Kata-kata itu semakin membuat Serry tertawa. Dia tertawa dengan tawa lepas yang terdengar cukup keras memenuhi lorong tersebut.
"Iya. Aku akui kalau aku memang Merry. Merry Utami. Perempuan yang bikin onar satu tahun yang lalu. Sekarang, aku datang lagi untuk memberi pelajaran pada orang-orang yang sudah membuat aku hidup dalam kesulitan. Sampai-sampai, aku harus pergi meninggalkan tanah air ini dalam waktu yang cukup lama."
"Sekarang, kamu sudah tahu kalau aku adalah, Merry. Terus, kamu mau apa, Icha? Mau lapor pada Aditya? Iya? Tapi ... apa kamu sudah benar-benar yakin kalau dia akan percaya dengan apa yang kamu katakan? Takutnya, dia malah tidak akan percaya sedikitpun dengan ucapan kamu."
Icha terdiam. Membiarkan Merry semakin bahagia adalah cara agar Merry semakin bicara banyak. Karena tanpa Merry ketahui, dia sedang merekam semua obrolan itu dengan gawai yang dia simpan di balik saku baju tugasnya.
"Dengar baik-baik, Icha. Aku akan membuat kamu tidak punya arti sedikitpun di mata Aditya. Karena kau adalah biang kerok dari kegagalan rencana besar yang aku miliki satu tahun yang lalu."
Icha membulatkan matanya mendengar kata-kata yang Serry ucapkan barusan.
"Kenapa kaget? Kamu pikir aku tidak tahu semuanya, iya? Tentu saja anggapan itu salah besar. Karena aku tahu segalanya, Icha. Kau yang telah merusak semuanya."
"Kau tahu? Awalnya, aku ingin membunuh kamu secara langsung agar kamu segera mati. Tapi aku pikir, cara itu terlalu tidak ada tantangannya buat kamu. Masa iya kamu mati dengan mudah tanpa harus melewati penyiksaan terlebih dahulu."
"Nah, setelah aku melakukan penyelidikan. Aku tahu kalah kau menikah dengan Aditya. Tapi sayangnya, kau tak dianggap ada. Maka aku akan menggunakan Aditya sendiri untuk membuat kamu hancur. Sehancur-hancurnya, tanpa harus mengotori tanganku, Icha."
Icha menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan napas itu secara perlahan. Berusaha tetap bersikap tenang adalah cara terbaik agar bisa mengalahkan perempuan ular yang berwajah manusia yang ada di depannya saat ini.
"Jika mbak tidak bicara terus terang, aku juga tidak percaya kalau kamu ini adalah mbak Merry. Karena wajahmu dengan wajah mbak Merry sangat-sangat jauh berbeda. Kau pantas bisa mengelabui semua orang. Karena wajahmu, bahkan sifat mu itu sangat jauh berbeda dari Merry yang sesungguhnya."
"Yang ingin aku katakan sesungguhnya adalah, kau tidak punya nyali untuk menghadapi semua orang dengan wajahmu yang asli, mbak. Seharusnya, jika kamu memang benar-benar tangguh, maka kamu akan menghadapi semua musuh mu secara terang-terangan. Bukan dengan sembunyi-sembunyi seperti yang kamu lakukan saat ini, mbak Merry."
"Heh! Tahu apa kamu soal apa yang aku lakukan sekarang. Persetan dengan aku punya nyali atau tidak. Yang jelas, balas dendam ini harus lunas dengan atau tanpa wajahku yang asli."
"Tapi ... aku rasa lebih bagus dengan wajah baru ku ini buat balas dendam pada kalian semua. Soalnya, kalian yang bodoh, terang-terangan terperangkap dengan sendirinya di jerat yang aku buat. Gak sia-sia aku melakukan operasi plastik buat balas dendam."
Icha langsung tersenyum menyeringai. Dia sekarang sudah sangat-sangat merasa puas dengan apa yang dia dapatkan. Semua yang menyimpan tanda tanya, kini sudah terjawab semuanya.
"Terima kasih atas semua penjelasan yang kamu berikan, Serry. Mm ... maksudku, mbak Merry. Aku sudah tahu semuanya. Sekarang, tinggal aku bongkar saja semua rahasia kamu. Maka kamu akan dikirim ke kantor polisi secepatnya."
"Heh! Jangan mimpi kamu, Icha. Kamu pikir akan ada yang percaya dengan apa yang kamu ucapkan. Semua yang akan kamu katakan itu tidak akan ada yang percaya. Karena Merry yang bernama Serry ini tidak sedikitpun mirip dengan Merry yang sebelumnya. Jadi ... jangan bermimpi."
"Oh ... jika itu yang mbak Merry katakan, maka kita lihat saja nanti. Siapa yang akan menang selanjutnya."
"Oke kalo gitu, kita lihat sama-sama. Siapa yang akan berada di atas. Dan siapa yang akan jatuh dan hancur."
"Iya ... baiklah."
Icha langsung ingin beranjak. Namun, Merry yang licik, anak dari ketua gangster kelas atas di dunia hitam, tentu saja tidak sebodoh yang Icha pikirkan. Dia punya sikap waspada yang cukup tinggi. Jeli dalam melihat situasi, dan sangat pandai membaca keadaan.
Ketika Icha ingin beranjak. Serry langsung menangkap tangan Icha. Mengilas tangan itu, lalu dengan cepat merogoh saku baju tugas yang Icha pakai.
Icha yang kaget dan tidak menyangka akan hal itu, mana mungkin dia bisa menghindar. Ingin melawan juga tidak sempat lagi. Karena apa yang Serry lakukan itu sangat cepat sekali.
"Kembalikan ponselku, mbak Merry! Jangan main-main kamu dengan aku," ucap Icha sangat kesal sambil berusaha menggapai ponsel yang sekarang sudah berada di tangan Serry.
Serry tersenyum menyeringai. Sambil dengan gerakan lincah menghindar dari Icha.
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang sedang kamu sembunyikan dari aku, Cha? Sayangnya, aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan, Icha. Harusnya kamu sadar akan hal itu."
"Apa yang kamu katakan, Mbak? Aku tidak mengerti. Kembalikan ponselku sekarang juga. Atau aku .... "
"Atau kamu apa? Akan teriak biar semua orang tahu? Iya, begitu?"
"Jika iya. Maka silahkan lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Aku tidak akan keberatan. Karena jika kamu melakukan hal itu, ponsel yang di dalamnya kamu simpan bukti tentang aku, juga tidak akan kamu dapatkan."
"Tahu dari mana kamu kalau aku simpan bukti tentang kamu di ponselku? Aku tidak punya bukti apapun tentang kamu. Jadi .... "
"Ha ha ha .... Icha-Icha. Kamu ini ya. Kamu pikir aku anak kecil, ya? Anak kecil yang gampang kamu bohongin. Hanya dengan satu permen bisa kamu bujuk. Bodoh! Aku putri ketua gangster, Icha. Tahu gelagat yang mencurigakan."
"Mm ... jika kamu masih tidak percaya. Maka biar aku jelaskan padamu, Icha sayang."
"Dengar baik-baik. Aku tahu sejak awal kamu sudah merekam pembicaraan kita. Kau sibuk dengan ponsel yang kamu sembunyikan. Selanjutnya, kamu bersikap terlalu tenang di hadapanku. Aku tahu alasannya cuma satu. Kau ingin mengorek rahasia dari aku."
"Dan ... aku semakin yakin kalau kamu telah melakukan rekaman secara diam-diam untuk kamu jadikan bukti ketika kamu yang memasang wajah yakin dengan seribu kepercayaan diri. Kalau kamu pasti akan memenangkan pertempuran antara kita."
"Sekarang, buktinya sudah aku pegang. Kamu bisa apa, Icha?"
"Kembalikan ponselku, mbak Merry! Jika tidak, aku akan laporkan pada pihak yang berwajib dengan tuduhan pencurian. Jangan main-main dengan aku."
"Kamu yang jangan main-main dengan aku, Icha. Karena aku bukan lawan main yang seimbang buat kamu. Kamu bak anak bawang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi jangan bermimpi buat menang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Dewi
Icha yang sangat pintar soal penyelidikan ny👏👏👏sampai dia sendiri jadi terheran heran.....
2023-06-03
0
Leny Andriyani
setelah direkam lngsng pergi jgn sok pura" blng qu tau semua ya pasti dia tau lha mu merekam ya Krn dia kn ank ya seorang mafia akal ya LBH licik
Icha Icha dablek kok dpelihara udh dpt bukti lngsng pergi jgn blng it ni lgi
2023-04-05
0