Air mata terasa seperti sudah tidak ada lagi. Sudah terkuras habis untuk meratapi apa yang sudah dia lalui tadi malam. Sekarang, meski terasa sangat perih. Tapi tetap tidak mengeluarkan air mata sedikitpun.
Entah terlalu sakit sampai sudah kebal mungkin. Makanya tidak bisa menangis lagi sekarang. Yang pasti, tidak ada air mata tidak ada tangisan. Yang ada hanya sakit yang terasa semakin lama semakin tidak bisa diucapkan lagi.
Kurang lebih lima menit Icha menyandarkan diri di daun pintu, akhirnya dia sadar juga. Kalau semua yang dia lakukan itu tidak ada gunanya. Dari pada tetap berada dalam kesedihan, lebih baik dia mengabaikan kesedihan itu sebisa mungkin. Dengan begitu, hatinya mungkin tidak akan sadar kalau sedang ada luka yang terbuka di sana.
Icha memilih langsung membersihkan diri. Lalu kemudian, dia akan berangkat ke panti untuk melihat adik-adik yang masih tinggal di sana. Dengan begitu, dia yakin kalau masalah yang sedang dia hadapi akan sedikit terlupakan.
Sementara itu, Dwi yang sudah selesai minta izin di rumah sakit, langsung menuju jalanan tempat di mana dia pernah melihat Icha turun dari taksi online waktu itu. Dia akan mulai menyelidiki semuanya dari sana.
Langkah Dwi terhenti ketika dia melihat mobil Aditya yang berhenti di parkiran. Dari mobil itu keluar pula Aditya dan perempuan yang sudah membuat satu rumah sakit menebak, kalau perempuan tersebut adalah kekasih Aditya. Karena kedekatan mereka yang membuat semua orang berpikir hal itu tentunya.
Aditya yang selama ini dijuluki dengan dokter dingin kutub selatan itu malah begitu hangat dengan perempuan yang baru dia kenali. Siapa yang tidak menebak kalau mereka itu adalah sepasang kekasih, coba kalau begitu ceritanya.
"Eh ... pasangan terhangat udah tiba," ucap suster Susy yang terkenal paling suka ikut campur urusan orang. Dia kebetulan juga baru tiba di parkiran tersebut.
"Siapa yang pasangan sih, mbak Susy? Mbak ini bisa aja bercandanya. Kita ini cuma teman aja kok," ucap Serry menjawab dengan nada malu-malu.
Orang yang paham dengan nada itu tentu tidak akan percaya dengan apa yang Serry katakan. Karena dibalik jawaban yang bernada malu itu terdengar seperti sedang menyembunyikan kebenaran yang bertolak belakang dengan apa yang dia jawabkan.
"Ah, gak perlu disembunyikan lagi deh, Serry. Gak papa kok kalo kalian bicara terang-terangan soal hubungan kalian. Soalnya, gak ada tuh larangan untuk kalian berpacaran di satu rumah sakit. Iya kan, Dwi?"
Susy yang kepo tingkat tinggi, suka mencari tahu hal orang lain itu sekarang malah menyeret Dwi untuk ikut dalam penyelidikannya. Dwi yang tidak tahu hal itu akan terjadi, kini mendadak bingung.
"Hah? Aku? Mbak Susy nanya aku?"
"Iya iyalah. Kamu ... masa Dwi rumah sakit sebelah. Di sini kan cuma ada satu Dwi. Yaitu cuma kamu. Masa gak ngeh gitu kamu nya."
"Ya mana aku tahu. Aku gak suka ikut campur urusan orang soalnya. Mau pacaran kek, mau nggak kek. Bukan urusan aku," ucap Dwi dengan nada cuek yang terkesan menyimpan kekesalan.
"Lagian nih ya ... harusnya mbak Susy udah tahu dong apa hubungan mereka. Orang udah nunjukin secara terang-terangan kedekatan di tempat umum. Masa harus di selidiki juga lagi."
Kini Dwi kembali berucap. Namun dengan nada yang berbeda. Jika awalnya dia berucap dengan nada kesal dan cuek. Tapi kini, dia berucap dengan nada ejekan yang dia tuju langsung sekali pukul buat mereka bertiga. Orang yang entah mengapa selalu bikin hatinya kesal sekarang.
Aditya yang merasa kalau apa yang Dwi katakan itu mengenai dirinya, langsung memasang wajah tidak enak.
"Apa maksud ucapan kamu barusan, suster Dwi? Kami tidak pernah melakukan hal yang melebihi batas di tempat umum. Sebaiknya, pertimbangkan dahulu kata-kata mu sebelum kamu ucapkan."
"Maaf, dokter Ditya. Aku tidak mengatakan hal yang diluar pertimbangan aku kok. Hanya bicara secara kenyataan saja. Tidak perlu kesal begitu."
"Ah, ya sudahlah ya. Aku sedang buru-buru. Tidak ada waktu untuk berdebat sekarang. Permisi semua. Aku harus pergi sekarang," ucap Dwi sambil membuka pintu mobil.
Ketika Dwi ingin melangkah, Susy segera menahan langkah itu dengan kata-kata yang dia ucap dengan cepat. Maklum, jiwa kepo yang dia miliki tidak bisa dia bendung terlalu lama.
"Eh, kamu mau ke mana sih, Wi? Bukannya masuk ke dalam, tapi malah ingin pergi. Ini ... bentar lagi udah jam tugas lho."
"Mau jenguk sahabatku yang sakit. Gak perlu cemas dengan aku, mbak Susy. Aku udah izin kok."
"Lho ... siapa yang sakit sih? Sahabat kamu yang mana? Perasaan, kamu tidak punya sahabat deh selain Icha. Tunggu! Apa Icha gak masuk lagi hari ini? Apa dia sakit lagi? Iya, Wi?"
Pertanyaan itu membuat Aditya yang baru saja ingin melangkah meninggalkan parkiran langsung berhenti. Dia merasa tiba-tiba cemas, sampai begitu reflek hanya karena pertanyaan yang Susy ucapkan barusan.
"Kenapa, Ditya? Ada yang tidak baik-baik saja kah sekarang?" Serry langsung melontarkan pertanyaan saat melihat perubahan ekspresi wajah yang Aditya perlihatkan barusan..
"Eh ... ti--tidak ada. Tidak ada apa-apa, Ser. Semuanya baik-baik saja. Aku hanya melupakan sesuatu di rumah. Itu saja."
"Jika lupa. Pulang lagi aja, gak papa kok. Masih ada waktu dikit lagi, bukan? Atau ... minta bibi yang bekerja di rumahmu buat antar ke sini. Mungkin itu akan lebih baik."
"Gak papa. Apa yang aku lupakan itu gak terlaku penting kok, Ser. Nanti pulang aja aku urus nya."
"Ya udah deh kalo kamu nya bilang begitu."
Aditya kembali melanjutkan langkah kakinya dengan diikuti oleh Serry dengan cepat. Sementara itu, Susy yang masih tinggal di sana, menatap Dwi untuk menjawab apa yang dia tanyakan.
"Bukan urusan mbak Susy!"
"Dwi ...! Awas kamu ya. Bikin kesal aja kamu ini. Cuma ngejawab apa yang aku tanyakan aja apa susahnya sih?"
"Gak susah. Tapi kalo udah rahasia, jadi ya ... gak akan aku jawab. Selamat tinggal mbak Susy," ucap Dwi sambil masuk ke dalam mobil dengan cepat.
Hal itu semakin membuat hati Susy yang kesal bertambah kesal.
"Awas aja kamu ya. Gak mau jawab apa yang aku tanyakan, maka tunggu saja pembalasanku nanti."
"Gak takut. Wek .... " Dwi malah bikin ulah lagi dengan memancing amarah Susy lagi dan lagi. Sempat-sempatnya dia mencibir Susy saat mobil sedang bergerak meninggalkan parkiran.
"Dwi ...!" Teriakan keras yang penuh dengan perasaan kesal itu masih Dwi dengar dengan cukup baik sebelum mobilnya benar-benar meninggalkan parkiran rumah sakit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
FUZEIN
Aditya ni.. pasal pulak...
2023-05-24
0