini. Kalo ngomong mikir dulu. Kau yang salah, malah menuduh orang."
Icha hanya bisa menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan napas itu secara perlahan. Tidak ingin berdebat dengan Aditya terlalu lama. Karena Aditya adalah laki-laki yang paling jago dalam perdebatan.
'Huh ... aku rasa, dia salah ambil jurusan saat kuliah. Dia ini sangat cocok jika menjadi pengacara, atau bahkan, tuan jaksa sekalian. Bukan dokter seperti saat ini. Apalagi dokter kandungan, sangat salah besar,' kata Icha dalam hati sambil melirik Aditya yang masih menatap dirinya dengan kesal.
"Masuk, pak dokter. Tidak perlu berdiri di sini lagi. Karena kita sedang di tunggu pasien di dalam," ucap Icha karena sudah tak tahan di tatap dengan tatapan kesal oleh Aditya.
Aditya tidak menjawab apa yang Icha katakan untuk yang kali ini. Dia hanya mendengus kesal sambil menatap Icha dengan tatapan tajam. Lalu kemudian, melangkah masuk meninggalkan Icha di depan pintu.
"Huh ... dia yang salah, malah nuduh orang. Lah kalo dia gak papa nuduh orang lain salah. Tapi kalo orang lain, malah jangan sampai nuduh dia salah walau pada kenyataannya, dia yang benar-benar salah. Dasar kamu ... dokter dingin. Eh, bukan-bukan. Dokter kutub Selatan."
"Suster Icha! Masuk!" Suara tinggi Aditya langsung menggema di telinga Icha. Karena memang, apa yang Icha ucapkan barusan itu masih terdengar dengan sangat jelas oleh Aditya yang baru beberapa langkah menginjak ke dalam ruangan tersebut.
"Astaghfirullah." Icha berucap sambil mengelus dadanya karena kaget.
"Iya-iya. Saya masuk sekarang, pak dokter."
Bergelut dengan tugas yang mereka lakukan. Akhirnya, waktu istirahat tiba juga. Icha kini bisa menarik napas lega setelah tugasnya selesai. Dia keluar dari ruangan pasien dengan wajah yang begitu bahagia.
Dwi sahabatnya sudah menunggu Icha sedang kurang dari sepuluh menit yang lalu. Karena pasien yang dia rawat lumayan banyak, jadi dia harus mengorbankan sedikit waktu istirahat yang dia miliki.
Saat melihat wajah lega dari sahabatnya, Dwi langsung tahu kalau itu tandanya, tugas yang si sahabat punya sudah selesai.
"Ke kantin sekarang, bu suster?" Dwi berucap dengan nada tak kalah bahagia.
"Oo ... jelas," ucap Icha sambil tersenyum.
"Ayuk! Jalan sekarang!"
Baru juga keduanya melangkah beberapa langkah. Eh, seorang suster datang mendekat setelah sebelumnya, suster itu berteriak memanggil nama Icha untuk menghentikan langkah keduanya.
"Iya, Sus. Ada apa? Ada yang bisa kami bantu?" tanya Icha ramah seperti biasanya.
"Nggak sih, Sus. Saya cuma mau nanya aja sama suster Icha. Tadi pagi itu kenapa ya? Suster dapat omelan lagi dari dokter dingin kutub Selatan, ya?" Pertanyaan yang lebih tepatnya di sebut dengan ejekan. Karena nada yang si penanya gunakan itu jelas-jelas terdengar sedang mengejek Icha.
"Huh ... apa urusannya sih apa yang terjadi dengan suster Icha tadi pagi dengan suster Susy sekarang? Suster Icha dapat omelan, itu tandanya, dia sedang dapat perhatian dari dokter Ditya. Jika ingin dapat omelan juga, gantiin tuh posisinya suster Icha. Biar bisa ngerasa, gimana dapat omelan dari dokter Aditya yang tampan, tapi dingin itu." Dwi menjawab cepat karena dia merasa cukup kesal dengan apa yang suster Susy itu katakan pada Icha barusan.
Wajah senang suster Susy mendadak berubah kesal. "Siapa yang ingin dapat omelan dari dokter dingin itu. Ogah banget aku."
"Lah, kalo ogah, kenapa malah nanya gitu barusan pada suster Icha?"
Dwi kembali memukul Susy dengan kata-katanya. Sementara Icha hanya diam saja. Karena semua yang ingin dia lakukan sudah diwakili oleh Dwi sahabat baiknya.
"Aku nanya gitu karena aku ingin tahu aja, kok suster Icha betah banget nerima omelan dari dokter Ditya hampir setiap hari. Kuat banget kamu, Sus. Salut aku sama kamu," ucap Susy pada akhirnya.
"Namanya juga kerja. Omelan itu biasa. Mungkin, dia merasa selalu gak puas sama apa yang aku kerjakan sekarang. Ah, ya sudahlah ya. Gak perlu dibahas lagi. Gak ada untungnya juga. Karena aku yakin, kalo dia lelah, nanti dia juga akan berhenti ngomel sama aku," ucap Icha dengan nada santai tanpa beban.
Icha selalu begitu. Selalu bersikap tenang walau sebenarnya, dalam hati dia sedang sangat kacau. Karena dia beranggapan, tidak ingin mencari musuh dengan orang lain. Lebih baik mengalah, dan tetap terlihat biasa saja. Tapi, selagi itu tidak keterlaluan. Jika sudah terlewat batas, mungkin ceritanya akan sangat jauh berbeda.
Setelah suster Susy pergi, Icha dan Dwi juga ikut pergi. Mereka melanjutkan langkah menuju kantin. Tempat tujuan yang tertahan karena pertanyaan yang sangat tidak berbobot buat Icha.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Zayyan💕💞💖
blm ngeh aku sama masalah mereka. mungkin krna bru baca kli ya😅
2022-09-07
2