*Bab 4

Namun, itu tidak terjadi dengan Dwi. Jika Icha beranggapan pertanyaan suster Susy tidak penting, maka bagi Dwi, itu sangat penting. Karena dengan pertanyaan itu, dia bari tahu kalau tadi pagi, sahabatnya dapat omelan lagi.

"Kok kamu gak bilang sih Cha, kalo tadi pagi kamu dapat omelan lagi dari dokter dingin kutub Selatan itu."

"Kamu gak nanya, kan? Lagian, kenapa aku harus bilang terus sama kamu sih, Wi? Bukannya tadi kamu bilang, omelan yang dokter Aditya berikan itu tanda dia perhatian sama aku."

"Ih ... mak Munah kamu ya. Aku bilang gitu tadi bukan beneran. Tapi cuma ingin bikin si Susy yang julit itu tahu kalo dia tidak perlu ikut campur urusan orang lain. Apa lagi orang itu adalah kamu, sahabat Dwi Anggraini yang terkenal paling galak."

"Masa sih kamu paling galak, Wi? Kok aku baru tahu ya?" Icha berucap sambil mengeluarkan ekspresi kebingungan.

"Nah ... mana galak kamu dari pada big dokter, ha?"

"Icha ...! Kamu ya." Dwi langsung memasang wajah cemberut akibat ulah Icha barusan.

Mereka terus bercanda sambil menghabiskan makan siang yang mereka pesan. Hanya tempat kerja yang bisa membuat Icha lupa akan masalah rumah tangga yang sedang dia hadapi. Karena di sini, ada sahabat baik yang selalu ada buatnya. Sedangkan di rumah, dia hanya sebatang kara tanpa teman dan tempat mengadu.

***

Setelah menghabiskan waktu selama beberapa jam untuk bekerja di rumah sakit, kini tiba waktunya untuk pulang. Dwi yang tahu kalau kendaraan sahabatnya rusak, bersiap-siap untuk menawarkan bantuan.

Tapi seperti biasa, tawaran itu tidak Icha terima. Dia selalu saja menolak dengan berbagai alasan yang pada akhirnya akan membuat Dwi pasrah dan menyerah.

"Aku heran padamu, Cha. Kenapa kamu tidak pernah mengizinkan aku buat antar kamu pulang? Apalagi buat ajak aku mampir ke rumah kamu, ya sama sekali gak pernah lagi sekarang, iyakan?"

"Udah satu tahun lho Cha, kamu gak pernah ajak aku main ke rumah kamu. Emangnya, kenapa sih?"

"Ya kamu kan udah tahu apa alasannya, Wi. Aku gak enak sama saudara yang punya rumah. Dia sih mungkin gak akan keberatan jika aku ajak kamu mampir. Tapi, anaknya yang cacat mental itu gak suka ada orang asing datang ke rumah. Makanya, aku gak bisa ajak kamu mampir ke rumah aku."

Itulah alasan yang selalu Icha katakan jika Dwi ingin datang ke rumahnya. Sudah satu tahun alasan itu dia pakai. Tepatnya, setelah dia dan Aditya menikah, dan Aditya membelikan satu rumah untuk tempat tinggal mereka.

Demi menjaga status masing-masing, baik Aditya maupun Icha saling menutup diri dari teman-teman masing-masing. Tidak ada yang pernah membawa teman datang ke rumah.

Karena hal itu, Icha terpaksa bohong pada sahabat baiknya. Mengatakan kalau dia tinggal di rumah saudara jauh yang punya anak cacat mental.

Anak cacat mental saudara jauhnya itu tidak bisa bertemu dengan orang asing. Oleh karena itu, dia tidak bisa mengajak Dwi buat main ke rumah tempat di mana dia tinggal.

Meski merasa ada yang ganjal dengan alasan yang Icha berikan. Tapi Dwi tetap menghormati alasan itu. Dia tidak ingin sahabatnya dapat masalah hanya karena rasa ingin yang dia miliki.

"Tapi Cha ... keluarga saudara jauh mu itu baik kan sama kamu? Kamu nyaman kan tinggal di rumah mereka?"

"Mm ... ya ... bagaimana ya Wi aku mau menjelaskan semua yang aku rasakan ini padamu? Intinya, kamu maklumlah kalo tinggal di rumah orang itu kek mana ceritanya. Mau sebaik apapun mereka, tetap aja gak enak bagi hati nurani kita. Mau bilang gak nyaman, ya kita gak punya pilihan lain. Mau bilang nyaman, eh ingat kalau itu rumah orang, bukan rumah milik kita."

Penjelasan panjang lebar dengan wajah serius itu membuat Dwi merasa kasihan juga sekaligus tenang dan sangat percaya kalau alasan sahabatnya itu selalu benar. Karena memang, tinggal di rumah orang itu tidak pernah ada yang namanya nyaman sepenuh hati.

"Kamu sih, Cha. Aku ajak nginap di rumah aku gak mau. Rumah aku besar, masih muat kalo buat ajak kamu tinggal sana. Selamanya, juga boleh kok."

"Ih ... rumah kamu yang mana, Dwi? Yang kamu tinggalin sekarang itu ya? Perasaan, itu rumah orang tua kamu deh."

"Sama aja, mak Minah. Rumah orang tua aku, ya rumah aku juga. Orang aku anak kandung mereka."

"Makasih banyak atas kebaikan kamu, Dwi sayangku. Aku gak mungkin bikin repot orang tua kamu lagi setelah aku bikin repot anak mereka. Sudah cukup anak mereka yang aku bikin repot, iyakan?"

"Uh ... kamu itu selalu saja begitu. Selalu mikir bikin repot orang lain lagi dan lagi. Gak ada yang kamu bikin repot kan kok, Cha. Aku malahan merasa sangat bahagia kalo aku bisa bantu teman aku. Apalagi, teman itu kamu."

"Tapi aku yang merasa sangat gak enak, Dwi. Kamu paham kan apa yang aku rasakan. Aku yakin, kamu juga sudah sangat memahami bagaimana sifat aku selama ini."

"Iya, aku tahu. Huh ... jika saja aku punya kakak laki-laki, pasti aku sudah minta dia menikahi kamu. Biar kamu bisa aku bantu tanpa merasa tidak enak tidak enak lagi."

"Hei ... ada-ada saja kamu, Wi. Kalo pun ada, belum tentu dia setuju buat ngikutin apa yang kamu katakan. Mana permintaan kamu itu sangat aneh lagi. Kamu minta dia nikah sama aku. Orang dia gak cinta, mana mau dia."

"Eh ... tahu dari mana kamu dia gak cinta sama kamu. Dia pasti cinta kok karena yang minta dia menikah itukan adik kesayangannya sendiri."

Keduanya malah saling terhanyut dalam khayalan yang tanpa sengaja mereka ciptakan. Khayalan itu membuat candaan dan kebahagiaan tersendiri buat keduanya sehingga mereka tertawa lepas di depan gerbang rumah sakit tanpa menghiraukan kendaraan yang berlalu lalang.

Icha menghentikan tawanya setelah dia rasa cukup. Namun, terasa sedikit sulit sampai dia harus menutup mulutnya, lalu mengigit jarinya agar tawa itu berhenti.

Dari arah parkiran, Aditya melihat semua itu. Melihat apa yang Icha lakukan bersama sahabat baiknya. Sayangnya, tidak ada niat buat menghampiri mereka. Jangankan niat menghampiri, niat lewat saja dia tidak punya.

Karena menurut pikirannya, jika dia lewat di sana, maka ada rasa tidak enak jika Icha melihatnya. Entah kenapa rasa itu bisa muncul, dia juga tidak tahu. Yang jelas, itu pasti akan selalu dia rasakan jika dia membuat Icha melihat dirinya dengan tatapan mengiba.

Terpopuler

Comments

Juan Sastra

Juan Sastra

sau tahun cha,,bukan waktu yg singkat buat memendam lukamu,,kok betah..pisah kek apa yg musti di pertahankan..

2023-04-09

0

Zayyan💕💞💖

Zayyan💕💞💖

dia dilarang suaminya tuh Dwi

2022-09-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!