*Bab 2

Namun, baru juga dia mau mencari taksi online yang kosong. Sebuah mobik berhenti tepat di depannya. Mobil mewah berwarna hitam itu terparkir dengan cepat saat melihat Icha yang sedang memasang wajah resah dengan mata yang tertuju fokus pada ponsel.

Tiit. Pemilik mobil tersebut membunyikan klakson setelah dia membuka kaca mobil, tapi tidak di tanggapi oleh Icha. Dengan perasaan sedikit malas, Icha mengangkat wajahnya yang sedang tertunduk.

"Ada apa ya, Mas? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Icha berusaha santai walau sebenarnya, dia merasa agak kesal.

Pemilik mobil itu tersenyum. Dia laki-laki yang seumuran dengan Icha. Kisaran umur baru dua puluh satu atau mungkin dua puluh dua tahun. Itu dapat Icha lihat dari bentuk wajahnya yang masih sangat muda.

"Mbak. Harusnya aku yang bertanya padamu, apa kau butuh bantuan sekarang? Soalnya, aku lihat kamu seperti sedang gelisah menanti seseorang. Jadi ... aku sempatkan diri buat menepi dan bertanya padamu. Mana tahu, niat baik yang aku miliki bisa di sambut baik juga."

Mendengar hal itu, Icha yang dasarnya kesal, semakin dibikin kesal lagi. Dia merasa dipermainkan saat dia sedang sangat terhimpit oleh waktu.

"Maaf, Mas. Aku sedang tidak butuh bantuan. Aku sudah pesan taksi online, dan ... sebentar lagi taksi yang aku pesan akan datang. Jadi, silahkan Mas pergi saja."

"Oh, benarkah mbak? Jika begitu, ya sudah. Aku pergi sekarang. Semoga taksinya cepat datang."

Laki-laki itu langsung menutup kaca mobilnya kembali. Namun, Icha yang merasa sangat terdesak, langsung mengetuk cepat kaca mobil yang baru saja tertutup.

"Iya, Mbak. Ada ada?"

"Mm ... taksi online yang aku pesan semuanya penuh. Bisakah kamu antar aku ke rumah sakit? Nanti aku bayar sesuai permintaan yang kamu minta."

Laki-laki itu kembali tersenyum.

"Oh, aku bisa melakukannya. Karena kebetulan, aku ini juga termasuk sopir taksi online. Tapi hari ini, aku kebetulan cuti."

"Ah ... kamu ini. Kok gak bilang dari tadi." Icha berucap kesal sambil membuka pintu mobil dengan cepat. "Ayo jalan sekarang juga! Aku sedang sangat buru-buru soalnya," ucap Icha setelah dia duduk di kursi bagian belakang.

Laki-laki itu kembali tersenyum. Tidak ada kata yang terucap setelah mobil dia jalankan. Karena sekarang, Icha sedang sibuk dengan gawai yang dia miliki.

Kurang dari lima belas menit mengendarai mobil tersebut. Akhirnya, mobil itu berhenti juga tepat di depan rumah sakit Satria Farma. Rumah sakit tempat Icha bekerja.

"Berapa ongkosnya?" tanya Icha sambil menyandang tas yang awalnya dia lepaskan.

"Tidak ada ongkos untuk hari ini, Mbak. Karena aku sedang libur, maka aku gratiskan ongkos taksi mbak hari ini."

"Lah. Gak bisa gitu dong, Mas. Kamu antar aku ke sini pakai modal, bukan? Jadi, aku harus bayar kembali dana yang sudah kamu habiskan untuk mengantar aku."

"Gak papa, mbak. Hari ini aku libur soalnya. Jika mbak mau membalas apa yang sudah aku lakukan buat mbak. Bagaimana jika mbak tinggalkan nomor ponsel mbak buat aku? Dengan begitu, kita bisa jadi langganan nanti."

"Yang benar saja, Mas. Jika aku tinggalkan nomor ponselku buat kamu. Maka nanti aku pakai apa? Masa iya aku beli yang baru lagi hanya gara-gara ingin membayar ongkos transportasi."

"Aduh, maksudku bukan begitu mbak. Aku hanya ingin berteman dengan kamu lewat sosial media. Minta nomor Wa yang bisa aku hubungi gitu. Bukan kartu yang kamu pakai."

"Sama aja, Mas. Kalo kamu minta, nanti aku gak punya nomor lagi dong. Lagian, aku gak pakai sosial media. Maaf ya, aku gak bisa kasih. Terima kasih buat kebaikan anda hari ini. Permisi."

Setelah berucap kata-kata itu, Icha langsung beranjak meninggalkan mobil laki-laki yang baru saja mengantarkan dirinya. Sejujurnya, dari awal dia sudah mengerti apa yang laki-laki itu maksudkan. Hanya saja, dia tidak ingin membagikan apa yang laki-laki itu minta.

Tidak enak menolak secara terang-terangan, Icha hanya bisa melakukan penolakan secara tertutup seperti yang dia lakukan barusan. Bersikap seolah-olah dia orang bodoh yang tidak mengerti apa yang laki-laki itu maksud. Itu adalah cara Icha untuk menghindar dari laki-laki lain.

Sementara Icha berjalan masuk ke dalam rumah sakit meninggalkan dirinya. Laki-laki itu malah tersenyum sambil terus menatap punggung Icha yang semakin lama semakin menjauh.

Laki-laki yang bernama Cleo itu tersenyum hangat. Dia merasa semakin tertarik dengan perempuan yang baru saja bersikap bodoh dihadapannya.

"Kau pikir aku tidak tahu cara yang kamu gunakan barusan, cantik? Bersikap dungu agar aku merasa ilfil padamu. Sayangnya, aku sungguh sudah banyak mengenal perempuan. Seorang suster seperti kamu, tidak mungkin dungu. Melainkan, kau sungguh pintar."

Selesai berucap, laki-laki itu kembali tersenyum. Karena Icha sudah tidak terlihat lagi, dia langsung saja menutup kaca jendela mobilnya. Lalu, beranjak meninggalkan rumah sakit tersebut.

Sementara itu, Icha yang sudah berada di dalam rumah sakit, langsung menuju ruangan tempat dia meletakkan tas yang dia bawa. Baru juga ingin masuk, dia langsung saja di hadang oleh Dwi yang sudah menunggunya sejak tadi.

"Ya ampun, tuan putri. Kamu baru sampai, ha?"

"Iya, mak bawel. Gak lihat kamu kalau aku baru aja nyampai? Ini, tas aja masih aku sandang."

"Heh ... gak ada rasa bersalah sedikitpun kamu sama aku ya? Udah datang telat, bikin aku menghadapi dokter atasan lagi. Benar-benar kamu ya, Cha."

"Mm ... aku minta maaf ya mak bawel. Lain kali, gak ... bukan. Lain kali, jika aku telat lagi. Tolong bantuannya ya," ucap Icha sambil memeluk lengan Dwi.

"Ogah ...!"

"Ah, kamu kok tega sih?"

Belum sempat Dwi menjawab. Sebuah suara langsung membuyarkan obrolan mereka berdua.

"Suster Icha! Cepat ikut aku ke ruangan melati. Di sana ada pasien yang sedang kontraksi."

Suara yang sangat Icha kenali. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Aditya. Dokter kandungan yang terkenal paling dingin di rumah sakit ini. Sedangkan di rumah, dia lebih dingin lagi buat Icha.

Icha yang sedang bersenda gurau dengan sahabatnya, langsung memasang wajah serius dengan melepas tangan Dwi yang dia peluk.

Sementara Dwi, hanya bisa melihat Icha dengan tatapan prihatin tanpa bisa berucap apa-apa.

"Cepat bergerak ke sana! Sudah telat, sempat-sempatnya bercanda. Kamu datang ke sini untuk main-main atau bekerja sih sebenarnya?" Aditya masih ngomel saat mereka berada dalam perjalanan.

"Maaf, dokter. Saya terlambat karena taksi online yang saya pesan penuh semua. Sedangkan untuk bercanda, saya pikir tidak ada kerjaan. Makanya saya bercanda sebentar untuk melepas lelah."

"Kau pikir rumah sakit ini tidak ada kerjaan? Jika merasa begitu, sebaiknya kamu libur saja setiap hari. Melepas lelah. Emangnya, kau datang ke sini jalan kaki sampai harus melepas lelah?"

Terpopuler

Comments

Sulati Cus

Sulati Cus

kyknya bkl jd rivalnya aditya rasain😂

2022-12-16

0

MochoLatTe

MochoLatTe

dah ktebak. mungkin aku sehati sma k rani😁
mf kk baru lanjut baca

2022-09-21

1

Zayyan💕💞💖

Zayyan💕💞💖

baru mulai baca Thor. keknya lmyan enak deh. semoga emang iya ya

2022-09-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!