*Bab 13

Setelah kepergian Icha, Aditya diam seribu bahasa. Tidak ingin memikirkan apa yang Icha katakan, namun benaknya malah terus saja memikirkan hal itu sehingga dia merasa kesal pada dirinya sendiri.

Sementara Icha. Dia memilih berdiam diri di kamar mandi. Melepaskan semua kesakitan melalui air mata adalah cara terbaik untuk meringankan beban yang tengah bercampur luka dan kekesalan.

'Sampai kapan aku akan menjadi orang lain buat kamu, kak Aditya. Padahal jelas-jelas kita menikah atas keinginan kamu. Bukan aku yang minta. Dan bodohnya aku saat itu. Aku malah setuju saja. Tanpa aku pikirkan kalau hal ini akan terjadi dengan kehidupanku.'

Sementara itu, di luar kamar mandi ada seseorang yang sedang tersenyum puas. Senyum akan apa yang sedang Icha alami saat ini.

_______

Dua minggu berlalu. Hubungan Aditya dengan Serry bukannya renggang. Eh ... tapi malah semakin dekat saja. Bahkan, mereka juga sering makan dan jalan bersama.

Kedekatan Aditya dengan Serry malah bisa di katakan lebih dekat dari pada Aditya dengan Icha yang jelas-jelas istri sahnya. Bukan hanya itu, Serry yang ramah berkali-kali lipat dibandingkan Icha, sekarang sudah bisa dibilang cukup akrab dengan hampir semua rekan satu kerja mereka. Padahal, dia baru bekerja selama dua minggu.

Semakin ke sini, Icha malahan semakin yakin kalau Serry itu Merry. Tapi sayangnya, Aditya malah menentang keras semua tuduhan itu. Sampai-sampai, mereka pernah bertengkar hanya karena tuduhan itu.

"Sudah aku katakan berulang kali padamu, Icha. Serry itu bukan Merry. Kenapa kau masih juga tak percaya dengan hasil penyelidikan yang aku dapatkan, hah! Kau meragukan itu semua? Kenapa?"

"Karena aku merasa kalau dia memang mbak Merry, kak Adit. Kamu jangan lupa kalau dia itu anak orang terpandang dari dunia hitam. Apapun bisa dia lakukan dengan kekuasaan dan uang yang dia punya."

"Semakin lama, kamu semakin mengada-ada, Icha. Aku semakin curiga sama kamu sekarang. Jangan-jangan, bukan karena batin mu yang mengatakan dia Merry. Tapi hatimu yang merasa cemburu padanya, maka dari itu kamu tuduh dia dengan tuduhan itu."

"Kak Adit jangan tuduh aku yang macam-macam. Tapi ... jikapun aku cemburu padamu, bukankah itu hal yang wajar? Aku cemburu pada suamiku sendiri. Karena suamiku lebih dekat dengan perempuan lain ketimbang dengan aku. Apakah aku salah jika cemburu?"

"Salah! Kau salah jika cemburu padaku. Karena kau harus ingat, siapa dirimu dan siapa aku. Pernikahan kita tidak seperti pernikahan pada umumnya."

"Tapi aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini dulu, kak. Kamu yang minta aku menikah denganmu, bukan aku yang datang dan tergila-gila untuk mengajak kamu menikah."

"Tapi kenapa waktu itu kamu tidak menolaknya saja? Bukan malahan menerima pernikahan yang aku tawarkan dengan wajah yang sangat bahagia."

"Karena aku pikir ... kau serius menawarkan pernikahan saat itu. Kau bilang akan belajar mencintai aku. Dan .... " Icha langsung menggantungkan ucapannya. Merasa tidak bisa melanjutkan kata yang ingin dia ucapkan karena dia pikir, tidak ada gunanya mengatakan kata-kata itu.

"Dan apa? Dan apa yang ingin kamu katakan, ha? Kenapa tidak melanjutkan apa yang ingin kamu katakan?"

"Tidak ada. Lupakan saja. Karena apa yang ingin aku katakan selanjutnya, sepertinya tidak ada guna. Tidak penting."

"Terserah padamu saja kalau begitu. Yang jelas, satu hal yang harus kamu tahu. Aku sudah berusaha belajar mencintai kamu. Tapi sayangnya, aku masih belum bisa sampai sekarang. Dan saat ini, aku malah merasa nyaman dengan orang lain."

Bak tertindih batu yang cukup besar rasanya ketika Icha mendengarkan ucapan Aditya barusan. Nyaman? Kata yang sangat-sangat dia sesali untuk Aditya ucapkan. Karena Aditya berucap tanpa memikirkan bagaimana perasaan hatinya.

Susah payah Icha berusaha bersikap tenang. Tapi sayangnya, karena terlalu sakit, dia tidak bisa tetap tegar lagi. Air mata yang selama satu tahun ini dia sembunyikan dari pandangan Aditya. Sekarang tumpah ruah dengan derasnya.

"Jika itu yang kamu katakan, kak Aditya. Maka, akhiri saja hubungan ini. Tidak ada gunanya kita bersama selama satu tahun, tapi kamu masih tidak juga bisa belajar menganggap aku ada. Sekarang, kamu malahan bisa lebih nyaman bersama perempuan lain. Perempuan yang baru saja kamu kenal dalam hitungan minggu."

"Jadi, tidak ada gunanya aku tetap bertahan dengan pernikahan yang memang sudah rusak ini. Karena sekuat apapun aku bertahan, aku akan tetap kalau juga dengan perempuan yang menurut kamu lebih baik dari aku."

"Aku tidak bilang begitu, Icha."

"Kau tidak bilang padaku secara langsung, kak Adit. Tapi kamu bilang secara tidak langsung. Aku perempuan, jadi tahu apa maksud terselubung yang ingin kau ucapkan. Untuk itu, akhiri saja semuanya sampai di sini. Aku tidak ingin tetap bertahan, tapi tidak di hargai."

"Aku bisa saja mengakhiri hubungan kita, Icha. Tapi kamu harus ingat, kamu punya kekurangan yang tidak mungkin bisa di terima oleh semua laki-laki. Dan kekurangan itu karena sahabatku. Jadi .... "

"Cukup! Jika tidak suka maka langsung putuskan saja! Tidak perlu mengatakan apa kekurangan yang aku miliki. Karena aku tidak sudi jika kamu terus-terusan menyakiti aku lagi dan lagi."

Selesai berucap kata-kata itu, Icha langsung pergi meninggalkan Aditya. Sangking sakitnya hati Icha, dia terpaksa melupakan batas dirinya. Langsung memotong perkataan Aditya dengan cepat, dan bicara dengan nada tinggi. Dia tahu itu dosa yang sedang dia lakukan. Tapi hatinya, sudah tidak tahan lagi.

Aditya terdiam mematung. Baru pertama kali dia mendapat bentakan yang sangat keras dari perempuan yang selama ini dia kenal sangat lemah lembut. Perempuan yang biasanya hanya diam jika dia marah. Hanya menurut jika dia bentak. Malam ini dia menyaksikan perempuan yang diam dan lemah lembut itu marah besar. Hal itu membuat dia kaget sampai tidak tahu harus berbuat apa.

Sementara itu, Icha yang berada di dalam kamar, kini melanjutkan tangisannya. Kesedihan yang begitu mendalam membuat dia tidak bisa berhenti menangis. Tidak dia hiraukan lagi apa yang akan terjadi dengannya besok pagi. Karena yang ada dalam hatinya sekarang hanya kesedihan dan kesedihan.

'Kamu bukan tidak bisa belajar mencintai aku, kak Aditya. Tapi kamu tidak ingin. Karena jika kamu ingin, maka waktu satu tahun ini mungkin sudah akan menyatukan kita berdua.'

Icha berucap dalam hati sambil terus menangis dengan menyadarkan diri di daun pintu kamar.

'Sekarang aku tahu siapa yang selalu ada dalam hatimu. Kau cinta mbak Putri, karena itu saat melihat orang yang mirip dengannya, maka kamu langsung tertarik. Sayang sekali, aku bukan dan tidak akan pernah bisa jadi dia. Karena aku tetap aku. Aku yang selalu berharap dapat kamu cintai. Dan telah pun kamu sadarkan dari tidur panjang yang menyakitkan ini.'

Terpopuler

Comments

Ketawang

Ketawang

Tinggalkan saja,..hatiku ikut sakit atas penderitaanmu Icha😭😭😭😭

2024-10-09

1

Juan Sastra

Juan Sastra

tinggalkan saja suami kertasmu itu cha,,toh kamu berhak bahagia akan ada seseorang yg tulus menerima kamu apa adanya...

2023-04-09

0

Haslinda

Haslinda

tinggalin aja,,,ntar dia yg ngejar2 kamu

2022-10-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!