"Itu ... aku hanya ingin tahu di mana kamu. Itu saja," ucap Aditya berusaha terlihat sebiasa mungkin. Dengan susah payah dia sembunyikan rasa lega yang dia rasakan sekarang.
"Untuk apa, kak Adit tahu di mana aku? Biasanya ... kak Adit juga tidak peduli dengan aku. Iyakan? Ada perlu apa nyari aku? Kak Aditya gak akan nyari aku jika tidak ada perlu, kan?"
"Jangan banyak bicara yang tidak bermanfaat kamu, Icha. Tapi ... bagus juga jika kamu tahu soal itu. Kamu tahu, tandanya, kamu sadar diri."
"Seperti yang kamu katakan, aku tidak akan nyari kamu jika tidak penting. Itu emang benar. Karena aku nyari kamu kali ini hanya ingin bilang, kenapa gak jawab panggilan dari aku? Aku mau bilang soal Dwi yang katanya mau datang ke rumah ini buat ketemu kamu."
Mata Icha langsung membulat akibat ucapan Aditya barusan. Ternyata, Dwi sudah bilang sebelum dia ingin datang ke sini. Sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul dalam benak Icha. Tahu dari mana Dwi soal alamat rumahnya? Padahal, dia tidak pernah bilang pada Dwi soal itu.
Icha kini menyesali apa yang sudah terjadi. Andai saja dia mengangkat panggilan dari Aditya tadi, maka dia pasti tidak akan bertemu dengan Dwi. Dan, hubungannya dengan Dwi pasti akan baik-baik saja. Tidak rusak seperti saat ini.
Sementara Icha sibuk dengan pikirannya sendiri, Aditya yang melihat, langsung mengangkat alisnya. Dia sedikit bingung dengan tanggapan Icha barusan. Tanggapan diam seribu bahasa tanpa menjawab sedikitpun apa yang dia katakan.
"Kenapa diam? Apa kamu sudah bertemu dengannya? Atau ... jangan bilang kalau Dwi tahu soal kita. Jika itu terjadi, aku sungguh .... "
"Dia sudah tahu." Icha berucap cepat memotong perkataan Aditya.
Mendengar hal itu, mata Aditya langsung membulat. Menatap Icha dengan tatapan tajam yang penuh dengan amarah juga rasa tak percaya.
"Apa! Kamu bilang apa barusan? Dia sudah tahu?"
"Iya. Dia sudah tahu soal hubungan kita."
"Tidak mungkin! Bagaimana bisa? Kenapa dia bisa sampai tahu soal hubungan kita, hah! Apa kamu sengaja? Kamu ingin semua orang tahu kalau kamu adalah istri aku, Icha? Kamu ingin merusak karier aku ya?"
Icha langsung menatap wajah Aditya dengan tatapan tajam. Membalas tatapan Aditya barusan dengan tatapan yang sama. Karena sekarang, dia merasa sangat sakit akibat pertanyaan Aditya barusan.
"Kak Aditya bilang apa barusan? Aku ingin merusak karier kamu, ha? Yang benar saja kalo bicara, kak. Aku tidak pernah terniat sedikitpun buat menyakiti kamu. Apalagi buat merusak karier kamu."
"Lagian, jikapun ada yang tahu kalau kita ini pasangan suami istri, juga tidak akan ada dampaknya dengan karier kamu, kak. Karena tidak ada peraturan di rumah sakit yang tidak memperbolehkan pegawainya punya pasangan."
"Diam kamu! Tahu apa kamu soal masalah itu semua. Kamu .... Agh! Benar-benar bikin aku jengkel sama kamu. Kamu tahu?"
Aditya langsung beranjak meninggalkan Icha. Entah mengapa, kali ini dia sangat tidak ingin berdebat terlalu lama dengan istrinya. Tidak seperti biasanya. Dia yang tahan berdebat berjam-jam dengan terus menekan Icha dengan kata-kata yang menyakitkan. Tapi hari ini, malah merasa tidak ingin berdebat karena tidak mau melihat wajah sedih dari perempuan yang bergelar istrinya ini.
Aditya kembali meninggalkan rumah. Masalah yang baru saja dia alami, membuatnya sangat kesal. Namun, tidak sampai hati untuk menyakiti Icha lagi. Jalan terbaik buat dia saat ini adalah, menjauh agar rasa kesal itu mampu dia tangani tanpa harus melampiaskan rasa itu pada Icha.
Sementara itu, Icha yang dia tinggalkan di rumah. Kini terduduk di atas lantai akibat ucapannya barusan. Sedih, kesal, marah, juga sangat kecewa. Kini semua rasa ini bercampur dalam hati Icha. Terasa seperti diaduk-aduk menjadi satu membuat dia merasa begitu tidak kuat menahan semuanya.
"Ya Allah, jika memang tidak ada jalan lagi, biarkan aku pergi dari sini. Karena bertahan sudah tidak mungkin lagi buat aku. Maka, berikan aku jalan agar aku bisa pergi dengan baik."
Selesai berucap. Icha langsung menyeka air mata yang tumpah. Semua masalah yang dia alami terasa terus saja menumpuk. Bertambah tanpa ada yang berkurang.
Icha berniat menjauh dari rumah ini. Tidak untuk selamanya, mungkin hanya untuk sementara. Setidaknya sampai hati hancur yang dia miliki sedikit membaik.
Namun, karena nasehat dari ibu asuhnya yang meminta dia supaya tetap bertahan, maka Icha memilih kembali bertahan. Berusaha memahami cobaan yang sang pencipta berikan, karena semua yang dia lalui saat ini adalah cobaan. Selagi masih bisa bertahan, maka dia akan tetap bertahan.
Nasehat itu membuat dia memberikan kesempatan terakhir buat Aditya. Dia akan menunggu di sini selama satu bukan. Jika kondisi rumah tangganya masih buruk, maka dia tidak akan bertahan lagi.
Dua hari berlalu sejak kejadian itu. Usahanya buat berbaikan dengan Dwi masih belum berhasil. Sementara hubungannya dengan Aditya, masih seperti semula. Masih hancur berantakan bak piring pecah yang entah bagaimana cara supaya bisa di satukan meski tidak akan utuh seperti semula.
Icha sedang berada di kamar mandi sekarang. Setelah usahanya membujuk Dwi tidak berhasil, dia langsung pergi ke kamar mandi untuk melepas rasa sesak yang menghimpit.
Saat itulah, tanpa sengaja dia mendengarkan obrolan seseorang yang berasal dari kamar mandi paling ujung. Suara perempuan yang tidak asing lagi buat Icha, sepertinya sedang bicara dengan seseorang lewat telepon.
Awalnya, Icha tidak ingin ikut campur dengan urusan orang lain. Setelah mendengar sekilas, dia berniat untuk langsung pergi meninggalkan kamar mandi tersebut.
Namun, saat dia mendengar nama Aditya yang di sebut, sontak saja Icha langsung menghentikan langkah kakinya. Dia langsung teringat untuk mengabadikan apa yang dia dengar agar bisa dia jadikan bahan bukti buat di perlihatkan pada Aditya.
Berjalan semakin mendekat ke arah kamar mandi yang Serry gunakan, Icha tanpa sengaja menabrak sapu yang berada di sampingnya. Bunyi sapu yang jatuh membuat Serry langsung kaget dan sontak menghentikan obrolannya dengan seseorang yang entah siapa.
Kaget. Keduanya jelas saja kaget ketika mata saling beradu satu sama lain.
"Icha!" Serry berucap dengan nada tinggi.
Icha tersenyum menyeringai penuh kemenangan.
"Kamu tertangkap sekarang, mbak Merry. Aku sudah mendengar semuanya. Kamu tidak bisa mengelak lagi."
Serry yang awalnya kaget, kini malah tertawa. Tertawa terbahak-bahak sambil berjalan mendekat ke arah Icha yang ada di lorong kamar mandi tersebut.
"Kamu yakin, Icha? Yakin kalau aku Merry?"
"Seperti yang sudah aku katakan barusan, mbak. Aku sudah dengar semuanya. Semua yang kamu bicarakan dengan seseorang. Aku dengar dengan jelas semuanya. Jadi, akui saja kalau kamu itu adalah Merry, bukan Serry."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
FUZEIN
Bertahan iti bila kita sanggup bwrtahan..jangan btahan kerana org lain
2023-05-24
0
Juan Sastra
bego icha..orang tuh rekam diam diam,,kalu kayak gitu yg ada kamu malah yg di salahkan..
2023-04-09
0