Aditya yang terus terpikirkan apa yang Susy katakan membuat beban pikiran tersendiri dalam benaknya. Hal itu bikin Aditya kehilangan konsentrasi. Untungnya, tidak banyak pasien yang datang hari ini. Dengan begitu, dia sedikit bersantai.
"Apa Dwi akan datang ke rumah kami tadi ya?"
"Kayaknya nggak deh. Mana mungkin Icha bilang di mana dia tinggal."
"Kalau dia bilang ... aduh, bagaimana ini? Bisa kacau berantakan semuanya."
Untuk memastikan tebakan yang dia pikirkan, Aditya langsung menghubungi Icha dengan cepat. Sayangnya, dua kali panggilan dia lakukan, tapi tidak ada satupun yang Icha jawab. Hal itu semakin membuat Aditya gusar dan serba salah.
"Sialan! Apa sih yang dia lakukan sekarang? Kenapa gak dia angkat panggilan dari aku?"
"Tunggu! Apa dia masih marah dengan semua yang terjadi tadi malah ya? Karena itu dia tidak mau jawab panggilan aku."
"Aggh ...! Bikin kesal aja semuanya." Aditya berteriak kecil sambil mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Rambut yang tertata rapi itu akhirnya berantakan tak tertolong lagi.
Sementara itu, Dwi yang mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, kini sudah sampai ke gang yang ingin dia tuju. Itu adalah gang di sebuah perkomplekan elit yang berada di pinggiran kota.
"Nah ... kek nya ini deh tempat yang waktu itu aku pernah lihat Icha turun. Gak mungkin kalo dia cuma turun di salah satu tempat aja, kan? Dia pasti tinggal di sini. Mungkin," ucap Dwi sambil celingukan melihat sekeliling.
"Aku yakin kalau Icha tinggal di sini. Dari nomor ponsel yang aku lacak, dia sedang berada di sekitaran sini deh kayaknya."
"Udah semakin dekat. Seharusnya aku cari tahu dulu dari warga yang ada di sekitar sini. Takut-takut kalau aku bikin ulah malah Icha yang dapat masalah."
Dwi masih terus asik bicara pada dirinya sendiri. Dia yang memilih mencari tahu soal sahabatnya, memilih cara penyamaran agar penyelidikannya berjalan dengan baik.
Dwi masang masker dan juga kerudung hitam yang kebetulan dia bawa. Tidak kebetulan membawa, melainkan, itu kerudung milik mamanya saat pulang arisan kemarin lusa. Gara-gara gerah, si mama malah buka kerudung saat dalam mobil. Eh, saat sampai malah lupa.
"Nah .... Kek gini kan aman jadinya. Aku bisa leluasa tanpa dikenali. Tapi ... aku kok berasa mirip mamaku ya. Tapi mama versi muda."
Sempat-sempatnya Dwi bercanda dengan diri sendiri saat melihat dirinya di kaca mobil setelah siap memakai kerudung. Dia tersenyum sesaat, lalu kemudian langsung turun dari mobilnya.
Merasa jarak antara dia dan Icha susah sangat dekat. Dwi memilih bertanya pada salah satu ibu-ibu yang sedang berada di teras rumahnya.
"Mm ... permisi ibu. Boleh saya bertanya beberapa pertanyaan? Saya dengan mencari seseorang yang tinggal di sekitaran sini soalnya."
"Boleh. Tapi mbak ini siapa? Apa mbak memang benar-benar ingin cari orang yang mbak kenal?"
"Iya, ibu. Saya memang ingin mencari rumah orang yang memang benar-benar saya kenal. Tapi sayangnya, nomor orang itu sedang tidak bisa dihubungi sekarang. Bisa bantu saja, kan, Bu?"
"Bisa. Katakan saja siapa nama orang yang ingin mbak cari. Jika saya kenal, maka saya akan kasih tahu di mana rumahnya."
"Makasih, Bu. Saya sedang nyari teman saya yang bernama Icha. Apa di komplek ini ada orang yang bernama Icha, bu?"
"Maksud mbak, suster Icha ya? Kalau emang suster Icha yang mbak cari, maka rumahnya adalah rumah yang sedang berada tepat di depan rumah saya sekarang."
Mendengar ucapan itu, Dwi sontak langsung menolah ke arah rumah yang sedang ada di belakangnya sekarang. Rumah besar dengan dua lantai. Lengkap dengan kolam renang, juga taman impian yang indah.
Sesaat, Dwi tertegun melihat rumah tersebut. Bagaimana tidak? Rumah itu sangat-sangat mewah. Paling mewah jika dibandingkan dari semua rumah yang ada di antara perkomplekan tersebut.
"Ibu yakin kalau ini adalah rumah Icha?"
"Tentu saja saya yakin, Mbak. Orang suster Icha itu adalah tetangga yang baik. Tapi ... jika mbak memang sedang mencari orang yang bernama suster Icha sih. Ya inilah rumahnya."
"Tapi jika bukan, maka saya tidak mengerti juga dengan Icha yang lain. Karena saya hanya kenal satu nama Icha saja di komplekan ini."
"Maksud ibu ... ada Icha yang lain di komplek ini? Begitu ya?"
"Mungkin. Tapi saya nggak kenal, mbak. Maaf."
Dwi kembali tertegun. Dia memikirkan apa yang sedang terjadi secara perlahan. Ibu-ibu itu mengatakan suster Icha. Benaknya ingin langsung percaya kalau itu adalah Icha si sahabat yang dia cari.
Tapi sayangnya, hati malah merasa ragu. Takutnya yang dia cari, malah bukan suster Icha yang ibu-ibu maksudkan. Karena yang dia tahu, Icha tinggal di rumah saudara jauh yang hidup dengan sederhana. Tidak mungkin rumah orang yang sederhana semewah rumah ini, bukan?
"Ya sudah, mbak. Jika tidak ada yang mau ditanya lagi, maka saya akan masuk sekarang. Per .... "
"Aa ... tunggu, Bu!"
"Iya. Ada apa lagi, mbak?"
"Boleh saya tahu satu hal saja lagi? Dengan siapa suster Icha tinggal di rumah ini, bu? Itu saja."
"Suster Icha tinggal dengan suaminya. Dokter Aditya."
"Apa!"
Ucapan itu bak petir tunggal di siang bolong. Dwi yang mendengarnya kaget bukan kepalang sampai dia tidak bisa berucap kata-kata lain selain satu kata apa.
"Kenapa, mbak? Ada yang salah ya? Kok kaget begitu?" Ibu-ibu itu langsung memasang wajah bingung karena reaksi Dwi yang terbilang sangat berlebihan buat ibu tersebut.
"Tentu ... maksud saya, ti--tidak ada. Ti ... dak ada yang salah, bu. Ter--terima kasih atas jawabannya."
"Sama-sama." Ibu itu masih melihat Dwi dengan tatapan aneh sebelum akhirnya dia menghilang di balik pintu masuk rumahnya.
Sementara Dwi yang masih kaget dengan apa yang baru saja dia dengar, masih diam di tempatnya selama beberapa saat. Lalu pada akhirnya, dia memilih meninggalkan tempat tersebut untuk memastikan kebenaran dari ucapan ibu-ibu tadi.
Tangan itu terasa berat untuk mengetuk pintu besar nan mewah rumah tersebut yang masih tertutup rapat. Namun, dia paksakan dengan tekad yang bulat juga hati yang mantap. Tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika Icha yang ada di rumah ini memang sahabatnya. Yang jelas, dia akan turuti apa yang hatinya inginkan.
"Huh ... semoga itu bukan kamu, Cha. Karena jika itu kamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kita berdua."
Dwi langsung mengetuk pintu rumah tersebut. Dua kali ketukan, tidak terdengar tanggapan dari si pemilik rumah.
"Huh ... ini yang terakhir. Jika tidak ada jawaban juga. Maka aku akan pergi dari sini," ucap Dwi sambil melakukan ketukan lagi di pintu yang sama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments