*Bab 10

"Eh, tidak ada. Tidak ada. Saya hanya kaget karena kebetulan, kita bekerja di satu tempat yang sama. Jadi, bisa barengan berangkatnya."

"Maksud, Mas? Mas nya juga bekerja di rumah sakit itukah?"

"Iya. Saya juga bekerja di rumah sakit itu. Saya menjabat sebagai dokter kandungan di sana. Kalo kamu?"

"Saya sebagai perawat, Mas. Kebetulan, baru mau mulai bekerja sih. Karena sebelumnya tidak punya pengalaman kerja sama sekali."

"Oh, begitulah? Eh, sebaiknya kita ngobrol sambil berangkat saja. Karena jika kita masih tetap ngobrol di sini, maka kita berdua akan sama-sama terlambat. Kalo saya mah gak papa. Karena saya sudah lama bekerja di sana. Palingan cuma dapat sangsi bayar denda saja. Tidak akan mengubah pandangan atasan terhadap saya. Sedangkan kamu ... kamu anak baru. Nama baik sangat pentingkan buat kamu?"

"Iya. Mas benar. Kalo begitu, izinkan saya menumpang mobil mas untuk berangkat kerja hari ini."

"Silahkan."

Keduanya langsung berjalan menuju mobil Aditya. Sementara mobil perempuan itu ditinggalkan di sana karena harus diperbaiki.

Mereka terus ngobrol banyak hal sambil sesekali terdengar tawa renyah dari keduanya. Aditya yang dingin, kini seperti bukan dirinya lagi. Persis saat dia sedang bersama dengan sahabat masa kecilnya yang sekarang sedang berada di luar negeri untuk menjalani kehidupan barunya di sana.

Kutub selatan itu sepertinya sudah mencair karena telah bertemu dengan mataharinya. Entah karena dia sekarang sudah menemukan orang yang tepat, atau hanya karena perempuan yang sedang bersamanya itu begitu mirip dengan sang sahabat. Makanya dia bisa begitu hangat sekarang.

Kebetulan, perempuan yang baru saja dia temui itu sangat mirip dengan sahabatnya. Sahabat sekaligus perempuan yang paling dia cintai selama ini. Hanya saja, cinta yang dia miliki tidak terbalas. Karena sahabatnya telah mencintai laki-laki lain. Bahkan, sudah menikah dan telah punya anak pula dengan orang yang sahabtnya itu cintai.

Pernikahaan antara dia dengan Icha juga karena sahabatnya yang meminta. Karena Icha telah membantu mereka dalam aksi penyelamat Putri sahabatnya dari seseorang yang ingin melenyapkan nyawa Putri kala itu.

Akhirnya, Icha yang terkorbankan. Karena menggantikan posisi Putri, Icha malah tertembak di bagian perut yang mengakibatkan dia sulit buat mendapatkan keturunan jika sudah menikah.

Vonis itu membuat Putri merasa sangat menyesal akan apa yang terjadi pada Icha. Dia menyalahkan dirinya atas semua yang telah terjadi. Karena kasihan dengan sahabat yang paling dia cintai, Aditya menyanggupi permintaan sahabatnya itu untuk menikah dengan Icha.

Namun, ada yang tidak Aditya ketahui dibalik itu semua. Dibalik permintaan menikah yang sahabtnya ucapkan, sebenarnya bukan semata-mata karena rasa bersalah. Melainkan, karena sahabatnya tahu, Icha adalah perempuan yang paling tepat untuk menjadi pendamping hidupnya.

Sayangnya, Aditya tidak mengerti akan hal itu. Yang dia tahu hanya rasa bersalah juga rasa tanggung jawab saja. Sementara rasa yang lainnya tidak bisa dia lihat dari apa yang temannya katakan.

Mobil yang Aditya kendarai akhirnya sampai ke rumah sakit tepat waktu. Perempuan yang sedang duduk di samping Aditya melepas napas lega ketika mobil berhenti di parkiran rumah sakit tersebut.

"Huh ... akhirnya aku gak terlambat di hari pertama masuk kerja. Makasih banyak ya, Mas. Semua ini berkat bantuan kamu, mas."

Aditya tersenyum hangat. Senyuman yang begitu indah menurut perempuan yang ada di sampingnya sekarang. Sampai-sampai, perempuan itu terdiam mematung akibat manisnya senyuman yang Aditya perlihatkan.

"Jangan terlalu melebih-lebihkan, mbak. Aku yang salah sebelumnya. Hampir saja merusak reputasi mu di hari pertama masuk kerja. Jadi, tidak perlu terlalu sungkan seperti itu. Anggap aku bertanggung jawab saja atas kesalahan yang telah aku buat."

"Mas ini bisa saja kalo urusan merendahkan diri ya. Salut aku sama kamu lho, Mas. Oh ya, ngomong-ngomong, nama kamu siapa ya Mas? Gak enakkan, ngomong panjang lebar, tapi gak tahu nama," ucap perempuan itu berusaha terlihat setenang mungkin. Padahal sekarang, hatinya begitu gugup akibat senyuman Aditya barusan.

"Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri padamu, tadi. Namaku, Aditya. Kamu?"

"Aku Serry. Bisa kita panggil dengan sebutan nama masing-masing saja? Gak enak jika panggilan mbak dan mas. Berasa kek kita mbak-mbak warung dan mas-mas tukang jual gorengan deh. Iya gak?"

Aditya tidak langsung menjawab. Dia malah terdiam sambil melihat layar gawai nya yang baru sempat dia lihat karena sibuk ngobrol dengan perempuan yang baru saja dia kenali beberapa jam yang lalu.

Seperti sedang mendapat badai setelah pelangi, Aditya kembali memasang wajah kesal. Hal itu membuat Serry yang ada di sampingnya merasa tidak enak hati.

"Ada apa? Apa ada kata-kataku yang bikin kamu kesal, Aditya? Atau ... kamu tidak setuju aku panggil kamu dengan panggilan nama?"

"Ah, tidak-tidak. Bukan kamu penyebab masalah yang sekarang sedang aku hadapi. Tapi, seseorang."

"Seseorang? Perempuan kah?"

"Oh ya Tuhan ... jangan-jangan kamu di marahi istrimu gara-gara ajak aku barengan satu mobil sama kamu."

Aditya semakin memasang wajah tidak enak. Wajah kaget yang kelihatan sekali dia tahan.

Sementara Serry yang melihat hal itu langsung tertawa terbahak-bahak. Menertawai Aditya dengan sangat keras.

"Kenapa kamu memasang wajah yang jelek seperti itu sih, Ditya? Gak perlu terlalu kesal dan juga jangan terlalu menanggapi apa yang aku katakan dengan cara yang serius. Karena barusan itu, aku hanya bercanda saja kok."

"Kamu bercanda?" tanya Aditya dengan nada yang terdengar cukup lega.

"Iya. Aku hanya bercanda saja kok. Karena aku tahu, laki-laki seperti kamu mungkin belum beristri."

"Apa alasan kamu bicara begitu? Maksudku, kenapa kamu bisa yakin kalau aku belum punya istri sekarang?"

"Ya karena aku tahu. Kebanyakan laki-laki tampan itu sengaja tidak ingin menikah duluan. Alasannya bukan karena tidak ada yang suka. Melainkan, karena terlalu banyak yang suka sampai bingung mau pilih yang mana. Orang nyari pasangan yang cocok itu sulit soalnya."

"Kamu sok tahu. Sama persis seperti Putri," ucap Aditya tanpa sadar.

Serry langsung mengernyitkan matanya mendengar nama Putri yang Aditya sebut.

"Putri? Siapa dia kalau boleh aku tahu? Orang spesial buat kamu ya?"

"Tidak bisa dikatakan spesial, tapi juga tidak bisa di katakan tidak."

"Lah ... terus gimana ceritanya kalo kek gitu?"

"Ya rahasia."

Keduanya masih tetap ngobrol sepanjang perjalanan menuju tempat masing-masing.

Mereka mengabaikan semua mata yang melihat ke arah mereka.

Aditya dan Serry tidak mirip dengan dua orang yang baru bertemu dalam hitungan jam. Tapi lebih mirip dengan dua orang, atau mungkin lebih tepatnya dengan, dua sahabat yang sudah saling mengenal sejak lama.

Terpopuler

Comments

Juan Sastra

Juan Sastra

dengan istri sendiri terasa haram satu mobil sementara sama perempuan baru di kenal malah senang ggak ketulungan.

2023-04-09

0

Liswati Angelina

Liswati Angelina

namanya hampir sama , merry serry apa orang yg sama habis operasi plastik......datang untuk membalas dendam sama aditya

2022-09-11

1

Zayyan💕💞💖

Zayyan💕💞💖

lh ... blm bucin mlh sdh ad plkor. apes apes

2022-09-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!