"Ya ampun, Wi .... Ada apa sih kamu ini? Apa gak bisa ajak aku duduk secara baik-baik kah? Main tarik aja. Kamu pikir aku tambang yang sesuka hati bisa kamu tarik-tarik?"
"Aduh ... stop dulu deh ngerocosnya, Cha. Aku gak bisa ajak kamu duduk secara baik-baik. Keburu syok akibat rasa penasaran aku nantinya."
"Lah, syok kenapa lagi sih emangnya? Ada masalah apa lagi sih sana kamu ini, Wi?"
"Aduh, itu bukan malah aku."
"La terus?"
"Ah, gimana ya mau mengatakannya. Ah, jangan banyak bicara lagi. Lihat vidio ini dulu."
Dwi langsung memperlihatkan layar gawai di mana ada vidio yang sebelumnya dia jeda. Mata Icha langsung melebar akibat vidio tersebut. Bagaimana tidak? Rekaman vidio yang sedang Dwi putar itu adalah rekaman pertengkaran tadi malam.
"Katakan padaku, Cha! Perempuan yang ada di sana itu kamu kan? Kamu perempuan yang ada di samping dokter Aditya itukan, Cha?"
"Hah? Aku? Ah, kamu ini main-main ya Wi? Mana mungkin itu aku. Kamu ngeledek aku ya?" Icha berucap dengan nada sedikit tegang. Berusaha menyanggah apa yang sahabatnya tuduhkan adalah cara terbaik untuk menyembunyikan identitas yang sekarang sudah terbongkar.
"Tapi, Cha ... aku kok merasa kalau orang yang ada di samping dokter dingin kutub selatan itu kamu. Tatap mataku, Cha. Katakan yang sejujurnya sekarang juga!"
"Dwi Anggraini. Hello .... Ayo bangun, Wi! Kamu tidur jam berapa sih tadi malam, ha? Kenapa sampai sekarang masih tidak bangun juga. Masih terhanyut di alam mimpi aja walau udah berada di tempat kerja."
"Tapi Cha .... "
"Coba deh kamu pikir baik-baik, Wi. Bagaimana bisa coba aku yang ada di samping dokter Aditya. Secara, dia dan aku aja gak pernah akur saat ada di tempat kerja. Kok bisa aku yang ada di samping dia. Kan itu adalah hal yang mustahil."
Dwi terdiam. Pikirannya membenarkan apa yang Icha katakan barusan.
"Benar juga apa yang kamu katakan. Gak mungkin orang itu kamu. Tapi ... hati ini kok malah bilang itu kamu ya, Cha?"
"Ya mana aku tahu hati kamu itu. Orang lain malah kamu bilang aku. Gak cukup kenal sahabat sendiri dengan baik kamu ini."
"Ya bukan gitu. Wajahnya itu lho, kek kamu banget. Sayang, vidio ini tidak memperdengarkan suara orang yang sedang bicara. Karena terlalu sibuk sih. Jika tidak, maka aku pasti bisa membedakan perempuan itu kamu atau bukan. Iyakan?"
"Eh ... malah ngeyel kamu, Dwi. Gak percaya sama sahabat sendiri. Aneh deh."
Selesai berucap, Icha langsung bangun dari duduknya. Dia ingin ke kamar mandi untuk menghubungi Aditya. Dia akan mengabarkan prihal vidio yang baru saja dia lihat dari sahabatnya.
Entah siapa yang begitu kreatif dan terlalu gatal hati ingin bikin konten supaya terkenal. Tidak dapat izin, malah merekam dan upload sesuka hati di media sosial. Benar-benar bikin Icha tak habis pikir sekaligus kesal dan pusing.
"Bukan begitu sih, Cha. Eh ... mau ke mana kamu?" tanya Dwi yang baru menyadari kalau sahabatnya sudah melangkah beberapa langkah meninggalkan dirinya.
Sontak saja, ucapan Dwi barusan langsung menghentikan langkah Icha. Dengan perasaan gugup, Icha memutar tubuh untuk melihat sahabatnya.
"Ke kamar mandi. Mau ikut?"
"Ogah."
"Lah terus barusan itu antusias banget manggilnya."
"Lah habisnya kamu pergi gak bilang-bilang dulu."
"Ya kamu sibuk mulu dengan pengamatan yang sedang kamu lakukan itu."
"Ye ... kesal ni ye."
"Au ah."
Icha kembali melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Dwi. Sampai di kamar mandi, dia langsung menghubungi Aditya. Kebetulan, Aditya yang sibuk mengurus mobil yang sedang dia tabrak, tidak mengetahui kalau Icha sedang menghubunginya. Karena gawai dia tinggalkan di mobil.
"Ya ampun ... ini gimana sih, Mas? Jalannya kok gak lihat-lihat. Sudah jelas mobil saya terparkir di sisi jalan. Kenapa main di tabrak aja."
Perempuan muda yang cantik dengan body seksi itu berucap kesal sambil melihat mobilnya yang lecet dan penyot akibat ditabrak oleh Aditya barusan. Bukannya bicara, Aditya malah terdiam sambil menatap wajah perempuan itu.
Hal itu semakin membuat perempuan tersebut bertambah kesal. Dia terpaksa bicara lagi untuk menyadarkan Aditya dari lamunannya.
"Aduh, mas kok malah bengong sih? Ini gimana ceritanya, Mas? Mobil saya rusak ini lho ini?"
"Ah. Maaf-maaf. Saya akan tanggung jawab, mbak. Maafkan saya atas kelalaian yang saya lakukan. Saya akan ganti rugi pada mbak karena telah membuat mobil mbak rusak."
"Beneran Mas mau ganti rugi? Soalnya, ini juga bukan mobil saya sebenarnya. Tapi, mobil saudara saya. Jadi .... " Perempuan itu tiba-tiba menggantungkan ucapannya. Hal itu membuat Aditya merasa kasihan juga mengerti ketakutan yang perempuan itu rasakan.
"Mbak tenang saja. Saya akan tanggung jawab semuanya. Jadi, tidak perlu cemas apalagi takut. Karena mobil ini akan diperbaiki seperti semula."
"Beneran ya, Mas. Kalo iya, terima kasih. Tapi .... " Perempuan itu lagi-lagi menggantungkan kalimatnya. Karena dia sekarang sedang melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
"Ya ampun. Mati aku kalo gini cerita. Ini sudah jam masuk. Ampun ... aku terlambat di hari pertama masuk kerja. Ah, kesan seperti apa yang akan atasan berikan buat aku," ucap perempuan itu tiba-tiba panik.
Melihat kepanikan itu, Aditya tidak mungkin diam saja. Dia langsung menyela apa yang perempuan itu katakan.
"Mbak masuk kerja jam berapa? Dan ... di mana tempat mbak bekerja? Saya bisa antar kan mbak ke tempat kerja sekarang juga. Saya jamin, mbak tidak akan terlambat."
"Tidak usah, Mas. Saya tidak enak menyusahkan orang lain."
"Tidak perlu sungkan seperti itu, mbak. Mbak tidak menyusahkan saya. Karena semua ini juga salah saya. Jika bukan karena keteledoran saya, maka mbak tidak akan tertimpa masalah. Nah ... sekarang biar saya mengantarkan mbak ke tempat kerja. Itung-itung sebagai tanggung jawab atas kesalahan yang sudah saya lakukan pada mbak barusan."
"Be--benarkah gak papa, mas? Beneran tidak menyusahkan mas jika harus mengantar saya? Karena saya lihat, sepertinya mas juga sedang buru-buru."
"Tidak perlu dipikirkan soal saya. Katakan saja di mana tempat mbak bekerja sekarang. Agar urusan kita cepat selesai."
"Baiklah kalau gitu. Saya bekerja di rumah sakit Media Farma sekarang mas."
"Media Farma?" Aditya berucap dengan nada yang terdengar cukup kaget.
"Iya, Mas. Saya bekerja di sana mulai hari ini. Ada apa ya, Mas? Apa ada yang salah dengan kata-kata yang saya ucapkan?"
"Eh, tidak ada. Tidak ada. Saya hanya kaget karena kebetulan, kita bekerja di satu tempat yang sama. Jadi, bisa barengan berangkatnya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Zayyan💕💞💖
akui sja lh cha. kok msih kmu smbunyikn. hadeh...
2022-09-08
1