Akhirnya, Icha meninggalkan gerbang rumah sakit juga. Dwi yang melihat sahabatnya sudah aman, langsung ikut tancap gas buat meninggalkan rumah sakit juga.
Sementara itu, Aditya yang melihat Icha sudah pergi, dia langsung ikut menyalakan mesin mobil buat meninggalkan parkiran. Namun, baru saja mobil yang dia kendarai meninggalkan gerbang rumah sakit tersebut, ponsel yang dia miliki berdering hebat. Menandakan ada panggilan masuk ke ponselnya sekarang.
Aditya melirik ponsel itu karena dia harus fokus dengan jalan yang dia lewati. Tertera nama mama di layar gawai tersebut. Mau tidak mau, dia harus menepikan mobilnya untuk menjawab panggilan dari mamanya.
"Iya, Ma. Ada apa?" tanya Aditya langsung ketika sambungan ponselnya sudah sama-sama terhubung.
"Kamu di mana, Ditya?" Terdengar suara lembut yang selalu bikin kupingnya tenang. Tapi, semua berubah sejak satu tahun yang lalu.
"Masih di jalan, Ama. Ada apa?"
"Tante mu ingin kamu datang ke rumahnya nanti malam. Kamu harus datang bareng istrimu. Dia bilang, dia mengundang kalian untuk acara pertunangan anaknya yang akan dilaksanakan malam ini."
"Bagaimana jika aku tidak bisa datang, Ama? Lagian, aku dan tante juga tidak terlalu dekat, bukan?"
"Jangan permalukan mama lagi Aditya. Mau ditaruh mana muka mama jika kamu dan istrimu tidak datang malam ini, ha? Apa pernikahan kalian yang tidak ada resepsi itu tidak membuat kamu merasa cukup buat mempermalukan mama?"
"Ma ... soal itu tidak ada sangkut pautnya dengan acara pertunangan Fika, bukan? Lagian, jika kami datang, mereka akan semakin membuat mama malu, Ma. Percaya sama aku."
"Kau tahu apa, Ditya? Mereka akan nanya sama mama jika tidak melihat kalian ada di tengah-tengah acara bahagia keponakan kandung mama. Apa yang harus mama jawab jika mereka bertanya? Apa kamu ingin lihat mama tidak punya muka di sana, ha?"
"Ya sudah kalau gitu, nanti aku tanya dulu pada Icha. Mau atau tidak dia datang ke acara pertunangan ini."
"Tidak ada mau atau tidak! Tapi harus mau. Jika kalian bikin ulah lagi, maka jangan panggil aku dengan panggilan mama, Aditya. Ingat itu!"
Panggilan langsung diputuskan oleh mama Aditya. Tidak bisa bicara apa-apa selain mendengus kesal sambil menatap layar ponsel yang sudah tidak ada panggilan lagi di sana.
"Aku tau niat tante ingin aku dan Icha datang. Dia pasti ingin mempermalukan aku lagi nantinya," ucap Aditya sambil terus melihat layar ponsel tersebut.
Namun, karena tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang mamanya inginkan. Aditya hanya bisa segera pulang untuk bicara dengan Icha. Lalu, jika perempuan itu setuju, maka dia akan melakukan persiapan dengan sebaik mungkin agar tantenya tidak punya celah untuk bikin keributan lagi dengannya.
Aditya akhirnya sampai ke rumah. Saat dia memarkirkan mobilnya, dia melihat Icha ada di taman belakang. Sedang duduk manis sambil di temani segelas jus naga juga lengkap dengan cemilan bolu.
Itu adalah cara ngemil ala suster Icha. Dia sangat suka makan bolu dengan jus naga. Pasti dia akan membawa kedua hal tersebut jika dia sedang bersantai.
Merasa tidak punya banyak waktu untuk melakukan persiapan jika Icha setuju, Aditya memilih langsung menghampiri Icha untuk mengatakan apa yang mamanya inginkan. Berat sih buat Aditya untuk minta bantuan Icha. Karena selama ini, dia selalu menolak jika Icha minta bantuan darinya.
"Ee ... bisa aku ikut duduk?" tanya Aditya dengan perasaan cukup berat.
Sontak saja, Icha yang sibuk dengan gawai nya itu langsung mendongak untuk melihat orang yang sedang bicara. Sedikit rasa kaget tentunya. Tapi Icha sadar, jika Aditya bicara seperti itu, pasti ada butuhnya.
"Duduk saja, kak Adit. Tidak ada larangan buat kamu untuk duduk di mana saja. Bukankah ini rumah kamu, iyakan?"
"Huh ... tidak perlu banyak basa basi lagi aku kayaknya. Aku langsung saja. Icha, malam ini mama ingin aku dan kamu menghadiri pesta pertunangan anak tanteku. Karena tante mengundang kita, maka kita harus datang."
"Kak Adit yakin kita mau datang?"
"Tentu saja aku yakin. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Karena aku tidak yakin kalau kita datang, tidak ada keributan yang terjadi antara keluarga tante mu dengan kamu, atau bahkan dengan kita, kak."
"Untuk itu, kita harus melakukan persiapan sebelum datang. Jangan bikin tante menemukan celah untuk mengusik kita. Karena jika tidak ada celah, maka tidak akan ada pertengkaran antara kita dengan dia."
Icha langsung menatap serius wajah Aditya yang baru saja bicara dengan sangat serius padanya. Sedikit rasa ragu dalam hati Icha sekarang. Ingin menolak, tapi sama seperti Aditya yang tidak bisa menolak permintaan mamanya.
"Apa kita emang harus datang ke acara itu, kak Ditya?"
Aditya menoleh ke samping untuk melihat Icha. Karena sejujurnya, dia sangat mengerti apa yang Icha rasakan sekarang.
"Sejujurnya, aku juga tidak ingin datang ke sana. Kamu pikir aku mau datang ke acara itu jika bukan karena mama."
"Karena mama? Maksud kak Adit?"
"Mama paksa aku buat datang. Bareng kamu juga lagi. Jika aku tidak datang, maka dia tidak akan sudi aku panggil dengan panggilan mama lagi."
"Hah? Sekeras itukah konsekuensi yang mama berikan buat kamu?"
"Sudah. Jangan banyak omong. Yang harus kamu lakukan hanyalah mengikuti apa yang aku katakan. Bersiap dengan dandanan yang paling sempurna buat datang malam ini. Jangan bikin tante punya celah buat bikin masalah dengan kita."
Selesai berucap, Aditya langsung bangun dari duduknya. Ingin meninggalkan Icha tanpa menunggu perempuan itu menjawab apa yang dia katakan lagi.
Icha yang melihat hal itu, hanya bisa menatap Aditya dengan tatapan kesal. Namun malangnya, mulut Icha yang tidak bisa diajak kerjasama itu malah langsung berucap tanpa bisa dia cegah.
"Begitu kah cara kamu minta bantuan padaku, Kak? Apa tidak bisa lebih baik lagi, hm? Bagaimana jika aku tidak ingin datang malam ini, kak Aditya?"
Aditya yang mendengarkan ucapan itu langsung menghentikan langkah kakinya. Dia tatap Icha dengan tatapan tajam, bak serigala yang siap menerkam mangsa.
Nyali Icha yang melihat tatapan itu mendadak merasa ciut. Takut dan merasa sangat menyesal karena telah berani berucap kata-kata yang tidak penting seperti barusan.
"Jika kau tidak ingin datang, maka aku tidak akan memaksa. Karena aku memang tidak berhak memaksa kamu, Icha. Tapi sebaliknya, kau akan membuat mamaku kecewa. Karena mama menyayangi kamu seperti dia menyayangi anaknya sendiri."
"Satu hal lagi. Kamu bilang barusan aku minta bantuan padamu, bukan? Kamu salah, Icha. Aku tidak minta bantuan sama kamu. Aku hanya ingin menjaga hubungan kita di depan keluargaku. Karena yang mereka tahu, hubungan pernikahan kita itu baik-baik saja selama ini."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments