*Bab 11

Keduanya terus saja bicara hingga akhirnya berpisah di depan ruangan Aditya. Sementara Aditya masuk ke dalam ruangan tersebut, Serry malah langsung pergi ke ruang atasan untuk urusan tertentu.

Di antara banyaknya mata yang melihat, ada sepasang mata bening yang terasa begitu hangat. Siap menumpahkan buliran bening yang tidak kuat di bendung.

Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Icha. Dia yang mendengar keributan saat keluar dari kamar mandi, sontak langsung berjalan cepat untuk melihat kenyataan dari apa yang rekan-rekannya bicarakan.

Icha langsung menyeka air matanya ketika Dwi datang mendekat. Dengan wajah penasaran, Dwi menatap Icha. Tentunya dengan tatapan tajam penuh selidik.

"Kamu kenapa, Cha? Kenapa nangis? Ada masalah apa sih? Katakan langsung padaku! Jika aku tidak bisa bantu dengan kekuatan, maka aku akan bantu dengan cara lain."

"Ih ... apa-apaan sih kamu, Dwi. Mak Munah lho ya. Ngerocos aja kerjaannya. Siapa yang nangis coba? Aku hanya kelilipan. Gak sembuh-sembuh walau udah lama aku obati di kamar mandi."

"Heh! Gimana caranya kamu ngobatin kelilipan, Cha? Yang benar aja kamu ya."

"Hello ... nyari sampah yang masuk ke dalam mata itu namanya ngobatin, mak bawel."

Dwi terdiam sesaat. Benaknya mencoba mencerna apa yang Icha katakan.

"Iya juga ya. Tapi ... kamu beneran kelilipan kan, Cha? Gak habis nangis kan? Gak bohong sama aku kan, Cha?"

"Ya Allah, Wi .... Kamu ini kenapa sih kok jadi gini akhir-akhir ini, ha? Jadi gak percayaan mulu sama aku. Heran deh ah." Icha berucap dengan nada kesal. Setelah berucap, dia langsung beranjak meninggalkan Dwi.

Sebenarnya, bukan Dwi yang membuat hatinya kesal. Juga bukan Dwi alasan Icha untuk segera pergi sekarang. Melainkan, rasa sedih atas apa yang baru saja dia lihat. Bagaimana tidak? Apa yang baru saja dia lihat itu sungguh menyayat hati.

Karena selama satu tahun usia pernikahan mereka, Aditya malah tidak pernah sekalipun sedekat itu dengan dirinya. Tidak pernah seceria seperti yang barusan dia lihat.

Sementara Dwi yang melihat sahabatnya pergi. Dia langsung menyusul.

"Cha. Hei ... kok malah beneran ngambek sih sama aku. Aku kan hanya bercanda."

"Aku gak ngambek. Sedang kesal aja."

"Ya ampun. Apa bedanya kamu ngambek sama kesal, tuan putri, ha? Sama aja tahu gak."

"Aku beneran gak ingin bercanda, Wi. Beneran gak ada mood sekarang."

Dwi langsung melepas napas kasar. Dia paham kalau sudah Icha menyerah, itu tandanya dia benar-benar sedang tidak baik-baik saja.

"Ya sudah kalo gitu. Aku tinggalkan kamu sendiri. Jika sudah baikan, atau jika ada yang mau kamu ceritakan padaku, maka temui aku saja. Aku siap. Selalu siap dan akan selalu ada buat kamu, Cha."

Icha tidak menjawab. Dwi langsung beranjak meninggalkan Icha untuk mengerjakan tugasnya sebagai suster. Sedangkan Icha, dia malah berdiam diri di ruang istirahat untuk menenangkan hati.

Belum juga berhasil menenangkan pikiran, seseorang malah sudah datang buat memanggil dirinya. Icha terpaksa bangun dan mengesampingkan masalah pribadi untuk menjalankan tugas dengan baik.

"Suster Icha, dokter Aditya minta anda datang ke ruangannya sekarang."

"Baiklah."

Icha langsung beranjak menuju ruangan Aditya. Namun, di tengah perjalanan dia melihat perempuan yang datang bersama Aditya baru saja keluar dari ruangan atasan mereka.

Seketika, Icha teringat akan sosok perempuan yang dulunya pernah bersama dengan dia di rumah sakit ini. Perempuan yang sudah pergi setelah bikin masalah besar buat dirinya juga Aditya tentunya.

Untuk tidak membuang-buang waktu lagi, Icha langsung mempercepat langkah kakinya menuju ruangan Aditya. Sampai di sana, dia langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu dahulu.

"Kak Adit!"

Bukan hanya tidak mengetuk pintu sebelum masuk, Icha juga malah lupa dengan nama panggilan saat dia berada di rumah sakit sangking paniknya. Aditya yang langsung memasang wajah sangat marah pada Icha.

Mana saat ini ada rekan sesama dokter lagi di ruangan itu. Hal itu yang semakin membuat Aditya merasa marah pada sikap dan perilaku Icha barusan.

"Suster Icha sepertinya sedang sangat buru-buru. Samapi-sampai, lupa mengetuk pintu terlebih dahulu." Dokter itu berucap sambil senyum kecil di bibirnya.

"Maafkan saya, dokter Farhan, dokter Ditya. Saya memang sedang sangat buru-buru. Harap maklumi sikap saya barusan," ucap Icha dengan nada penuh sesal.

"Gak papa, suster Icha. Saya maklum kok. Karena ada kalanya, kita itu di kejar waktu. Dan ada pula, kita itu hanya duduk diam menikmati waktu dengan santai."

"Ya sudah kalo begitu, saya pamit dulu dokter Ditya. Untuk pembahasan kita, nanti kita lanjutkan jika sudah ada jam santai."

"Iya, Dok. Saya tunggu pembahasan selanjutnya."

"Iya. Saya pamit sekarang. Silahkan suster Icha, bicara dengan dokter Ditya apa yang ingin dibicarakan." Dokter Farhan tersenyum sebelum dia melangkah meninggalkan ruangan Aditya.

Icha yang dapat senyuman itu, terpaksa membalas dengan senyuman juga. Ya meskipun dengan senyuman yang tidak enak karena dipaksakan.

"Iya, Dok. Makasih," ucap Icha sambil menunduk memberi hormat.

Setelah kepergian dokter Farhan. Ruangan tersebut hening seketika. Aditya yang kesal, menatap Icha dengan tatapan tajam. Sementara Icha yang merasa bersalah, malah menundukkan kepala di depan Aditya.

"Tutup pintunya! Karena aku gak ingin ada yang dengar kamu panggil aku kak Aditya lagi."

Icha tahu kalau dia salah. Maka dari itu, dia tidak menjawab. Dia hanya diam, lalu melakukan apa yang Aditya katakan.

Sebenarnya, bukan Icha tidak bisa melawan atau bukan dia lemah. Tapi, diam itu karena dia berusaha menghormati Aditya sebagai suaminya. Tidak ingin melawan suami, karena melawan suami adalah dosa. Setidaknya, kata-kata itu yang selalu dia ingat saat ibu panti memberikan nasehat padanya sebelum dia menikah dengan Aditya.

Tapi sayangnya, hormat yang Icha berikan tidak diindahkan oleh suaminya. Sang suami malah semakin meraja lela dan semakin semena-mena kayaknya.

"Kau tidak ingat kalau ini adalah rumah sakit? Bisa-bisanya kamu panggil aku dengan panggilan itu. Sejak awal, aku tidak pernah setuju kamu panggil aku dengan panggilan itu. Buktinya, sekarang kamu sudah terbawa-bawa ke tempat umum bukan?"

"Maafkan saya, dokter Ditya. Saya lupa karena saya sedang panik dan terburu-buru. Makanya saya bisa panggil anda dengan panggilan itu tadi."

"Alasan saja."

"Untung yang ada di ruangan ini dokter Farhan yang tidak banyak ambil tahu urusan orang lain. Jika dokter yang lainnya, mungkin sudah ada gosip tentang kita yang beredar di kalangan rekan sesama kita."

"Sebenarnya, samapi kapan kita harus bersembunyi seperti ini .... "

"Jangan bahas soal pribadi, Icha! Bukankah sudah aku katakan. Jangan bahas soal pribadi di tempat umum seperti tempat kita bekerja. Apa kamu tidak mengerti juga, ha?"

Terpopuler

Comments

Novita Ardie Wianto

Novita Ardie Wianto

nyeseknya Sampek kejantung😌

2024-06-21

0

Mariani

Mariani

pisah aja lah.dri pada ga di hargai sebagai istri.seperti laki-laki juman satu aja di dunia.suami egois kok di pertahankan.bodoh namax.

2022-09-28

3

Zayyan💕💞💖

Zayyan💕💞💖

gk akn aku sembunyikn lgi. biar thu rasa

2022-09-08

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!